New York, Actually

Daniel, pengacara perceraian kesal dengan klien wanitanya yang memutuskan untuk kembali rujuk dengan suaminya gara-gara tips yang diberikan oleh Aggie, psikolog yang terkenal lewat website konsultasi asmara. 

Menurutnya, Aggie psikolog yang dinilai sok tahu, hanya berbekal segelintir curhatan singkat satu paragraf dari suami klien, Aggie dengan gampangnya memberi nasehat rumah tangga kliennya tanpa tahu keseluruhan masalah. 

Bahkan ia pun meragukan keabsahan Aggie sebagai psikolog. Nama belakang tidak dicantumkan, wajahnya pun tidak ditampakkan di website. Bisa jadi website tersebut dikelola tim dengan beberapa orang. 

Sementara itu, Daniel juga baru berkenalan dengan psikolog juga. Namanya Molly, gadis yang dilihatnya tiap pagi saat jogging di Central Park. Mereka berdua menjadi dekat gara-gara Daniel bersiasat menyewa anjing sebagai pancingan untuk berkenalan. 

Singkat cerita, Daniel dan Molly pun menjadi dekat gara-gara anjing Molly berteman dengan anjing sewaan Daniel. 

Di balik itu, Daniel tidak tahu bahwa Molly ternyata Aggie, penulis website yang membuat Daniel jengkel. 

Molly yang sukses mengajarkan orang lain tentang relationship dan percintaan, ironisnya kisah asmaranya sendiri penuh dengan kegagalan. 

Molly yang dulunya tinggal di London, pindah ke New York untuk memulai hidup baru setelah skandal publik  menghancurkan dan mempermalukannya dirinya. Ia menyimpan rasa bersalah dan malu atas hal-hal dari masa lalunya yang dipendam rapat-rapat. 

Begitu juga Daniel. Sebagai pengacara perceraian ia punya banyak alasan untuk skeptis tentang cinta. Dia menikmati kedekatannya dengan banyak wanita, tetapi tidak pernah berminat dengan hubungan jangka panjang, itu bukan bagian dari prinsip pribadinya.

Hubungan orang tua Daniel yang buruk selalu tertanam dalam memorinya. Menjadi pengacara perceraian dan melihat sisi buruk pernikahan setiap hari hanyalah pelengkap penderitaannya. 

***

Saat baca buku ini dengan mudahnya saya membayangkan sebagai film komedi romantis. Daniel dan Molly yang selalu ragu dengan komitmen jangka panjang, perlahan saling membuka diri dan mengubah prinsip mereka berdua. Bukunya lumayanlah buat bacaan ringan. 

Buku ini merupakan buku ke 4 dari serial From Manhattan With Love. Saya punya komplit sampai buku ke 6. Bacanya nggak harus urut kok, karena tiap buku nggak dibuat bersambung. 

Younger

Setelah beberapa lama Netflix nggak tersentuh, akhirnya nonton series lagi.

Episode awal memperkenalkan Liza, ibu rumah tangga umur 40-an yang baru bercerai dengan suaminya.

Rumah gono-gini pun dijual, mau ga mau dia hengkang dari rumahnya. Liza pun memulai babak baru kehidupan. 

Ditinggalkannya New Jersey dan pindah ke New York untuk mencari kerja. Di usia yang nggak muda lagi plus kelamaan jadi ibu rumah tangga, membuatnya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

Saking putus asanya dibilang ketuaan mulu, Liza mengganti usianya jadi 27 tahun. Dibantu temen satu flatnya, gaya make-up dan berpakaian Liza dipermak abis jadi lebih muda.

Singkat cerita, Liza pun dapet pekerjaan menjadi asisten direktur marketing sebuah penerbit.

Atasan cewek yang usianya 40-an merasa cocok dengan Liza yang dinilai dewasa dan fokus berkarir, nggak seperti umumnya anak muda yang masih sibuk loncat karir sana-sini.

Sebagai cewek single yang sudah menjelma jadi 27 thn, ternyata bisa memikat hati Josh, seniman tato berusia 30 yang tinggal dekat tempat tinggalnya. 

