Heartbreaker

Setelah ayahnya meninggal, Michelle Cabot yang baru bercerai dengan suaminya, memutuskan kembali ke Florida untuk mengurus peternakan warisan ayahnya. Ketika memeriksa laporan keuangan, Michelle lemas saat tahu ayahnya berhutang pada tetangga sebelah, John Rafferty. 

Hutangnya macet sejak 4 bulan yang lalu. Michelle sudah menjual seluruh aset ayahnya untuk menutup hutang bank, yang tersisa hanya rumah dan peternakan. Bunga yang diberikan John lebih rendah dari bunga bank, tapi kenapa ayahnya musti hutang ke John? 

Michelle malas bertemu John. Mereka saling bermusuhan sejak umur Michelle 18 tahun.

Dimata John, Michelle gadis kaya dan manja yang bisanya cuma ngabisin duit ayahnya. 

10 tahun sudah berlalu, kini mau tak mau dia harus bertemu John untuk negosiasi. Siapa tahu John yang sudah dewasa lebih lunak. 

Espektasi Michelle ternyata salah besar. John yang masih memperlihatkan ketidak-sukaannya terhadap Michelle dengan ngasal menawarkan penghapusan hutang jika Michelle mau tidur dengannya. Tentu saja Michelle ngamuk. Dia tidak serendah itu. 

Setelah melihat sendiri Michelle berusaha mengelola peternakan seorang diri tanpa pekerja, serta memandang sorot mata Michelle yang putus asa, John merasa iba. Dia menawarkan bantuan dengan meminjamkan beberapa pekerjanya sampai ternak Michelle siap dijual. 

Begitulah, yang awalnya John meremehkan Michelle akhirnya bisa melihat sisi lain. Michelle punya semangat menjalankan peternakan dengan tanggung jawab yang cukup berat. Yang akhirnya membuat John berpikir bahwa Michelle adalah pasangan hidup yang tepat. 

Namun tidak seklise itu dong. Michelle sering terlihat murung, gelisah dan takut. Ada rahasia yang ia tidak ingin John mengetahuinya. 

Sebetulnya dari awal buku ini menyenangkan untuk dibaca, tapi setelah dipertengahan buku, isinya mulai bikin bosen. Yang tadinya kisah seru seputar ngurusin peternakan berbelok jadi kebanyakan cinta-cintaan, sampai bikin eneg bacanya. Lagian Michelle takluknya kecepetan sih, mustinya diulur-ulur dulu kek biar lebih seru bacanya. 

Sebagai buku ketiga dari seri Rescue, alur ceritanya lebih baik dari buku kedua, Diamond Bay sih, cuma karakter mereka berdua masih kureng, jadi ya cukup bintang 3/5 aja. 

Diamond Bay

Lagi malas review panjang lebar. Intinya Kell Sabin, agen rahasia tampan mempesona terdampar di tepi laut Florida dengan luka tembakan, lalu ditolong Rachel Jones, penduduk setempat yang rumahnya tak jauh dari pantai. 

Rachel yang mantan wartawan investigasi berupaya membantu Kell mencari tahu siapa yang memburunya. Dalam kondisinya yang lemah, Kell tidak punya pilihan lain, ia membiarkan dirinya dirawat dirumah Rachel sampai pulih. 

Selama tiga minggu bersama cinta mereka tumbuh dan bersemi. Namun sebagai agen rahasia, tidak mudah bagi Kell untuk menjalin hubungan serius, apalagi pernikahan. Dia tidak bisa menempatkan Rachel hidup dalam bahaya. Rachel protes berat, “Kalau memang akhirnya berpisah, kenapa takdir mempertemukan kita?”

Ending bisa ditebak, namanya juga novel HQ. 

Buku kedua dalam seri Rescues ini nggak sebagus buku pertama, ‘Midnight Rainbow’ yang saya kasih bintang 5. Tapi di buku ini tuh saya suka sama karakter-karakternya,  karakter anjingnya yang galak aja dengan mudah bisa saya bayangkan sosoknya. 

Lalu berbeda dengan buku pertama yang ritmenya cepat. Buku kedua ini sepertinya sengaja dibuat dengan alur yang lambat. Yang efeknya bikin saya serasa tenggelam menikmati slow living dengan suasana rumah mungil di tepi pantai Florida saat musim panas. 

