Kuda

Awalnya saya tertarik beli bukunya karena ilustrasi sampulnya yang cakep. Tebakan saya saat lihat gambarnya, ini mungkin tentang seekor kuda yang sedang melakukan perjalanan dengan sedikit mabuk dan bekal seadanya.

Tebakan saya meleset jauh. Tolong yang bikin ilustrasinya, saya butuh penjelasan.

Buku ini tentang kisah pemuda bernama Kuda Anjampiani. Setelah ibunya meninggal saat melahirkan dia, Kuda hanya tinggal berdua dengan ayahnya.

Ayahnya, Empu Manyu merupakan pembuat keris ternama di masa Orde Baru yang kini sudah tidak laku. Jaman sudah berubah, semenjak reformasi, keris bukan lagi hadiah istinewa untuk pejabat dan orang kaya.

Cerita dimulai dari awal kesuksesan Empu Manyu. Walaupun ia keponakan dalang ternama yang mustinya bisa membuatnya menjadi dalang, ia malah menekuni seni membuat keris.

Keuletannya membuahkan hasil, namanya melejit dari mulut ke mulut berkat bantuan sahabatnya yang seorang tentara Abdul Aziz.

Abdul Aziz adalah keturunan ke tujuh Tumenggung Tjipto. Di masa lampau, kakek moyangnya pernah bersiteru dengan Demang Sukayana, yang saat menjelang ajal pernah bersumpah bahwa keris miliknya akan membalaskan dendam pada keturunan Tumenggung Tjipto.

Suatu hari Abdul Aziz meminta tolong pada Empu Manyu untuk menikahi mantan kekasihnya yang sedang mengandung anaknya. Ia tidak mungkin menikahinya karena sudah melamar anak Jendral, atasannya. Atas nama persahabatan dan niatnya untuk membalas budi atas bantuannya selama ini, Empu Manyu mengiyakan.

Ketika pasca reformasi, Abdul Aziz yang sudah menjadi duta besar di luar negari, memutuskan untuk balik ke Indonesia dan menemui anak kandungnya yang kini beranjak dewasa.

Konflik pun dimulai dengan ending yang cukup tragis.

Sebetulnya saya berharap ceritanya lebih panjang. Tadinya saya punya ekspektasi, karena keris sudah tidak laku, apakah Kuda diarahkan ayahnya menjadi dalang ataukah menjadi tentara? Sayangnya tidak.

Buku ini bagus sekali. Suka dengan cara berceritanya, gaya penulisannya pas, kalimatnya efektif tidak berbunga-bunga, to the point. Enak dibaca dan selesai baca dalam 2 hari.

Jika Panji Sukma bikin buku baru lagi, pasti akan saya uber.

Adam Ma’rifat

Salut sama teman2 yang bisa mereview buku ini, jujur aja saya mumet. Sebetulnya Danarto menggunakan bahasa yang sederhana, namun karena temanya berkutat dengan spiritualitas, sufisme dan kesadaran hidup, butuh waktu untuk mencerna.

Udah gitu teknik penceritaannya eksperimental, aneh, dan sangat inovatif, otak lemot saya error.

Seperti kata Mahfud Ikhwan dalam pengantar buku ini, mendingan cuek dengan keanehan-keanehan yang disajikan Danarto dan tidak memikirkannya daripada “sesat”. Jadi saya nggak mau menyerah untuk meletakkan buku ini walaupun saya belum bisa menggapainya.

Buku yang terdiri dari 6 cerpen dan ditulis dalam kurun waktu 1975-1981, merupakan cerminan pemikiran mendalam Danarto tentang hidup, mistisisme, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat – 4/5

Kisah yang membahas malaikat Jibril dari kacamata anak-anak.

Malaikat Jibril yang melewati sebuah sekolah, lalu ‘ngerjain’ murid-murid di sekolah tersebut. Sampai kemudian tukang kebun mendapatkan ide untuk menjaring malaikat JIbril.

“Jika JIbril tertangkap, apakah ia tak mampu melepaskan diri, sedang ia seorang malaikat?” “Tidak mungkin. Karena sayapnya akan kurenggut.” “Jadi dia punya sayap?”

Adam Ma’rifat 3/5

Nggak ngerti. Pokoknya ini tentang kisah kehidupan yang hakiki.

Apa kamu nabi?” “Bukan” “Apa kamu Dewa?” “Bukan” “Lalu?” “Aku bukan Nabi dan bukan Dewa, aku hanyalah Allah yang ngejewantah” “Astaga…”

Megatruh 4/5

Bercerita tentang hal mistis yang berkaitan dengan jiwa dan kehidupan lewat kedekatan manusia, kadal dan pohon pisang.

ngung-ngung-cak-cak-cak’ – 4/5

Tentang para penonton tari kecak yang mendadak kesurupan masal. Setelah ditelusuri, biang keroknya dari komputer yang merekam suara “cak cak cak cak cak…”.