Perbedaan usia yang cukup jauh, sering kali membuat Liza rada lemot dengan gaya pacaran yang eranya berbeda, belum lagi banyak istilah masa kini yang Liza ga nyambung.

Selain itu di tempat kerja, pimpinan Liza yang duda keren beranak dua, diam-diam mengagumi pemikiran dan cara kerja Lisa.

Lama-lama timbul perasaan naksir, yang tentu saja perasaan itu selalu ditepis Charles. Dalam benaknya wanita ini masih muda dan nggak ada tanda-tanda ingin segera menikah. Lagipula Lisa adalah bawahannya, tentunya ia harus bersikap profesional.

Lalu gimana dengan Lisa? Pilih Charles atau Josh? Tonton sendiri dong.

Nggak hanya kehidupan Liza yang disorot, percintaan pemeran lainnya juga nggak kalah seru.

Salah satunya Kelsey. Rekan kerja Liza yang sering gonta-ganti pacar.

Pacar-pacarnya Kelsey ini semuanya cakep-cakep dan setipe. Mana tipe wajahnya sesuai seleraku pula. Salah satu alasanku untuk bertahan nonton haha.

Selain Kelsey, kisah cinta Diana, atasan Liza juga nggak kalah seru. Diana yang cerdas, mapan, dan perfeksionis, beberapa kali gagal menjalin asmara.

Sejak season pertama, pria-pria yang dekat dengan Diana speknya tinggi, namun dipertengahan season, hati Diana berlabuh pada pria sederhana berdarah Italy, yang berprofesi sebagai tukang ledeng.

*

Serial yang sampai season 7 ini, ringan dan menyenangkan untuk ditonton. Durasi cuma 25 menit pula. Saking serunya seluruh season kelar saya tonton dalam waktu sebulan aja.

Sang Penakluk Kutukan – Arul Chandrana

Tertarik baca ini karena setting ceritanya di Pulau Bawean. Sebetulnya tidak jauh dari Surabaya (tempat tinggal saya), tapi untuk menuju ke sana, perlu naik kapal yang tidak setiap hari ada. Jadi kalo mau cepet, solusinya naik pesawat kecil.

Setelah baca ini, tentu aja saya makin penasaran untuk berkunjung ke pulau Bawean. Saya juga baru tahu dari buku ini, kalau penduduk Bawean menggunakan bahasa Madura, bukan Jawa. Banyak celetukan dan kosakata menggunakan bahasa Madura.

Pulau kecil yang padat penduduk, tentunya membuat gosip bergulir cepat. Namanya gosip, faktanya tidak selalu benar.

Ceritanya tentang Ranti, siswa SD berusia 10 tahun yang merupakan salah satu korban hoaks di Bawean. Ia sering kesal diledek teman-teman sekolahnya sebagai anak dukun. Bahkan gurunya yang merupakan kerabat dokter, kerap menyindirnya di dalam kelas.

Padahal ayahnya seorang herbalis. Beliau sering membantu orang menyembuhkan dengan ramuan dari tanaman yang tersedia di sekitar pulau Bawean.

“Biaya dokter kadang mahal, jadi Ayah membantu dengan pengobatan alternatif.” Begitulah penjelasan ayahnya tiap kali Ranti protes supaya Ayahnya berhenti kerja.

Setiap hari Ranti ke sekolah berjalan kaki sendirian melintasi hutan yang sepi.

Suatu hari di hutan, ia melihat Akdong, makhluk terkutuk yang diusir dari desa sepuluh tahun lalu. Wajahnya rusak, tidak ada alis. Hidungnya berpilin, bibirnya bengkak dan pipinya keriput.

Gosip penduduk menyatakan bahwa Akdong dan anaknya yang bernama Aknang adalah makhluk yang dikutuk oleh raja jin. Ranti pun lari ketakutan.

Setelah beberapa kali tanpa sengaja Ranti bertemu Aknang, anak Akdong di hutan. Penilaian Ranti berubah. Ternyata Aknang yang usianya sebaya dengan Ranti tidak menakutkan. Berdua mereka menjalin persahabatan.

