Di balik Kartu Tarot

Saya punya mainan baru, sebuah kartu tarot. Yay! Ini adalah kartu ketiga saya. Penampakannya seperti ini :

Lihatlah, lucu banget kan yaaa

Berhubung saya males motret, jadi saya nyomot foto kartunya aja dari instagram.

Sebetulnya saya beli ini bukan karena saya pembaca tarot, anak indigo, psikolog atau pemain sulap.

Kartu tarot ini selera saya banget deh. Seru banget ngeliat ilustrasinya yang didominasi dengan warna-warni ceria.

Selain itu karena belakangan saya juga suka sama si tukang gambar yang satu ini.

Tampan dan bisa nggambar adalah sesuatu..

Seperti 2 buah kartu yang saya miliki sebelumnya, keputusan saya untuk memiliki tarot deck itu hanya karena saya suka ilustratornya. Titik.

Ada kesenangan tersendiri saat menikmati ide dan konsepnya mendesain 78 kartu. Dan karena yang dibikin adalah kartu tarot, maka ada banyak perspektif yang bisa saya lihat dalam sebuah kartu.

Itu hiburan yang menyenangkan bagi saya saat memandangi satu persatu. Ya kalau saya sih ngelihatnya kayak lagi lihat lukisan aja.

Lagi pula 78 buah kartu dengan aneka ilustrasi adalah murah meriah untuk saya yang bukan sobat tajir ini.

Ya maksudnya lebih terjangkau daripada beli lukisan yang puluhan atau ratusan juta wkwk.

Walaupun begitu, saya juga tahu makna tiap kartu. Cuma saya abaikan karena itu kayak text book gitu, saya lebih suka menafsirkan sesuai pandangan saya.

Balik lagi ke tarot terbaru saya. Illustrator yang bikin ini namanya Ricardo Cavolo, cowok Spanyol kelahiran 1982. Awalnya dia bekerja untuk beberapa biro iklan, namun Cavolo akhirnya bikin studio seni.

Dia juga dikenal sebagai pembuat mural. Banyak banget karyanya yang bertebaran di seluruh dunia.

Ini salah satunya.

Kalau ngepoin instagramnya, dia banyak kerjasama dengan beberapa brand terkenal :

Desain sepatu untuk Bally
Mug keren untuk Starbucks
Jeans untuk Zara

Selain itu, dia juga bikin beberapa cover buku dengan ilustrasi keren yang khas banget.

Tattonya juga lucu ya.

Nggak hanya mendesain cover buku, dia juga bikin cover CD.

Bahkan dia merambah ke dunia interior dengan sentuhan mural-mural yang menggemaskan.

Terbayang serunya ‘nongkrong’ sambil mandangin ini.

Nggak ketinggalan, doi meramaikan dunia arsitektur juga.

Jadi jangan bayangin bahwa koleksi tarot saya berbau mistis, dengan aroma dupa dan sebagainya. Karena cara pandang saya yang memang beda dengan tarot reader beneran.

Gitu lho gaesss..

Belanja Online

Dalam rangka mengendalikan napsu belanja online, mulai tahun saya bikin jadwal belanja.

Checkout tanggal 9, 18, 27.

Dah, gitu aja deh.

Jadi sebulan 3x aja. Biar nggak terlalu sering beli barang-barang receh yang nggak penting-penting amat.

Kalau saya renungi, kemudahan berbelanja online itu terkadang berbahaya bagi rekening saya.

Beberapa kali saya mengamati, isi dompet saya lebih awet daripada rekening.

Online-online selain market place kayak top up gojek, e-toll dan sebagainya bikin nggak terasa tahu-tahu lho kok udah ludes aja sih. Kzl kan.

Semoga (uh, apakah ini resolusi?) dengan bikin jadwal, menjadikan diri ini berpikir panjang dan tidak grusa-grusu checkout.

Inget nasehat Cak Nun :

Anda tidak boleh sujud kepada nafsu, tapi nafsu harus sujud kepada anda.

Baiklah, markicob.

* Photo by cottonbro from Pexels

John Yang Satu Ini

John mayerrr !

Sudah lama saya ingin menulis tentang dia. Di penghujung akhir tahun ini, akhirnya mood untuk nulis tentang John Mayer datang juga.

Sebetulnya saya termasuk fans yang tertunda. Saat di awal kemunculannya dia di MTV dengan lagu “Your Body Is My Wonderland”, saya nggak peduli. Karena di tahun itu, aliran acid jazz sedang merajalela dan meracuni saya.

Iman saya baru runtuh saat nonton konser John Mayer yang di Nokia Theatre, Los Angeles. Saya yang buta sama sekali tentang John Mayer, mendadak jatuh cinta. Klepek-klepek ga karuan.

Berhubung saya terpesona dengan lagu “Neon”, dimana doi bisa main gitar dengan teknik yang sulit dan disambi sambil bernyanyi. Saya pikir, si JM ini bukan musisi sembarangan.