Sebuah kisah eksperimental, bahwa benda elektronik seperti komputer bisa menghilangkan kesadaran manusia.

Lahirnya sebuah Kota Suci 4/5

Bercerita tentang awal mula sebuah tempat lama-lama berkembang menjadi tempat suci banyak manusia.

Diawali ketika seorang yang lewat persis di bawah lonceng papan nama tukang jam di satu kawasan Kotagede. Lalu ada perasaan dahsyat menggores dadanya. Berlanjut membawa temannya, keluarganya, dan seterusnya sampai akhirnya jutaan orang datang ke Kotagede.

Kotagede lebih memancarkan kesucian daripada sebuah kota keajaiban.”

Bedoyo Robot Membelot 5/5

Kisah tentang 17 penari yang tampil dalam pesta pernikahan. Tari bedoyo yang mustinya selesai dalam 15 menit, sampai setengah jam tak kunjung selesai.

17 penari itu makin lama makin tak tampak. Menuju horizon yang tak terhingga. Mereka seperti ditelan cakrawala. Lenyap.

Anehnya para tamu tidak menyadari bahwa mereka pernah ada.

***

Saat mengembalikan buku ini ke rak, saya bertekad akan membaca ulang suatu hari nanti.

Lelaki Harimau

Cerita dibuka dengan kematian Anwar Sadat. Kepalanya putus digigit Margio. Dia mengelak, “Bukan aku yang membunuhnya, tapi harimau dalam diriku.”

Hmm.. pikiran saya teringat pada sinetron 7 Manusia Harimau dan Ganteng-Ganteng Serigala. Tumben Eka nulis begini, begitulah kesimpulan saya selesai baca bab awal. E-book ini saya anggurin lama sekali, jadi malas bacanya.

Sampai kemudian datanglah libur lebaran yang membuat saya berpikir mau ngapain lagi ya. Akhirnya saya putuskan untuk menyelesaikan ini. Tak mampu baca e-book, karena selalu bikin saya speed reading dan kurang bisa menghayati ceritanya, dengan gercep saya beli versi cetaknya. Dua hari pun selesai saya babat abis bukunya.

Sebagai pembaca, saya setting dulu mood saya seperti netizen kepo yang haus gosip setelah baca berita pembunuhan. Siapa Margio? Mengapa dia membunuh Anwar Sadat? Kok bisa menggigit lehernya sampai nyaris putus? Apa motifnya?

Dengan alur cerita berjalan mundur secara perlahan, saya pun pelan-pelan mulai memahami kondisi psikologis yang dialami Margio sampai tragedi pembunuhan itu terjadi.

Margio, lelaki 20 thn, tinggal bersama ayah, ibu dan adik perempuannya. Kehidupan di rumah tidak membuatnya betah. Ayahnya sering memukul ibunya. Margio dan adiknya juga sering menjadi sasaran amuk.

Ma’ Somah, guru mengaji saat Margio kecil, pernah menceritakan bahwa kakek Margio mempunyai harimau di dalam tubuhnya yang diwariskan leluhur, dan berfungsi untuk menjaga suatu keluarga turun temurun.

Margio yang membenci ayahnya sedari kecil, selalu berharap harimau yang ada dalam tubuh kakeknya tidak diwariskan kepada ayahnya yang kejam. Ia sangat ingin memilikinya, namun tentunya ia harus sabar menanti waktunya tiba.

Sementara itu, Anwar Sadat, korban pembunuhan yang dilakukan Margio, adalah pelukis tua seusia ayahnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Dia hidup bersama istrinya dan ketiga anak perempuannya. Anak pertama dan kedua sudah menikah muda, tinggal si bungsu Maharani yang masih kuliah.

Margio dan Maharani berteman sejak kecil. Rupanya lambat laun timbul perasaan cinta pada keduanya. Namun Margio ragu untuk melangkah lebih jauh dengan alasan yang kalau saya ceritakan ntar jadinya spoiler. Baca sendiri deh.

Ternyata seru sekali. Kejutan yang dikeluarin sedikit-sedikit membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. Diskripsinya juga begitu jelas dan hidup, sehingga saya dengan mudah membayangkan keseluruhan kisah dengan mudah. Tiap karakter sangat kuat, semuanya abu-abu, tidak ada yang hitam atau putih, yang membuat saya sulit untuk berempati pada semua tokohnya.

Pada akhir cerita saya bisa memaklumi kenapa harimau di dalam tubuh Margio melakukan pembunuhan itu. Hasrat memiliki harimau yang sudah ditanam sejak kecil itu terus tumbuh bersamanya, hingga akhirnya pada puncak emosi dan kemarahan, sisi harimau itu keluar dan menghilangkan rasionalitasnya.

Dari keruwetan hati Margio, sesungguhnya yang dia inginkan sangat sederhana. Ia cuma ingin merasakan cinta dan kasih sayang untuk diri sendiri, adiknya dan ibu tercintanya.

