Menulis di Wattpad

Sebetulnya aku termasuk dalam golongan orang-orang yang jarang baca novel. Tapi ada saat dimana aku ingin sekali baca novel yang ringan dan menye-menye.

Seorang teman menyarankan untuk install Wattpad saja. Lalu aku install dan tercengang. Wah, banyak cerita gratisan yang bisa dibaca.

Jadi sepertinya udah dua tahun lebih aku mengenal Wattpad.

Kadang-kadang kalau lagi baca cerita di Wattpad sering geregetan dan gemes, karena temanya itu-itu melulu.

Bad boy suka sama cewek pendiam atau cewek tajir suka sama cowok miskin, sampai banyak yang menulis tentang pernikahan sandiwara. Mungkin banyak yang terinspirasi dari drama korea ya.

Lalu timbul kalimat nyinyir dalam benakku.

“Yaelah, pede amat sih, cerita kayak gini di masukin, klise banget, kayak ga ada tema lain yang lebih berbobot aje.”

Nyinyiranku kalau lagi baca Wattpad cukup sadis, nggak jauh beda sama netijen julid.

Lama-lama aku menyadari bahwa nyinyir adalah tanda tak mampu. Bisanya sirik aja.

Padahal mereka yang menulis di situ setidaknya udah melakukan sesuatu. Udah selangkah lebih maju dari aku. Walaupun ceritanya gitu-gitu aja, setidaknya mereka berproses.

Lha aku? Hahaha.. malu ah. Bisanya baca doang.

Jadi mulai kapan nih, mencoba nulis di Wattpad?

Eeeng, tahun depan deh.

Yaaah..

Advertisements

Panduan Untuk Menulis Jurnal

Dulu aku tanpa sengaja menemukan buku ini di toko buku kecil dekat rumahku. Judulnya The ABC’s of Journaling, karangan Abbey SY. Kulihat sekilas isinya, tampak menarik dan inspiratif, jadi kuputuskan untuk membelinya.

Waktu itu menjelang pergantian tahun, aku juga sedang mencari buku agenda untuk tahun depan. Jadi sepertinya oke kalau buku ini kubaca dulu lalu memutuskan tahun berikutnya menggunakan jurnal seperti apa.

Terus terang aku tuh orangnya lebih suka baca buku yang banyak gambarnya daripada tulisannya hahaha. Jadi tanpa banyak baca, aku sudah terinspirasi.

Yang aku suka dari buku ini, si Abbey sukses ngomporin untuk menuangkan segala macam kreatifitasku untuk mendokumentasikan hidup.

Dia ngasih tips pernak-pernik hiasan untuk mempercantik jurnal.

Paling suka lihat jurnal yang seperti di atas. Bermain-main dengan cat air, sedikit ilustrasi, stempel, tiket, catatan kecil. Jadi seru kan bacanya.

Ada juga contoh jurnal untuk yang nggak hobi menulis dan menggambar. Seperti ini nih :

Dengan hanya menggunting dan menempel tiket, nota atau apa aja yang kita dapatkan hari itu, udah jadi jurnal deh.

Nggak ada alasan untuk bilang bahwa kita nggak bisa bikin jurnal harian.

Sampai hari ini, kalau lagi butuh inspirasi buku tersebut kubuka lagi. Kalau kalian suka nulis jurnal pasti happy banget kalau baca ini.

Saat aku menulis, menggambar, menggunting dan menempel di jurnal, rasanya mood jadi lebih baik. Aku jadi lebih semangat untuk menghargai hidup.

Tabungan Draft

Saat blogwalking aku menemukan sebuah tips supaya rajin posting. Salah satunya adalah menyimpan banyak draft.

Jika suatu hari ingin posting dan tidak tahu topik apa yang ingin diulas, kita tinggal lihat tabungan draft kita.

Berhubung aku tuh anaknya kepengennya nulis tiap hari, kadang suka bingung mau nulis apa, jadi kupikir tips tersebut boleh juga.

Mulailah aku mencoba untuk menabung draft sedikit demi sedikit. Minimal bikin judul dulu, ntar diterusin dikit-dikit. Sampai hari ini, kurang lebih ada 15 draft yang nyantol dan belum selesai kutulis.

