The Witness

Saat melihat judul dan ilustrasi sampul, saya menebak isinya pasti membosankan, berkutat di ruang sidang pengadilan melulu. Ternyata ekspektasi saya keliru, hampir nggak ada tuh adegan ruang sidang. 

Sandra Brown menulis thriller berbalut misteri tentang kehidupan Kendall Deaton yang sempurna, sampai akhirnya ia menjadi saksi satu-satunya dalam peristiwa yang mengerikan. 

*

Setelah beberapa lama pindah ke kota Proper sebagai pengacara, Kendall menikah dengan Matthew, pemilik media dari keluarga terpandang  di kota tersebut. Kendall bahagia akhirnya menemukan tempat ideal untuk menetap. 

Namun dibalik ketenangan dan kedamaian, kota kecil tersebut menyimpan rahasia kelam. Kendall baru menyadarinya ketika suatu malam mengendarai mobil untuk menyusul suaminya, ia tersesat lalu menyaksikan peristiwa yang mengerikan. 

Rasa takut dan ngeri membuat Kendall mengambil keputusan spontan untuk segera keluar dari kota Proper. Kendall meninggalkan suaminya dan melarikan diri dalam keadaan hamil. 

Dia ingin segera melaporkan apa yang dilihatnya, tetapi Kendall sadar tidak punya bukti. Butuh setahun bagi Kendall untuk bersembunyi dan mengumpulkan data untuk ia diserahkan pada FBI. 

Kendall dan bayinya pun akhirnya dibawa ke tempat persembunyian yang lebih aman dengan bantuan FBI. Sayangnya saat dalam perjalanan mobil yang ditumpangi, Kendall mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. 

Sebagai satu-satunya saksi, Kendall dihantui rasa takut. Mengingat lawannya kuat, bisa saja posisinya di rumah sakit mudah dilacak. Kendall tak ingin terbunuh, dengan kebohongan ia  mengelabuhi pihak rumah sakit, lalu kabur. 

Selama dalam pelarian, Kendall melakukan banyak kebohongan untuk menjaga diri dan bayinya tetap aman.  

Saya nggak mau spoiler, yang pasti buku ini menarik. Satu demi satu kebohongan yang ia bangun terbongkar, sampai di 5 lembar terakhir pun saya masih dibikin terhenyak dengan kebohongannya. 

Yang bikin buku ini bagus, komplit banget untuk sebuah novel thriller. Bikin tegang, plot twistnya bikin syok, belum lagi konspirasinya. 

Saya suka tokoh-tokoh di buku ini. Semua punya karakter kuat, terutama tokoh-tokoh antagonisnya. Oh ya, saya penasaran, gimana acara kencannya Ricki Sue dan Papperdyne? Sayang nggak dibahas lebih lanjut. Pasti gokil haha. 

Bintang 5/5

White Lies

Jay Granger mengalami hari sial. Seusai dipecat dari kantor, sesampainya di apartemen 2 anggota FBI memberikan informasi terkait Steve, mantan suaminya yang menjadi korban ledakan bom. 

Steve tidak punya keluarga, Jay merupakan satu-satunya kerabat dan diminta datang ke rumah sakit untuk mengidentifikasi Steve karena kondisinya kritis.

Setelah bercerai dari Steve 5 tahun yang lalu,  Jay tak pernah tahu kabarnya. Perpisahannya tidak terlalu menyakitkan, karena cinta mereka tidak terlalu dalam. 

Di rumah sakit, tubuh Steve dipenuhi selang dan wajahnya diperban. Awalnya Jay sulit mengenalinya, namun dokter mengatakan pasien memiliki mata cokelat dan FBI menemukan SIM di pakaiannya. Jadi pria yang terbaring di ranjang rumah sakit memang Steve. 

Berminggu-minggu Jay menemani Steve di rumah sakit, saat Steve sadar ternyata hilang ingatan, bahkan ia lupa namanya sendiri. Selama di rumah sakit Jay membantu dan melatih memorinya supaya pulih. 