Bintang 5/5

Majnun

Sesuai judulnya, Majnun artinya gila. Buku ini menceritakan orang-orang yang melakukan hal-hal gila diluar nalar atas dasar yang katanya cinta, padahal menurut saya sih nafsu doang.

Zulaikha
Zulaikha menceraikan suaminya dan meninggalkan anaknya demi Yusuf. Pria kurus biasa-biasa saja yang membuatnya jatuh cinta pandangan pertama.

Setelah beberapa tahun, ia pun dengan entengnya minggat meninggalkan Yusuf hanya gara-gara mimpi didatangin kucing telon selama 3 hari berturut-turut. Gila ga tuh?

Yusuf
Sejak ia lahir, Yusuf selalu merasa ada keris dalam tubuhnya. Namun keris itu baru muncul saat ia membutuhkannya di waktu dan tempat yang tepat,

Menurutnya, Kaisar, sahabat yang dikenalnya sejak kuliah, memang perlu dibunuh. Yusuf tidak terima dengan perlakuan brutalnya pada Ratri, istrinya yang merupakan mantan pacar Yusuf.

Kaisar
Kaisar, kegilaannya mendadak muncul saat Ratri, istrinya minta cerai saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Dengan gelap mata, ia memperkosa istrinya sendiri, namun ketidak-perkasaannya membuat ia kesal lalu membunuh istrinya.

Ratri
Ketidak-puasan hasratnya dan mengganggap Kaisar melempem saat bercinta, membuat Ratri melakukan tindakan gila bercinta dengan Ferdi, pemuda gila yang sering lewat depan rumahnya.

Ferdi
Pemuda yang menjadi gila semenjak jatuh ke sumur saat masih kanak-kanak.

Namun dalam buku ini menunjukkan bahwa diantara semua tokoh, sesungguhnya Ferdi adalah orang yang paling waras.

“Orang disebut sinting karena dianggap sinting oleh masyarakat sekitarnya. Tetapi, orang sinting justru menganggap masyarakatnya sinting.” – hlm 104

*

Oh ya, buku ini sepintas mengingatkan saya dengan film Indonesia yang berjudul Beth. Walaupun ceritanya tidak sama, namun intinya kurang lebih sama. Di dalam Rumah Sakit Jiwa, kita pikir orang-orangnya gila, namun justru merekalah yang paling waras daripada orang-orang di luar sana.

Secara keseluruhan, ide cerita novel ini cukup menarik dan membuat saya merenung seusai baca.

Dalam buku ini juga diselipkan informasi aneka pengetahuan umum. Cuma karena kurang smooth dan sedikit maksa, membuat saya terganggu saat baca. Kesannya jadi ngelantur kemana-mana.

Oh ya, cover bukunya kureng. Seandainya bisa menggambarkan kegilaan tokoh-tokoh didalamnya, mungkin lebih oke.

Daftar lagu di halaman belakang? Entahlah, saya lebih suka baca dalam suasana sunyi, jadi saya abaikan.

Bintang 3/5

Orang-Orang Proyek

Kisah si Kabul, mantan aktivis saat kuliah dulu kini terjun sebagai pelaksana proyek. Pembangunan proyek jembatan di atas Sungai Cibawor adalah proyek ketiga yang dikerjakannya

Proyeknya sebetulnya sederhana. Membangun jembatan di sebuah desa. Namun praktek di lapangan tentu saja tidak kalah busuknya dengan proyek-proyek besar.

Sebagaimana yang kita tahu semua, proyek biasa kita dengar sebagai istilah bancak’an ramai-ramai.

Tekanan datang silih berganti. Untuk proyek simpel, ternyata banyak kepentingan yang ikut cawe-cawe.

Idealisme yang dipupuk kala mahasiswa perlahan terkikis dengan penyesuaian dan pelaksanaan di lapangan. Singkatnya, sebagai fresh graduate yang masih belum punya banyak jam terbang, menghadapi kelakuan orang-orang proyek, sering membuatnya mengelus dada.

Cerita yang disampaikan berjalan lambat. Persis suasana proyek yang membosankan dan rasanya ingin menyudahi dengan keluhan dalam hati, “pengen cepet selesai dan segera kabur dari sini.”

Alur yang lambat membuat saya juga menikmati proses timbulnya rasa cinta dari Kabul terhadap Wati. Witing tresno jalaran soko kulino. Pembaca yang terbiasa dengan asmara yang sat set akan dibuat geregetan dan menahan kesabaran.

Suasana panas, berdebu di lingkungan proyek bisa dengan baik sekali dideskripsikan. Begitu pula orang-orang yang berkutat di dalam proyek.

Ahmad Tohari memang pinter bercerita. Mudah sekali untuk mengimajinasikan kalimat dari bukunya.

Buku ini terbit tahun 2001 dengan cerita tahun 1991, jaman Orde Baru. Saat saya membaca tahun 2025 jujur aja masih relate, malah di era sekarang makin wadidawww.