Moonlight Over Manhattan

Menurutku buku ini emang paling cocok untuk jadi penutup yang manis dari seri From Manhattan With Love. Novel ini sangat menyenangkan untuk dibaca dari awal hingga akhir. Gong banget lah pokoknya. 

Settingnya di New York menjelang natal, di penghujung tahun dengan salju yang mulai turun, ditambah dua manusia yang jatuh cinta dan seekor anjing nakal. Udah berasa hawa nonton film romcom natal semacam Serendipity dan sejenisnya. Pilihan ideal kalau mood lagi menye-menye dan kangen ngabisin cuti akhir tahun. 

Kisah bermula saat kakak perempuan Ethan mengabarkan anaknya sakit di luar kota dan harus menitipkan anjingnya. 

Kunci serep apartemen sudah diserahkan Harriet, gadis yang biasa disewa kakak perempuan Ethan untuk mengajak jalan-jalan anjingnya. Ethan, dokter IGD yang super sibuk mengiyakan tanpa pikir panjang.

Namun alangkah terkejutnya dia saat pulang mendapati apartemennya berantakan total akibat ulah anjing nakal. Ethan marah dan berteriak pada Harriet yang awalnya tidak ia kenali. 

Harriet, gadis berusia 29 tahun yang pemalu dan introvert mendadak cemas dan gugup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Harriet kembali gagap. 

Trauma akibat kemarahan ayahnya yang terus-menerus ketika dia masih kecil, membuatnya cemas menghadapi kemarahan orang lain. Harriet pun mengalami gagap dan kesulitan bicara sejak kecil sampai menjelang dewasa. 

Beberapa tahun belakangan ini Harriet merasa  telah mengatasi kesulitan bicaranya, namun Ethan telah memicunya lagi. Kegagapan Harriet pun kembali menghantuinya.

Untungnya Ethan, langsung menyadari apa yang telah dia lakukan dan segera minta maaf. 

Ethan, dokter yang sehari-harinya bekerja di UGD, terus-menerus menghadapi berbagai situasi mengerikan dan pasien yang marah. Hal ini kadang membuat Ethan kesulitan mengendalikan stres dari situasi gila yang terjadi di tempat kerjanya.

Ethan yang tidak tahu bagaimana merawat anjing dan tidak punya cukup waktu untuk merawat anjing membujuk Harriet untuk tinggal di apartemen sampai kakak perempuannya pulang. 

Sebagai gadis yang selalu hidup disekeliling keluarganya, momen ini merupakan kesempatan dan tantangan bagi Harriet untuk menguji batasan zona nyamannya. Dia pun setuju. 

Semakin banyak waktu yang dihabiskan Harriet dan Ethan bersama, mereka belajar tentang sisi dan kepribadian masing-masing. Dari awal yang sederhana tersebut, keduanya membangun hubungan di mana mereka mulai saling membutuhkan satu sama lain, lalu jatuh cinta deh. 

Bintang 4/5