Dengan berbekal kekepoan sebagai fans baru yang mulai norak, saya browsing dan menemukan fakta bahwa mas John ini ternyata mengenyam pendidikan di Berklee College of Music di Boston.

Setelah menyimak beberapa lagunya, maka saya putuskan untuk memiliki albumnya. Jadi album pertama yang saya beli adalah ini :

Lihatlah wajahnya yang masih cupu

Lalu memburu album-album yang lain.

Saya jarang dengerin JM dari Spotify, karena sebetulnya dia lebih asik ditonton saat konser lewat Youtube.

Sepertinya dia bosenan dengan lagu yang ada di album, jadi tiap konser, dia bikin beberapa versi.

Kalau ditanya lagu apa yang paling saya suka, saya bingung mau jawab yang mana. Semua suka. *lawas, mbak*

Salah satu yang menarik tuh kalau dia bikin judul lagu sungguh menggelitik dan bikin saya penasaran dengan isi liriknya.

Kalian yang biasa nulis blog, tahu sendiri kan bikin judul itu ga mudah. Kalau judul nggak menarik, ya udah, lewat deh kesempatan untuk di baca.

Beberapa judul yang menggelitik :

  • Slow Dancing In The Burning Room
  • Everyday I Hate The Blues
  • Love Song For No One
  • I Don’t Trust Myself (With Loving You)
  • I’m Gonna Find Another You

Beberapa liriknya juga membuat saya berpikir kok bisa ya bikin lirik sederhana tapi nyesss gini.

We found a message in a bottle we were drinking”Love on the weekend

Now I am going to dress my self for two, Once for me and once for something new”I’m Gonna Find Another You

“I am an architect of days that haven’t happened yet” Face to Call Home

Is there anyone who remembers, changing their mind from the paint on a sign”Belief

Lonely was the song I sang, until the day you came“- Half of my Heart

Kadang-kadang penggalan lirik pengen kujadikan print di t-shirt. *molaiiik*

Dan yang terakhir, selain good looking, gaya berpakaiannya menurut saya juga keren.

*ngusep iler*

Okay, mari kita sudahi tulisan panjang ini. Saya kok jadi pengen memutar kembali CD John Mayer.

British English vs American English

Bahasa inggris selalu jadi “love and hate relationship” dalam hidup saya yang penuh drama ini.

Rasanya bahasa saya tuh campur-campur dan jadinya amburadul.

Sebetulnya selama ini saya belajar British english atau American english sih? Jangan-jangan itu salah satu faktor yang bikin saya sering dilanda kebingungan.

Berbekal rasa penasirun akan perasaan ga jelas ini, akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan di Quora. Ini saya copy paste aja :

“Mereka yang cenderung belajar secara formal dan non formal lewat sekolah dan les, akan cenderung menggunakan British English.

Mereka yang cenderung belajar informal lewat film, lagu, siaran TV, dan media massa lain, akan cenderung menggunakan American English.”

Ada lagi,

“Inggris British secara akademik mungkin akan lebih banyak terpakai. Karena akademisi banyak yang lebih menggunakan inggris british ketimbang inggris amerika.

Tapi untuk conversation dan influence secara global, bahasa inggris amerika lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.”

Komentar lain,

“Sebenarnya bahasa Inggris yang diajarkan di Indonesia itu cukup aneh.

Kita cenderung diajarkan American English, tetapi kita lebih akrab akan istilah-istilah British English dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan istilah-istilah American English.

Coba deh, saya yakin Anda tidak asing dengan istilah-istilah ini: aluminium, flyover, takeaway, biscuit, zebra-cross, queue plaster, lift, car park, sellotape, coolbox.

Nah, istilah-istilah tersebut hanya terdapat dapat kalian dengar di British English karena istilah-istilah tersebut sudah usang atau jarang digunakan di American English.

Istilah yang digunakan di Amerika Serikat untuk istilah-istilah tersebut adalah aluminum, overpass, takeout, cookie, cross-walk, line, band-aid, elevator, parking lot, scotch tape, cooler. Aneh ya?“

Pendapat lain,

“Orang Indonesia cenderung berkiblat kepada American English dalam hal pengucapan.

Saya merasa hal ini karena masih banyaknya tenaga pengajar bahasa Inggris yang masih kurang memahami secara mendalam mengenai perbedaan antara American English dan British English (Received Pronunciation).

Hal ini membuat mereka mengajarkan bahasa Inggris yang lebih “mendunia”. Oleh karena itu, American English yang jelas lebih populerlah yang akan diajarkan.

American English lebih populer dibandingkan dengan British English karena budaya pop di dunia hiburan didominasi oleh budaya Amerika Serikat.

Selain itu, budaya internet pun juga sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika Serikat. Entah itu melalui memes, konten-konten di youtube, atau tren-tren di Twitter atau Instagram.”

Komentar berikutnya,

Menurut saya, rhoticity juga menjadi salah satu penyebab American English lebih populer dibandingkan dengan British English.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki huruf r yang bergetar (alveolar trill).

