Journal Ideal

Sebagai anak blog, aku kadang butuh journal kecil untuk mencatat ide yang terlintas di benak.

Ciyee, kayak yang rajin nulis blog aja.

Jadi di sabtu pagi yang santai ini, aku akan membahas journal favorit yang menurutku menarik.

Moleskine

Ini jenis journal buatan Italy yang paling digilai banyak orang. Bahkan banyak sekali kolektornya yang rajin nguber saat Moleskine mengeluarkan edisi khusus.

Dengan cover dari bahan kulit yang kuat, penampilan Moleskine tampak elegan dan terlihat mahal.

Ya emang mahal keleues.. Kalau nggak salah paling murah 300 ribuan deh.

Yang membuatku ngiler kalau lihat moleskine, journalnya bisa dibuka sampai flat 180 derajat, karena jahitannya yang bagus.

Udah gitu jahitannya yg terlihat kuat membuat tidak mudah untuk dirobek.

Lalu ada karet dibagian kanan yang diletakkan secara vertikal. Teman saya pernah berkomentar, „“Buset, buku dikaretin doang aja harganya selangit.“

Lha tapi justru bagian itu yang bikin aku tergila-gila sama moleskine.

Beberapa tahun belakangan ini aku menggunakan journal dari Miniso yang prinsipnya seperti Moleskine.

Karena budget dan sejuta alasan irit, aku pake moleskine ala-ala.

Yang penting kan ada karet vertikal dibagian kanan. *Prinsip*

Journal ala ala moleskinenya menurutku kualitas kertasnya bagus. Bisa jadi alternatif untuk sobat misquen.

Kalau moleskine beneran punya ga? Oh, tentu saja belum, tapi suatu hari aku harus memilikinya.

Midori‘s Traveler‘s Notebook

Yang hobi traveling biasanya punya journal jenis ini. Ini journal yang diproduksi oleh Traveler’s Company dari Jepang.

Karena journal ini ditujukan untuk orang yang sedang berpergian maka dibagian tengah dikasih karet supaya tiket dan nota2 yang diselipkan nggak kececeran.

Desainnya yang minimalis, simple, fungsional dan klasik, membuat jutaan orang penggemar journaling jatuh cinta.

Bahkan ada komunitas pecinta midori ini, yang sering kali memamerkan foto isi journalnya yang keren-keren itu di Instagram.

Yang aku suka dari Midori ini, bahannya sederhana dari kulit asli. Tahu sendiri kan kalo usia bahan kulit makin tua makin keren.

Trus isinya bisa dibongkar pasang kalau udah habis ditulis, jadi covernya bisa dipakai seumur hidup.

Ide yang jepang sekali. Sungguh minimalis.

Journal Ciptaanku

Dua jenis journal yang sudah kubahas diatas tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jadi setelah lama menggunakan 2 jenis tersebut, kupikir-pikir kenapa nggak bikin sendiri ya.

Aku pengen journal seperti Midori yang bisa dicopot-copot notesnya, jadi fleksibel gitu. Aku kan bosenan orangnya. Kalo bosen tinggal ngganti isinya.

Lalu aku mendambakan karet yang vertikal. Karet horisontal dimidori menurutku kurang ringkes, aku lebih suka karet ala moleskine.

Dengan ide yang menurutku cemerlang itu, aku menghubungi mbak Tarlen (IG : vitarlenology), minta dibikinin seperti yang kumau.

Jadilah seperti ini :

Journal ini udah setahun lebih aku miliki. Sangat ideal untuk dibawa kemana-mana. Ukuran A6 buatku pas, nggak besar & nggak terlalu kecil.

Oh ya, untuk refilnya biasanya aku beli di kamimemo (ada di tokopedia). Aku udah mencoba beberapa penjual notes. Menurutku ini yang terbaik. Kualitas kertasnya tidak tebal tapi spidol nggak tembus.

Mulai nulis di journal yuk, kurang-kurangin pake gadget melulu.

Happy journaling!

Terjerumus Ke Lembah Tiktok

Hai gengs!

Udah lama ya nggak nulis blog, sampai ketinggalan banyak cerita dari blog-blog lain.

Jadi apa kabar nih? Mungkin sama seperti kalian. Selama virus corona merajalela, aku work from home.

Bulan ini aku sudah sampai dalam taraf statis, jenuh dan butuh asupan untuk menghibur diri.

Twitter, Instagram dan Youtube sudah tak sanggup menghiburku.

