Start Again

Setelah Darren kembali ke Indonesia, Lis berharap kedekatan mereka berdua bisa menyatukan kembali cinta mereka yang kandas karena LDR.

Lis yang merasa senasib dengan mas Rega, pria yang selalu berharap untuk balik dan menikahi mantannya mbak Naya, membuat Lis optimis bisa seperti mereka berdua.

Metropop yang menurutku bagus. Ceritanya sederhana, nggak muluk-muluk, nggak bertele-tele, ringan, dan menyenangkan untuk dibaca seusai lelah bekerja seharian.

Endingnya pun manis walau tidak 100% sesuai tebakan saya. Seplia ternyata boleh juga cara berceritanya, jadi pengen baca karyanya yang lain.

Angin Musim

Buku ini menceritakan tentang ‘Aku’, kehidupan liar seekor kucing betina jalanan.

Seharusnya nasibnya baik karena ayahnya merupakan kucing kesayangan pejabat wedana yang hidupnya berkelimpahan. Begitu juga ibunya yang merupakan kucing peliharaan kontraktor sukses.

Sayangnya ketika ibu ‘Aku’ hamil besar dan siap melahirkan di bawah meja tulis Wedana, ia memergoki sang ayah ‘Aku’ terlihat asyik bercengkrama dengan kucing betina lain. Ibu ‘Aku’ pun keluar mencari tempat lahiran. ‘Aku’ akhirnya lahir di pasar. Seusai melahirkan, si ibu kembali ke rumah mewah dan meninggalkan ‘Aku’ sendirian.

19 bulan ‘Aku’ hidup luntang-lantung di pasar demi mencari makanan dan belas kasihan manusia, sampai suatu hari seseorang memasukkannya ke dalam karung dan melemparkannya ke dalam bangunan penjara.

Tugasnya hanya satu : menangkap tikus.

‘Aku’ yang awalnya hidup liar, bebas, dan merdeka, kini hidup terkurung dalam bangunan tinggi. Sulit sekali untuk meloncati tembok dan keluar dari penjara walau ia seekor kucing.

Ia pun akhirnya berbaur dengan tahanan. Setidaknya ada 4 tahanan yang sering dia datangi. Seorang wartawan, penyair, tentara, dan karyawan kereta api. Belakangan 2 aktivis mahasiswa menjadi jujukannya.

Sebetulnya ceritanya menarik dan saya berharap obrolan tahanan bisa lebih sarkas dan berani menyuarakan isi hatinya masing-masing. Berhubung novel ini ditulis tahun 1981, jadi ya sudahlah, harap maklum kalau nanggung.

Tidak hanya mengamati dan menguping orang-orang dalam penjara. ‘Aku’ juga terlibat asmara dengan 2 ekor kucing jantan.

”Mau berkencan denganku?” tanya si Keropos pada suatu senja saat ‘Aku’ membuang hajat besar.

Dasar kucing, lagi buang hajat malah diajak kencan. Cari waktu yang pas lagi pose imut gemesin dong, jangan pas lagi ngeden.

Pecinta kucing yang baca pasti relate. Sedangkan saya yang bukan pecinta kucing, setidaknya punya gambaran tentang perilaku seekor kucing. Bobby Kertanegara juga sepertinya perlu baca ini deh, supaya terinspirasi untuk membuat buku biografi – Dari Jalanan Menuju Istana.

Great Expectations

Niat saya membaca berawal nonton film Great Expectations bertahun-tahun lalu, yang konon merupakan adaptasi dari novel Charles Dickens dibuat menjadi versi yang lebih modern. Bahkan salah satu soundtracknya, Life in Mono – Mono yang gencar diputar di MTV merupakan lagu favorit saya kala itu.

Sekian lama saya meyakini bahwa Great Expectations – 1998 itu ya begitulah ceritanya. Keyakinan itu makin kuat saat saya menonton versi film Indianya, yang berjudul Fitoor.

Namun setelah saya baca buku yang tebalnya hampir 700 halaman ini, saya baru paham cerita yang sebenarnya. Speechless deh, jadi selama bertahun-tahun ekspektasi saya terhadap isi buku ini salah besar. Saya tertipu, nama tokoh-tokohnya aja beda. Sebetulnya alurnya sama, hanya lebih fokus di bagian asmaranya saja, yang ternyata juga beda-beda tipis.

Harap maklum, sekalian studi banding nih.

Cerita dalam buku ini memang menarik. Bisa dibilang ceritanya semacam Cinderella versi anak laki-laki deh. Jika impian kebanyakan anak perempuan bisa berdandan cantik dengan gaun indah dan ditaksir pangeran, maka Great Expectations adalah impian anak laki-laki punya seseorang yang bisa membantunya mengubah nasib menjadi sukses.