Tiap pagi aku melihat draft-draf tersebut, tapi entah kenapa jadi males melanjutkan dan ingin nulis yang lain. Yang sesuai mood dan hasrat bercerita pagi itu. Endingnya bikin baru lagi deh.

Kalau kuamati, sebetulnya tulisan yang kuupload semuanya kutulis secara spontan. Biasanya 7-10 menit udah kelar dan langsung kupublish.

Berdasarkan pengalaman sebulan terakhir ini, sepertinya aku memang nggak cocok bikin draft. Dalam soal tulis menulis, aku lebih cocok mengalir aja, nggak usah direncanakan secara matang.

Ini menarik bagiku, karena aku orangnya terencana, tapi dalam hal nulis menulis, ternyata ini aku lebih bisa spontan.

Lalu bagaimana dengan draft yang udah kadung nyantol ya? Diterusin atau dihapus aja ya?

Hmmm..

Hmm.. Apa Ya?

Udah seminggu nggak nulis blog. Ternyata untuk konsisten nulis blog setiap hari itu nggak mudah ya.. *yaeyalah*.

Sebetulnya lagi banyak yang ingin kuceritakan di sini, tapi akhir-akhir ini setiap pagi sehabis subuh aku kok mendadak sibuk melakukan ini itu, jadi nggak sempet lihat handphone. Iyaa, aku nulis blog lewat handphone, biar praktis aja.

Lalu posting ini isinya apa dong? Embuh, aku kok jadi blank gini ya hahaha.. Kok aku ngetik gini tau-tau udah nyampe paragraf ketiga. Padahal cuma nggedabrus tanpa isi.

Tuh kan, lanjut ke paragraf keempat. Yaelah, ini sih postingan sampah beneran. Sekarang udah jam 05.34, aku ngetik sambil ngopi dan duduk metangkring di sofa. Metangkring tuh bahasa indonesianya apa ya?

Perutku mulai kontraksi, sepertinya ada panggilan alam, kudu meluncur ke kloset dulu nih, mengikhlaskan masa lalu.

Wow, udah paragraf keenam. Ya ampun, hebat amat aku nggedabrus. Seperti ngawur saat ngisi jawaban ujian. Yang penting panjang walaupun isinya ngalor-ngidul.

Sekarang 05.39. Aku harus nongkrong di wc dulu. Bye.

Tanda tangan

Masih ingatkah kamu, bagaimana proses tanda tanganmu tercipta?

***

Aku masih ingat. Waktu itu aku masih kelas 6 SD, pak guru menyuruh kami semua menciptakan tanda tangan untuk nantinya diabadikan di ijazah SD.

Sekelas lalu heboh, kira-kira seperti apa ya? Aku sendiri juga bingung waktu itu.

***

Aku baru mendapat ide saat membaca majalah Bobo. Saat itu aku mengagumi salah satu ilustrator yang gambarnya bagus. Biasanya dia membubuhkan paraf di sudut kanan gambarnya dengan kata ‘Man’.

Aku menyukai huruf M besar kreasinya. Lalu kutiru dan kuplesetkan sesuai nama singkat belakangku, ‘May’.

Tanda tangan di ijazah SDku pun jadi singkat, seperti paraf, bukan tanda tangan. Tapi aku menyukainya, sampai hari ini, aku masih memakainya untuk paraf.

***

Saat SMP aku mengganti tanda tangan di ijazah. Waktu itu aku sering memperhatikan tokoh-tokoh besar. Kebanyakan tanda tangannya tulisan latin sederhana tapi panjang sekali. Soeharto, Soekarno, dan lain-lain.

Lalu aku menggunakan nama belakangku untuk ijazah SMP dengan tulisan latin sederhana. Aku menyukainya sampai dengan hari ini.

Aku pernah membaca jika ahli grafologi kadang membantu orang-orang terkenal untuk mengubah tanda-tangannya supaya nasibnya lebih baik.

Lha, tanda tanganku sampai detik ini masih tetep. Pantesan hidupku gini-gini aja hahaha..

Menulis Puisi

Kemarin menjelang tidur aku membaca ulang buku karangan Toshinori Kato,M.D., Ph.D. yang berjudul Otak Ideal, Makin Berumur, Makin Brilian.

