Kekasih Koboi Callie

Don’t judge a book by its cover, karena sampul dan isinya bertolak belakang. 100% saya yakin, si pembuat cover belum baca isi bukunya.

Tokoh utamanya pria dewasa 30-an, blasteran Indian dan Italy (ga kebayang cakepnya gimana), berambut hitam dan panjang. Sementara covernya beda banget, udah gitu kaga ada kharismanya juga. Kalau saya jadi penulisnya pasti ngambek dibikinin cover kayak gini sama penerbitnya.

Jujur aja, ceritanya terlalu banyak plot hole, untungnya terselamatkan oleh selipan pengetahuan tipis-tipis tentang geografi, sejarah, dan budaya suku Indian di Montana. Ga nyangka kalau saya belajar dari novel roman picisan gini, yang bikin saya teringat dan pengen nonton lagi film lawasnya Kevin Costner, yang judulnya Dance With Wolve.

Ceritanya sederhana aja sih. Callie Walker, penulis roman, mobilnya mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Montana. Cade Kills Thunder (bagus juga namanya ya)

yang kebetulan melintas dengan traktornya menolong dan membawa Callie ke rumah peternakannya.

Jacob, kakek Cade rupanya pembaca novel Callie. Dengan sigap ia berupaya menjodoh-jodohkan Cade demgan Callie. Plus ditambah embel-embel, “Aku bermimpi akan datang seorang wanita untukmu, Cade.” Bisa aje si mbah ini. Kakeknya yang orang Indian asli percaya bahwa mimpi adalah pesan dari Roh Agung.

Di buku ini saya juga baru tahu tentang dewa-dewa suku Indian, sampai cara berdoanya. Kalau orang Indian punya keinginan, tinggal membisikkan doa ke burung Elang lalu diterbangkan ke langit untuk disampaikan ke Roh Agung.

Berhubung mobil Callie masih diservis, ia sementara menumpang di rumah Cade. Untuk mengisi waktu, Callie menyelami kehidupan cowboy dan ternak-ternaknya, bahkan Cade berinisiatif menjadi guide dadakan tempat bersejarah untuk riset novel Callie berikutnya. Keakraban mereka sampai membuat Cade yang super sibuk, dengan suka rela mengantarkan Callie keluar kota untuk mengikuti konferensi penulis.

Waktu pun berlalu, mobil udah keluar bengkel, Callie kudu balik ke New York. Namun cinta yang mulai bersemi membuat perpisahan tersebut jadi berat. Cade lalu menawarkan Callie untuk tinggal bersama. “Tanpa pernikahan?”, Callie menjawab sinis. “Ciyus lo? Gue mah ogah. Bye!”

Sepeninggal Callie, Cade limbung. Bisakah Cade yang alergi sama komitmen ini berubah pikiran? Ending gampang ditebak.

Bintang 1/5 untuk plot hole yang ngeselin.Bintang 4/5 untuk pengetahuan yang terselip disana-sini.

Bintang 4/5 untuk pengetahuan yang terselip disana-sini.

Pria Sejati – Victoria Dahl

Eric Danovan, pemilik bar yang kaku dan dingin tiba-tiba bikin geger seisi karyawan bar, saat dilabrak wanita cantik dan seksi. Bagi kedua adiknya, Tessa dan Jamie, momen tersebut sungguh langka. Kakak sulung mereka yg super sibuk ngurusin bar dan tempat penyulingan bir, diam-diam punya kehidupan asmara? Really?

Beth, cewek yang ngamuk berat itu baru menyadari bahwa ia dibohongi oleh ‘Jamie Danovan’ gadungan alias Eric.

6 bulan yang lalu, Beth dan ‘Jamie’ berkenalan saat mengikuti pameran dagang dan berakhir dengan one night stand. Mereka sepakat tidak akan bertemu lagi, namun malam yang berkesan itu membuat Beth berbulan-bulan tak bisa melupakan ‘Jamie’. Saking kangennya, Beth kepo mencari foto ‘Jamie’ di internet.

Alangkah kagetnya ketika Beth mengetahui foto Jamie Danovan yang tersebar di internet bukanlah pria yang bersamanya malam itu. Beth bergegas datang ke Donovan Brothers Brewery untuk bertemu Jamie yang asli dan menanyakan siapa yang jaga stan pameran dagang 6 bulan yang lalu selain Jamie.

Jamie pun memanggil Eric. Si Jamie gadungan pun muncul dan terkejut melihat Beth. Wadidaww. Tidak hanya Beth yang marah, Jamie pun tak terima namanya dipakai Eric untuk berbuat tak senonoh.

Seru banget buku ke tiga ini. Setelah penasaran dengan tokoh Eric yang menyebalkan di buku-buku sebelumnya, di buku ini saya jadi memahami sosok Eric yang kadang lelah hidup lurus-lurus aja dan pengen sedikit liar tanpa diketahui adik-adiknya.