Hari-hari Rachel diisi dengan berkebun, ngasih makan ayam-ayamnya, dan mencari nafkah dengan mengurus toko suvenir sembari menulis buku. Asoy banget hidupnya. 

Bintang 3/5

Midnight Rainbow

Awal kisah dimulai dari transaksi gelap microfilm yang berisi teknologi rahasia pemerintah. Pelaku berhasil ditangkap, namun sang pembeli berhasil lolos ke Costa Rica. 

Agen rahasia Amerika di Costa Rica berhasil merebut microfilm dan menitipkan pada George Persall, pengusaha Amerika yang sering keluar masuk Costa Rica. Microfilm tersebut akan diserahkan pada Luis Marcell. 

Namun sebelum kembali ke Amerika, George ditemukan meninggal kena serangan jantung di kamar tidur bersama seorang sosialita bernama Jane. 

Apakah Jane terlibat aktivitas mata-mata atau cuma kekasih gelap George? Apakah microfilm tersebut sudah diserahkan ke Luis Marcel? Dua hari sebelum George meninggal, Luis Marcel menghilang.

Manuel turego, kepala keamanan Costa Rica segera menculik Jane ke perkebunan di tengah hutan dengan penjagaan ketat. Manuel menunggu Luis Marcel muncul untuk mencari keberadaan microfilm. Minimal Jane bisa jadi alat negosiasi. Bagaimanapun juga Manuel menilai gadis itu cukup tolol karena berterima kasih pada Manuel yang telah melindunginya. 

Grant Sullivan, mantan agen pemerintah Amerika diminta menyelamatkan Jane. Ayah Jane mencemaskan putrinya, membayangkan gadis itu disiksa habis-habisan oleh para penyekapnya. 

Dari pemantauan selama dua hari di hutan, gadis itu terlihat santai seolah tengah berlibur. bersenang-senang, berjemur di pinggir kolam, tidur larut, menyesap sampanye. Grant mulai berpikir, gadis itu mungkin tidak ingin diselamatkan.

Misi Grant sederhana : masuk dan menyelamatkan Jane, membawanya keluar dari Costa Rica, kembali ke Amerika, dan menyerahkan pada ayahnya. 

Namun ternyata tidak semudah itu. Grant dan  Jane berlari menghindari kejaran orang-orang di tengah hutan yang gelap dengan hujan lebat. 

Sebagian besar buku ini berlatar di hutan dengan banyak adegan menegangkan. Semua digambarkan dengan baik, saya bisa merasakan panasnya hutan, udara yang lembab, hujan yang dingin. Suka banget sama cara nulisnya. 

Linda Howard menulis novel suspense yang keren dan yang saya suka, terselip dialog-dialog lucu yang bikin nyengir saat baca. 

Perjalanan Grant dan Jane menembus hutan selama dua hari membuat mereka lelah, kotor, lapar, dan frustasi. Dibalik kesulitan itu, Grant yang kaku dan Jane yang cerdik membuat mereka bisa jadi partner dengan chemistry yang pas. 

Bintang 5/5

The Rain Sparow

Hayden Winters, penulis novel thriller menginap di Peach Tree Inn, rumah tua yang dijadikan penginapan di Honey Ridge, Tennessee. Hayden sengaja memilih kota kecil di daerah selatan USA yang tenang supaya fokus menyelesaikan novel terbarunya. 

Selama tinggal di penginapan, Hayden sering bermimpi tentang Josie, wanita penghuni rumah tersebut sebelum dijadikan penginapan. 

Buku pun terpecah menjadi 2 alur. Masa kini dan masa lalu. 

Di masa lalu tahun 1867, Josie, gadis yang tinggal di rumah tersebut kesal saat William, kakak iparnya mendatangkan teknisi dari utara untuk pabrik penggilingan keluarga. Saat itu perang saudara antara bagian selatan dan utara sudah usai, namun Josie tetap menganggap kaum Yankee dari Utara adalah musuh. 

Dari buku ini saya baru tahu bahwa sebutan Yankee untuk orang-orang USA kawasan utara (negara bagian seperti Massachusetts, Connecticut, New York, dll). Selama ini saya tahunya Yankees itu nama tim baseball yang bermarkas di New York, yaitu New York Yankees. Ternyata Yankees asal muasalnya dari situ toh. 

