Maut Dan Cinta

Buku yang saya punya merupakan cetakan kedua tahun 2018, dengan desain sampul yang bagus dan kekinian, beda jauh dengan sampul lawas yang tercantum di Goodreads.

Punya saya
Sampul yang ada di Goodreads

Novel ini kayaknya perlu dibaca generasi muda deh. Untuk mengingatkan kalau kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah hasil dari perjuangan panjang dan melelahkan. Begitu banyak pertarungan antara hidup dan mati.

Mochtar Lubis menceritakan suasana pasca kemerdekaan, sekitar tahun 1947, 3 tahun setelah Indonesia merdeka, dengan sudut pandang yang tidak kita dapatkan dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah.

Bercerita tentang Mayor Sadeli atau Eddy, seorang anggota dinas intelijen Indonesia yang ditugaskan ke Singapura untuk menyelidiki Kapten Umar Yunus, intel sebelumnya yang ditugaskan ke Singapura dan dicurigai menyelewengkan dana revolusi.

Selain itu, Sadeli juga ditugaskan untuk memperluas jaringan kerja sama dan dukungan militer, seperti negosiasi dengan orang-orang asing di Singapura untuk pengadaan perlengkapan senjata dan alat komunikasi.

Tidak hanya berkutat di Singapura, Sadeli juga berpindah-pindah ke Thailand, Hongkong sampai Macau.

Novel ini juga terdapat adegan action. Adegan tembak-tembakan, kejar-kejaran dengan kapal perang Belanda di perairan pulau-pulau kecil sekitar Selat Malaka hingga berdarah-darah.

Tidak hanya adegan yang heroik, bahkan renungan Sadeli pun heroik. Bisa dibilang 50% novel ini isinya renungan Sadeli tentang nasionalisme yang dalem banget, sampai saya aja tercengang.

Waduh, saya baca novel ini sampai malu sendiri. Jarang sekali hari ini generasi kita yang sampai overthinking seperti Sadeli, punya jiwa patriotisme yang tinggi dan terus menerus mikirin bangsa. Seserius itu si Sadeli. Eh, mungkin begitulah tentara ya.

Namun, namanya pria lajang, disela-sela mikirin bangsa, dia juga sering berpikir mesum sambil memikirkan nasibnya sebagai kaum jomblo.

Dalam kesendiriannya Sadeli bertanya-tanya, mengapa ia tak seperti Ali Nurdin yang sudah siap menikah dengan Nani? Apakah ia terlalu menomorsatukan pekerjaannya? Ataukah memang belum ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Padahal ya, kelakuannya udah kayak James Bond kw, sok cool gitu, yang setiap saat gonta-ganti dengan banyak wanita. Sumpah, banyak banget, hampir di tiap bab muncul nama wanita baru. Sampe males ngitung totalnya.

Terus terang saya butuh waktu berminggu-minggu untuk baca buku yang lumayan tebal ini. Buat saya rada membosankan akibat bahasanya lumayan jadul. Mungkin juga karena tidak ada editornya, jadi begitulah hehe..

Sebelumnya saya sudah baca bukunya Mochtar Lubis yang “Harimau! Harimau!” dan “Jalan Tak Ada Ujung.” Kedua buku tersebut saya kasih nilai 5/5, walaupun belum saya ulas di Goodreads.

Jadi espektasi saya cukup tinggi ketika baca ini, dan berujung kecewa dong. Bukan tidak bagus, tapi saya kelelahan dengan bahasanya bertele-tele, tidak sat set seperti 2 buku sebelumnya yang saya baca.

Gaya Hidup Seperti Ramadhan

Beberapa tahun yang lalu saya pernah berpikir, ngapain ya setelah bulan puasa selesai, saya balik ke gaya hidup lama?

Lha terus apa gunanya 30 hari konsisten bangun jam 2.30 pagi dan seterusnya, kalau endingnya setelah lebaran balik ke habit lama.

Lalu terbersit dalam hati, iya ya, kenapa gaya hidup saya nggak diatur seperti puasa aja?

Hidayah mulai menghampiri. Saya pun melakukan eksperimen pada diri diri, sekarang di tahun 2024, sudah ada beberapa poin nih yang saya ubah. Jadi perlu saya tulis di sini, biar dunia tahu wkwk.

