Naked in Death – JD Robb

Saya penasaran banget sama novelnya JD Robb. Seri In Death ini banyak banget, totalnya ada 64 buku. Berhubung saya maunya baca urut, akhirnya hunting Naked In Death, buku pertama dulu. Dapetin buku ini susahnya minta ampun, udah kayak nyari harta karun aja.

Di buku pertama ini memperkenalkan tokoh utama Letnan Eve Dallas, polisi wanita yang ditugaskan menyelidiki pembunuhan Sharon DeBlass, cucu senator sekaligus konglomerat terkenal. 

Sharon ditemukan tewas tertembak di tempat tidurnya. Dari hasil penyelidikan awal, Sharon rupanya pemberontak di keluarganya. Dia memilih jalan hidup sebagai pelacur sebagai aksi protes dan muak pada keluarganya. 

Di bawah tubuh korban yang telanjang, pembunuh meninggalkan pesan : “Satu dari Enam”, yang menandakan bahwa masih akan ada pembunuhan dua, tiga, sampai ke-enam. Dapat dipastikan bahwa ini adalah aksi pembunuhan berantai. 

Menurut buku catatan yang ditemukan dikamarnya, dua hari sebelum tewas Sharon membuat janji dengan seorang pria bernama  Roarke di Mexico. 

Roarke yang berasal dari Irlandia, merupakan seorang pengusaha tampan misterius yang memiliki koneksi dan kekayaan luar biasa. 

Penyelidikan membuat Eve akhirnya berhadapan dengan pria tersebut. Roarke pun menjadi salah satu tersangka karena dia mengoleksi pistol yang kebetulan sama dengan yang dipakai pembunuh dan orang terakhir yang bertemu korban. 

Sayangnya di pertengahan bab ini, penulis seperti kehilangan arah dari misteri jadi romance. 

Rasanya terlalu dini jika Roarke yang tampan tajir melintir tiba-tiba bisa jatuh cinta secara instan pada polwan yang biasa-biasa aja, lalu memujanya sebagai wanita tercantik di dunia. Dongeng cinderella banget deh. Entah mengapa banyak pembaca yang menyukai tokoh Roarke ini, saya kok ga tertarik. 

Menurut saya karakter Roarke rada posesif, suka mengontrol, memaksa, meremehkan, bahkan seperti penguntit. 

Dan yang paling bikin saya ilfil, dia menerobos masuk ke apartemen Eve hanya karena dia pemilik gedungnya. Sungguh tidak beretika dan mengganggu privacy orang lain. 

Lalu bukannya Eve fokus menemukan bukti kejahatan Roarke, Eve malah terjerat dalam bujuk rayu Roarke. Dan yang paling parah, kok bisa-bisanya berhubungan seks dengan pria yang dituduh sebagai tersangka. Sangat tidak profesional. 

Mengingat buku ini berseri, apalagi buku ini sampai 64, mungkin lebih baik kalau proses mereka berdua lebih slow motion. Dari teman menjadi kekasih, jadi pembaca bisa menikmati persahabatan yang perlahan-lahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih. Daripada langsung gas pol kayak gitu. 

Lalu sampai di akhir bab, kesan saya sepertinya Eve ini kurang mahir dalam pekerjaannya. Pada dasarnya dia tidak memecahkan kasus pembunuhan sama sekali. 

Sebagai buku pertama, dari segi cerita masih kurang nendang dan saya jadi ragu untuk lanjut ke buku berikutnya. 

Bintang 2/5