Marti dan Sandra

Awalnya cuma niat baca 1-2 bab dulu, eh tahu-tahu nggak sampai sejam udah kelar aja. Ceritanya seru dan bikin nggak bisa berhenti baca.

Kisah dimulai ketika Sandra mendapat tugas mengarang di kelas. Pilihan tema yang ditentukan ibu guru seperti pada umumnya, aktifitas keluarga saat liburan atau berlibur di rumah nenek.

Sandra pun kebingungan. Jangankan nenek, bapaknya saja nggak jelas. Terbayang ingatan Sandra ketika ia menanyakan asal-usulnya kepada ibunya.

<i>”Setan! Jangan tanya-tanya lagi, bego! Aku tidak tahu siapa bapak kamu, ngerti nggak? Laki-laki begitu banyak, bagaimana aku bisa hafal yang mana bapakmu! “</i>

Sebagai anak pada umumnya. Rasa penasaran yang tak bisa dibendung, membuat ibunya kesal dan merasa diteror dengan pertanyaan Sandra yang tak kunjung henti.

<i>”Tentu saja kamu punya papa, anak setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalaupun jelas siapa, belum tentu ia mau jadi papa kamu. Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang papa!”</i>

Marti, ibu Sandra, kerap membawa pria ke rumahnya. Sandra sebetulnya tahu bahwa ibunya seorang pelacur, bukan perempuan baik-baik, tapi ia pura-pura tidak tahu dan tak ingin mengungkitnya.

Ketika Marti diajak menikah dengan pria kaya yang mencintainya, Marti menolaknya. Kesempatan untuk meninggalkan dunia kelam ditolaknya. Alasannya : “Aku tidak mencintaimu.”

Seorang Marti yang hidupnya kelam dengan berganti banyak pria, ternyata masih punya idealisme tentang cinta. Bahkan dibalik sumpah serapahnya pada Sandra, ia selalu berharap supaya Sandra tidak menjadi seperti dirinya.

Setting cerita dibuat tahun 90-an, teknologi komunikasi masih menggunakan ‘pager’, bukan handphone. Jadi saya sempet kaget juga, Tahu-tahu endingnya loncat di tahun 2022.

Jika novel pada umumnya bab terakhir dibikin open ending. Maka dalam buku ini bukan di bagian ending, tapi SGA meletakkan di 1/3 bab terakhir.

Saya pun menerka-nerka, apa yang terjadi pada Sandra ditahun 2000-an, peristiwa apa yang membuat Sandra di tahun 2022 menjadi sosok yang tak sama sekali tidak saya bayangkan.

SGA sepertinya malas menjelaskan. Pembaca disuruh menghayal sesuka hati.

Bintang 4/5
Pas buat dibaca saat reading slump.

Komik Archie

Belakangan ini saya sedang ter-Archie-Archie. Berawal dari iseng-iseng gambling membeli beberapa komik bekas, ternyata tidak zonk karena komiknya sebagus itu.

Komik dengan ilustrasi berwarna dan cerita tentang keseharian 4 remaja SMA di kota kecil Riverdale, sungguh menghibur saya. Ceritanya khas remaja Amerika banget.

Komik yang saya punya ini terbit saat summer 2012. Jadi ya cerita-ceritanya nuansanya tentang liburan, main ke pantai, makan es krim, dst.

Archie yang bertetangga dengan Betty sejak kecil, bersahabat dengan Jughead, sedangkan Betty bersahabat dengan Veronika. Jadi mereka berempat sering main bareng.

Serunya, Betty dan Veronika sama-sama naksir Archie. Jadi kadang-kadang terjadi persaingan norak untuk mendapatkan perhatian Archie. Seperti biasa, Archie selalu bingung memilih siapa yang cocok dijadikan pacar diantara mereka berdua.

Seperti dalam cerita “The Wrong Goodbye”. Ayah Veronika yang galak akhirnya mengijinkan Veronika mengajak Archie ikut tamasya keluarga ke danau.

Dengan hati gembira Archie mampir ke Betty untuk mengambil pesanan cookies untuk bekal di jalan.

Betty yang tahu kalau Archie akan pergi dengan Veronika, berusaha menggagalkan rencana dengan menunjukkan brosur pameran mobil klasik yang diadakan akhir pekan.

Archie, cowok red flag yang tidak tegas, mulai goyah. Namun karena Archie terlanjur janji, maka ia pamit pada Betty sambil memberikan ciuman pemberi harapan.

Sesampainya di rumah Veronika, ternyata bekas lipstick yang ada di bibir Archie belum dihapus dan membuat Veronika marah. Walhasil Archie gagal tamasya bareng deh.

