
Awal tertarik untuk baca tentu saja karena terpikat dengan sampulnya yang menawan. Tiap cerita disertakan ilustrasi indah karya Adi Suta dengan teknik arsiran yang mengingatkan pada goresan komikus Italia, Paolo Eleuteri Serpieri.
Ada 13 cerpen di buku ini dengan setting jaman Belanda masuk Indonesia.
Walaupun settingnya jadul, ceritanya yang relevan dengan masa sekarang membuat saya menarik kesimpulan bahwa si penulis sepertinya terinspirasi dari topik-topik masa kini yang pernah hangat dibicarakan banyak orang.
Seperti dalam cerpen “Tegak Dunia”. Pelaut Belanda menjemput keponakannya di panti asuhan saat usia Jan 15 tahun. Usia yang cukup untuk diajak melaut, sesuai amanat alm ayah Jan.
Namun Jan bersikeras tidak mau ikut dan menjadi pelaut. Menurutnya para pelaut adalah pembohong, menyebar isu bahwa bumi itu bulat. “Bumi bulat adalah bid’ah terbesar yang dilakukan orang kristen kepada kaumnya sendiri. Begitulah yang diajarkan di panti asuhan.” Baginya bumi itu datar.
Ada juga cerpen ”Variola” tentang serdadu Belanda yang kesulitan mencari relawan anak-anak untuk ‘membawa vaksin’ dari Jawa ke Bali. Kisah ini mengingatkan saya pada kehebohan masyarakat pada vaksin vs anti vaksin.
Mula-mula kami akan mengambil bibit cacar yang sudah dilemahkan lalu menggoreskan ke lengan anak-anak sehingga bibit itu masuk, membentuk nanah darah. Walau si anak meriang, tubuhnya akan segera bangkit menaklukkan penyakit itu. Anak menjadi kebal cacar.
Seluruh proses itu akan kami lakukan di tengah perjalanan ke Bali, sehingga saat tiba di tujuan vaksin dari tubuh mereka masih segar. Bisa dipanen untuk banyak orang di sana. Baik kalangan Eropa maupun para bumiputra.”
Saya semakin yakin bahwa cerpen-cerpen di buku ini merupakan kisah terselubung, saat saya membaca “Teh dan Pengkhianat”. Dalam cerpen tersebut dicantumkan tanggal 10 Mei yang mengingatkan saya pada tanggal jatuhnya Soeharto saat reformasi ‘98.
Namun dalam cerpen ini bercerita mengenai para pekerja di perkebunan teh yang memberontak kepada Belanda.
…. “Sentot bersama 500 orang tentara mendatangi markas kami. Jenderal De Kock sendiri yang menyambutnya. Ia diberi pangkat letnal kolonel, diberi gaji tetap dan diperbolehkan memimpin pasukannya sendiri.
Masalahnya, percayakah engkau kepada pengkhianat yang meninggalkan junjungan yang semula sangat ia hormati demi uang?
Bagaimana bila pasukan Cina Makau (pekerja perkebunan teh) ini memberi ilham kepadanya untuk berbalik lagi melawan kita? Sebaiknya tetap waspada. Pengkhianat tetaplah pengkhianat.”
Satu lagi cerpen yang terdapat pencantuman tanggal. Dalam cerpen “Semua Sudah Selesai”tertera tanggal 12 Desember. Mengingatkan saya pada gerakan 212 yang terjadi tahun 2016. Cerpen ini ditulis tahun 2018, tidak lama setelah peristiwa 212. Mungkin inspirasinya dari kejadian tersebut.
*
Barangkali slogan yang pernah dilontarkan majalah HistoriA benar adanya, bahwa “Masa lampau selalu aktual.”
Bintang 5/5



