Blockbuster, Sitcom Yang Bikin Frustasi

Saya sedang jenuh nonton Seinfeld yang sudah memasuki season 8, butuh penyegaran dan ingin libur dulu nonton Seinfeld. Dengan sigap tangan saya bergerak mengubek-ubek Netflix, mencari sitcom terbaru.

Dan saya temukan ini.

Demi mendapatkan secercah info, saya meluncur ke Youtube dan menonton trailernya. Ternyata tentang kisah sehari-sehari karyawan persewaan DVD, Blockbuster. Hare gene masih ada persewaan DVD. Baiklah, tampaknya cukup menarik dan menjanjikan.

Saya juga baru tahu kalau nama Blockbuster itu bukan fiktif, tapi memang beneran ada di beberapa negara. Itu pun tahunya gara-gara baca komentar di Youtube, bahwa beberapa orang bilang pernah kerja di Blockbuster dan mereka mengenang memori yang menyenangkan di kolom komentar tersebut.

Episode pertama diawali dengan kenyataan pahit bahwa di banyak cabang Blockbuster, akhirnya satu persatu menyerah dan tutup karena tidak mampu bersaing dengan kehadiran internet dan streaming online. Sehingga Blockbuster tempat Timmy dkk bekerja, menjadi satu-satunya di jagad raya yang luas ini.

Sungguh episode pertama yang menyedihkan, bukan? Ekspektasi saya bisa ngikik nonton sitcom, lha ini kok jadi terhenyak dan rada sedih. Plus sedikit merasa berdosa karena hobi nonton Netflik.

Saya jadi teringat dulu di deket rumah ada persewaan DVD yang lumayan besar, saya lupa namanya. Tempatnya luas, seluruh bangunan dikuasai mereka. Hanya dibagian carport saja yang disewa penjual makanan bebek goreng.

Sekarang situasinya menjadi berbalik, saat persewaan DVD itu tutup. Seluruh area bangunan kini dikuasai oleh penjual bebek goreng. Kalau temen-temen pernah makan bebek goreng Palupi yang di Rungkut, Surabaya. Nah, itu dulunya bekas persewaan DVD.

Saya juga jadi inget Disctarra, toko yang menjual kaset, CD, VCD, DVD yang selalu ramai pengunjung. Saat saya masih sekolah dan kuliah, selain toko buku, Disctarra selalu jadi tempat wajib untuk dimasuki saat sedang ke mall.

Ada keasyikan tersendiri saat ngubek-ngubek rak dan nemu barang langka. Sama juga seperti persewaan DVD yang selalu dengan khusyuk saya mencari-cari film yang tampaknya bagus namun jarang dilirik orang. Semacam mencari mutiara yang terpendam di dasar lautan deh.

Jadi setelah nonton episode 1, saya berharap diri ini mulai terhibur dengan episode selanjutnya.

Dengan 5 orang karyawan, Timmy (Randall Park) harus berpikir gimana caranya supaya Blockbuster ini tetap hidup dan bisa meraih pendapatan yang cukup. Di saat yang sama, Timmy juga memiliki masalah kehidupan pribadinya yang serba kikuk karena naksir rekan kerjanya sekaligus teman SMA-nya (Melissa Fumero sebagai “Eliza”) yang sudah menikah.

Ya ampun, ini sitcom aposeh, saya yang sedang stres dan pengen dihibur makin frustasi nonton ini. Seakan-akan hidup ini menyedihkan. Plis lah, hibur saya dikit napa.

Seperti pelanggan yang kegirangan nemu film langka atau menyusuri lorong-lorong atau apa gitu yang membuat saya senyum-senyum mengingat masa-masa kejayaan persewaan DVD.

Yang adanya hanyalah mengeluh, frustasi, stres, problem pribadi di luar kisah DVD. Duh.

Pertanyaan besar, “Bagaimana rasanya bekerja di Blockbuster terakhir di Bumi?” adalah salah satu hal yang menarik dan saya tungguin. Namun saya hampir tidak melihat itu terjawab dalam alur cerita episode. Tidak ada rasa bangga atau minimal idealis deh kerja di tempat langka.

Ya mungkin ini memang kenyataan hidup yang dibebeberkan serealistis mungkin. Penulis skenarionya nggak menumbuhkan gairah atau situasi yang bisa melibatkan penonton untuk tersenyum bernostalgia, walau seuprit. Karakter-karakternya pun kurang matang dan masih sering berubah, chemistry diantara mereka juga kurang.

Sungguh membuat saya makin frustasi, lelah dan nggak bisa bikin saya tersenyum. Ah, sebaiknya saya balik nonton Seinfeld yang udah jelas dan pasti lucu. Tentu saya sembari memesan bebek goreng lewat driver online.

Advertisement

Impian Amerika

Buku pertama Kuntowijoyo yang saya baca. 30 orang Indonesia datang ke New York dengan cita-cita dan latar belakang yang berbeda. Masing-masing tertarik dengan Amerika karena punya impian Amerika. Istilah ngetopnya the American dream atau the American myth.