*

Ada 22 cerita dalam komik ini. Salah satunya “Little Archie”, cerita Archie dkk saat masih SD. Mereka berempat sudah berteman. Konfliknya tentu masih kanak-kanak, dalam buku ini Archie terobsesi ingin punya peternakan kodok.

*

Dari keseluruhan cerita, ada satu yang menurut saya twistnya lumayan lucu, judulnya “Kidding Around”.

Archie bersama geng cowok-cowok berangkat ke pantai. Namun Archie membawa anak laki-laki tetangga. “Udah kadung janji jagain dia hari ini. Gimana dong?”. Salah seorang temannya pun berujar, “Duh, kalau ada anak kecil entar cewek-cewek ga mau mendekat. Mending lu pisah aja deh sama kita-kita.”

Singkat cerita, Arvhie dan si bocil pisah dengan mereka.

Lama-lama geng cowok-cowok merasa kasihan dan berinisiatif untuk ngajak Archie bergabung, mereka pun mencari Archie.

Saat ketemu Archie, mereka lalu syok melihat Archie sedang bercanda ria dan dikerumunin cewek-cewek.

Ternyata, cewek-cewek tersebut ke pantai bersama adik laki-laki mereka. So, sambil nungguin bocil-bocil main ombak, cewek-cewek tersebut nongkrong bareng Archie.

*
Komik yang ringan, menyenangkan dan ceritanya juga mengikuti trend saat itu, terutama model-model bajunya. Pantas jika Archie dikenal sebagai salah satu icon budaya pop. Jadi nggak heran Archie masih bertahan dan tetap terbit hingga saat ini.

Bintang 5/5 dong.

Teh dan Pengkhianat

Awal tertarik untuk baca tentu saja karena terpikat dengan sampulnya yang menawan. Tiap cerita disertakan ilustrasi indah karya Adi Suta dengan teknik arsiran yang mengingatkan pada goresan komikus Italia, Paolo Eleuteri Serpieri.

Ada 13 cerpen di buku ini dengan setting jaman Belanda masuk Indonesia.

Walaupun settingnya jadul, ceritanya yang relevan dengan masa sekarang membuat saya menarik kesimpulan bahwa si penulis sepertinya terinspirasi dari topik-topik masa kini yang pernah hangat dibicarakan banyak orang.

Seperti dalam cerpen “Tegak Dunia”. Pelaut Belanda menjemput keponakannya di panti asuhan saat usia Jan 15 tahun. Usia yang cukup untuk diajak melaut, sesuai amanat alm ayah Jan.

Namun Jan bersikeras tidak mau ikut dan menjadi pelaut. Menurutnya para pelaut adalah pembohong, menyebar isu bahwa bumi itu bulat. “Bumi bulat adalah bid’ah terbesar yang dilakukan orang kristen kepada kaumnya sendiri. Begitulah yang diajarkan di panti asuhan.” Baginya bumi itu datar.

Ada juga cerpen ”Variola” tentang serdadu Belanda yang kesulitan mencari relawan anak-anak untuk ‘membawa vaksin’ dari Jawa ke Bali. Kisah ini mengingatkan saya pada kehebohan masyarakat pada vaksin vs anti vaksin.

Mula-mula kami akan mengambil bibit cacar yang sudah dilemahkan lalu menggoreskan ke lengan anak-anak sehingga bibit itu masuk, membentuk nanah darah. Walau si anak meriang, tubuhnya akan segera bangkit menaklukkan penyakit itu. Anak menjadi kebal cacar.

Seluruh proses itu akan kami lakukan di tengah perjalanan ke Bali, sehingga saat tiba di tujuan vaksin dari tubuh mereka masih segar. Bisa dipanen untuk banyak orang di sana. Baik kalangan Eropa maupun para bumiputra.”

Saya semakin yakin bahwa cerpen-cerpen di buku ini merupakan kisah terselubung, saat saya membaca “Teh dan Pengkhianat”. Dalam cerpen tersebut dicantumkan tanggal 10 Mei yang mengingatkan saya pada tanggal jatuhnya Soeharto saat reformasi ‘98.

Namun dalam cerpen ini bercerita mengenai para pekerja di perkebunan teh yang memberontak kepada Belanda.

…. “Sentot bersama 500 orang tentara mendatangi markas kami. Jenderal De Kock sendiri yang menyambutnya. Ia diberi pangkat letnal kolonel, diberi gaji tetap dan diperbolehkan memimpin pasukannya sendiri.

Masalahnya, percayakah engkau kepada pengkhianat yang meninggalkan junjungan yang semula sangat ia hormati demi uang?

Bagaimana bila pasukan Cina Makau (pekerja perkebunan teh) ini memberi ilham kepadanya untuk berbalik lagi melawan kita? Sebaiknya tetap waspada. Pengkhianat tetaplah pengkhianat.”