Hal ini tentu saja membuat orang Indonesia akan “lebih kaget” ketika mempelajari British English karena selain harus mempelajari konsonan ɹ dan ɹ̠ (alveolar/postalveolar approximant), mereka juga harus mempelajari “r” mana yang boleh dan tidak boleh dibunyikan.”

Pendapat lain,

American Dream !

Amerika Serikat dengan segala kekurangannya tetaplah menjadi negara favorit bagi para imigran untuk mengadu nasib, mencari keberuntungan, dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah populasi orang Indonesia perantauan nomor lima di dunia.

Jadi, kalau Anda mau merasakan tinggal di Amerika Serikat, maka Anda harus mempelajari American English.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa lebih populernya American English dibandingkan dengan British English disebabkan karena budaya di Indonesia yang tidak bisa lepas dari Americanism, serta American Dream yang menjadi impian (dapat dikatakan) seluruh orang Indonesia.

Satu lagi,

“Sepertinya lebih sering digunakan Bahasa Inggris Amerika. Tapi tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengerti perbedaan keduanya.

Tapi menurut saya, kita juga mengikuti konvensi Indonesia sendiri selain kedua itu.

Saya lebih yakin kita menggunakan lift bukan karena seperti itu di Bahasa Inggris Britania, tapi karena kita memang menyebutnya “lift”.

Begitu juga dengan first floor dan ATM; mereka bukan dipakai karena berasal dari Bahasa Inggris Amerika, tapi karena di Bahasa Indonesia mereka lebih bermakna (lantai satu itu lantai dasar, kan?; ATM kan Anjungan Tunai Mandiri).

Jika kita terus menggunakan konvensi Indonesia ke Bahasa Inggris yang kita gunakan, mungkin kita akan membuat dialek Bahasa Inggris baru, Bahasa Inggris Indonesia.

Sebenarnya ini sudah ada namun tidak begitu populer; di Microsoft Word ada pilihan untuk English (Indonesia).

Entah saya juga tidak mengerti bagaimana bisa ada pilihan Bahasa Inggris (Indonesia).

Jadi setelah merenung dalam-dalam, saya ingin menyudahi kebingungan saya yang nggak jelas ini.

Jadi, mulai awal bulan kemarin, saya mulai fokus pake american english aja, dengan beberapa alasan personal yang tidak bisa saya beberkan disini. *halah*

Harry Potter, minggir dulu gih.

Kehidupan Jayus Kimmy

Kemarin, akhirnya khatam juga, setelah beberapa minggu saya mantengin serial sitcom Unbreakable Kimmy Schmidt.

Serial ini tayang di Netflix tahun 2015, saya sih baru nonton tahun 2020. Ceritanya rada jayus sih.

Kimmy ini korban sekte sesat. Saat berumur 15 tahun, dia diculik dan tinggal di bunker bersama 3 wanita lainnya. Ketika si pelaku tertangkap, mereka kemudian diwawancara di sebuah stasiun tv di New York.

Setelah syuting, 3 wanita tersebut pulang ke Indiana, hanya Kimmy yang ogah balik dan memutuskan untuk menetap di New York.

Kebayang nggak sih, setelah bertahun-tahun hidup di bunker lalu mendadak tinggal di New York?

Dengan segala keluguan, kemiskinan dan kegaptekannya membuat kisahnya lucu banget untuk ditonton.

Kimmy tinggal dengan Titus, seorang pria gay yang berambisi menjadi aktor terkenal.

Titus sangat realistis dan membuat Kimmy membuka mata, bahwa hidup di New York itu tidak mudah.

Bahkan untuk Jacqueline, wanita kaya yang mempekerjakan Kimmy sebagai pengasuh anak-anaknya.

Di sitcom ini ga ada adegan hidup santai seperti serial Friends, dimana Rachel, Ross dkk sering banget nongkrong di sofa empuk sambil ngopi cantik di Central Perk.

Di season 1 dan 2, ceritanya asik banget, saya tekun mengikuti perjuangan Kimmy dkk menaklukkan New York.

Di season 3, yang nulis skenario makin liar dan seenaknya. Ceritanya makin absurd dan bikin keki. Kalau saya nonton sambil makan kacang, pasti udah lecet-lecet layarnya saya lemparin pake kulit kacang.

Di season 4 yang merupakan season terakhir, ceritanya makin mengada-ada. Saya ngakak makin keras di season ini. Yang bikin skenario kayaknya makin edan (atau stres?) saat nulis untuk season 4. Banyak dialog-dialog yang haduh, plis, dong ah. Jayusnya udah maksimal nih.

Ceritanya juga makin banyak aroma politis yang bikin ngakak.

Bahkan ada sebuah adegan saat Kimmy satu pesawat dengan Trump (yang tentu saja palsu). Guyonan Amerika yang khas banget.

Secara keseluruhan, saya terhibur banget dengan guyonannya.