Charles Dickens menceritakan tentang Pip, anak yatim-piatu yang tinggal bersama kakak perempuan dan suaminya. Hidupnya yang miskin dan penuh derita membuatnya tertekan dan muak.

Keinginan untuk mengubah nasib makin kuat saat ia diminta datang menemani Nona Havisham, wanita tua kaya setengah gila yang ditinggal tunangannya saat hari H pernikahan bertahun-tahun lalu.

Di rumah itulah awal mula Pip bertemu Estella, putri angkat Nona Havisham yang sebaya dengannya. Estella yang dingin dan angkuh memandang rendah padanya. Bahkan di hari pertama mereka bertemu, Pip dibuat sakit hati sampai menangis. Heleh.. heleh..

Hidup Pip berubah ketika seorang pengacara datang menemuinya dan mengatakan ada seseorang yang tidak mau disebut namanya, menyokong Pip untuk hidup yang lebih baik. Pip pun pindah ke London dan memulai hidup baru.

Ketika menginjak usia 20, Pip tumbuh sebagai pria terhormat dan terpelajar. Kepercayaan diri membuatnya terobsesi untuk bertemu Estella kembali dan membuktikan bahwa ia layak bersanding dengannya. Bahkan Pip memupuk ekspektasi yang tinggi untuk bisa menikahinya.

Berbeda dengan film, yang akhirnya terjadi adegan one night stand. Dalam novel, Estella jinak-jinak merpati. Setiap kali Pip akan ‘menangkap’, Estella menghindar ‘terbang tinggi’ tak terjangkau. Masih saja Estella memandang remeh Pip, sama seperti waktu kanak-kanak.

Tidak hanya tentang Estella, seluruh ekspektasi Pip yang diyakini selama bertahun-tahun, terbuka satu persatu dan semuanya keliru. Yup, twist bertebaran di separuh bab akhir buku.

Yang paling gong tentu saja, penyokong dana selama ini. Bertahun-tahun Pip punya ekspektasi bahwa yang membiayai hidupnya adalah Nona Havisham. Namun realita yang tak terduga membuat Pip syok, kecewa, dan mumet sampai nggak mampu berkata-kata.

Ah, seru deh pokoknya.

Dickens ternyata jago bikin alur cerita yang mempesona sekaligus menjengkelkan. Banyak adegan yang berkesan sehingga menebus semua kebosanan akan tebalnya halaman buku.

Dalam novel ini saya ikut merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Pip. Konflik batin Pip yang dipenuhi oleh banyak harapan dan impian sangat relate bagi kita semua. Siapa sih yang nggak pengen punya cita-cita setinggi langit dan ingin nasibnya berubah jadi lebih baik?

Bintang 5/5

Pangeran Bahagia dan Rumah Delima

Buku terbitan Kakatua yang saya baca merupakan terjemahan dua buku yang dijadikan satu, yaitu kumpulan dongeng: Pangeran Bahagia (The Happy Prince – 1888) dan Rumah Delima (A House of Pomegranates – 1891).

Dongeng-dongeng di buku Pangeran Bahagia sudah pernah saya dengar atau saya baca. Kalau kumpulan dongeng Rumah Delima saya baru tahu, mungkin karena kisahnya lebih panjang dan konfliknya lebih rumit untuk anak-anak.

Dalam setiap dongengnya, Wilde menunjukkan berbagai watak manusia yang tercermin dalam karakter setiap tokohnya. Bisa dibilang disemua cerita, karakter narsis dengan perilaku egois terlihat paling menonjol. Ada yang dalam wujud binatang, tumbuhan, patung, bahkan sebuah roket.

Saat membaca saya bertanya-tanya, kenapa ya dongeng jaman dahulu ceritanya lumayan dark, tidak ceria dan jarang yang happy ending? Di Indonesia pun begitu, Malin Kundang dan Sangkuriang adalah salah satu contohnya. Begitu juga dengan buku ini, hampir semua endingnya tragis dan berakhir dengan kematian.

Padahal karakternya unik-unik, jalan ceritanya seru, dan tidak tertebak dengan mudah. Namun cerita yang menyedihkan dan tidak menyenangkan, rasanya kok nggak cocok untuk segmen anak-anak jaman sekarang yang terbiasa dengan happy ending.

Satu hal lagi yang menarik, di halaman depan, Nurul Hanafi, penerjemah buku ini mengatakan bahwa dongeng-dongeng Wilde menyimpan bara seksualitas yang menyimpang.