Entah dari mana datangnya hidayah itu, hati ini tergerak untuk bikin akun Tiktok. Iyaa, akun alay yang sumprit nggak penting itu.

Awalnya aku upload video-video dari ponsel. Kupikir lumayan juga nih, bisa masukin video 1 menit ditambahin lagu-lagu cakep.

Daripada nyimpen di Youtube yang ribet dengan edit sana-sini, belum lagi nggak bisa masukin musik yang bisa aja dibungkam Youtube.

Oke. Fixed. Aku bikin Tiktok sebagai sarana penyimpanan video sehari-hari.

Lalu…

Hari berikutnya, video joget-joget receh seliweran di beranda Tiktok. Dalam hati berbisik, “Gak! Gak bakal aku joget-joget hina kayak gitu.”

Tapi apalah daya diriku. Aku tuh ternyata manusia yang lemah dan nggak tahan dengan godaan dunia. Nyoba ah, sekali aja. Videonya di private deh.

Abis bikin, “Ah, dipublish ajalah, toh nggak ada yang tahu juga aku bikin Tiktok.” Satu video, video kedua, ketiga dan seterusnya..

Tahu-tahu udah banyak aja.

Apa kabar Blog, Instagram, Twitter? Ya mangkrak dong, akibat keasikan punya kehidupan baru di Tiktok.

Aku emang gitu anaknya. Munafik. Dulu bilangnya najis, lha kok sekarang kecanduan.

Ah, aku sungguh bangga sama diriku.

Joget-joget lalu divideoin dan ditonton banyak orang. Kurang nekad apa coba?

Saat di rumah melulu, aku mencoba keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal baru yang nggak pernah terbersit dibenakku sama sekali.

Buatku yang introvert akut, ini sebuah prestasi.

Gimana dengan kalian? Adakah hal baru yang dicoba saat corona melanda?

Mengarungi Senja

Sabtu sore diiringi gerimis
Suara musik sayup terdengar
Berempat kami berkumpul
Duduk manis di sofa biru

Bercerita tentang hidup
Sembari mengunyah fish n chip
Disertai es kopi susu senja

Tak lupa kami berfoto
Bonus senyum untuk sang pemilik
Sebagai tanda terima kasih
Untuk inspirasi hari ini

15 Maret 2020

Menata Kedai Kopi

Dari berbagai kedai kopi yang pernah aku kunjungi, akhirnya aku berhasil membuat kesimpulan.

Bahwa kedai kopi yang sukses menciptakan suasana betah-serasa-di -rumah-sendiri adalah dengan penggunaan jenis meja dan kursi yang berbeda-beda.

Aku jadi ingat dulu ketika rekan kerjaku, yang seorang desainer interior mengeluh saat klien kami menginginkan seluruh perabotan rumahnya hanya dari satu merek.

Dia jungkir balik menciptakan suasana dirumah tersebut supaya lebih homey dan nggak seperti toko furniture.

Saat itu aku biasa aja ngelihatnya, kubilang, “Ah, lebay lu.” Tapi setelah menjelajahi banyak kedai kopi, baru aku mengerti kegalauan temanku itu.

Supaya temen-temen nggak bingung membayangkan, maka aku tunjukkan foto-foto kedai kopi di Indonesia yang bertebaran di Instagram :

@olivetreecroissants – Jakarta

Lihatlah, ada berapa jenis kursi dan meja di situ? Ada kursi goyang, sofa panjang, beberapa bangku dan dua jenis meja.

Suasana yang diciptakan membuat pengunjung ingin berlama-lama di situ.

@cooperclub.id – Jakarta

Tiga titik yang menawarkan fungsi kenyamanan yang berbeda-beda

Ada meja panjang yang cocok untuk meeting dengan beberapa orang. Ada kursi tinggi dengan meja menghadap jendela untuk menyendiri. Ada pula meja bundar dan bangku yang cocok untuk pacaran.

Pengunjung punya banyak pilihan untuk nongkrong di titik yang disukai.

@kopi.riung – Bandung

Sebuah tempat bernuansa biru dan putih. Dua buah kursi bergaya retro dengan meja kecil membuat pengunjung serasa di teras rumah sendiri.

Sofa panjang berwarna putih dengan bantal biru cocok untuk nongkrong beramai-ramai layaknya di meja makan rumah

@theparlor.bdg – Bandung

Sebuah contoh furniture untuk tempat outdoor. Besi dan kayu yang tahan hujan dan panas. Tinggal pilih mau duduk di sebelah mana.