Yang saya dapatkan merupakan cetakan pertama dari penerbit Mata Angin tahun 2017. Sampulnya didesain sederhana dan apik oleh Buldanul Khuri dengan sentuhan fotografi karya Fendi Siregar.

Dengan latar belakang panci dan tudung saji, seorang ibu berwajah Indonesia menimang anaknya. Sorot matanya yang melirik ke arah pintu seakan mengatakan ia ingin keluar dari ruangannya, menuju ke pintu kebebasan yang disimbolkan dengan coretan gambar patung Liberty.

Jelaslah foto sampul tersebut merupakan petunjuk bahwa buku ini bercerita tentang warga Indonesia dan impiannya tentang Amerika.

Kesan saya saat membaca buku ini rasanya seperti lagi baca diary Kuntowijoyo sewaktu mengikuti program doktoral di Universitas Columbia, Amerika Serikat, di ujung 1970-an sampai 1980.

Isinya seperti lagi curhat dengan bumbu-bumbu gosip. Ya karena ngomongin orang, 30 orang pula, kurang gibah apa coba? Yang digosipin tentunya seputar pekerjaan, keluarga, dan gegar budaya. Si penulis dengan asyik cerita tentang perubahan karakter orang-orang itu.

1. Orang Madura. Ada dua keinginan duniawi Soleman. Menjadikan apartemen tempat ia tinggal sebagai koloni orang-orang Indonesia dan keinginan untuk dikuburkan di Madura.

2. Melanggar Itu Sekali Saja. Mushofa dari Cirebon, orang Sunda tulen. Liza, keturunan Yahudi, beragama Lutheran, tapi tak pernah ke gereja. “Maaf, saya tidak boleh menikahi kamu, kecuali kau masuk Islam.”

3. Indonesia di Atas Segala Bangsa. Pada suatu malam Sukiman minta dibukakan pintu. “Katolik tidak keberatan, Protestan boleh. Hindu tidak keberatan, Budha boleh, Konghucu tidak keberatan, Islam boleh, tapi jangan voodoo. Upacara mereka itu pakai ayam yang disembelih. Darahnya diciprat-cipratkan. Saya tidak tahan. Saya mau tidur di sini.” Singkatnya, istrinya ikut upacara voodoo.

4. Orang Yang Berhasil. Ibu-ibu di konsulat ingin mengambilnya sebagai menantu, tapi ketika mereka tahu bahwa Lukito sudah punya calon di Indonesia mereka mundur teratur.

5. Satria Kabur Kangingan Alias Kesatria Pengembara. Tengku Syakir sudah bulat : ia tidak akan kawin dengan perawan. “Kawin saja kok pakai prinsip. Kalau demikian kapan kawinnya. Coba, kurangnya apa calon itu.” Kata saya. “Kurangnya, dia perawan. Itu namanya konsisten.”

6. Bos. Beberapa waktu kemudian Akbar membuat kejutan. Dia menelpon dari Kantor! Indonesian Marketing Agency telah dibuka, meskipun baru bagian promosi. Saya dimintanya datang ke kantor. Alamat kantornya lebih mengejutkan : ia menyebut tempat paling elite di Manhattan.

7. Anak Angkat Pak Aminullah. Tidak lama Ayu di Indonesia. Barangkali ia ketemu orang yang salah, katanya, “Pemuda di Indonesia itu lucu. Batu ketemu sudah mau nyium. Malah ngajak tidur segala. Hih, ngeri deh! Mending di sini. Ada jaminan hukum buat perempuan. Di Indonesia pemerkosa dihukum ringan, di sini suami pun bisa dijatuhi hukuman karena memperkosa istri.”

8. Anak Mami. Kedatangan ibu Sanip membawa misi tunggal : mengawinkan Sanip. Ibu itu bertekad akan tinggal di New York untuk mencarikan jodoh anaknya. “Begitu banyak gadis. Kok Sanip bilang tidak ada.” katanya sepulang dari pertemuan di konsulat. Tentu saja ibu Sanip tidak tahu bahwa anaknya jatuh cinta pada Nina Nurnia —sekalipun belum bilang ‘i love you’, anak Pak Zaid yang sudah puluhan tahun di Amerika.

9. Feminisme. Mulyadi menyewa detektif swasta untuk mencari istrinya. Orang heran, kok sampai hati seorang ibu meninggalkan anak-anaknya. Suatu hari istri Mulyadi menelpon istri saya, ketika ditanyakan nomor teleponnya dia tidak memberi tahu, kecuali mengatakan ia berada di tempat di mana perempuan jadi dipertuan, bukan jadi budak di rumahnya sendiri. Kami dapat menduga ia sudah bergabung dengan gerakan feminis.

10. Taksi. Tabungan Purnomo sudah mencapai 60.000 dolar. Uang itu dibelikannya taksi dan sekaligus izin usaha. Maka ia berhak menyebut dirinya sebagai pengusaha. Akan ia buktikan apakah masih berlaku the Amerikan Dream.