Tentu saja Ranti tidak bilang siapapun, karena Ranti menyadari kesamaan mereka berdua, yaitu sama-sama korban hoaks. Dalam hati Ranti pun timbul tekad, suatu hari nanti ia akan membantu Aknang meluruskan fitnah yang menimpanya.

*

Buku ini sebetulnya lebih cocok dibaca anak-anak. Cara berceritanya seru, dengan sedikit ketegangan dan petualangan. Banyak pesan moral yang terselip di buku ini.

Jula Juli Cinta Mini

Setelah beberapa tahun kerja di Hongkong sebagai TKW, Mini akhirnya pulang ke Surabaya.

Suami dan kedua anaknya menyambut dengan gembira. Imin, anak sulungnya minta sunat dan dirayakan dengan penyanyi musik electone.

Mini pun menyanggupinya, bahkan supaya lebih meriah, Mini ingin ada pertunjukan ludruk di acara sunat.

Suaminya agak keberatan, sayang uangnya. Tapi Mini bilang ini syukuran sunat sekaligus perayaan kepulangannya.

Benarkah suaminya keberatan hanya karena uang? Silakan baca sendiri.

Mau cerita banyak tentang buku ini, tapi lagi dipinjem, seinget saya aja deh reviewnya.

Dalam buku ini bertaburan parikan, jula-juli, dan pisuhan khas Surabaya. Yang dipakai pun bukan “Jancuk”, tapi kata yang lebih halus, yaitu “Jangkrik”.

Jika warga kota lain bilangnya : asu, anjing, monyet, babi, dan sebagainya. Orang Surabaya sering menggunakan kata “Jangkrik”, termasuk saya.

Suka sekali dengan gaya menulis Budi Maryono. Banyak pesan nasehat rumah tangga dan pernikahan, yang sebetulnya dalam maknanya. Terasa manis dan ringan saat diselipkan lewat parikan dan jula-juli sehingga mudah dipahami.

Belum lagi dialog dengan bahasa Suroboyo, yang tentunya akrab ditelinga saya membuat makin nikmat saat membacanya.
   

Telegram – Putu Wijaya

Ceritanya tentang seorang jurnalis asal Bali yang tinggal di Jakarta dengan anak angkat perempuannya.

Setiap kali telegram datang dari Bali, ia malas membukanya. Dia menebak, pasti isinya disuruh pulang segera.

Telegram yang dimaksud bukan aplikasi ya dek yaa..

Buku ini ditulis tahun 70-an. Saat itu telegram adalah sarana informasi paling kilat. Jika surat butuh waktu beberapa hari, maka telegram hari itu juga sampai.

Lho kenapa ga pakai telepon aja? Kan lebih cepat? Saat itu masih jarang orang yang punya telepon di rumah, apalagi handphone.

Saking kilatnya telegram. Maka tentu kabar yang diterima super penting. Tak hanya ia yang deg-deg-an membukanya, Sinta, anaknya tak suka jika ada telegram dari Bali. Sinta tak rela ditinggal papanya ke Bali sendirian.

Jadi begini isi telegramnya :
IBU SAKIT KERAS CEPAT PULANG TITIK.

Berita penting tersebut langsung membuatnya over thinking, pikirannya pun berkelana. Antara pulang segera atau lebih baik tidak usah.

Pikirannya kembali ke masa lalu saat si Aku tinggal di Bali, yang sibuk dibebani seabrek tanggung jawab kepada keluarga besar. Saat itu ia hanya ingin minggat, minggat dan minggat. Nah, sekarang sudah minggat, kenapa musti balik lagi?

Saya disuguhi kekacauan pikiran dengan perdebatan monolog dalam hati, sampai si tokoh tak mampu membedakan pikiran waras dan imajinasinya. Saat baca, sekilas mengingatkan saya dengan novel-novelnya Budi Darma, cuma yang ini lebih muram.

Mengingat novel ini ditulis Putu Wijaya saat berusia 28 tahun, tentunya membuat saya kagum. Para pengamat sastra menyebut, inilah novel Indonesia pertama yang menggunakan teknik stream of consciousness.

Bintang 4/5
Jadi pengen baca bukunya yang lain.