Eric masih berusia 24 tahun ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Lalu dibebani tanggung jawab meneruskan pabrik bir ortunya, serta merawat Tessa (Buku 1) dan Jamie (Buku 2) yang masih remaja.

Sama seperti Beth, semenjak one night stand, Eric pun tak bisa melupakan Beth. Baginya wanita tersebut memikat hati Eric sejak pandangan pertama.

Beth bekerja sebagai manager di toko mainan dewasa. Tempat kerjanya yang tidak biasa membuat orang menilainya sebagai petualang seks, padahal sebenarnya dia biasa-biasa aja.

Tessa dan Jamie yang akhirnya mengetahui pekerjaan Beth, sering menggoda Eric dengan tatapan kagum dan cengiran yang bikin Eric salting. Menghibur sekali baca novel ini. Pencitraan Eric di dua buku sebelumnya sebagai pria yang lurus dan lempeng, buyar deh hahaha.

Alur ceritanya menarik. Eric dan Beth memiliki masa lalu yang selalu menghantui. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa kebersamaan mereka membuat beban yang dipiku, perlahan terangkat dari pundak mereka.

*

Buku trilogi ini sebaiknya dibaca secara berurutan karena alur ceritanya nyambung. Beruntung saya membaca urut, jadi nggak kena spoiler.

Pria Penggoda – Victoria Dahl

Setelah puas baca buku pertama seri Donovan Brothers Brewery, langsung gercep baca buku yang kedua. Boljug nih tulisannya Victoria Dahl. Ringan dan alurnya enak diikuti. Cerita di buku kedua ini tentang Jamie Danovan, pria 29 tahun, pemilik sekaligus bartender Donovan Brothers Brewery yang gaul.

Dibalik penampilannya yang ceria dan positive vibe, si anak tengah dari 3 bersaudara ini menyembunyikan minder dan sakit hatinya. Eric, kakak sulungnya, seringkali menilai Jamie tak bisa dipercaya, kurang bertanggung jawab, dan sering bikin ulah. Dalam hatinya, Jamie ingin Eric menghargai kontribusinya.

Jamie punya ide untuk memajukan bisnis penyulingan bir warisan ortu. Namun untuk mengajukan proposal ke dua saudaranya, ia perlu ilmu yang mumpuni. Maka secara diam-diam tanpa diketahui kakak dan adiknya, ia mendaftar kuliah singkat bisnis yang dibuka untuk profesional selama musim panas.

Tak disangka dosen yang mengajar adalah Olivia Bishop, anggota klub buku yang komunitasnya semalam abis nongkrong bareng di bar milik Jamie dan saudaranya.

Saat itu, Jamie yang tampan digodain mulu sama rombongan cewek-cewek tersebut, cuma Olivia yang senyam-senyum doang menyimak rayuan mereka. Rupanya gaya coolnya Olivia diam-diam memikat hati Jamie.

Dasar playboy, kelar kuliah Jamie nyamperin Olivia untuk ngajak jalan, toh semalem udah kenalan di bar. Tentu saja langsung ditolak Olivia dong, tidak profesional kalau dosen jalan dengan mahasiswa.

Namun di hari itu Olivia berubah pikiran. Dia baru ingat bahwa rektor universitas mengundangnya ke pesta. Mantan suaminya (yang juga dosen) pasti datang bersama mahasiswi selingkuhannya dulu. Akhirnya Olivia setuju mengajak Jamie.

Kelar pesta, mereka ngobrol banyak dalam perjalanan pulang di mobil, lalu sepakat bertukar ilmu.

Olivia yang gagal dalam pernikahannya, dibilang mantan suaminya gak asik, terlalu kuper dan serius. Jadi dia ingin berguru pada Jamie yang supel, keren, dan asik. Sebaliknya Jamie berguru gimana caranya mengembangkan penyulingan bir dan bar, menjadi bisnis restoran.

Saya lebih suka buku kedua ini daripada yang pertama. Jamie dan Olivia pasangan yang pas. Chemistrynya kuat dan punya perbedaan sifat yang saling melengkapi.

Kedekatan mereka berdua yang awalnya sekedar bertukar ilmu, ternyata mengubah cara pandang hidup yang baru.

Olivia mulai bisa menikmati hidup dan belajar untuk bersenang-senang. Dia juga mulai menyadari hambatannya dalam karier yang tidak dia sukai.

Sedangkan Jamie akhirnya bisa membuktikan pada dua saudaranya bahwa betapa salahnya mereka menilai Jamie sebagai pria yang tak bertanggung jawab dan lebih suka bersenang-senang daripada tumbuh dewasa.

Bintang 4/5

Baiklah, lanjut buku terakhir tentang Eric, anak sulung yang garing, serius, dan tak punya waktu buat cinta-cintaan.

Gadis Baik-baik – Victoria Dahl

Gadis baik-baik apaan, judul buku yang menipu, lha wong kelakuannya cegil gitu haha. Novelnya ringan dan lumayan kocak. Buku pertama dari seri 3 bersaudara Danovan, yang menceritakan Tesa Danovan, cewek bungsu yang ceria.