Kalau aku sih akan memilih duduk di kursi hitam yang sepertinya lebih nyaman daripada lainnya.

@thejunctionhouse – Seminyak

Kedai kopi ini menawarkan suasana tropis di tengah hutan. Padahal Seminyak kan deket pantai ya, bukan di gunung.

Dinding yang dihiasi mural bernuansa hutan cocok dengan perabotan yang warna-warnanya di dominasi oleh coklat, hitam dan hijau.

@Tropicalcoffee – Surabaya

Dari foto di atas terlihat bahwa dengan furniture yang berbeda-beda, kedai kopi ini bisa membuat pengunjung bersiap selfie dengan kameranya sambil berkata, “Wah, ini instagramable banget.”

@timoerkopi – Surabaya

Foto ini membuktikan bahwa kursi lipat merah yang legendaris dengan meja khas depot jaman dulu itu ternyata juara.

Pilihan furniture ternyata nggak harus kekinian, karena kekunoan juga nggak kalah asik.

***

Jadi, apabila suatu hari teman-teman berkunjung ke kedai kopi, perhatikan furniturenya. Pokoknya perhatiin aja, ntar kan jadi inget tulisan blog ini.

Menikmati U2

Saat bekerja sambil mendengarkan albumnya U2, tiba-tiba terlintas untuk menulis blog tentang salah satu band kesukaanku ini.

U2 merupakan band rock legendaris dari Irlandia (ya kali-kali aja masih ada yang mengira itu band dari UK). Mereka menghasilkan banyak album dan sudah pasti lagu-lagunya banyak yang hits.

Bisa saja aku memilih 10 lagu yang menurutku oke, tapi biar lebih mikir milihnya, aku membuat ranking 3 besar aja. Tiga lagu yang menurutku terbaik.

Tanpa basa-basi lagi, ini dia daftarnya :

3. All I Want Is You

All I Want Is You merupakan lagu terakhir di album Rattle and Hum yang dirilis tahun 1988. Sebetulnya lagu ini sungguh jadul, aku baru tahu saat muncul di soundtrack film Reality Bites tahun 1994 yang diperankan oleh Winona Ryder, Ethan Hawke dan Ben Stiller. Saat itu filmnya ngetop banget, otomatis lagu All I Want Is You juga ketularan ngetop.

Lagu ini durasinya cukup panjang,06.30. Tapi tahu sendiri kan, kalau lagu enak, durasi yang panjang bikin lagu itu terasa singkat, tahu-tahu udah kelar.

Udah gitu lagunya pas banget sama suasana di film Reality Bites. Lagu itu padahal 80’s, gara-gara dirilis ulang tahun 1994, rasanya jadi berbau 90-an. Atau mungkin itu hanya perasaanku aja ya?

2. With Or Without You

Sulit untuk mendebat kalau lagu ini nggak bagus, rasanya semua orang di dunia suka lagu ini. Dari sekian banyak lagu U2, entah mengapa aku nggak pernah bisa bosen dengan lagu With or Without You.

With or Without You merupakan lagu ketiga di album ke-5 mereka, The Joshua Tree (1987). Lagu ini pernah menjadi hits nomor satu pertama mereka di Amerika Serikat dan menduduki puncak Billboard Hot 100.

Lagu ini juga tahun 80-an, jadi umur lagu ini sekarang 33 tahun. Kurang jadul apa coba.

Dulu saat thn 90-an akhir, tiap dateng ke acara pensi dan semacamnya, selalu ada aja band yang menyanyikan lagu ini dan sukses membuat penonton ikut bernyanyi.

Kayaknya sampai hari ini masih ada aja yang menyanyikan lagu ini, setidaknya beberapa pernah seliweran video covernya di Youtube.

Jadi nggak heran jika tahun 2010, majalah Rolling Stone menyebut lagu ini berada di urutan ke 132 dari daftar “The 500 Greatest Songs of All Time”.

1. The Ground Beneath Her Feet

Walaupun nggak terlalu ngetop dibandingkan yang lainnya, lagu ini menurutku paling ‘wah’.

Sulit untuk mendeskripsikan betapa enaknya musik lagu ini, terutama intronya. Saking cintanya sama lagu ini, intronya yang asik pernah kujadikan ringtone ponsel.

Lagu ini muncul tahun 2000, di album All That You Can’t Leave Behind dan jadi soundtrack film, The Million Dollar Hotel. Film bagus yang tidak terkenal. Jadi inget dulu saat menahan sabar muter kepingan vcd bajakan yang nyandet-nyadet.