Salah satu tips yang ingin sekali kupraktekkan untuk melatih otak adalah menulis puisi begitu sampai di rumah.

Pulang ke rumah setelah beraktivitas di luar merupakan waktu yang paling menyenangkan.

Kalimat di buku mengatakan, “Tulis catatan atau kesan hal-hal yang dialami sepanjang hari. Memahami atau mengingat hal yang sudah dijalani berguna untuk mengatur fungsi otak.”

Hal yang paling utama dalam melatih zona otak adalah latihan konsisten yang dilakukan dengan happy. Konsistensi adalah koentji.

Jadi, sebisa mungkin aku akan menghindari hal-hal yang ribet dan sulit dilakukan.

Walaupun kelihatannya mudah, membuat puisi pendek tentang kejadian pada hari itu, tetep aja butuh pemikiran otak.

Aku kan harus mengingat-ingat kejadian pada hari itu dan menuangkannya ke dalam bahasa puisi.

Supaya nggak ribet, aku nggak mau mikir dulu tentang aturan yang biasa dipakai dalam penulisan puisi. Mengalir aja deh.

Aku juga ingin berlatih membuat kalimat efektif dan tidak bertele-tele. Kata-kata yang pas, kena, tepat, mak jleb. Nggak usah mengawang, menggunakan bahasa dewa, ntar malah justru menyulitkanku sendiri hahaha.

Menulis puisi juga bisa melatihku untuk memperluas sudut pandang. Hujan kan nggak cuma di bulan Juni, ya kan?

Jadi, hari ini mau bikin puisi tentang apa ya?

Pakaian Minimalis

Aku mengenal gaya hidup minimalis semenjak kuliah arsitektur. Yang artinya udah lama sekali.

Kawan-kawanku berpakaian dengan model yang paling sederhana dengan warna basic, hitam, putih, abu-abu. T-shirt dan jeans menjadi andalan kami, bahkan sampai hari ini.

Kadang-kadang ada masa dimana aku merasa bosan dan ingin tampil beda. Kalau jiwaku sedang memberontak, saat ngumpul bareng semua pakai warna hitam, aku datang pake pink.

Buatku untuk bergaya minimalis, warna pakaian tidak musti hitam dan putih, warna bisa apa aja. Hitam dan putih memang netral dan mudah dipadu-padankan.

Tapi tinggal di negara tropis, yang sinar mataharinya melimpah, sayang banget kalau aku nggak pakai baju dengan warna ceria.

Seperti Raditya Dika yang selalu menggunakan jeans dan t-shirt polos warna apa aja, model pakaianku juga sederhana. Aku hanya menggunakan 2 piece. T-shirt/kemeja dan celana jeans, bagiku sudah cukup.

Aku menerapkan prinsip minimalis bukan dari warna. Tapi dari jumlah pakaian. Bajuku cuma selaci. Jumlahnya 30 buah.

Tapi secara berkala aku menggantinya dengan prinsip masuk satu, keluar satu.

Banyak orang membeli pakaian lalu menyimpan sampai bertahun-tahun. Menurutku itu hebat juga sih. Terus terang aku tidak bisa seperti itu.

Aku nggak bisa mendekap barang terlalu lama. Selagi pakaian tersebut masih baik, aku segera menyumbangkan.

Jd bajuku tidak pernah ada yg berakhir jadi keset atau lap.

Baju yang sudah beberapa kali kupakai, biasanya kusingkirkan, dengan begitu aku mendapatkan energi baru yang fresh. Seperti uang, pakaian juga harus mengalir. Energi harus mengalir, tidak mandeg dalam laci.

Jadi bukan untuk hedon atau glamor, tapi untuk melatih melepas kemelekatan dengan latihan ikhlas.

Semua yang ada di dunia ini titipan Tuhan, termasuk pakaian. Untuk apa aku mendekap erat dan menyimpannya bertahun-tahun. Sistem satu masuk, satu keluar secara berkala membuat skill ikhlasku bertambah.

Semakin sering aku menyortir keluar masuk pakaianku, makin berkualitas bahan pakaianku. Sehingga hidupku juga makin berkualitas, saat menggunakan pun aku merasa bahagia dan bersyukur.

Yang paling asik, lambat laun aku bisa menemukan gaya berpakaianku yang otentik.