Kembalinya Sunny Chandler

Sunny Chandler akhirnya kembali ke kampung halaman, setelah 3 tahun yang lalu meninggalkan calon suaminya di altar. 

Tindakannya membatalkan pernikahan di detik terakhir menjadi bahan gosip yang tak kunjung usai di kota kecil tersebut. Warga berasumsi sejuta teori tentang tindakan Sunny. Sunny yang tak kuat dengan gunjingan, lalu pindah ke New Orleans. 

Sunny sebetulnya tak ingin kembali, tapi pernikahan sahabatnya membuatnya sungkan jika tak datang. Pikirnya, cuma seminggu doang kok. 

Ternyata seminggu terasa lama gara-gara perkenalannya dengan Ty. Di pesta saat awal perkenalan, secara terang-terangan pria itu mengaku ke Sunny bahwa  dia dan temannya, George baru saja bertaruh. 

Ty akan memenangkan pertaruhan jika berhasil membawa Sunny ke tempat tidur dalam waktu seminggu. Sunny sangat tersinggung. Dia emosi dan langsung ilfil. Saat baca di bagian ini, saya menghargai kejujuran Ty. Rasanya lebih fair jika Sunny tahu di awal, walau itu menyakitkan. 

Tapi oh ternyata, Ty nih karakternya terlalu jujur. Saking jujurnya segala hal yang terlintas dalam benaknya saat memandang Sunny langsung diutarakan tanpa ada filter. 

Kalimat rayuan norak dan vulgar makin bikin Sunny muak. Belum lagi tindakannya yang agresif sangat berani dan bikin keki. 

Ada satu adegan spontanitas Ty menarik Sunny tiba-tiba, seakan hendak mencium. Pas bibir udah hampir nempel, tiba-tiba Ty menjauh dari Sunny, “Ga jadi ah.” Keki ga tuh?! Menyebalkan emang. Dan itu terjadi beberapa kali. Redflag abis. 

Dan yang bikin Sunny makin kesel, saat tahu bahwa Ty ternyata sherif. Ckckck pria mesum tanpa sopan santun gini jadi penegak hukum? Pftttt… Sunny makin ilfil. 

Ty yang gigih pedekate untuk memenangkan pertaruhan akhirnya mengganti strategi. Dia menawarkan pertemanan sehingga Sunny melunak. Dalam proses tersebut Ty makin menyukai Sunny dan mulai jatuh cinta. 

Di bab terakhir dengan pedenya Ty mengajak Sunny menikah. Kilat amat pak, seminggu doang udah yakin. Ya mungkin keterbatasan yang tidak lebih dari 300 halaman ala novel Harlequin pada umumnya, dibikin sat-set sama Sandra Brown. 

Berhubung aku bacanya ini start abis subuh & kelar jam 10 malam, so artinya bukunya jauh dari membosankan. 

Sandra Brown jago menulis cerita yang menyenangkan dan rada receh, yang bikin saya tetap tertarik baca dari halaman pertama hingga halaman terakhir. 

Deskripsinya membuat setiap adegan sangat jelas, dan karakternya terasa nyata. Dialog-dialognya nyebelin dan bikin nyengir. Walau jokesnya terlalu kasar untuk ukuran masa kini (bukunya thn 1987). Novel ini menyenangkan buat bacaan senggang saat lagi penat. 

Bad News Coboy

Ceritanya tentang Kate, si anak bungsu. Sejak balita ia diasuh kedua kakak laki-lakinya yang saat itu masih berusia 13 dan 16 thn. Jack, sahabat kakaknya yang sering main ke rumah, kadang ikut mengurus Kate. 

Namanya juga remaja yang ngurus anak kecil, jadi ilmu parentingnya seadanya aja. Walhasil Kate jadi cewek tomboy dan suka ngomong kasar. Dia tidak pernah memakai make-up, bahkan tidak punya gaun. 

Diusianya yang ke 23 Kate tidak terlalu memikirkan cinta dan laki-laki. Dibesarkan dengan dua saudara laki-laki yang protektif, dia cukup polos dan tidak terlalu penasaran atau tertarik pada lawan jenis. 

Suatu hari di bar, Kate dan Jack menggobrol seputar cinta, komitmen, dan sex. Pembicaraan mereka yang seru dan menyenangkan menimbulkan chemistry diantara mereka berdua.  

Jack mulai melihat Kate dari sudut pandang yang berbeda sebagai seorang wanita, bukan anak-anak lagi. 

Sejak saat itu hubungan mereka pun berubah, tiap ketemu ada salting-saltingnya gitulah. Keduanya sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, sehingga ketertarikan satu sama lain terasa aneh dan rumit. 

Jack yang suka mainin cewek dan Kate yang polos membuat alur cerita menjadi seru. Ya klise sih, tapi duh Jack. Kamu menggemaskan deh. Naksir adik sahabat memang meresahkan. 

Bintang 3/5

Diantara 3 buku dari seri The Garret ceritanya paling lumayan. Kelar dalam sehari menandakan tulisannya Maisey Yates enak dibaca. 

Brokedown Cowboy

Agak lelah juga menyimak karakter pria di novel ini. Galaunya nggak kelar-kelar sampai sumpek bacanya. 

Tiga tahun yang lalu, Connor Garrett ditinggal mati istrinya dalam kecelakaan mobil. Pernikahan yang dijalani selama 8 tahun tidak ada artinya lagi. Ia pun larut dalam kesedihan. 