Selain musiknya yang asik, liriknya juga cantik. Awalnya aja udah seperti gini :

All my life, I worshiped her / Her golden voice, her beauty’s beat / How she made us feel, how she made me real / And the ground beneath her feet

Yang menarik, lirik ini diambil dari novelnya Salman Rushdie tahun 1999 tentang cinta segitiga yang berjudul sama, “The Ground Beneath Her Feet”.

Si vokalis, Bono, menyukai karakter dalam novel, Ormus Cama yang menulis lirik sebagai ratapan untuk kekasihnya, yang bernama Vina Apsara. U2 menggunakan lirik tersebut hampir kata demi kata.

Bagian yang aku paling suka, saat Bono merendahkan suaranya lalu diakhiri lengkingan,

Let me love you, let me rescue you /Let me bring you where two roads meet / Oh come back above, where there is only love / Only love

Wawancara Soleh Bersama Otong Koil

Salah satu kegiatanku dikala kurang kerjaan adalah nonton vlognya Soleh Solihun di Youtube.

Sebelumnya aku mengenal Soleh Solihun dari tulisan-tulisannya di tahun 2000-an dari majalah MTV trax. Ya udah, gitu aja. Aku nggak pernah mengikuti saat dia jadi komedian dan sebagainya karena jarang nonton televisi. Dibenakku, Soleh masih wartawan, bukan yang lain-lain.

Sekian lama semenjak majalah itu bubar, suatu hari tanpa sengaja aku menemukan vlog sederhananya yang berisi rekaman video hasil wawancara dari ponsel seadanya, tanpa ragu aku langsung subscribe.

Biasanya aku menonton secara acak, bukan sesuai urutan upload videonya. Kalau narasumber yang diwawancara ini menarik, baru deh nonton.

Seperti minggu lalu saat mati gaya melanda, aku iseng scroll link-link videonya Soleh, lalu membaca judul videonya : “Otong Koil – Suka Sedekah & Sial Terus.”

Tadinya kupikir, “Lho, kok mukanya mirip Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca ya? Masih family, mungkin.” Dengan rasa penasaran dan kurang kerjaan, akhirnya aku tonton deh video panjang berdurasi 1:43:26 tersebut.

Sebelumnya aku pernah mendengar nama Koil, tapi belum pernah memperhatikan lagu-lagunya. Baiklah, aku mencoba untuk menyimak wawancaranya biar tahu.

Saat menit-menit pertama melihat video, oh ternyata beda jauh wajahnya si Otong dan Cholil. Lagian, ngapain sih membandingkan wajah orang? Ya namanya juga netizen lagi kurang kerjaan.

Lalu dalam hati berkata dengan norak, “Ternyata ganteng juga ya.” Kemudian bertekad akan nonton sampai selesai.

Mulai merasa relate, ketika dia bercerita awal mendirikan band tersebut karena frustasi dan ingin melarikan diri dari melukis dan kegiatan art. Wah, kok kayak aku tahun kemarin. Maksudku, stresnya doang, bukan broken heartnya.

Pelarian standarku biasanya ke hal-hal yang visual, seperti menggambar, menonton, melihat lukisan. Seperti Otong, karena pelarian yang biasanya jitu udah nggak mempan dan nggak terhibur, akhirnya aku mencoba untuk menulis puisi dan bikin blog. Lho, kok jadi curhat ya wkwk.

Lanjut,

Menurut Otong, musik Koil bisa dibilang perpaduan antara Motley Crue dan Duran-Duran. Wah, kebetulan aku suka Duran-Duran. Jadi, aku skip dulu, masuk Spotify dan mencoba mendengarkan salah satu lagunya Koil.

Ternyata ada dua album di Spotify. Soal musiknya, karena aku nggak paham dengan musik rock, jadi mending nggak usah sok tau dan membahasnya ya. Yang pasti aku suka synthesizernya.

Lalu aku mencoba menyimak lirik dari salah satu lagunya yg berjudul Sistem Kepemilikan,

“Ini negara bodoh yang sangat aku bela/ layaknya kekasih yang tercinta….”

Wah, ini sesungguhnya kalimat romantis yang sungguh realistis dan laki banget.

Lalu, mencoba mendengarkan “Mendekati Surga” yang konon masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kok tahu? Ya baru tahu juga abis googling.

Lagu Mendekati Surga di buka dengan lirik,

“Aku adalah arsitek..”

Wow, apakah ini lagu diciptakan buatku? *mulai halu*. Tentu aja tidak dong, siapa gue. Ge-er amat.