11. Perempuan. Saya membaca sebuah iklan, “Tuan ingin kehangatan perempuan Timur?” Hubungi, lalu disebutkan nama dan nomornya. Namanya : Tina Larasati. Nomornya? Saya mengusap mata, tidak salah lagi: itu nomor Linda. Saya minta tabloid itu. Ini berita besar untuk Suparta. Linda benar-benar melaksanakan ancamannya.

12. Master Suyadi dan Keluarganya. Adiknya yang sudah duduk di kelas tiga High School itu mulai pacaran, Suyadi menelpon menanyakan pada umur berapa anak Amerika mulai pacaran. Untuk melegakan dia, saya jawab saja bahwa anak mulai pacaran ringan pada umur 15 dan setelah keluar High School susah cari orang yang masih murni.

13. Pengalaman adalah Guru yang Sontoloyo. Yang kami sesalkan ialah dia telah menghubungi agen, padahal cukup banyak teman yang bisa menolong secara cuma-cuma. Qomaridduniya harus membayar agen dengan gajinya minggu pertama, itu berarti pemborosan. Dan belum tentu pekerjaan itu cocok.

14. From New York With Love. Tony jatuh cinta pada gadis yang tak sepadan. “Orang tuanya materialistis,” kata Tony. Maka larilah Tony ke New York, kuliah dan menyelesaikan BA-nya. Dia selalu mengirim surat, tapi yang membalas selalu orangtua gadis itu. Sampai suatu hari, surat balasan itu disertai undangan perkawinan.

15. Aku Cinta Indonesia. Bagi kami tempat tinggal Pak Tio di Long Island bukan rumah, tapi istana! Rumah itu rumah joglo, dengan gapura dan satpam. Ada seperangkat gamelan, yang pasti tak pernah dibunyikan. Ketika kami duduk, kami heran ternyata beringin bisa tumbuh di Amerika. Ada burung derkuku, perkutut, bekisar, gelatik dan kutilang.

16. Awas, Ada Laki-Laki! Dina sedang antre di bank, ketika tiba-tiba seorang laki-laki hitam antre di belakangnya. Dina ketakutan, tidak jadi mengambil uang, dan pulang. Sayalah yang bertugas mengawalnya, bila ia pergi ke bank. Saya juga dipercaya mengambilkan uang lewat mesin.

17. Balada Murniati dan George. George keluar dari pekerjaan untuk membuka warung sate. Begitu juga Murniati. Murniati punya inisiatif untuk membuat selebaran di masjid-masjid, penjualan daging halal, kedutaan dan pengajian KJRI. Maka restorannya dianggap berjasa memperkenalkan culinary culture Indonesia di luar negeri.

18. Dijual : Indonesia. Setiap orang Indonesia di New York tahu bahwa ia aktif dalam gerakan anti-Indonesia. Namun saat mengontak saya yang dibicarakan bukan politik atau ideologi. Ia memberi PR saya untuk mengusahakan hak atas sepetak tanah di Indonesia sebagai “rumah masa depan” alias kuburan.

19. Pemberontak sejati. Terhitung sejak pramugari pesawat yang ia tumpangi mengumumkan bahwa penerbangan telah melintasi garis waktu, ia memberontak dengan masa lalunya. Sejak itu dia tidak sembayang, tidak tahu menahu dengan adat, memutuskan diri secara sepihak dengan pacar. Yang menjadikan kawan-kawannya berang adalah ia juga menanggalkan statusnya sebagai pegawai negeri.

20. Halalan, Thayiban, Mubarakan. Rupanya Harry fanatik dengan model perkawinan jaman dulu. Katanya cara itu lebih romantis daripada cara baru yang masing-masing pasangan sudah kenal lama. Bayangkan, tiba-tiba ada orang asing di kamar tidur. Oleh kawan-kawannya ia dijuluki “laki-laki zaman Siti Nurbaya.” Namun, ia sangat bangga dengan julukan itu.

21. Pengajian, Pengajian! Syamsuddin pulang ke Indonesia dan pengajian kehilangan ustadz. Dalam keadaan seperti itu tibalah serombongan anak muda Malaysia. Anak-anak itu minta kesempatan bicara secara bergilir. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam ceramah itu. Mereka pakai istilah “kalau” tapi kedengarannya seperti “karena”. Kami semua merasa menjadi terdakwa dan merasa lega setelah “pengadilan” itu selesai. Kini pengajian makin sepi.

22. Tentang Sembahyang yang Cespleng. “Maukah kau saya ajari sembahyang? Tidak lima kali, tapi cukup sekali saja. Pasti sampai.”

23. Hamil. Ayah Aty datang dari Jakarta, membujuk Aty pulang saja. Setelah melahirkan Aty bisa kembali ke New York melanjutkan sekolah. Tapi Aty hanya menggeleng pada tawaran penyelesaian terhormat itu.

