
Buku pertama yang saya baca dari Sony Karsono. Wajahnya terpampang di halaman awal, hmm.. cakep juga orangnya. Idih, sungguh info yang kurang penting.
Sampulnya mengingatkan saya dengan sampul majalah indie lawas. Tapi kemudian saya ingat kalau penerbit Anagram juga penerbit indie. Jadi pasti beda dengan sampul gramedia pustaka dan semacamnya.
Cerpen-cerpennya penuh kejutan. Gaya bahasanya unik. Ceritanya sebetulnya menyedihkan namun kemasannya satir, lucu dan ngeselin. Tipikal buku yang asik untuk dibaca berulang-ulang.
Nggak nyangka juga bahwa cerpen ini ditulis tahun 1995-96 dengan cerita yang rasanya seperti ditulis hari ini.
Sentimentalisme Calon Mayat- 3/5
Bercerita tentang penantian seorang anak yang bapaknya yang jarang pulang dari tempat kerjanya yang jauh.
Ia menanti dengan sabar sampai lima belas tahun kemudian Bapaknya pulang, tak lama kemudian lalu meninggal.
”Kebahagiaan itu usus lapuk dimamah rayap waktu. Aku berhasil menangkap hakikat waktu. Waktu adalah tai.”
Meteorit – 5/5
Djarot, lelaki 65tahun mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan.
”Kemarin siang bangkaimu dipendam di situ. Energi kosmis membangkitkanmu.” “Gila! Ilmu kedokteran menciptakan teknologi anti-maut! Siapa penemunya?”
Melankoli – 3/5
Mengapa aku jatuh cinta? Dulu aku pernah baca cerita tentang gadis, pemuda, bunga mawar, dan surat warna pink di sebuah novel remaja. Maka aku jatuh cinta. Berkali-kali. Tapi, kenapa aku menikah?”
Sukra – 4/5
”Mengapa kau tangkap aku, Dipati Anom?” “Sukra, kamu menghasut orang-orang Kota Lama untuk telanjang. Apa kata para warga kota tetangga tentang skandal ini? Mereka akan anggap bejat semua penduduk Kota Lama.” “Telanjang itu baik.” “Diam, Sukra! Telanjang itu jahanam!” “Tapi, Dipati..”
Seikat Kembang Egois – 3/5
Johan, seorang mahasiswa akhirnya berhasil menyisihkan uang sakunya untuk membeli setangkai mawar yang akan ia berikan pada Levana, mahasiswi pujaannya.
Dalam perjalanan ke rumah Levana, lelaki tua yang duduk di sebelahnya tampak sekarat dan tak lama kemudian mati. Ia bingung, jika ia memberi tahu kematian pada supir bis, ia akan tertahan lama di kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Sementara Levana akan segera berangkat ke Semarang sore ini.
Insomnia – 3/5
Insomnia! Akulah manusia insomnia. Malamku malam insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia. Bunda! Di mana pun kini kau berada, kembalilah kepadaku! Nyanyikan lagi nina bobok! Aku tua. Aku letih. Aku mau nyenyak seperti dulu dalam timangmu. Bunda, dalam insomnia, masih kupanggil namamu.
Tirai – 5/5
Johan termangu ketika Mimi, putri tunggalnya yang telah hilang dua malam ditemukan kembali oleh para tetangga pada suatu pagi di dapur Nyonta Skorpio, janda tua sebelah rumah. Gadis cilik berumur 5 tahun sudah menjadi potongan-potongan daging dan tulang.
”Ya Tuhan! Jeroan Mimi!” pekik Pak Hansip menuding kuali.
Dunianya hancur.
Surabaya Johnny : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Seperti Dipaparkan kepada Pieter Jansma – 3/5
Judulnya mengingatkan saya dengan buku biografi Soeharto : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Awalnya saya pikir ini cerpennya kisah plesetan seorang presiden, ternyata bukan.
Cerpen terpanjang ini tentang otobiografi penyair bernama Surabaya Johnny. Diakhir cerita ditutup dengan berita kematian yang dicomot dari akun facebook milik teman-temannya. Sangat detail sampai batas antara fiksi dan realitas kabur. Untung aja meninggalnya tahun 2045, kalau tahun 1995 saya bisa tertipu dan menyangka penyair Surabaya Johnny beneran ada.
***
Mas Sony, ayo nulis kumcer lagi dong. Masa cuma satu buku doang?