Proses pemulihan tersebut membuat Jay dan Steve jadi dekat. Jay mulai menyadari perasaannya yang bersemi lagi, sementara Steve tak sabar ingin memandang Jay setelah operasi mata, dan berjanji pada diri sendiri bahwa dia   tidak akan membiarkan Jay pergi lagi dari hidupnya. 

Agak bosan juga sih membayangkan setting rumah sakit melulu dan alur yang lambat. Sampai akhirnya tiba waktunya perban di wajah Steve di lepas. Jay amat terkejut mengetahui bahwa pria yang bersamanya berminggu-minggu di rumah sakit ternyata bukan mantan suaminya. Eng ing eng. 

Baru deh pertengahan bab sampai akhir alur cerita semakin seru. Dibandingkan dengan 3 buku sebelumnya, buku ini yang paling tidak saya sukai. Kebanyakan di rumah sakit sih, boseeen. 

Bintang 3/5

Heartbreaker

Setelah ayahnya meninggal, Michelle Cabot yang baru bercerai dengan suaminya, memutuskan kembali ke Florida untuk mengurus peternakan warisan ayahnya. Ketika memeriksa laporan keuangan, Michelle lemas saat tahu ayahnya berhutang pada tetangga sebelah, John Rafferty. 

Hutangnya macet sejak 4 bulan yang lalu. Michelle sudah menjual seluruh aset ayahnya untuk menutup hutang bank, yang tersisa hanya rumah dan peternakan. Bunga yang diberikan John lebih rendah dari bunga bank, tapi kenapa ayahnya musti hutang ke John? 

Michelle malas bertemu John. Mereka saling bermusuhan sejak umur Michelle 18 tahun.

Dimata John, Michelle gadis kaya dan manja yang bisanya cuma ngabisin duit ayahnya. 

10 tahun sudah berlalu, kini mau tak mau dia harus bertemu John untuk negosiasi. Siapa tahu John yang sudah dewasa lebih lunak. 

Espektasi Michelle ternyata salah besar. John yang masih memperlihatkan ketidak-sukaannya terhadap Michelle dengan ngasal menawarkan penghapusan hutang jika Michelle mau tidur dengannya. Tentu saja Michelle ngamuk. Dia tidak serendah itu. 

Setelah melihat sendiri Michelle berusaha mengelola peternakan seorang diri tanpa pekerja, serta memandang sorot mata Michelle yang putus asa, John merasa iba. Dia menawarkan bantuan dengan meminjamkan beberapa pekerjanya sampai ternak Michelle siap dijual. 

Begitulah, yang awalnya John meremehkan Michelle akhirnya bisa melihat sisi lain. Michelle punya semangat menjalankan peternakan dengan tanggung jawab yang cukup berat. Yang akhirnya membuat John berpikir bahwa Michelle adalah pasangan hidup yang tepat. 

Namun tidak seklise itu dong. Michelle sering terlihat murung, gelisah dan takut. Ada rahasia yang ia tidak ingin John mengetahuinya. 

Sebetulnya dari awal buku ini menyenangkan untuk dibaca, tapi setelah dipertengahan buku, isinya mulai bikin bosen. Yang tadinya kisah seru seputar ngurusin peternakan berbelok jadi kebanyakan cinta-cintaan, sampai bikin eneg bacanya. Lagian Michelle takluknya kecepetan sih, mustinya diulur-ulur dulu kek biar lebih seru bacanya. 

Sebagai buku ketiga dari seri Rescue, alur ceritanya lebih baik dari buku kedua, Diamond Bay sih, cuma karakter mereka berdua masih kureng, jadi ya cukup bintang 3/5 aja. 

Diamond Bay

Lagi malas review panjang lebar. Intinya Kell Sabin, agen rahasia tampan mempesona terdampar di tepi laut Florida dengan luka tembakan, lalu ditolong Rachel Jones, penduduk setempat yang rumahnya tak jauh dari pantai. 

Rachel yang mantan wartawan investigasi berupaya membantu Kell mencari tahu siapa yang memburunya. Dalam kondisinya yang lemah, Kell tidak punya pilihan lain, ia membiarkan dirinya dirawat dirumah Rachel sampai pulih. 