Satu lagi lirik lagu yang menarik, judulnya Nyanyikan Lagu Perang.

“Pasti ada cara untuk mencari uang/ Pasti ada cara untuk bersenang senang/ Badai pasti datang kita tak akan menang/Mengapa harus bimbang”

Sungguh sebuah lirik yang memotivasi kita saat bokek di tanggal tua.

Oke. Lanjut nonton vlog lagi.

Jadi durasi panjang yang menghabiskan banyak kuota itu isinya apa aja? Banyak dong.

Selain bercerita tentang Koil, Otong juga bercerita tentang jatuh bangun menjalankan bisnisnya. Kesialan tentang dirinya, senangnya bersedekah dan rekomendasi cara berkomunikasi dengan Tuhan.

Sepertinya aku menyukai sisi yang ini, karena ada beberapa pandangan yang sama denganku. Penggemar Koil yang baca blog ini dalam hati menggerutu, “halah, disama-samain.”

Banyak percakapan menarik yang bisa direnungkan. Terutama tentang pengalaman menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Satu kalimat yang membuatku termenung agak lama adalah, menurutnya Tuhan nggak bikin peraturan.

Ya, teman-teman musti nonton sendiri. Kan ga mungkin aku ceritakan semua di sini.

Wawancara menarik tersebut sudah kutonton seminggu yang lalu, tapi obrolan (dan wajahnya, ehem) sulit untuk dilupakan. Jadi lebih baik dituangkan aja ke blog, supaya bisa tidur nyenyak malam ini. Pembaca membatin, “Nih anak lebay banget.”

Postingan ini ternyata menghasilkan 657 kata. Tulisan terpanjang yang pernah kubuat di blog ini. Wah, aku musti berterima kasih ke Soleh nih.

Mengamati Pamungkas

Sebetulnya aku tidak terlalu mengikuti perkembangan musik Indonesia saat ini. Playlistku ya itu-itu aja, nyangkut di tahun 90-an.

Suatu hari, seorang teman bilang bahwa dia sedang suka mendengarkan salah satu lagunya Pamungkas yang katanya enak banget. Karena temanku tipikal makhluk yang jarang memuji maka dengan rasa penasaran aku mencoba mencari di Spotify.

Ternyata Pamungkas sudah menelurkan dua album sejak dua tahun yang lalu. Walk The Talk (2018) dan Flying Solo (2019). Lalu kucoba mendengarkan lagu-lagunya. Duh, kemana aja gue kok baru tau ada anak berbakat kayak gini.

Lagu pertama yang kudengarkan adalah Sorry.

“I wish I could turn back the time

And let you know, I never meant to hurt you

I’m sorry”.

Waduh, klepek-klepek dengernya. Gimana kalo yang baru patah hati denger lagu ini? Bikin makin galau nggak karuan di bawah shower kali ya.

Dilanjutkan dengan lagu I Love You But I’m Letting Go. Diawali dengan rintihan,

“Sunday night after a rainy day

I delete all your pictures

I walk away from you”

Lhoalaah, melas banget kamu. Kan saat denger jadi pengen meluk yang nyanyi. Btw, hare gene putus cinta ternyata tinggal pencet tombol delete ya, bukan merobek foto lalu membakarnya. Hmm.. *mulai merasa tua*

Dari keseluruhan album aku suka sama musiknya yang rada british, ada rasa The Beatles dkk. Wes, pokoknya seleraku kayak gini ini.

Liriknya juga manis-manis. Menyenangkan untuk didengerin. Sampai ingin kustabilo semua liriknya saat mendengarkan. Pamungkas ternyata penulis lirik yang asik.

Suaranya Pamungkas mungkin biasa-biasa aja. Tapi bagi telingaku tergolong jenis suara yang enak untuk didengerin terus menerus di telingaku. Seperti pria kalo ngobrol nelpon berjam-jam, telingaku betah dengerin, walaupun topiknya ngalor-ngidul nggak jelas.

Setelah dengerin 2 album, lama-lama pengen tahu juga, nih yang nyanyi ganteng nggak ya? *penting*

Pamungkas ini memang misterius di Spotify. Cover CDnya berupa foto anak kecil dengan jas yang necis (eh, apa itu foto masa lalunya ya?) dan foto pemandangan laut yang tenang tanpa ombak. Di Spotify bagian atas, wajahnya di foto dari samping dengan rambut gondrong sebahu menutupi wajah. Lha, gimana aku bisa tahu wajahnya?

