
Buku tipis terbitan KPG ini tuntas saya baca dalam sehari. Sapardi Djoko Darmono sebagai penerjemah memilih kata yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit, jadi nggak puyeng bacanya. Alurnya pun sederhana dan manis.
Novel yang diterbitkan tahun 1879 ini Judul aslinya Daisy Miller, entah mengapa yang versi terjemahan terbitan KPG judulnya jadi Daisy Manis.
Daisy memang manis. Winterbourne mengenalnya ketika liburan musim panas di kota kecil Vevey, Swiss. Saat pertemuan pertama dengan obrolan singkat, Daisy mengajak Winterbourne mengunjungi kastil Chillon berdua saja tanpa dikawal oleh pelayan atau ibunya.
Walaupun Winterbourne juga pria Amerika, sikap agresif Daisy membuatnya terkejut. Baru kenal sudah ngajak hang out duluan. Terlalu berani, terlalu vulgar, dan tidak sopan. Ini tahun 1879 mbak Daisy, bukan tahun 2025. Namun sikap blak-blakan Daisy justru membuat Winterbourne tertarik.
Waktu pun berlalu. Mereka bertemu kembali saat Winterbourne ke Italy dan bertamu di rumah Nyonya Walker. Rumor tentang Daisy diantara orang-orang Amerika yang tinggal di Italy makin santer.
”Ia melakukan segala yang tak dilakukan orang di sini. Merayu dengan siapapun yang ditemuinya, duduk di sudut gelap bersama orang-orang Italia yang misterius, berdansa semalam suntuk tanpa berganti pasangan, menerima tamu pria jam 11 malam.”
Ditambah lagi Daisy luntang-lantung kesana-kesini bersama pemuda tampan Italy, Giovanelli, yang menciptakan kesan bahwa Daisy gadis murahan. Statusnya pun tak jelas, sudah tunangan atau belum.
Saat malam hari Winterbourne melihat mereka duduk-duduk di sekitar Colosseum. Winterbourne menghampirinya dengan marah, mengapa Giovanelli membawa Daisy malam-malan ke tempat yang berisiko terkena demam malaria. Giovanelli sebenarnya sudah memperingatkan, tapi Daisy tidak peduli. Winterbourne, yang awalnya memandang Daisy sebagai gadis polos yang blak-blakan, lama-lama ilfil juga.
Saat itu, Daisy sempat bertanya pada Winterbourne, “Anda percaya saya bertunangan?”. Dengan dingin Winterbourne menjawab, “Tak ada bedanya Nona bertunangan atau tidak.” Intinya bodoh amat, emang gue pikirin.
Beberapa hari kemudian Winterbourne mendapatkan kabar bahwa Daisy jatuh sakit terkena malaria, lalu meninggal.
Saya sebagai pembaca agak kesal, mengapa Daisy dibikin mati sih? Saya ingin happy ending. Namun setelah saya pikir-pikir akhir kisah sebaiknya dibuat begini.
Biarlah Daisy dikenang seperti ini, tidak seperti film-film jaman sekarang, yang menampilkan adegan perubahan dari gadis Amerika yang tidak beradab menjadi anggun mempesona seperti princess Eropa.
Bagian yang paling saya suka, ketika ibunya menyampaikan pesan terakhir Daisy pada Winterbourne bahwa gadis itu tak pernah bertunangan dengan Giovanelli. Ibunya mengatakan, Daisy bilang sampai 3x.
Daisy yang selalu terlihat agresif ternyata menyimpan perasaan pada Winterbourne dan tidak berani memperlihatkan rasa sukanya secara terang-terangan, bahkan dengan kode-kode.
Di akhir cerita, saat pemakaman Winterbourne akhirnya berucap tentang Daisy, “Dia gadis yang paling murni, tanpa dosa.”
Bintang 5/5. Buku ini salah satu harta karun saya yang berharga.