24. Internasionalisasi. Orangtua Rudy membiayai sekolahnya dan penghasilannya sebagai penjaga bar dapat digunakan untuk mengongkosi program “internasionalisasi” atau kata kawan-kawan Indonesia, “demam New York.”

25. Fundamentalisme ala Indonesia. Istri saya mempersoalkan kepergian Andi ke Bangladesh untuk belajar agama. Dia punya pengalaman dalam suatu pertemuan yang dihadiri guru-guru wanita dari Bangladesh, tidak seorang pun bisa mengaji. Istri saya baru puas ketika Andi berjanji akan mengikut sertakan perempuan dalam dakwahnya. “Tidak ada orang Makasar yang ingkar janji. Hidup fundamentalisme ala Indonesia.”

26. Hamidah. Kali ini ia yakin bahwa suaminya benar-benar ateis. “Kau boleh jadi politisi, bersimpati pada buruh, menjadi Marxis atau apa saja, asal jangan jadi ateis.” Hamidah merasa hidupnya masih panjang dan ini waktunya harus pergi.

27. Orang Pertama. Bu Nelly mengatakan bahwa anaknya suka tidur di lantai yang terbentang permadani, memakai minyak wangi tak beralkohol, makan kurma, sarapan roti bundar dan madu, siwak setelah sikat gigi, membaca buku agama, mengaji, mengenakan jubah. “Kami takut dia rajin sembayang.”

28. New York – Jakarta PP. Adalah aib besar di lingkungan ABRI untuk tidak setuju dengan atasan. Pagi harinya Pak Tafsir didatangi seorang utusan mengatakan ia harus memilih jadi dubes, kepala BUMN atau cuti. Pak Tafsir segera menangkap maksudnya, pokoknya dia harus di luar negeri.

29. Anak Pejabat. Ada satu tanda Kusno anak orang gedongan adalah perutnya tidak mau menerima nasi. Jadi umumnya dia makan kentang atau gandum.

30. Hak Yang Meninggal. Pak Achadi pulang ke Yogya setelah hampir 20 tahun di New York. “Cita-cita saya sudah kesampaian. Saya bangun pesantren. Biar ada gunanya hidup ini. Biar ada bekasnya. Saya tidak ada ilmu untuk diajarkan, tidak ada anak yang akan mendoakan. Satu-satunya kemungkinan ialah shadaqah jariyah.

***

Banyak novel tentang kehidupan Amerika tapi seringkali ceritanya terlalu dongeng dan indah-indah. Buku inilah yang paling jelas menunjukkan wajah kehidupan yang sebenarnya.

Ada beberapa bagian, yang kurang sesuai dengan kondisi dan situasi (politik) sekarang. Namanya juga cerita jaman orde baru yang ya begitulah. Jadi kadang kesannya gosipnya udah basi.

Pesan buku ini menurut saya, seabsurd apapun impian kita saat tinggal di Amerika, kita tetap orang Indonesia.

Kumpulan Dongeng Untuk Penulis

Saya membelinya seminggu yang lalu. Tidak punya ekspektasi apa-apa karena asal beli tanpa tahu isinya lebih lanjut. Saya tertarik membelinya saat melihat sampulnya yang menggemaskan.

Lihat dong, gemesin banget kan ya. Seluruh lakonnya dikumpulkan jadi satu, dari Rapunzel sampai Snow White dengan adegan membaca dan menulis. Bahkan apelnya putri salju pun apel yang bukan buah, sungguh menggelitik. Saya buka plastik kemasannya dengan gercep, eh ternyata di halaman awal tidak ada keterangan siapa pembuat ilustrasinya. Sayang sekali, padahal saya suka banget lihat sampulnya. Bahkan rasanya ingin saya gunting lalu saya pigura untuk dijadikan hiasan dinding.

Buku ini ditulis oleh Lawrence Schimel dan terbit pertama kali di Spanyol tahun 2019, kemudian diterjemahkan ke beberapa bahasa, salah satunya bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.

Nah, buku yang saya miliki ini merupakan cetakan pertama (Maret 2022) yang diterbitkan oleh Marjin Kiri, salah satu penerbit yang dikenal sebagai anggota International Alliance of Independent Publisher.

Buku tipis dengan 38 halaman ini tuntas saya baca dalam sehari. Seluruhnya merupakan plesetan dongeng klasik.

Sebelum saya membaca, saya bertanya-tanya, apakah semuanya berakhir dengan bahagia seperti dongeng aslinya? Yang menarik ternyata bukan endingnya, melainkan jalan ceritanya. Seluruh kisah merupakan dongeng tentang dunia penulis dan penerbitan.

Putri Duyung – Rela kehilangan suaranya dalam penulisan kreatif demi lelaki yang dipuja.

Kerudung Merah – Serigala jahat menawarkan kontrak penerbitan yang tampak menggiurkan kepada kerudung merah.

Putri Tidur – Satu tusukan duri kritik untuk menidurkan penulis yang hendak mekar itu.