1. Bangun jam 2.30 pagi

Ketika bulan ramadhan, sebagai istri tentu saya bangun sedini mungkin untuk mempersiapkan sahur dong. Biasanya memang saya bangun pukul 2.30

Setelah lebaran saya tetap memutuskan untuk tetap bangun jam 2.30. Gara-garanya nonton sebuah video di Youtube yang membuat saya terinspirasi.

Intinya ada sebuah pondok pesantren yang biasa jadi tempat rehab pecandu narkoba. Salah satu terapinya adalah mereka disuruh bangun jam 2 pagi, lalu mandi keramas sebelum beraktifitas.

Jadi udah hampir 2 tahun, saya mandi keramas dini hari. Dan saya suka! Rasanya fresh banget. Badan tuh lebih fit, belum lagi jam segitu saya bisa menghirup udara di jam terbaik.

Bangun dini hari, emang mau ngapain lagi? Sholat malam deh akhirnya, mumpung udah bangun kan? Lalu lanjut ngaji. Setelah itu sembari menanti waktu subuh, saya ngopi dan nulis diary, kadang-kadang baca.

Subuh tuh jam 4 pagi. Jadi ada waktu 2 jam lebih di pagi hari untuk me time.

Rasanya enak gitu, suasananya masih hening. Nggak ada yang ngerecokin, udara juga masih fresh. Bener-bener bisa nikmatin golden hour itu bikin mood jadi bahagia.

Mewah kan gaya hidup saya? Sultan-sultan masih tidur, saya udah bangun duluan. Satu langkah lebih maju dari mereka hehe.. #pret

2. Makan sebelum subuh

Bulan ramadhan biasanya kan sarapan sebelum waktu subuh tiba.

Nah, kalau yang ini, jujur aja saya masih belum sanggup. Karena setelah subuh, agenda saya jalan pagi, jadi pengennya sarapannya ya setelah jalan pagi.

Saya lagi berusaha sih, tapi sebelum subuh biasanya saya pup, jadi belum berselera untuk sarapan. Namun ke depannya saya optimis kayaknya bisa deh.

3. Tidak makan siang

Kalau bulan ramadhan tentu saja tidak makan siang kan?

Ini mah gampang. Saya memilih memejamkan mata alias bobok siang saat istirahat daripada makan.

Kebiasaan ini sudah saya terapkan sejak masih fresh graduate, saya sering melewatkan waktu makan siang.

Serasa sedang diet OCD yang pake jendela makan, bukan?

4. Makan sesudah maghrib

Ini juga gampang, apa susahnya coba?

5. Setelah waktu Isya s/d jam 20.30 melakukan aktifitas rutin :

Seperti sholat Terawih gitulah.

Di luar bulan ramadhan, saya bikin aktifitas pengganti sholat Terawih. Baca buku atau ngapain kek.

Intinya di jam-jam tersebut, saya mematikan wifi di handphone, biar gak tang-tung-tang-tung notifikasinya. Seperti sholat teraweh di masjid kan saya nggak bawa hp juga.

Jadi kalau saya butuh fokus ngerjain sesuatu, saya lakukan di jam ini.

***

Seluruh eksperimen itu sebetulnya setelah dijalani ternyata menyenangkan kok.

Harapannya sih saat bulan ramadhan tiba tuh nggak drama, seperti terpaksa bangun lebih awal, ribet dengan menu sahur dan seterusnya.

Kebayang nggak sih betapa indahnya, di tahun-tahun mendatang, disaat emak-emak pada heboh dan panik dengan drama menyambut ramadhan, saya tetap tenang-tenang aja. *kibas rambut

Emang Masih Ada Yang Baca Blog?

Begitulah pertanyaan temen saya, mantan blogger dengan nada pesimis.

Namun saya punya jawaban dong.

Saya nulis blog karena saya suka menulis. Aktifitas yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang saya. Nggak ada yang baca juga nggak papa, wong tulisan saya buat dokumentasi pribadi, bukan untuk dikomentarin.

Kadang-kadang saya pengen cerita sesuatu tapi nggak ada yang bisa diajakin ngobrol. Kadang-kadang lagi nggak ada temen yang lagi sefrekuensi. Jadi blog ini lumayan banget untuk menyalurkan hasrat bercerita biar pikiran nggak penuh.

Walau sepi, ternyata ada juga beberapa teman blog yang kerap datang, meninggalkan jejak dengan kalimat di kolom komentar.

