
Jay Granger mengalami hari sial. Seusai dipecat dari kantor, sesampainya di apartemen 2 anggota FBI memberikan informasi terkait Steve, mantan suaminya yang menjadi korban ledakan bom.
Steve tidak punya keluarga, Jay merupakan satu-satunya kerabat dan diminta datang ke rumah sakit untuk mengidentifikasi Steve karena kondisinya kritis.
Setelah bercerai dari Steve 5 tahun yang lalu, Jay tak pernah tahu kabarnya. Perpisahannya tidak terlalu menyakitkan, karena cinta mereka tidak terlalu dalam.
Di rumah sakit, tubuh Steve dipenuhi selang dan wajahnya diperban. Awalnya Jay sulit mengenalinya, namun dokter mengatakan pasien memiliki mata cokelat dan FBI menemukan SIM di pakaiannya. Jadi pria yang terbaring di ranjang rumah sakit memang Steve.
Berminggu-minggu Jay menemani Steve di rumah sakit, saat Steve sadar ternyata hilang ingatan, bahkan ia lupa namanya sendiri. Selama di rumah sakit Jay membantu dan melatih memorinya supaya pulih.
Proses pemulihan tersebut membuat Jay dan Steve jadi dekat. Jay mulai menyadari perasaannya yang bersemi lagi, sementara Steve tak sabar ingin memandang Jay setelah operasi mata, dan berjanji pada diri sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan Jay pergi lagi dari hidupnya.
Agak bosan juga sih membayangkan setting rumah sakit melulu dan alur yang lambat. Sampai akhirnya tiba waktunya perban di wajah Steve di lepas. Jay amat terkejut mengetahui bahwa pria yang bersamanya berminggu-minggu di rumah sakit ternyata bukan mantan suaminya. Eng ing eng.
Baru deh pertengahan bab sampai akhir alur cerita semakin seru. Dibandingkan dengan 3 buku sebelumnya, buku ini yang paling tidak saya sukai. Kebanyakan di rumah sakit sih, boseeen.
Bintang 3/5