Putri Salju – Perempuan yang merasa lebih hebat dan pintar, senewen ketika koran-koran memberi ulasan bagus untuk pesaingnya, penulis muda.

Sinderela – Kabur meninggalkan editor dalam acara pembacaan sebelum memperkenalkan diri.

Hansel dan Gretel – Siapa lagi yang punya kesabaran untuk menulis ulang jejak-jejak draft yang akan menghasilkan cerita?

Rapunzel – Seperti pangeran memohon-mohon agar Rapunzel mengurai jatuh rambutnya, si redaktur menelponnya meminta sisa naskah.

Pohon Jintan – Betapa banyak kejahatan yang sebagian penulis lakukan demi kesempatan untuk bisa diterbitkan.

Rumplestiltskin – Seorang agen membayar penulis picisan lawas untuk menjadi penulis bayangan bagi si bintang film.

Itik Buruk Rupa – Merasa berbeda dari saudara-saudaranya karena dia suka membaca.

Bunga lonceng – Seorang editor mendidih kepalanya melihat buku-buku pengarang yang diterbitkan oleh penerbit pesaing menduduki puncak daftar buku terlaris.

Putri Dan Kacang Polong – Coretan-coretan naskah yang membuat dia tidak bisa tidur semalaman.

Jack Dan Pohon Buncis – Jack punya ide cerita yang tumbuh dan terus tumbuh.

Secara keseluruhan cerita-ceritanya menarik dan lumayan untuk hiburan senggang saat akhir pekan.

Kalau tema plesetan gini menggunakan dongeng Indonesia kira-kira apa aja ya? Yang terbayang pertama kali di benak saya sih : Bawang Merah dan Bawang Putih.

Nilailah Buku Dari Sampulnya

Baiklah, sebelum pada nyinyir bahwa saya tipikal yang memandang sesuatu dari casing doang, tanpa memperhatikan isinya. Saya akan jelaskan dipostingan ini.

Jadi begini lho, beberapa tahun yang lalu, novel Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka meledak dipasaran.

Novel dengan sampul inilah yang pertama yang saya tahu. Potret lama seorang perempuan berkebaya yang duduk di kursi jati dengan meja disampingnya.

Tangannya yang diatas paha terlihat sedang menggengam, entah didalam genggamannya sesuatu atau cuma sekedar pose. Dari dalam dirinya keluar banyak kupu-kupu yang berterbangan, seakan-akan itu unsur kecantikan yang memancar keluar dari dalam dirinya.

Di belakangnya terlihat dinding retak dengan bunga liar yang muncul dari dalam retakan itu. Mengibaratkan walau berada di tempat yang buruk, keindahan tetap tumbuh secara alamiah.

Judulnya sungguh menarik, waktu itu saya pikir hmm.. mungkin ini kisah si Cantik yang semua orang disekelilingnya selalu memandang kecantikannya tanpa melihat isi hatinya, dan itu membuatnya terluka.

Begitulah kesimpulan sok tahu saya saat memandang sampul buku ini di toko buku. Namun saat itu hati ini belum tergerak untuk membelinya.

Kenapa? Karena gambar perempuan berkebaya ini tatapan matanya sungguh horor. Saya ngeri membayangkan, gimana kalau saat tengah malam, perempuan ini bangkit dari kursinya lalu loncat keluar dari buku? Hiyy. Ogah.

Jadi saya lupakan buku itu. Saya punya buku-bukunya Eka yang lain. Yang judul ini belum. Sampai pada suatu hari muncullah sampul terbaru dengan format hard cover di bulan Desember 2018.

Harganya juga lebih mahal dibanding sampul sebelumnya. Mungkin karena ini dikemas lebih eksklusif plus embel-embel 20 tahun dan ini sudah cetakan ke 18.

Berbeda dengan sampul sebelumnya, di buku terbaru ini sudah tidak terlihat lagi wajah seram. Berganti dengan pemandangan alam yang cantik dengan dominasi warna hijau kebiruan yang terlihat adem.

Saat dilihat dengan seksama, terlihat bayangan 3 manusia yang tampaknya sedang bertikai. Ternyata adegannya tidak adem, walau bukan adegan panas.

Lalu saya berpikir, ini ada gunung, darat dan lautan. Apakah ini ceritanya tentang alam yang cantik tapi banyak luka di dalamnya? Apakah ini tentang kisah lingkungan hidup?

Begitulah saya menebak-nebak, karena saya masih malas mencari tahu resensinya gimana.

Tapi karena ide sampulnya sangat kontras dengan sampul sebelumnya, maka saya mulai penasaran. Sebetulnya desain sampul mana yang lebih cocok sama isi bukunya? Yang bergambar perempuan ataukah alam?

