Eric Danovan, pemilik bar yang kaku dan dingin tiba-tiba bikin geger seisi karyawan bar, saat dilabrak wanita cantik dan seksi. Bagi kedua adiknya, Tessa dan Jamie, momen tersebut sungguh langka. Kakak sulung mereka yg super sibuk ngurusin bar dan tempat penyulingan bir, diam-diam punya kehidupan asmara? Really?
Beth, cewek yang ngamuk berat itu baru menyadari bahwa ia dibohongi oleh ‘Jamie Danovan’ gadungan alias Eric.
6 bulan yang lalu, Beth dan ‘Jamie’ berkenalan saat mengikuti pameran dagang dan berakhir dengan one night stand. Mereka sepakat tidak akan bertemu lagi, namun malam yang berkesan itu membuat Beth berbulan-bulan tak bisa melupakan ‘Jamie’. Saking kangennya, Beth kepo mencari foto ‘Jamie’ di internet.
Alangkah kagetnya ketika Beth mengetahui foto Jamie Danovan yang tersebar di internet bukanlah pria yang bersamanya malam itu. Beth bergegas datang ke Donovan Brothers Brewery untuk bertemu Jamie yang asli dan menanyakan siapa yang jaga stan pameran dagang 6 bulan yang lalu selain Jamie.
Jamie pun memanggil Eric. Si Jamie gadungan pun muncul dan terkejut melihat Beth. Wadidaww. Tidak hanya Beth yang marah, Jamie pun tak terima namanya dipakai Eric untuk berbuat tak senonoh.
Seru banget buku ke tiga ini. Setelah penasaran dengan tokoh Eric yang menyebalkan di buku-buku sebelumnya, di buku ini saya jadi memahami sosok Eric yang kadang lelah hidup lurus-lurus aja dan pengen sedikit liar tanpa diketahui adik-adiknya.
Eric masih berusia 24 tahun ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Lalu dibebani tanggung jawab meneruskan pabrik bir ortunya, serta merawat Tessa (Buku 1) dan Jamie (Buku 2) yang masih remaja.
Sama seperti Beth, semenjak one night stand, Eric pun tak bisa melupakan Beth. Baginya wanita tersebut memikat hati Eric sejak pandangan pertama.
Beth bekerja sebagai manager di toko mainan dewasa. Tempat kerjanya yang tidak biasa membuat orang menilainya sebagai petualang seks, padahal sebenarnya dia biasa-biasa aja.
Tessa dan Jamie yang akhirnya mengetahui pekerjaan Beth, sering menggoda Eric dengan tatapan kagum dan cengiran yang bikin Eric salting. Menghibur sekali baca novel ini. Pencitraan Eric di dua buku sebelumnya sebagai pria yang lurus dan lempeng, buyar deh hahaha.
Alur ceritanya menarik. Eric dan Beth memiliki masa lalu yang selalu menghantui. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa kebersamaan mereka membuat beban yang dipiku, perlahan terangkat dari pundak mereka.
*
Buku trilogi ini sebaiknya dibaca secara berurutan karena alur ceritanya nyambung. Beruntung saya membaca urut, jadi nggak kena spoiler.