Satu lagi cerpen yang terdapat pencantuman tanggal. Dalam cerpen “Semua Sudah Selesai”tertera tanggal 12 Desember. Mengingatkan saya pada gerakan 212 yang terjadi tahun 2016. Cerpen ini ditulis tahun 2018, tidak lama setelah peristiwa 212. Mungkin inspirasinya dari kejadian tersebut.

*

Barangkali slogan yang pernah dilontarkan majalah HistoriA benar adanya, bahwa “Masa lampau selalu aktual.”

Bintang 5/5

Chestnut Springs

Banyak yang bilang series ini bagus. Di toko buku import pun sepertinya berebut, sold out melulu. Untunglah ada Kindle.

Kelima buku ini menceritakan tentang Eaton bersaudara yang tinggal di Chesnut Springs, Canada. Kisah 3 pria bersaudara dan 2 teman yang menemukan tambatan hatinya, masing-masing dapat porsi satu buku.

#1. Flawless – 3/5
Rhet Eaton, si bungsu yang berprofesi sebagai Bull Ryder bikin ulah, video saat ia menuang susu ke kloset tersebar di internet dan membuat sponsor perusahaan susu menarik dananya.

Kip Hamilton sebagai agennya Rhet ngamuk doang. Diutuslah Summer, anak perempuannya yang baru lulus kuliah dan magang diperusahaannya, untuk menjadi asisten Rhet.

Tugasnya mengikuti Rhet 24 jam dan mendokumentasikan seluruh kegiatan Rhet di media sosial. Rhet yang awalnya risih dibuntutin lama-lama terbiasa. Berdua mereka menjadi tim yang kompak sampai timbul rasa cinta diantara mereka berdua.

Konflik standarlah ya, hubungan profesional dengan pribadi yang tipis batasnya.

#2. Heartless – 2/5

Kisah antara single dad dan baby sitter anaknya, dengan age gap yang lumayan jauh. Tema yang biasanya saya hindari untuk dibaca, cuma karena udah terjebak untuk baca komplit, mau nggak mau saya baca juga.

Saya nggak paham kenapa banyak yang suka sama buku ke 2 ini. Menurut saya Cade Eaton bisa dapet pasangan yang lebih dari Willa. Geregetan banget lihat Willa yang kampungan dan urakan. Sementara si Cade ini hot single dad idaman banyak wanita.

#3. Powerless – 1/5

Tema klasik 2 orang yang terjebak dalam friendzone selama bertahun-tahun.

Jasper, si anak angkat Eaton (yang nggak resmi) sejak remaja menyukai Sloane, sepupu cantik keluarga Eaton. Namun si Jasper yang minder merasa dia tidak sejajar dengan keluarga Sloane.

Walaupun Jasper sudah menjadi atlet terkenal dan bergelimang harta, jiwa mindernya masih aja melekat. Sloane terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu ini itu dan sebagainya.

Menurutnya menjadi sahabat Sloane aja udah wah banget. Terlalu muluk kalau ia berharap lebih.

Banyak alasan deh si Jasper ini. Bosen bacanya, geregetan sama Jasper yang pasif tapi ngarep tak berkesudahan.

#4. Reckless – 4/5

Dari semua buku, seri yang ini yang lumayan bisa membuat saya nggak bisa berhenti baca saking serunya.

Berawal dari one night stand, Winter ternyata hamil. Dengan panik ia mencari tahu kontak si pria dari Google.

Winter : Hi, it’s Winter. Is this Theo Silva? Are you getting my voicemails? I’ve left three now. Theo : Yes. I’ve gotten your voicemails. I’m not interest in talking. Winter : Listen, I’m trying not to be a full-on bitch to you right now. But can you please call me? I need to tell you something. Theo : Then tell me. Winter : Via text? Theo : Yup. Winter : Fine. That night in the hotel, a condom must have broken, I’m pregnant. The baby is yours. Thought that might interest you. Theo : Thanks for letting me know.

Gitu doang responnya. Sialan kan?

Setahun kemudian tanpa sengaja mereka menjadi tetangga sebelah. Theo heran, mengapa Winter selalu bete dan emosi tiap diajak ngobrol Theo. Ketika Winter di puncak amarah, “Kamu nggak nyadar kalo itu anakmu?”

Duarrr, bagai tersambar petir, Theo kebingungan. Usut punya usut ternyata SMS yang dulu dikirimkan Winter salah sasaran. Si cowok tidak pernah menerima SMS tersebut.