Sejak kehadiran Thad, si pria Yankee, Josie secara terang-terangan menunjukkan ketidak-sukaannya. Namun Thad selalu bersikap baik padanya. Sikap sewot Josie selalu dibalas dengan tangkisan humor, lama-lama membuat hati Josie luluh. 

Ketika kisah mereka mulai menyerupai kisahnya sendiri, Hayden mulai menyadari bahwa mimpi-mimpi aneh itu seperti petunjuk untuk menyelesaikan konflik pribadinya. 

Kedekatan Hayden dengan Carrie, pustakawan lokal yang manis dari keluarga baik-baik membuatnya bimbang. Bisakah wanita itu menerima latar belakang keluarga Hayden yang kacau? Seperti Josie yang selalu senewen dengan Thad yang Yankee. 

Benang merah yang mau disampaikan penulis barangkali bahwa garis keturunan bukanlah sesuatu yang bisa kita ubah. Yang terpenting adalah perilaku kita dalam menjalani hidup. 

Bintang 5/5. Pesan moralnya dapet banget. 

Pengantin Natal

Ketika Carter Bravo dan Paige Kettleman sedang menanti di ruang duduk kantor klien, Carter iseng  mengambil majalah remaja di atas meja lalu membolak-balik halaman. Saat melihat kuis psikologi tentang jatuh cinta pada sahabat, sambil bercanda ia menyebutkan seluruh pertanyaan ke Paige. Paige menjawab asal-asalan. 

Sepulangnya dari tempat tersebut, pertanyaan-pertanyaan itu memicu kegelisahan dalam hati Paige. Mungkinkah ia jatuh cinta pada Carter? Paige tidak yakin dan menghabiskan beberapa hari dalam keadaan bingung. Dia tidak ingin mempertaruhkan persahabatannya. 

Berbeda dengan Carter yang tak pernah percaya akan cinta. Ayahnya memiliki dua istri dan sepanjang hidupnya dia menyaksikan ibunya mengusir ayahnya berulang kali, namun ibunya sering mengaku mencintainya lebih dari apa pun. Bagi Carter cinta itu membingungkan. 

Suatu hari ibunya mendesak Carter untuk segera menikah. Ah, klasik banget. Tentunya tidak menyuruh secara frontal, melainkan dengan rayuan manis, “Ibu baru beli lahan yang cocok untuk mengembangkan bisnis bengkelmu. Kalau mau lahannya, nikah dulu dong.”

Carter yang jomblo, bukannya tidak laku. Sherry, mantan pacarnya masih getol merayunya untuk balikan, namun Carter sudah tak berminat padanya. Lagipula temannya, Murray sedang serius mendekati Sheryl. Bahkan sudah mengancam, “Please-lah, ga usah balik. Malah kalo bisa segera move on. Lagian kenapa kamu ga sama Paige aja sih? Toh kalian sepertinya cocok.”

Perkataan Murray membuatnya berpikir tentang Paige. Sangat logis jika mereka menikah. Pertemanannya selama delapan tahun dan jadi rekan bisnis selama lima tahun, membuat Carter mulai yakin bahwa dirinya mampu menjalani pernikahan yang nyaman jika pasangannya adalah Paige.

Begitu Carter mulai memandang Paige dengan cara yang berbeda, ia langsung gercep mengajak Paige bertunangan. Paige yang galau berhari-hari gara-gara kuis majalah itu sepakat untuk mengiyakan. 

Sampai pada saat mereka melangsungkan pesta pertunangan, Paige tanpa sengaja menguping pembicaraan Carter dan ibunya tentang kesepakatan ibunya untuk memberikan Carter lahan yang diinginkan setelah pernikahan berlangsung. Carter tidak ingin Paige tahu bahwa itu alasan utama dia melamarnya. 

Selanjutnya baca aja sendiri. 

*

Novel ini mulai membosankan di pertengahan buku. Sempat saya malas dan pengen berhenti baca. Cara berceritanya kurang asik, belum lagi saya puyeng sama banyak nama yang disebut di buku ini. Saat cek di Goodreads, baru deh nyadar bahwa ini seri buku ke 45 dari 54 buku. Oalaa, pantesan banyak amat tokoh-tokoh figurannya.