
Perdana baca bukunya Ernest Hemingway. Gile. Keren banget cerpen-cerpennya. Berkelas. Kemana aja saya selama ini kok telat banget baru baca bukunya?
Biasanya saat baca fiksi, imajinasi saya itu membayangkan seperti sedang menonton film. Namun cerpen-cerpennya Hemingway ini lebih dari sekedar ‘menonton film’, malah membuat saya terseret masuk ikut serta dalam ceritanya. Kok bisa ya nulis kayak gini?
Badan saya turut serta merasakan kedinginan di tengah hujan deras. Di Afrika rambut saya rasanya ikutan lengket terkena hawa panas dan merasakan kesejukan angin sepoi-sepoi. Di cerita lain serasa sedang nongkrong di bar menguping sepasang manusia yang sedang galau. Ah, keren deh!
Hampir seluruh cerpennya saya kasih score 5/5. Setelah baca buku ini saya jadi ngefans dan ingin membaca semua buku-bukunya.
1. Perkemahan Indian (Indian Camp – 1924) – 5/5
Larut malam seorang anak laki-laki dan ayahnya yang seorang dokter, menyeberangi sungai dengan perahu menuju perkemahan suku Indian untuk membantu persalinan darurat.
Namun saat bayi lahir, sang suami suami bunuh diri. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan kelahiran dan kematian dalam hidupnya.
>> Sedih & bahagia campur aduk jadi satu. Bikin mules.
2. Kucing di Tengah Hujan (Cat in the Rain – 1925) – 5/5
Hujan deras di Itali. Dari jendela hotel, ia melihat kucing kecil basah kuyup. Saat turun, kucing sudah hilang. Saat menceritakan kekecewaan pada suaminya, pintu diketuk. Pelayan membawakan kucing lain untuk menghibur hatinya.
>> Orang tak dikenal ternyata lebih perhatian daripada suaminya.
3. Rumah Prajurit (Soldier’s Home – 1925) – 3/5
Harold, tentara muda Amerika pulang ke Oklahoma seusai perang. Dirumah orang tuanya, menganggur membuatnya makin malas, apatis dan kehilangan arah hidup. Ia merasa terasing dari keluarganya
>> Pahlawan yang bukan pahlawan lagi.
4. Sungai Besar Bercabang Dua (Big Two-Hearted River – 1925) – 5/5
Di dekat sungai yang bercabang, Nick Adams berkemah. Sendiri, sunyi, hanya ada suara alam. Ia membuat kopi, memasang umpan, memancing lalu memasaknya. Tak ada konflik, tak ada drama.
>> Me time pria tua.
5. Para Pembunuh (The Killer – 1927) – 4/5
Resto kecil di kota Summit didatangi dua pembunuh bayaran. Mereka mencari Ole Anderson, yang biasa muncul di resto jam 6 sore. Pelayan resto dengan tegang lari kerumahnya untuk memperingatkan. Namun Ole tidak ingin lari, ia akan menghadapinya.
>> Ketegangan yang tidak direspon.
6. Perbukitan seperti Gajah Putih (Hills Like White Elephants – 1927) – 5/5
Sembari menanti datangnya kereta di Spanyol, seorang pria Amerika dan perempuan muda, masuk bar, minum dan mengobrol. Pembicaraan samar-samar dan penuh metafora perkara aborsi, dengan ketegangan emosi dua belah pihak yang terus meningkat.
>> Dialog pasangan yang lagi stres.
7. Tempat yang Bersih dan Tenang (A Clean, Well-Lighted Place – 1933) – 5/5
Sudah larut malam. Pelayan muda ingin cafe segera tutup, sementara pelayan tua memahami pengunjung lelaki tua yang tidak segera beranjak dari kursinya.
>> Perkara nongkrong. Semacam kebutuhan bapak-bapak yang merenung di teras indomaret.
8. Ibukota Dunia (The Capital of The World – 1936) – 5/5
Paco, pelayan muda di sebuah hotel di Madrid, Spanyol, bermimpi menjadi matador terkenal. Saat di dapur Paco bercanda dengan rekan kerjanya dengan beradegan ala matador. Permainan pura-pura ini pun berakhir tragis.
>> Kecerobohan anak muda.
9. Salju Kilimanjaro (The Snow of Kilimanjaro – 1936) – 5/5
Saat pendakian di gunung Kilimanjaro bersama istrinya, kaki Harry terluka akibat infeksi gangren. Dalam kondisi setengah sadar dan kesakitan, Harry merenungi hidupnya yang sia-sia. Istrinya yang kaya dan kehidupan mewahnya membuat kreatifitasnya buntu dalam menulis.
>> Penulis gagal menanti ajal.
10. Kehidupan Bahagia Francis Macomber yang Singkat (The Short Happy Life of Francis Macomber – 1936) – 5/5
Robert Wilson, pemandu safari, geleng-geleng menyaksikan kliennya, pria kaya Amerika Macomber dan istri cantiknya, Margot, saling menyindir di tengah acara berburu. Margot lebih garang daripada singa yang diburu, ia selalu menganggap suaminya seorang pengecut.
>> Suami takut istri berhasil menaklukkan rasa takut setelah berburu singa. Dramatis, Tragis.
*
Bintang 5/5. Rasanya seperti nemu harta karun yang terpendam lama di lautan.