Aku membayangkan, saat mendengarkan suara di lagu-lagunya, sepertinya dia masih dibawah 30 thn. Sepertinya saat menyanyi sambil senyum. Mungkin dia punya senyum yang manis, badannya kurus dan memiliki wajah yang njawani. Aku membayangkan dari suaranya mungkin nih anak tipe-tipenya seperti Adipati Dolken. Pria-pria manis gitu. *mulai halu*. Lalu berdoa semoga realitanya nggak jauh dari ekspektasi. Aamiin.

Setelah cukup lama bertahan dengan imajinasi, akhirnya rasa kepo terhadap wajah mengantarku ke Instagram dan Youtube.

Di Youtube ternyata wajahnya nggak muncul, hanya lirik teks aja. Duh, Pam. Kamu sok misterius ah.

Lalu aku meluncur ke Instagram dan seketika aku terkejut pemirsa. Buru-buru kututup instagram. Halah, kok wajah sama suaranya nggak cocok gini?

Semacam perasaan yang muncul ketika seusai ditelepon pria ngajak kenalan, lalu muncul ke rumah dan ternyata wajahnya jauh dari bayangan saat bertelepon ria.

Bukan. Bukan karena Pamungkas jelek. Pamungkas manis juga kok. Hanya ekspektasiku yang berbeda aja, jadi nggak siap mental saat melihat wajah yang sesungguhnya. *apa sih? Tulisan makin nggak jelas*

Hmm.. Pam, maaf nih ya. Jika akhirnya aku bertahan untuk nggak lihat kamu secara live. Biarlah telingaku aja dengerin, mataku enggak.

Joget

Belakangan ini kawan-kawan di kantor sedang kerajingan main Tiktok. Aku masih ogah instal Tiktok dan bertahan untuk tidak ikutan terjerumus ke dalam godaan dunia perjogetan.

Saat iseng lihat video mereka, pilihan lagunya itunya itu lho, astaga. Ampun DJ! Aku kehabisan kata-kata. Musiknya gini banget sih. Hare gene masyarakat Indonesia bener-bener makin mundur selera musiknya.

Dengan gaya sok cool dan sok asik, di depan mereka, aku bertekad untuk tidak instal aplikasi dansa-dansi tersebut. Apalagi ikutan joget bareng mereka. Nggak deh, makasih.

Namun beberapa hari yang lalu, saat tanpa sengaja lihat Instagramnya Liza Natalia, selebritis yang juga instruktur zumba. Cuplikan videonya yang sedang main Tiktok keren banget, padahal kawan-kawanku gak banget (yaiyalah, ngapain dibandingin).

Aku terhenyak, kok lincah banget ya. Zumba sepertinya asik banget. Lalu aku berlanjut melihat video -video lainnya yang juga nggak kalah asik.

Masih penasaran, lanjut ngubek-ngubek Youtube. Eh, ternyata zumba seru banget. Kok sepertinya ini bisa kujadikan contoh untuk olahraga di pagi hari.

Mulailah aku tiap pagi dan sore berlatih zumba. Emang dasar diri ini munafik, latihan jogetnya tentu saja diem-diem aja dong, ga perlu pameran di depan kawan-kawanku.

Makin munafik lagi, zumba yang seru ternyata pake lagu-lagu Indonesia yang norak-norak itu. Goyang ubur-ubur lah, Goyang geleng-geleng dan sebagainya. Entah itu jenis musik apa. Dangdut koplo remix? Embuhlah. Intinya aku butuh menguasai gerakan yang cihuy.

Saat ini sih, belum ada yang tahu kalau tiap hari aku berlatih. Ntar suatu hari kalo ditantangin main tiktok, dengan gaya yang tetep sok cool, aku akan menjawab, “oke! Siapa takut?”

Kopi

Dengan sederhana
Aku minum kopi
Terkenang lagu milik Blur
Populer pada masa alay,
“So give me coffee and TV/ Peacefully”

Kini hidup makin norak
Lebih alay dari jaman alay-ku

Ngopi di kafe rumahan
Ditemani musik folk
Saat senja datang
Bersama gerimis
Dan gelas plastik

Kadang kesal
Namun tak terhitung
Aku larut didalamnya

“Hidup adalah perjuangan/
Tanpa henti-henti/“

Dewa 19 sayup terdengar
Dari dalam gua
Tempat paling rahasia
Untuk menyeruput kopi
Mencari pencerahan
Meniru nabi.

Kopi kuseruput.
Ampas kutinggal.

Pahit.