Sikapnya yang sulit menerima takdir membuat Connor menjadi pemarah dan menarik diri dari lingkungannya. Malamnya yang sepi sering diisi dengan minum alkohol sampai teler. 

Pekerjaannya mengurus ranch pun keteteran. Sebagai cowboy, ia masih menjalankan tugas-tugasnya di peternakan, tapi administrasi yang biasa dikerjakan dibantu istrinya jadi terbengkalai. 

Adik laki-laki dan perempuan, beserta dua sahabatnya, Jack dan Liss, kadang berkunjung kerumahnya untuk main poker bareng.

Liss, sahabat Connor sejak jaman SMA prihatin melihat kondisinya. Diantara mereka hanya Lisa yang berani mengomeli Connor dengan kebiasaan mabuk dan galaunya yang ga kelar-kelar. Walau begitu Lisa lebih perhatian, hampir tiap hari ia datang untuk membawakan makanan. 

Suatu hari Liss tidak bisa memperpanjang kontrak apartemennya dan belum mendapatkan tempat baru. Connor menawarkan Liss tinggal di rumahnya sampai ia menemukan tempat lain. Ia berpikir Liss juga bisa membantunya menyelesaikan laporan keuangan ranch yang terbengkalai.

Sudah bisa saya tebak dong yang terjadi saat dua lawan jenis tinggal bareng. 

Liss yang sejak dulu diam-diam naksir tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Sebaliknya Connor merasa mengkhianati istrinya. Helloooo, istri anda kan udah tewas. Gimana sih?! 

Ya kalo khilaf kan cukup sekali dong, ini kok berkali-kali. Lalu tiap habis bercinta nyesel, trus galau maneh inget istrinya. Haduuh, capek deh sama kelakuannya yang red flag abis itu. Kalau jadi Liss udah kutinggal cowok model gini. Bye! 

Untungnya menjelang 1/3 bab terakhir, jalan cerita ‘dari sahabat jadi pacar’ bisa dieksekusi dengan cukup baik. Sepertinya sengaja diulur-ulur sama penulisnya, karena butuh waktu agak lama bagi Connor untuk mengganti sudut pandang terhadap Liss. Dari cinta yang dilandasi persabatan, lalu berupaya menaikkan level menjadi cinta terhadap pasangan. Baiklah, memang butuh waktu. 

Sebetulnya pengen ngasih bintang 3, cuma berhubung porsi galaunya Connor ini 80% dari keseluruhan novel yang, ampun deh, jadi membosankan. Belum lagi kehidupan ranchnya kaga dieksplore, bintangnya turun jadi 2 aja deh.

Part Time Cowboy

Baca di Gramedia Digital

Sesuai judulnya, Eli Garrett adalah seorang part time cowboy. Kadang-kadang aja bantu kakaknya mengurus ranch milik keluarga, karena profesinya saat ini adalah wakil Sherif. 

Suatu hari saat patroli Eli berhenti ketika melihat mobil mogok di tepi jalan. Pengendaranya ternyata Sadie Miller, cewek berandalan yang pernah ditangkapnya sepuluh tahun yang lalu saat ia baru menjadi deputi sherif. Sadie Miller yang punya pengalaman pahit tersebut tentu saja mengingat Eli, deputi junior yang sok lurus dan sok jagoan. 

Dulu setelah dibebaskan karena tidak terbukti berbuat onar, Sadie yang saat itu berusia 18 tahun, keluar dari kota tersebut, melalang buana berpindah-pindah kota dan ogah balik lagi. 

Namun kini Sadie yang sudah berpikir dewasa dan berprofesi sebagai terapis, akhirnya dapet hidayah. Menyadari bahwa hidup nomaden cuma membuatnya kabur melulu dari trauma masa lalu. Sudah saatnya ia memberanikan diri balik ke Copper Ridge, napak tilas TKP, lalu berdamai. 

Maka Sadie memutuskan menyewa rumah di sebagian lahan ranch kediaman keluarga Gatret. Selama 5 tahun kontrakan tersebut akan dijadikan bisnis penginapan. 

Sementara itu, Eli, sang sherif terkejut saat mengetahui bahwa penyewa rumah di lahan keluarganya adalah Sadie. Kakaknya membuat ia kesal karena diam-diam menyewakan tanpa mendiskusikan terlebih dulu dengan adik-adiknya. 

Tinggal satu area membuat Eli dan Sadie seperti anjing dan kucing. Singkatnya setengah bab novel ini dipenuhi dialog saling sindir, yang grafik emosinya lama-lama memuncak lalu terjadilah adegan 21+ tanpa rencana. 

Menyesal? Pasti. 

Demi kewarasan timbul kesepakatan mereka berdua, bahwa ketertarikan fisik diantara mereka sulit dihindari. Maka solusinya adalah FWB. 

Duh, kecewa deh saya pas baca. Separuh buku ke belakang penuh dengan adegan kamar. Padahal saya pengen menikmati progres penginapan dan aktifitas di ranch untuk para turis. Harap maklum, namanya juga novel romance. 

Dengan berjalannya waktu, Eli dan Sadie mati-matian menjaga perasaan mereka agar tidak jatuh cinta, yang sudah pasti gagal dong. Keduanya frustasi, buat apa bercinta kalau nggak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. 

Bintang 2/5. Tapi saya memutuskan lanjut ke buku berikutnya karena udah terlanjur terbayang suasana kehidupan di ranch yang asik. Lagipula tulisannya enak dibaca. Sehari baca udah kelar saking ringannya. Siapa tau buku lanjutannya lebih suci, ya kaleee..