Mulailah saya mengubek-ubek Google Image. Lalu saya menemukan sampul yang berbeda dari dua desain diatas tadi. Seperti ini :

Ternyata ini cetakan yang pertama di tahun 2002. Penerbitnya masih Akypress, yaitu Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela. Dari Google saya tahu bahwa cetakan kedua dan seterusnya, mulai tahun 2004 diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Sampulnya oke lho, saya suka. Seorang perempuan sedang menunduk dengan baju yang sedikit terbuka di bagian atas dengan latar belakang tempat tidur di balik tirai. Ekspresinya terlihat sedih dan kedua tangannya menyiratkan kegugupan.

Mungkinkah Cantik Itu Luka ceritanya seputar ranjang? Saya menebak-nebak lagi dan mulai bingung, sebetulnya buku ini tentang apa?

Googling lagi dan menemukan sampul yang menurut saya ehmm.. rada norak dan entahlah. Sulit untuk dideskripsikan.

Pemilihan jenis huruf untuk judul Cantik Itu Luka seperti coretan cat semprot Pylox di dinding-dinding jalanan.

Apakah tulisan ala grafiti ini menyiratkan bahwa ini kisah tentang kehidupan dijalanan? Apakah ini kisah anak jalanan kembang metropolitan?

Terlihat gambar wajah perempuan cantik yang dicakar-cakar. Sadis! Siapa yang mencakar? Bahkan lehernya pun ada sayatan bekas cakaran. Jangan-jangan ini kisah pelakor yang mendapatkan cakaran maut dari istri kekasihnya? Saya sibuk menebak-nebak.

Namun kalau diperhatikan lagi dengan seksama, itu tampaknya bukan kuku manusia. Kuku apakah itu? Apakah dia dicakar siluman macan? Jadi itu cakar kuku macan? Duh, mendadak teringat camilan khas Samarinda yang gurih dan asin itu.

Masih penasaran, saya temukan lagi sampul versi lain.

Kali ini menggunakan fotografi dengan model perempuan yang saya tidak tahu, dia cantik atau tidak. Wajahnya nggak terlihat jelas, lebih jelas pahanya. Fotonya sederhana dan minimalis, mengingatkan saya pada cover kaset penyanyi wanita di tahun 90-an.

Lalu, saya bertanya-tanya, ngapain dia rebahan disitu sendirian? Apakah ini novel tentang kisah jomblo ngenes yang kesepian? Jomblo meskipun cantik? Cantik tapi nggak ada yang mau jadi pacarnya? Oh, makin membingungkan.

Di bagian atas buku terdapat embel-embel “Telah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Malaysia.” Sebuah pertanda bahwa buku ini cetakan yang lumayan baru, entah tahun berapa.

Lalu saya googling lagi dan menemukan fakta bahwa Novel Cantik Itu Luka berhasil menjadi buku best-seller yang diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa. Wuih, banyak banget ya.

Diantaranya bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Denmark, Yunani, Korea, dan Tiongkok. Hal ini membuat nama Eka Kurniawan menjadi dikenal di kancah internasional. Hebat juga si Eka ini, pastilah dia bukan remahan rengginang.

Lalu saya temukan ini,

Versi untuk luar negeri. Desainnya lebih cute. Saya suka dengan perpaduan warna biru oranye.

Terlihat ilustrasi seorang perempuan dengan gaun dan kain yang dililit dipinggangnya, nyemplung ke dalam sungai diantara gunung-gunung, dengan tongkat di tangan kanannya.

Tangan kanannya memegang tongkat. Apakah dia pesulap? Apakah yang disulap? Apakah dia menyulap alam disekitarnya? Oh, jangan-jangan dia aktivis lingkungan hidup? Oh, apakah dia menyulap alam sekitar menjadi tempat wisata yang komersil? Masih tanda tanya.

Oh, tunggu dulu. Itu bukan tongkat sulap. Itu tongkat payung. Saya baru nyadar setelah bertanya-tanya apa bentuk bundar berwarna biru muda. Ternyata gadis berpayung. Lalu ngapain dia berpayung padahal tidak sedang hujan? Apa takut kepanasan dan kulitnya jadi gelap? Apakah saking panasnya dia ngadem di sungai?

Saya googling lagi untuk mencari petunjuk lain, lalu saya temukan sampul yang berbeda.

Dari penampakan sampul, tampaknya ini novel yang serius, didominasi pemandangam laut dan dedaunan, seakan-akan menceritakan suasana alam yang sepi dan masih asri.

Di bagian kiri, terlihat sebagian wajah perempuan yang cuma secuprit, pandangannya seperti sedang menatap dari kejauhan. Di atas kepalanya terdapat garis-garis hitam putih, entah apa maksudnya. Saya nggak paham.

Lanjut googling lagi dan saya temukan versi lain.

Versi Russia. Dari sampulnya seperti novel-novel chiclit begini ya? Lebih ngepop. Latar belakang gelap tidak membuat buku ini terlihat dark, karena hadirnya bunga-bunga berwarna kuning neon disekeliling buku, seperti gemerlap di antara gelapnya kehidupan.

Apakah ini versi cantik ala Russia? Wajah cantik dengan maskara luntur yang menyiratkan luka?Plus ekspresi datar dengan mimik muka nggak abis pikir seakan-akan bilang, “Oh, tydack! Yak ampyun! Plis.”

