
Ebook yang sama baca ini sekilas mengingatkan saya pada film Serendipity, cuma lebih dalem. Dalem banget sampai kelelep.
Cerita dibuka dengan pertemuan Rooney dan Jack di tempat jasa print brosur. Sembari menunggu hasil print, mereka kenalan lalu ngobrol basa-basi.
Malemnya eh, tanpa sengaja ketemu lagi saat menghadiri acara perayaan Imlek di sebuah gallery. Dari situ mereka lanjut ngobrol dan jalan kaki menyusuri Manhattan.
Saat mampir untuk nongkrong dan makan malam di kedai makan China, Rooney dan Jack yang berdarah China – Amerika membahas tentang latar belakang budaya mereka, dan ujung-ujungnya iseng bahas ketidak-sengajaan mereka ketemu 2x.
Rooney merupakan wanita romantis yang punya keyakinan terhadap legenda kuno China tentang Red String Theory. Bahwa setiap belahan jiwa terhubung satu sama lain oleh tali merah yang tak terlihat. “Jangan-jangan kita belahan jiwa?”
Jack, pria yang berpikir logis, cuma tertawa dan nggak percaya gitu-gituan. Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, lagipula itu mah ilmu kuno.
Rooney percaya pada takdir. Jack percaya pada pilihan. Begitulah. Namun deg-deg serr diantara mereka berdua membuat berpikir dalam hati, “Jangan sampai lepas deh yang satu ini.”
Saat hendak berpisah, ponsel milik Jack sudah lowbatt dan akhirnya mati. Waduh. Namun ia berinisiatif untuk memberikan nomor ponselnya ke Rooney dan berjanji akan segera menghubungi Rooney, kalau ponselnya udah nyala.
Sampai hotel, Jack segera mencharge dan menyalakan, namun ternyata tidak ada missed call. Sedih dong.
Dua hari setelah pertemuan itu Rooney yang gelisah menunggu, akhirnya berinisiatif untuk telpon duluan. Rupanya nomor yang diberikan itu salah ketik, jadi salah sambung deh.
Sialnya mereka hanya bertukar nama pendek, tidak berbagi akun medsos dan tidak membicarakan profesi sama sekali. Jadi ya kaga bisa dikepoin lewat internet saking minimnya data.
Rooney yang percaya pada takdir, hanya bisa pasrah dan berpikir, “Ya udahlah kalau jodoh mah bakal terhubung lagi.”
Bulan berlalu, di tempat kerjanya, Jack ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek NASA untuk promosi dengan menggandeng seniman muda yang belum banyak dikenal.
Setelah mengubek-ubek internet, ia menemukan karya seniman misterius yang tidak pernah menunjukkan wajah dan jati diri sebenarnya. Nama aslinya pun tidak diketahui, seniman tersebut hanya menyebutkan nama Red String Girl.
Jack termenung, namanya sekilas mengingatkan ia pada Rooney tentang Red String Theory yang konyol itu. Apa kabarnya ya si Rooney?
Akhirnya setelah mengamati karya-karyanya, dengan mantap ia memilih Red String Girl untuk bekerja sama.
Setelah email-email-an, Jack dan Red String Girl bikin janji pertemuan untuk tanda tangan kontrak dan sebagainya.
Betapa terkejutnya mereka berdua ketika bertemu kembali. Red String Girl ternyata si Rooney !!
Nah lho, mereka pun happy. Rooney bilang ini takdir, sementara Jack bilang bahwa ini pilihan. Berdua mereka kembali debat kusir deh.
Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Lagi males nulis review saya. Intinya ya oke aja sih untuk dibaca, ceritanya ringan dan membuat saya mencari tahu lebih lanjut tentang red string theory.
Rooney yang percaya pada takdir dan Jack yang percaya pada pilihan, pada akhir cerita mereka menyelaraskan keyakinan mereka dan jadian deh.
Bintang 2/5



