
Paling suka saat nemu novel yang settingnya di Amerika Serikat, yang kota-kota kecil gitu deh. Novel ini settingnya di Honey Ridge (nama karangan) yang letaknya nggak jauh dari Knoxville, kota kecil di South Carolina.
Berhubung ga pernah denger nama Knoxville, akhirnya buka gmaps dulu biar ilmu geografi saya meningkat. Ah, suka sekali sama foto-foto kota Knoxville tersebut. Tempatnya indah dan tenang, sesuai gambaran novel.
Sesuai judulnya The Memory House, ceritanya tentu saja tentang orang-orang yang pernah menghuni rumah tersebut.
Jadi buku ini memiliki dua alur cerita. Kisah penghuni rumah di tahun 1860-an dan kisah penghuni rumah di masa kini.
Semenjak putranya diculik dan pernikahannya hancur, Julia Presley berupaya mengatasi depresinya dengan cara move on.
Julia menjual rumah lamanya yang penuh memori lalu membeli rumah tua bersejarah yang luas dan tak terawat. Ia menyulapnya menjadi penginapan yang indah dibantu adiknya.
Suatu hari mobil butut Eli Donovan mogok tepat di depan pintu penginapannya. Eli yang mantan narapidana, baru bebas dan butuh pekerjaan. Julia pun memberinya kesempatan untuk bekerja merenovasi bagian belakang penginapan selama satu musim.
Eli sebetulnya anak orang kaya dengan masa muda amburadul. Kesehariannya diisi dengan pesta, mabuk, narkoba, dan gonta-ganti wanita. Kenakalannya membuat ia dipenjara dan menyebabkan ayahnya mengusir dan tidak mau melihatnya lagi.
Tanpa dukungan keluarga, ia harus menjalani hidup dari nol. Seusai keluar dari penjara, Eli bertekad menjalani hidup yang lurus. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa dirinya punya seorang putra.
Saat Eli mulai merenovasi, ia menemukan peti-peti dan tumpukan surat lama. Bersama Julia, Eli membaca surat-surat yang tak pernah dikirim oleh penghuni rumah pada era tahun 1960-an.
Charlotte Portland, sang pemilik rumah menulis tentang kehidupan pada masa perang saudara. Rumah bersejarah ini pernah diduduki tentara Amerika untuk dijadikan rumah sakit darurat.
Dalam suratnya tersirat kisah cinta terlarang antara Charlotte dan kapten tentara yang tinggal sementara di rumah tersebut.
Surat-surat yang ditulis Charlotte tidak hanya menguak rahasia-rahasia yang disimpan selama ratusan tahun di rumah tersebut. Pemikiran dan perasaan yang ditulis Charlotte ternyata relate dengan masalah pribadi Julia dan Eli yang selama ini mereka tutupi.
Bersama surat-surat tersebut, mereka berdua akhirnya saling membantu menyembuhkan luka dan belajar mencari hikmah dibalik keterpurukan mereka.
Alurnya lumayan lambat dan konfliknya tipis-tipis aja, penyelesaiannya pun sederhana, nggak dibikin mbulet dan drama roller coster. Jadi ya cocok buat bacaan pengantar tidur yang bikin hati tentrem.