Bahkan saya baru menyadari ketika mengetik tulisan ini, bertahun-tahun saya nulis blog, belum pernah saya dapati komentar nyinyir ala netizen X, instagram atau facebook.

Semuanya kok baik-baik ya. Menandakan bahwa lingkungan blog merupakan lingkungan pertemanan yang positif. Kan sayang kalau ditinggalin hehe.

Kalau lagi senggang, kadang saya blogwalking juga. Lalu kemarin saya terkejut sekaligus senang ketika mampir ke blog : https://arenerin.wordpress.com/2024/06/22/blogwalking-ke-5-blog-ter-favorit/

Ternyata blog saya masuk dalam 5 favorit blog versi dia. Waduh, padahal tulisannya jauh lebih bagus dan berbobot dibanding tulisan receh saya ini.

Dengan gercep saya capture, karena ini momen yang kudu cepet-cepet saya abadikan di blog ini.

Biar apa? Biar jadi penyemangat untuk tetap rajin mengisi blog ini.

Kisah Langit Merah

Buku ini saya pinjam dari seseorang, “Buku lama, bawa aja”. Wah, Bubin Lantang. Yang dulu suka baca majalah Hai, mungkin tahu dia. Sudah lama saya tidak mendengar namanya. Buku yang saya baca ini cetakan pertama di tahun 2009.

Ternyata Langit Merah adalah nama seorang pria. Jadi Kisah Langit Merah ya tentang kisah hidup si Langit.

Lima bulan sebelumnya, Langit masih bekerja di BofA di kawasan elit New York, sebagai anggota tim external economist, meneliti efek privatisasi BUMN di negara-negara berkembang Asia dan Afrika. Setelah penelitian itu selesai dalam waktu setahun, tim itu dibubarkan. Tiga anggota lain tim tersebut pulang ke negara masing-masing, sedangkan dia —demi sebuah petualangan— nekad terus bertahan hidup di New York.

Hidupnya kini jungkir balik menjadi pekerja ilegal di sebuah tempat laundry kecil milik orang Taiwan.

Aku kenal kamu dengan baik, Merah. Pulanglah, balik ke Jakarta. Kamu orang baik yang pantas hidup baik. Berhentilah bertualang. Sayangi hidupmu. Sayangi dirimu.”

Jika waktu direntangkan lebih jauh ke belakang, dua tahun lalu, dia masih memiliki pekerjaan di Jakarta, pekerjaan yang menjadi obsesinya sejak dia berusia 9 tahun, menjadi wartawan. Mesin ketik pertama yang dia punya, hadiah dari Matahari, adiknya.

Ini jimat elu, Lang. Mudah-mudahan dengan mesik tik ini karya-karya elu mulai dimuat di majalah. Oh ya, gua tetap keberatan elu berisik ketik-ketik tengah malam buta.”

Sejak hari pertama dia menjadi wartawan, dia selalu menolak amplop dan suap yang ditawarkan kepadanya. Ibarat anak gadis, dia bisa menjaga keperawanannya.

Namun ternyata banyak yang tidak menyukainya karena merepotkan beberapa rekan seniornya yang asyik ber-salam-tempel dengan pejabat dan debitor BPPN.

Muak akibat suasana kerja kelewat busuk, dia mendaftar program beasiswa master yang didanai pemerintah Belanda. Dengan mulus dia mendapat izin dari pemimpin redaksinya yang ingin berupaya menyingkirkan dia dari kantor untuk beberapa waktu.

Seusai menyelesaikan pendidikannya di Belanda, Langit balik ke Indonesia. Bekerja kembali menjadi wartawan dan tentunya bertemu lagi dengan Daria, pacarnya.

Aku nikah bulan depan, Rah, tanggal 23.”
“Maafkan aku, Merah..”

Duarrr..

Lalu apa artinya pencapaian demi pencapaian yang diraihnya itu sekarang? Apa artinya decak kagum dan pujian yang ditujukan kepadanya itu sekarang? Hari-hari gemilangnya sudah berlalu.

Ditambah lagi Langit segera dimutasi kantornya ke Batam, tanpa pikir panjang dia mundur dari pekerjaannya. Luntang-lantung mencari pekerjaan sampai akhirnya dapat tawaran kerja di BofA dan pindah ke Amerika.