”… Pangeran bahagia meminta burung (jantan) mencium bibirnya sebagai tanda perpisahan… Rasa sayang Raksasa egois terhadap bocah lelaki yang bermain dirumahnya… Raja muda berlama-lama menatap patung Adonis — pemuda tampan yang digilai Aphrodite dan Persephone… Si Anak Bintang yang lebih suka bercermin mengagumi wajahnya sendiri ketimbang kecantikan seorang gadis.”

Pernyataan tersebut membuat saya akhirnya membaca buku ini dengan perspektif baru. Begitulah, saya jadi sibuk mencari ‘udang di balik batu’.

Karya Wilde ini memang keren, namun jangan terburu-buru menyimpulkannya sebagai kumpulan dongeng pengantar tidur belaka, karena tersimpan banyak makna dalam setiap kisahnya.

Bintang 3/5.

J.P.V.F.K – Syahmedi Dean

Menemukan buku ini di lapak buku bekas, saya langsung jatuh cinta pada sampul oranye-nya yang terang benderang disertai ilustrasi 4 orang dengan outline warna silver, keren sekali. Salah satu sampul terkeren yang pernah dibuat Gramedia.

Di sampul belakang tertulis bahwa ini kisah 4 wartawan lifestyle dari Jakarta ke Paris meliput fashion week. Tidak hanya mengejar liputan, namun mereka juga mengejar french kiss. Hah? Kasihan amat, mau french kiss aja kudu keluar benua dulu.

Baiklah, 2 bab pertama yang membosankan. Tentang Alif dan Harris yang sibuk kerja-kerja-kerja di London (yup, sekedar mengingatkan judulnya Paris lho, bukan London), setelah itu lanjut ke Milan. Seluruh kegiatan peliputan diceritakan secara detail. Sangat detail malah.

….Tidak semua brand fashion mengadakan show di Fiera Internazionale di Milano ini. Brand yang memiliki gengsi dan nama yang lebih terkenal biasanya mengadakan show di tempat tersendiri. Seperti Giorgio Armani, ia memiliki gedung teater sendiri. Prada, memiliki hall sendiri di via Fogazzaro 36. Dolce & Gabbana selalu di rumah sendiri di Via San Damiano 9. Gucci selalu menyewa aula Hotel Sheraton Diana di Piazza Oberdan. Bottega Veneta punya kantor dengan show room besar di Via Picceto 15/17. Versace kerap di Via Gesu 12, dan Gianfranco Ferre di Via Pintaccio 21. Jadwal show peserta MFW diatur dengan rapi oleh pemerintah lewat organisasi Camera Nazionale della Moda Italiana.

Terlalu banyak informasi yang bikin muak. Mana drama cintanya? Kok isinya deskripsi fashion melulu? Saya sempat putuskan untuk berhenti baca dulu karena buku ini nggak jelas arahnya.

Dua hari kemudian saya coba baca lagi dengan perspektif yang berbeda. Saya anggap lagi baca buku non fiksi tentang “Seluk-beluk fashion editor keliling London-Milan-Paris meliput fashion week”. Nah, baru deh ini bener, dan saya mulai bisa menikmati buku ini.

Tahu nggak, lebih dari separuh halaman buku, tepatnya di bab 19, mereka berempat baru ketemu di Paris. Buat yang nguber dramanya langsung aja meluncur ke bab 19 daripada puyeng-puyeng baca liputan pekerjaan Alif dan Harris dari bab 1 sampai 18.

Dramanya pun, duh, jujur aja, mending dihilangkan semua dan jadi buku non fiksi aja deh. Karakter tokohnya kurang kuat, chemistry persahabatan tidak terasa, konfliknya juga apa sih? Nggak jelas. Dan ini ternyata tetralogi alias ada 3 buku lagi? Plis.

Sayang banget. Namun setidaknya lewat buku ini (kalau dipandang secara non fiksi) saya jadi paham betapa ribet dan sulitnya menjadi wartawan fashion.

Bahkan akhirnya terjawab rasa penasaran saya bertahun-tahun lalu ketika mengikuti serial Sex n The City di TV. Dulu, setiap nonton saya bertanya-tanya. “Gajinya berapa ya si Carrie, dengan profesi penulis artikel bisa pakai sepatu Louboutin, tas Chanel dan seabrek brand ternama lainnya?”

*
Bintang 1/5 untuk dramanya
Bintang 4/5 kalau ini buku non fiksi

Oh ya, saya suka ucapan terima kasih penulis di halaman belakang yang dibuat secara kreatif.