Saat pagi buta, Jamie, kakak tengah menelpon Tesa dan Eric, kakak sulungnya untuk segera datang ke pabrik bir warisan orangtua mereka kerampokan.

Tak lama polisi datang, disusul 2 detektif, Luke Asher dan partnernya, Simone Parker yang sedang hamil besar.

Luke yang dulu satu kampus dengan Jamie menyapanya. Mereka cowok buaya yang satu circle dan sering datang ke pesta-pesta mahasiswa.

Ketika Luke menatap Tesa tak berkedip, Jamie menegurnya. “Hei, jaga tatapanmu, itu adikku.”

Namanya juga detektif buaya, teguran itu seperti angin lewat.

Begitu juga dengan Tesa, dia tak mengira bahwa temen masnya yang dulu sering main ke rumah, kini terlihat makin mempesona.

Dengan reputasi Luke yang duda cerai meninggalkan istrinya saat kanker, plus gosip dia menghamili Simone, partner kerjanya, lengkap sudah ke-red flag-an Luke.

Tentu saja Jamie dan Eric tak rela adik perempuannya dekat dengan cowok ga beres kayak gitu.

Tapi ternyata kasus perampokan tersebut makin mendekatkan Luke dan Tesa. Sampai suatu malam Eric memergoki mereka dinner berdua. Eric ngamuk berat. Saat tak ada Tesa, Eric menyuruh Luke menjauhinya.

“Why?”

“Karena dia gadis baik-baik. Masih suci dan belum ternoda.”

Duerr. Bagai disambar petir Luke berjanji akan menjauhinya. Tapi tidak semudah itu kalau Tesa masih ngider melulu di deket Luke.

Kuatkah Luke menjaga iman? Ending bisa ketebak dengan mudah.

Karakter Tesa ini rada nyebelin. Sok ngatur kakak-kakaknya, bahkan dibelakang mereka, Tesa bikin kesepakatan dengan calon rekan bisnis, yang akhirnya kacau balau dan bikin Eric ngamuk berat.

Perdana baca tulisannya Victoria Dahl dan ternyata saya suka. Karakter Jamie yang tengil dan Eric yang serius bikin saya penasaran untuk baca buku kedua dan ketiga.

The Innkeeper’s Sister

Akhirnya kelar juga baca buku terakhir dari seri Honey Ridge. Walaupun nggak sebagus buku ke 1 & 2, tapi perlu dibaca sih, karena jejak perginya Tandy di buku pertama akhirnya terungkap di buku ini.

Cerita diawali dengan kepindahan Grayson Blake dan adiknya yang berniat menyulap pabrik penggilingan tua untuk dijadikan restoran.

Ketika proses renovasi, para pekerja menggali dan menemukan tulang belulang manusia yang terkubur ratusan tahun. Mengapa dikubur di ruang tertutup dan bukan di pemakaman? Grayson penasaran.

Buku ini lalu terbagi menjadi dua alur cerita. Pembaca diajak flashback ke masa lampau tahun 1875 ketika pabrik penggilingan itu masih beroperasi.

Saat itu, Tandy, budak kecil berusia 9 tahun naksir berat dengan majikan cantiknya yang pintar bermain piano. Patience, gadis yang berusia belasan rupanya sedang jatuh cinta. Beberapa kali Tandy melihat Patience menyelinap malam-malam ke ruang pabrik penggilingan.

Suatu malam Tandy mengikuti Patience. Ia khawatir seorang gadis keluar malam sendirian. Tandy, bocil jagoan ingin menjaganya.

Patience ternyata diam-diam bertemu dengan seorang pria. Dia menyerahkan kertas partitur, lalu berkata, “Aku menciptakan lagu untukmu.” Tak tahan mengintip mereka bermesraan, Tandy keluar pabrik, namun tak lama ia mendengar teriakan Patience. Tandy pun kembali lalu memukul pria tersebut hingga tewas.

Sementara itu, rumah tinggal Patience di masa kini sudah beralih fungsi menjadi rumah penginapan “Peach Orchard Inn”. Barang-barang peninggalan masih terawat dengan baik, termasuk piano tua dan kertas-kertas partitur yang ditulis Patience.

Valery, pemilik penginapan menunjukkan partitur kuno kepada Grayson yang bisa bermain piano. Saat mencoba memainkannya, Grayson curiga dengan nada-nada yang tak biasa. Dia berasumsi not-not balok tersebut sepertinya semacam kode rahasia.

Seusai Grayson memainkan partitur tersebut, beberapa kali Valery mendengar suara piano. Sungguh aneh, Grayson saat itu sedang pergi dan hanya mereka yang tahu melodi tersebut.

Mungkinkah arwah Patience kembali untuk menyampaikan pesan tertentu? Kejadian aneh itu membuat mereka mencoba untuk memecahkan kode.

Sejarah seringkali berulang. Masa lalu Patience yang penuh rahasia kelam, ternyata bisa menjadi pelajaran bagi Vallery dan Grayson di masa kini.

Bintang 4/5