Teman-teman lihat sampul ini, makin ikutan bingung kan? Satu lagi yang saya temukan.

Sampul yang ini konsepnya berbeda dengan yang lain. Saat pertama lihat, kesan pertama saat melihat sampul ini “wuih, cakep. Suka.”

Seperti mengingatkan pada semua orang bahwa bunga khas Indonesia ini memang cantik dan langka, walau aromanya yang busuk mengganggu penciuman. Jadi bunga ini semacam simbol yang menyiratkan Cantik Itu Luka.

Namun, mungkin saja kalau orang pertama kali lihat buku ini tanpa membaca keterangan di belakangnya, akan mengira ini buku non fiksi yang isinya mengupas tanaman langka di dunia.

Lanjut Googling lagi dan saya nemu ini.

Setelah lihat berbagai sampul, saya merasa Ini bukan sampul yang saya suka. Biasa aja.

Terlihat perempuan langsing di balik payung yang terlihat malu-malu tapi posenya genit sok kecakepan dan pengen dilihat.

Lalu terlihat samar-samar gambar wayang. Entah apa dibenak ilustratornya? Perempuan ini terlihat sungguh jepang atau asia timur deh. Lalu terlihat wayang tuh maksudnya aposeh? Ilustratornya kurang riset ah.

Lanjut googling lagi dan saya temukan ini :

Sampulnya semacam novel misteri. Seorang perempuan yang sedang mengintip dari balik daun. Sorot matanya terlihat waspada, tidak terlihat apakah dia cantik atau tidak.

Apakah ini tentang mata-mata? Apakah ini tentang perempuan yang sedang sembunyi menghindari mara bahaya? Atau jangan-jangan dia emak-emak netizen yang maha kepo?

Lanjut lagi googling, nemu versi yang rada beda.

Semacam sampul buku dongeng klasik untuk anak-anak. Suka banget sama ilustrasinya. Sepasang dua manusia yang sedang duduk berdua di mangkok.

Si pria sedang menunjukkan sesuatu sambil mengangkat tangannya, entah apa. Nggak jelas mereka berdua lagi ngapain. Lalu apa hubungannya dengan Cantik Itu Luka? Apakah si Cantik sering digombalin sama pria tersebut yang akhirnya menciptakan luka?

***

Terus terang sampai hari ini saya belum punya buku Cantik Itu Luka, karena ehm, entahlah. Belum kepengen banget walau saya sudah punya buku-bukunya Eka yang lain.

Biarin. Saya menanti sampul berikutnya aja.

Netizen dengan ocehan nyinyir berkata, “Ih, pantesan reviewnya sok tau. Lagipula, plis deh, hellooo, situ udah ketinggalan 20 tahun lho.”

Jika ada yang sudah pernah baca bukunya, kalian punya versi yang mana? Dan dari semua itu mana sampul yang menurut teman-teman paling pas dan mewakili isinya?

Olenka

Setelah sekian lama, akhirnya saya berjodoh dengan buku ini. Sudah lama saya mengincarnya, terbitan awalnya di tahun 1983, setelah itu buku ini menjadi langka dan sulit dicari dimana-mana.

Tahun 2018 penerbit Noura menerbitkan ulang buku Olenka lagi. Entah kenapa tiap kali saya berniat beli, ada aja yang membuat saya batal memilikinya. Seakan-akan semesta berkonspirasi serentak bahwa belum saatnya saya baca buku ini.

Saya menghibur diri dengan buku-buku beliau yang sudah saya miliki. Seluruhnya buku kumpulan cerpen. Seingat saya Budi Darma memang cuma bikin 2 novel, Olenka salah satunya, sisanya kumpulan cerpen. Koreksi kalau saya salah, karena ini sok tahu aja dan lagi males googling.

Baru penghujung di tahun 2022 inilah, saat saya membuka market place, algoritmanya tiba-tiba menampilkan foto produk buku Olenka ini. Saya langsung teringat wishlist yang sudah lama terkubur. Oh, inikah petunjuk dari Yang Maha Tajir untuk segera checkout? Bungkus!

Sembari menunggu paket datang, saya iseng-iseng membaca ulasan tentang Olenka di Goodreads. Dari situ saya mendapatkan info bahwa Budi Darma menulis buku ini cuma 3 minggu aja!

Okey, baik. Kalau beliau bisa nulis secepat kilat, maka saya termotivasi untuk baca buku ini tidak lebih dari 3 minggu. Toh saya cuma baca, bukan nulis.

Ini dia penampakan bukunya. Menurut saya, hmm, kurang menjual. Ini mungkin maksudnya biar terlihat kelam gitu kali ya.

Saya amati dari dekat sketsa bikinan Fahmi Ilmansyah sebetulnya bagus, tapi begitu ditimpa warna hitam, keindahannya di mata saya jadi hilang. Belum lagi embel-embel tulisan dibagian kanan bawah. Ganggu banget.

