
Kisah ini diawali dengan curhatan ‘Pasien no 23’ di sebuah rumah sakit jiwa yang mengaku pernah bertemu Kappa.
Semuanya diawali saat ia tengah mendaki gunung Hodaka. Tiba-tiba di depannya, melintas sosok makhluk aneh. Dengan penasaran, ia mengejarnya lalu terjatuh ke dalam lubang gelap, yang saya simpulkan semacam portal menuju dimensi lain.
Makhluk aneh itu adalah Kappa.
Tubuh Kappa mirip anak berusia 10 thn, dengan tinggi satu meter. Wajahnya seperti kura-kura atau katak. Kulitnya yang licin bisa berubah-ubah warna seperti bunglon.
Lucunya mereka seperti manusia. Ada yang berkacamata, membawa tas, buku saku dan sebagainya. Namun mereka tidak memakai pakaian.
”Aku pernah bertanya pada salah satu Kappa, Bag namanya. Mengapa mereka telanjang. Ia tertawa terbahak-bahak lalu berkata, “Aku juga ingin tahu, mengapa tubuh manusia ditutupi.”
Yup. Di dunia Kappa semuanya berkebalikan dengan dunia manusia.
Dalam dunia percintaan, Kappa betinalah yang mengejar Kappa jantan. Sungguh lucu.
Ditinjau dari sudut pandang manusia, tak ada yang lebih lucu daripada cara Kappa melahirkan. Sebelum bayi dikeluarkan, sang ayah berbisik pada perut istrinya,
“Apa kau ingin dilahirkan ke dunia ini?”
Jika jawabannya “Tidak”, maka bidan menyuntik perut, lalu perut si ibu menjadi kempes dan normal kembali.
Begitu juga dalam hal kapitalisme. Kecanggihan mesin pabrik, membuat banyak pekerja Kappa menjadi pengangguran.
Lho, lho, kalau ini kan sama aja kan seperti dunia manusia? Wait, tunggu dulu dong.
Di dunia Kappa, pekerja yang di PHK dibunuh dan dimakan dagingnya. Sadis. “Kok sadis? Kami mempunyai Undang-Undang Pembantaian Pekerja. Justru kami menyelamatkan pekerja dari penderitaan hidup.”
Err. Ok. Baiklah.
Bagaimana dengan hantu? Di dunia Kappa juga ada. Bahkan ada Kappa yang kerasukan roh dan bisa diwawancara.
Tanya (T) dan Jawab (J) :
T : Kenapa anda muncul? J : karena saya ingin tau tentang popularitas saya setelah meninggal. T : Apa Anda menyesal telah bunuh diri? J : Tidak. Jika jemu dengan kehidupan rohani, saya dapat kembali ke dunia Kappa dengan bunuh diri menggunakan pistol.
Setelah lama berkelana, ‘Pasien no 23’ akhirnya menemukan jalan untuk kembali ke dunia manusia. Namun sekembalinya di dunia manusia, ia menjadi tidak betah, stres dan ketakukan dengan kehidupan manusia. Ia selalu merindukan kehidupannya di negeri Kappa.
”Ya, aku ingin ‘kembali’ ke negeri Kappa, bukan ‘pergi’. Aku merindukan negeri itu seperti rumah tua yang kutinggalkan.”
Bintang 4/5
***
Buku yang saya punya merupakan cetakan pertama Juni 2016 dengan penerbit KPG. Salah satu seri Sastra Dunia.
Setelah baca buku ini, saya jadi tertarik untuk membaca semua seri, sepertinya pilihan ceritanya unik-unik.