Selama tiga minggu bersama cinta mereka tumbuh dan bersemi. Namun sebagai agen rahasia, tidak mudah bagi Kell untuk menjalin hubungan serius, apalagi pernikahan. Dia tidak bisa menempatkan Rachel hidup dalam bahaya. Rachel protes berat, “Kalau memang akhirnya berpisah, kenapa takdir mempertemukan kita?”

Ending bisa ditebak, namanya juga novel HQ. 

Buku kedua dalam seri Rescues ini nggak sebagus buku pertama, ‘Midnight Rainbow’ yang saya kasih bintang 5. Tapi di buku ini tuh saya suka sama karakter-karakternya,  karakter anjingnya yang galak aja dengan mudah bisa saya bayangkan sosoknya. 

Lalu berbeda dengan buku pertama yang ritmenya cepat. Buku kedua ini sepertinya sengaja dibuat dengan alur yang lambat. Yang efeknya bikin saya serasa tenggelam menikmati slow living dengan suasana rumah mungil di tepi pantai Florida saat musim panas. 

Hari-hari Rachel diisi dengan berkebun, ngasih makan ayam-ayamnya, dan mencari nafkah dengan mengurus toko suvenir sembari menulis buku. Asoy banget hidupnya. 

Bintang 3/5

Midnight Rainbow

Awal kisah dimulai dari transaksi gelap microfilm yang berisi teknologi rahasia pemerintah. Pelaku berhasil ditangkap, namun sang pembeli berhasil lolos ke Costa Rica. 

Agen rahasia Amerika di Costa Rica berhasil merebut microfilm dan menitipkan pada George Persall, pengusaha Amerika yang sering keluar masuk Costa Rica. Microfilm tersebut akan diserahkan pada Luis Marcell. 

Namun sebelum kembali ke Amerika, George ditemukan meninggal kena serangan jantung di kamar tidur bersama seorang sosialita bernama Jane. 

Apakah Jane terlibat aktivitas mata-mata atau cuma kekasih gelap George? Apakah microfilm tersebut sudah diserahkan ke Luis Marcel? Dua hari sebelum George meninggal, Luis Marcel menghilang.

Manuel turego, kepala keamanan Costa Rica segera menculik Jane ke perkebunan di tengah hutan dengan penjagaan ketat. Manuel menunggu Luis Marcel muncul untuk mencari keberadaan microfilm. Minimal Jane bisa jadi alat negosiasi. Bagaimanapun juga Manuel menilai gadis itu cukup tolol karena berterima kasih pada Manuel yang telah melindunginya. 

Grant Sullivan, mantan agen pemerintah Amerika diminta menyelamatkan Jane. Ayah Jane mencemaskan putrinya, membayangkan gadis itu disiksa habis-habisan oleh para penyekapnya. 

Dari pemantauan selama dua hari di hutan, gadis itu terlihat santai seolah tengah berlibur. bersenang-senang, berjemur di pinggir kolam, tidur larut, menyesap sampanye. Grant mulai berpikir, gadis itu mungkin tidak ingin diselamatkan.

Misi Grant sederhana : masuk dan menyelamatkan Jane, membawanya keluar dari Costa Rica, kembali ke Amerika, dan menyerahkan pada ayahnya. 

Namun ternyata tidak semudah itu. Grant dan  Jane berlari menghindari kejaran orang-orang di tengah hutan yang gelap dengan hujan lebat. 

Sebagian besar buku ini berlatar di hutan dengan banyak adegan menegangkan. Semua digambarkan dengan baik, saya bisa merasakan panasnya hutan, udara yang lembab, hujan yang dingin. Suka banget sama cara nulisnya. 

Linda Howard menulis novel suspense yang keren dan yang saya suka, terselip dialog-dialog lucu yang bikin nyengir saat baca. 

Perjalanan Grant dan Jane menembus hutan selama dua hari membuat mereka lelah, kotor, lapar, dan frustasi. Dibalik kesulitan itu, Grant yang kaku dan Jane yang cerdik membuat mereka bisa jadi partner dengan chemistry yang pas. 

Bintang 5/5