Tapi mungkin saja itu diletakkan supaya tidak terlihat kosong dan tampak seimbang dengan bagian kiri yang cukup penuh. Duh, sok pengamat desain deh.

Walau begitu saya suka sekali sama sketsa-sketsa yang ada di dalamnya.

Jujur saja, saya lebih suka covernya yang cetakan pertama. Nggak banyak dibumbui detail-detail nggak penting.

Dimulai dari judul buku yang ditulis dengan huruf kapital, disertakan nama pengarang di bawahnya, lalu wajah 2 perempuan kembar, diakhiri dengan nama penerbit. Sederhana namun mengundang sejuta misteri.

Seno Gumira Ajidarma berkomentar di halaman depan, “… Dalam Olenka, kita memasuki dunia ajaib yang diberikan oleh bahasa —yang hanya Budi Darma seorang dapat melukiskannya.”

Sepakat dengan pernyataan beliau. Tulisannya memang ajaib. Budi Darma menginspirasi bahwa menulis cerita itu nggak perlu muluk-muluk atau dramatis.

Cerita dimulai dari pertemuan Fanton Drummond dengan Olenka dalam sebuah lift di Apartemennya. Semenjak pertemuan itu Fanton jatuh cinta dan mulai sibuk mengamati dan menebak-nebak kehidupan Olenka.

Semakin dalam Fanton menelusuri hidup Olenka, semakin liar bayangannya. Pikiran Fanton yang berkecamuk alias overthinking dituturkan dengan menarik.

Sebagai netizen maha kepo, saya seperti intel yang menyadap pikiran Fanton, menyimak kegelisahan pikirannya dengan serius dan membuntuti Fanton kemana-mana.

Saking asyiknya Budi Darma mengorek isi hati sanubari Fanton paling dalam, saya sampai nggak konsentrasi di kantor. Rasanya pengen pulang cepat dan melanjutkan baca buku ini, saking keponya saya dengan pikirannya si Fanton. Sungguh, valid no debat, ternyata saya netizen maha kepo.

Buku ini saya tuntaskan dalam 4 hari saja. Sungguh ajaib, padahal saya lemot dan lelet banget kalau baca fiksi.

Nggak cuma jalan ceritanya aja yang spesial. Kisah Fanton sesuai dengan situasi saat itu. Dengan disertakan bukti-bukti artikel koran, yang membuat saya merasa ikutan menjiwai jadi intel ala netizen di akhir tahun 1980.

Bahkan ada guntingan iklan bioskop. Ah, mengingatkan saya pada Surabaya Post, koran sore hari yang sudah lama buyar. Bahkan nama bioskop yang tertera di sini pun sudah buyar pula.

Satu lagi yang menarik. Bahasanya Budi Darma lain daripada yang lain. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa bahasanya terlihat unik. Bahasa Budi Darma, bukan bahasa Indonesia.

Beliau kayaknya alergi dengan kata ‘anda’ dan selalu menggunakan kata ‘sampean’. Yang sejujurnya saya itu geli banget denger kata ‘sampean’. Ini tokohnya bule, tapi bahasanya gini.

Seperti ini :

Tolong carikan nama tunangan saya, Carson. Mary Carson. Akan kawin bulan depan.”
Seorang pegawai perempuan menjawab, “Maaf, Tuan, kami tidak mempunyai daftarnya.”
“Diancuk!”
”Apa, Tuan?”
”Diancuk!”
”Hus, jangan bicara kotor, ah..”
”Gundulmu!”
”Lho, kok omong kotor lagi. Jangan ah, tidak baik ..”
”Kamu sundal, ya?”
”Bukan, Tuan. Saya orang baik-baik kok. Mbok jangan gitu ah.”

Sembari asyik membaca, terbersit dalam benak saya, Budi Darma kalau nulis buku harian gimana isinya ya? Nulis novel aja seperti ini.

Doa saya langsung terkabul di penghujung akhir halaman buku. Ada satu bab spesial yang berjudul Asal Usul Olenka.

Di bab inilah Budi Darma menceritakan proses pembuatan novel Olenka.

“… Entah mengapa, begitu berpisah dengan wanita ini saya terus lari, masuk ke apartemen saya, langsung menggeblas ke kamar saya. Saya membuka mesin tulis, kemudian menulis. Setelah menyelesaikan beberapa halaman, saya berpikir, mungkin saya akan segera menyelesaikan sebuah cerpen. Ternyata saya tidak dapat berhenti. Otak saya diserbu oleh desakan-desakan hebat untuk terus menulis, sampai-sampai waktu saya untuk keperluan-keperluan lain banyak terampas. Maka selesailah novel Olenka, kalau tidak salah dalam waktu kurang dari tiga minggu.”

Buku ini memuaskan batin saya yang haus akan eng.. rasa ingin tahu tingkat dewa alias kepo maksimal. Bintang 5 untuk buku ini dan jangan coba-coba pinjem, ga bakal saya pinjemin.