Setelah kesalah-pahaman beres. Perpektif mereka pun berubah. Winter pun akhirnya memberikan kesempatan kepada Theo untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab

#5. Hopeless – 5/5

Beau dan Bailey bertetangga sejak kecil. Bedanya Beau dari keluarga baik-baik dan terpandang, sementara Bailey dari keluarga berandalan.

Banyak yang bilang buku ini yang terburuk, padahal menurut saya malah yang terbaik. Ide ceritanya lumayan unik. Tunangan pura-pura untuk taruhan mereka.

Bailey merasa sulit mendapat pekerjaan yang bagus karena background keluarga preman membuat reputasinya jelek di Chesnut Spring, sehingga banyak perusahaan menolak untuk merekrutnya.

Sebaliknya Beau Eaton merupakan anak laki-laki dari keluarga baik dan terpandang. Saat dia bikin ulah, cuma dianggap angin lalu dan dimaklumin warga.

Bailey rada iri pada Beau, “Ya elu, enak, dari keluarga terpandang. Sebaik-baiknya aku tetep aja citraku jelek.”

Beau yang iseng dan kurang kerjaan punya ide taruhan dengan mengajak Bailey untuk menjadi tunangan pura-pura sampai Bailey mendapatkan pekerjaan yang layak.

Mereka berdua ingin membuktikan, apakah dengan tunangan nama Bailey menjadi baik? Kalau bisa berarti Beau yang menang dan Bailey yang kalah.

*

Sebetulnya series buku ini biasa aja. Saya nggak menemukan sisi menarik dari buku-buku ini. Terlalu biasa untuk saya.

Namun kehebohan buku ini membuat Netflix tertarik untuk membuat serialnya. Saya berharap lebih bagus dari bukunya sih, yang penting pemain-pemainnya kudu cakep.

Tiga Lelaki di Perahu

Belakangan ini saya sedang suka baca-baca buku klasik. Ternyata ada juga buku klasik yang lucu.

Buku berjudul asli “Three Men in a Boat” yang ditulis hampir 4 abad yang lalu, ternyata humornya masih relevan sampai sekarang. Tentunya humor khas Inggris, yang rada garing dan bisa bikin nyengir doang. Bukan yang sampai ngakak guling-guling seperti humor negara sendiri.

Bukunya semacam curhatan lucu ala bukunya Raditya Dika. Saya kadang bingung menggolongkan buku jenis ini. Non fiksi atau fiksi ya?

Dalam bukunya, Jerome menceritakan liburan bersama 2 sahabatnya George, dan Harris. Tiga pemuda kocak tersebut berniat memulihkan stresnya akibat rutinitas kerja yang membosankan, dengan melakukan perjalanan menyusuri Sungai Thames selama 2 minggu.

Meskipun ada beberapa penjelasan tentang tempat indah dan bersejarah yang mereka lewati, buku ini bukan catatan perjalanan. Buku ini lebih banyak bercerita tentang kegembiraan dan kekonyolan mereka saat berlayar.

Ada saja kejadian lucu seperti pertengkaran kecil dan berebut tentang siapa yang akan mendayung dan menarik perahu, memasak makanan, dan mencuci, serta keinginan untuk mendarat di malam hari. Disela-sela perjalanan, memang terkadang mereka naik ke darat untuk makan malam dan mencari penginapan, supaya bisa tidur nyenyak dan stamina tetap oke.

Perjalanan mereka yang diselingi obrolan, semakin menarik saat melewati tempat bersejarah di tepi sungai, dan menyaksikan kejadian di sekeliling sungai yang membuat mereka geli. Dari tingkah laku orang-orang di perahu, perahu uap model baru, sampai mayat perempuan yang mengambang di sungai.

Pemikiran mereka yang spontan, lucu, dan kadang diluar nalar, ditulis Jerome dengan lucu. Bukan lucu yang bodoh, tetapi lucu yang cerdas, Tulisannya rada sarkas dengan sedikit sindiran tajam. Kadang terselip juga pemikiran galau Jerome tentang dirinya dan kecintaan pada negaranya.

Keseluruhan kisah membuat saya terhibur sampai akhir halaman, bahkan sukses membuat saya relate dengan pengalaman saya sendiri. Sifat manusia ternyata sama saja ya, meskipun jaman terus berubah.

Buku ini pernah difilmkan. Saya sempat mencari di Youtube dan menonton film versi tahun 1973. Sayangnya adegan film tersebut tidak selengkap buku. Saya jauh lebih suka bukunya, namun filmnya membantu saya untuk memahami tempat bersejarah yang mereka lewati.

Saat selesai baca saya berniat memberi angka 3/5. Namun setelah humor-humornya nyangkut dikepala berhari-hari dan ingin membacanya ulang (kapan-kapan), saya upgrade menjadi 4/5.