Mandi

Mandi itu sederhana.

Tapi sederhana itu tidak mudah bagi sebagian orang.

Ada yang udah ambil handuk, tapi duduk dulu, cek ponsel. Balesin chat, email, ngintip-ngintip aplikasi. Lalu tanpa sadar udah setengah jam kalungan handuk.

Ada juga yang boro-boro ambil handuk, untuk membayangkan mandi aja udah males duluan dengan ribuan alasan. Yang dinginlah, udah malemlah, gak kemana-manalah, dan sebagainya.

Padahal mandi itu sederhana. Tinggal masuk, buka kran shower, pake sabun, bilas, selesai.

Aku berbisik pada diriku sendiri, “Jangan pernah ngaku sok hidup sederhana kalau mau mandi aja ribet.”

Sedih Dan Bahagia

Saat awal membuat blog, aku menuliskan deskripsi blog : “Menemukan keindahan dalam keseharian.”

Saat itu aku memang sedang sedih, jadi kuputuskan untuk menulis hal-hal yang membuatku jadi lebih gembira.

Namun lama-lama, setelah kehidupan jadi lebih baik. Aku merasa kurang sreg menggunakan deskripsi itu.

Akhirnya kemarin aku ganti dengan : sedih dan bahagia.

Kupikir kadang-kadang aku ingin menuliskan kesedihan di sini, biar lega. Nulis sepertinya membuatku jauh lebih lega dibandingkan dengan bicara.

Aku sebetulnya pendiam. Banyak yang pengen kuceritakan tapi seringkali mampet, nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Jadi kupikir nggak ada salahnya nulis disini, setidaknya bisa mengurai benang ruwet di kepala.

Mungkin dengan menuliskan kesedihanku di sini, aku bisa mendapatkan hikmah.

Bukankah kebahagiaan itu muncul jika kita bisa mendapatkan hikmah dari kesedihan?

Srimenanti

Prestasiku di awal tahun adalah menamatkan novel ini dalam semalam.

Pembaca blog ini pada membatin, “Halah, lebay amat. Gitu doang dibilang prestasi.”

Buat orang lain mungkin biasa aja, aku lupa kapan terakhir bisa menamatkan buku dalam sekejab. Mungkin saat SMA dan itu sudah lama sekali.

Ketika buku ini bisa kulalap cepat dalam semalam, tandanya aku suka sekali baca buku ini.

***

Ibarat nonton film, aku seperti sedang nonton di bioskop dengan penonton tidak lebih dari 5 orang.

Filmnya sepi, muram, dingin, satir.

Alurnya datar sampai ending. Slowmotion. Nggak ada antagonis. Tapi bikin penasaran banget ngikutin jalan ceritanya sampai selesai.

Lalu tahu-tahu kaget, lho kok udah tamat? Gini doang?

Kemudian bingung sambil berpikir saat meninggalkan gedung bioskop.

***

Sejak membaca sampai akhirnya tuntas, aku dibikin bingung, ini fiksi atau non fiksi sih? Lho emangnya emang kitab suci hahaha..

Sepertinya juga nggak ada konflik, tapi kalau kupikir-pikir lagi dari awal sampai akhir, itu konflik yang nggak selesai.

Lalu ini kisah cinta tapi kok sepertinya bukan. Tapi kok bikin gemes dan geregetan.

Bingung jelasinnya. Padahal ceritanya sederhana. Kehidupan sehari-hari doang.

Setiap halaman ada detail-detail cantik yang bawaannya pengen distabilo, karena pengen kurenungkan. Hah? Kok direnungkan, emang pake bahasa njlimet? Enggak kok, bahasanya sederhana dan gampang dicerna.

Jadi sebetulnya Jokpin ini bikin novel apa? Mbuh.

Mungkin Jokpin cuma berharap kita baca aja sampai selesai. Nikmati aja, nggak usah kebanyakan mikir.

Mungkin seperti dialog dalam novelnya,

Saya pernah ditanya wartawan, “Lukisanmu termasuk aliran apa?” Saya malas dan tidak tertarik menjawab pertanyaan semacam itu. Saya tidak tertarik pada label.

Selesai baca, aku meluncur ke Goodreads, ternyata nggak ada yang sanggup menuliskan resensi buku ini dengan jelas.

Ah, sudahlah. Kalian harus membacanya.

Januari

Sejak dulu aku ingin memiliki buku puisinya Joko Pinurbo. Satuuu aja. Ada yang sudah lama kuincar, tapi tiap kali di toko buku, hati selalu ragu. Maju mundur beli atau enggak.

Kemarin saat di toko buku, di luar sedang hujan deras, mood mendadak berubah. Yang tadinya cerah mendadak galau gak jelas. Yang tadinya pengen beli buku motivasi jadi berubah jadi buku puisi.

***

Januari menata hatinya yang porak poranda Peluk batal dan hangat ditunda sampai banjir benar-benar reda. (Joko Pinurbo)