
Jujur aja, saya bosan membacanya, tidak ada yang membuat saya tertarik untuk meneruskan buku ini dari segi apapun, berhubung udah beli ya mau nggak mau kudu dibaca biar nggak mubazir. Akhirnya toh ya kelar juga.
Ceritanya tentang Charles, seorang profesor berusia 50-an yang datang ke reuni teman-teman kampusnya. Tidak seperti lainnya yang hadir dengan keluarganya, Charles datang sendiri. Ia memang sudah lama bercerai dan memiliki satu anak laki-laki yang sudah berusia 25 thn.
Saat mengobrol dengan beberapa teman-teman kuliahnya. Ingatan membawanya kembali ke masa-masa kuliah dulu. Usia yang masih sangat muda dengan obsesi ingin menjadi penyair.
Kedekatannya dengan Julia, calon penari balet yang cantik, sempat membuatnya ingin menuliskan sajak padanya. Nasehat dosennya saat itu, “Jangan pernah menulis sajak cinta untuk seorang gadis.”
Dalam lamunannya, Charles memutar kembali masa lalu tentang memori romansanya dengan Julia. Ia sibuk menafsirkan dan merenungkan sebab akibat kandasnya berhubungan dengan Julia.
Pikiran Charles di reuni, berganti-ganti dari masa kini ke masa lalu, berulang-ulang.
Sumpah, capek banget bacanya.
Di sepertiga akhir buku, terjawablah sudah mengapa Charles galau ugal-ugalan saat mengenang Julia.
Rupanya saat itu Julia hamil dan ingin aborsi. Sedangkan Charles dengan pede merasa bisa menjadi ayah dari jabang bayi tersebut. Julia tak percaya, mereka bertengkar hebat, keesokan harinya Julia menghilang dan tak pernah kembali.
Sampai kini, Charles tak pernah lagi bertemu dengan Julia. Sejak saat itu, setiap hari ia selalu memikirkan Julia, apakah ia jadi aborsi atau tetap mempertahankan janinnya.
Hidupnya hingga kini hanya berharap mendapatkan kabar dan jawaban atas rasa penasaran yang menghantuinya selama bertahun-tahun.
Reuni memang melelahkan.
Dalam acara reuni, kita sering kali terseret pikiran masa lalu yang akhirnya memunculkan kata “seandainya… ” atau “seharusnya… ”. Ya seperti Charles.
Haduh, capek deh. Memang tidak semua orang mampu datang ke reuni.
Bintang 2/5