Bagi Langit hidupnya sungguh mirip roller coaster, melesat dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lainnya. Dan kini nasib membawanya menjadi pekerja ilegal di sebuah tempat laundry.

Suara serak Sade Adu yang mengalun menyanyikan Kiss of Life dari ipod hitam menemani Langit di Q train, subway yang setiap hari sekitar pukul 21.15 membawa tubuh letihnya dari Time Square ke arah Coney Island.

Berbingkai jendela di sebelahnya, gedung-gedung dan titik-titik lampu seakan-akan berlarian kian cepat, persis masa lalunya yang bergerak demikian cepat meninggalkan dia — ataukah dia yang bergerak meninggalkan masa lalu menuju kekinian?

Ending ceritanya bikin terhenyak. Astaga, astaga, astaga. Sungguh klimaks. Saya cuma bisa termenung.

Kalimat pada sampul belakang buku sungguh mewakili,
Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari dan memilih; dan kamu tak tahu kapan harus pulang.”

Langit, langit, nyari apa sih kamu di hidup ini? Saya bertanya sambil menampar diri saya sendiri juga.

Buku ini akan relate untuk usia 35 tahun ke atas, yang dewasa, yang karirnya mulai mapan tapi masih … ah, udahlah baca sendiri aja.

Akhir bab ditutup dengan kata-kata,
Bukankah Iwan Simatupang pun pernah menulis, hidup adalah eksperimen dan resiko, selebihnya hanyalah spekulasi bahwa apakah Tuhan itu ada?”

Bintang 4 buat buku ini.

Sundari Kerajingan Puisi

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novelnya Gunawan Tri Atmodjo yang berjudul “Musuh Bebuyutan”.. Eh, ternyata saya suka dan bertekad untuk membaca bukunya yang lain.

Berdasarkan data Di Goodreads, beliau sudah menerbitkan beberapa buku, namun pilihan saya kali ini berupa kumpulan cerpen. Dalam buku ini ada 17 cerpen. Beberapa cerpen sudah diterbitkan di majalah dan koran.

Buku yang saya dapatkan merupakan cetakan kedua tahun 2022 dengan ilustrasi sampul yang lebih keren dan kekinian, yang di Goodreads ini kok tidak menarik ya? Hmm..

Hampir semua cerpennya serius, namun sesungguhnya penuh dengan humor gelap a.k.a dark jokes yang membuat saya sebagai pembaca terhibur.

Dari seluruh cerita, tokoh-tokohnya semuanya punya karakter serius, namun saya sebagai pembaca menilai keseriusan mereka merupakan tindakan konyol.

Seperti dalam cerpen Doraemon dan Korban Pemilu. Sebagai penggemar serial Doraemon, bertahun-tahun ia selalu penasaran dengan wajah ayah Giant dan Sizuka. Karena ia ingin tidur nyenyak dan tidak mau mati penasaran, ia nekad ia menggadaikan sertifikat rumahnya dan pergi ke Jepang untuk mencari jawaban.

Begitu juga kekonyolan dalam cerpen Linda dan Lukman. Dua jam menjelang ulang tahunnya yang ke 27, Linda membuat janji dengan dirinya sendiri. Siapa pun lelaki yang pertama kali menghubunginya setelah jam 12 malam akan ia ‘tembak’ untuk menjadi kekasihnya. Seserius itu Linda dengan janjinya dan saya pembaca merasa tindakan tersebut konyol sekali.

Satu lagi, dalam cerpen Menantu Teladan mengisahkan ibu mertuanya yang terbaring sakit di rumah sakit. Istrinya lalu menyuruh dia menggadaikan sertifikat rumahnya untuk biaya berobat. Dalam perjalanan pulang dari pegadaian, ia tergoda untuk mempertaruhkan seluruh uang yang dipegangnya untuk judi bola di warung kopi. Dengan mantap ia yakin akan menang. Jika menang, ia akan menebus sertifikat rumah dan sisanya untuk biaya rumah sakit. Namun, benarkah ia menang?

Begitulah. Hampir semua tokoh dalam tiap cerpennya bersikap over thinking dan melakukan aksi konyol yang dilakukan secara serius. Lucu.

Sudah 2 buku yang saya baca dan semuanya memuaskan hasrat saya sebagai pembaca. Pengen baca bukunya yang lain, lagi dan lagi.