
Entah ada angin apa, mendadak saya ingin uji nyali baca buku horor. Setidaknya mental saya lebih aman membaca dibanding nonton film horor yang soundnya bikin kaget dan kemunculan makhluk-makhluk halus secara tiba-tiba.
Pilihan pun jatuh ke buku ini. Lagipula buku ini ngomongin tentang bank, setidaknya dalam benak saya yang ada cuma uang kaget.
Begitulah.
Di awal baca saya pikir ini kumpulan cerita tentang pesugihan. Dugaan saya tidak sepenuhnya bener, buku ini bukan fiksi, lebih ke sejarah dan budaya tentang bagaimana akhirnya pesugihan ini menjadi salah satu solusi cepat untuk kaum pedagang di pulau Jawa.
Pulau Jawa memang surga bagi mereka yang hendak mencari pesugihan. Dari ujung barat sampai ujung timur menawarkan pesonanya masing-masing dalam hal menarik pelanggan. Mulai dari yang dikatakan aman, hingga ke jenis pesugihan yang sifatnya sangat kelam.
Sejak kapan pesugihan itu ada? Jawabannya sudah sangat lama.
Sebelum baca buku ini, yang sering saya dengar pesugihan itu semacam perjanjian dengan makhluk halus untuk melariskan dagangannya dengan perantara dukun. Si makhluk halus nongkrong di tempat usaha untuk menarik calon pembeli supaya tertarik membeli dagangannya.
Namun Bank Gaib ini berbeda. Bank Gaib menawarkan fasilitas kredit dengan nilai yang tak terbatas.
Seperti bank konvensional, tentu saja ada syarat dan ketentuannya. Bedanya saat jatuh tempo yang dibayar bukan berupa uang, tetapi tumbal / nyawa salah satu dari anggota keluarga.
Bank Gaib ini terletak di Jawa Tengah. Nama kotanya dirahasiakan. Bank tersebut berupa pohon randu tua yang dikeramatkan. Disekitar pohon banyak sesajen yang diletakkan oleh calon nasabah.
Setelah melalui serangkaian ritual, tanda tanda kredit di ACC adalah jatuhnya daun / ranting ke tubuh calon nasabah.
Tak lama setelah itu, nasabah mendapatkan uang tunai. Uangnya beneran asli, ada nomor serinya dan bukan uang palsu.
Lalu darimana bank Gaib mendapatkan uang asli tersebut? Tentu saja mereka mengambilnya dari bank konvensional.
Lho kok bisa? Dari buku ini saya pun baru tahu jika semua bank-bank di Indonesia menyewa orang ‘pintar’ untuk membantu mengamankan uang dari serangan dunia lain yang nantinya disetorkan ke bank Gaib.
Beberapa kali terjadi kasus, uang yang tersimpan brankas bank-bank konvensional mendadak lenyap dan jadi pasir. Tentunya tidak di blow up dong, ntar nasabahnya pada nggak percaya ke bank itu lagi.
Gitu katanyaaa.
Yang menarik dari buku ini, ternyata di dalamnya diselipkan ilustrasi yang bagus-bagus. Mulai dari ilustrasi sesajen sampai makhluk-makhluk gaib.
Buku yang lumayan buat hiburan saat lagi gabut.
Bintang 2/5


