Tutur Dedes : Doa dan Kutukan

Berawal dari iseng-iseng membaca samplenya di Google Playbook, saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bab pembukanya sangat menarik dan tanpa pikir panjang saya bergegas mencari versi cetaknya. Beruntung saya mendapatkan buku dengan tanda-tangan si penulis.

Menyenangkan sekali bisa membaca buku ini di awal tahun, jadi semangat untuk lebih banyak membaca buku-buku yang berkualitas.

Buku ini menceritakan kembali tentang isi kitab Pararaton, yaitu sebuah kitab tentang raja-raja Jawa.

Saya pernah membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer yang penuh siasat, strategi dan politis.
Namun buku yang ini menawarkan perspektif yang berbeda. Buku ini menceritakan dari sudut pandang Ken Dedes, perempuan yang melahirkan keturunannya lalu kemudian menjadi raja-raja besar di Jawa..

Cerita bergulir sejak ia masih dalam kandungan sampai ia mangkat, seru sekali. Hal-hal yang dipikirkan dan dirasakan Ken Dedes tentunya cewek banget ya.

”Kekuatan laki-laki itu seperti letusan gunung berapi. Laki-laki yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya akan menimbulkan kerusakan yang luar biasa dalam waktu singkat, bahkan bisa berbahaya bagi dirinya sendiri.

Sementara kekuatan perempuan itu seperti air. Tampak tidak bahaya, tetapi tetesannya yang terus menerus bisa melubangi batu sekeras apa pun.

Setiap kali harus membela diri atau melawan laki-laki, jangan pernah terpancing untuk menggunakan letusan gunung berapi karena kamu tidak punya. Gunakan kekuatan air.”

Selain itu ada nuansa mistis yang menarik hehe, seperti kehadiran Genderuwo bernama Buto Ijuk dan Buto Lumut yang tinggal di hutan Gunung Kawi. Lalu kemunculan kakek pertapa yang misterius dengan ramalannya. Kesaktian orang jaman dulu selalu membuat saya takjub.

Sesuai judulnya, tentu saja buku ini dihiasi dengan kalimat doa dan kutukan. Diantara doa dan kutukan yang betebaran di buku, kutukan Mpu Gandring kepada suami Ken Dedes yang bernama Ken Angrok menjadi poin utama isi kitab Pararaton.

”Kelak kamu akan mati oleh keris ini! Anak cucumu juga akan mati karena keris ini! Semoga tujuh raja mati ditikam keris ini!”

Ken Dedes, hidup bersama kutukan yang selalu menghantuinya itu. Serapat apapun ia untuk menyembunyikan keris Mpu Gandring, toh pada akhirnya keris tersebut tetap ditemukan.

Takdir membawa Ken Dedes menjadi saksi kematian raja-raja tersebut. Satu demi satu tewas ditikam keris Mpu Gandring sampai akhirnya ia pun mangkat.

Puas sekali baca buku ini. Tanpa ragu saya ngasih bintang lima.

Bukan Perawan Maria

Buku pertama yang selesai saya baca di awal 2024. Yang saya punya sampulnya berwarna hitam, versi terbaru dengan desain yang jauh lebih bagus daripada yang tercantum di Goodreads.

Berisi kumpulan cerita pendek dengan humor gelap yang cukup berani tentang kritik sosial kehidupan kaum muslim Indonesia yang lumayan menohok. Saya terkejut dan beberapa kali nyengir saat baca buku ini.

Ide ceritanya menyegarkan, unik dan sulit menebak endingnya. Namun sayang ada beberapa cerita yang terasa kurang smooth, guyonannya kurang halus dan kurang samar, sehingga timbul kesan terlalu bernafsu untuk mengolok-olok keimanan seseorang.

Baby Ingin Masuk Islam – 4/5
Kyai yang membantu Baby memperjuangkan haknya untuk menjadi seekor babi yang mualaf.

Tragedi Jum’at Siang – 1/5
Kisah Ahmad yang ngebut dengan mobilnya mengejar waktu melewati jalan-jalan tertentu sebelum ditutup untuk sholat Jum’at.

Rencana Pembunuhan sang Muazin – 5/5
Suara Muazin yang mengaji setiap hari mulai jam 3 pagi lewat speaker masjid mengganggu tidurnya. Segala upaya untuk menegur bahkan sampai lapor pak RT ternyata percuma. Tinggal satu cara yang belum dicoba, membunuhnya.

Pertanyaan Malaikat – 5/5
Sasmita mati, dengan bekal bahasa arab yang fasih, ia yakin bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan malaikat. Tak disangka malaikat bertanya dengan bahasa sunda. Ngakak.

Tanda Bekas Sujud (1) – 1/5
Dulu Abik menginginkan tanda bekas sujud di keningnya. Namun kini ia sudah memiliki begitu banyak tanda sujud, tidak hanya dikening, tapi juga di pipi kiri dan kanan, serta dagunya.

Perempuan yang Kehilangan Wajahnya – 5/5
Andai ia tak memakai nikab, kemungkinan besar Arifin mengenalinya dan akan menyapanya terlebih dahulu, sehingga Annisa tidak perlu mengorbankan gengsinya. Namun sebagai seorang yang bernikab, keputusan untuk menyapa berada di tangannya.

Poligami dengan Peri – 1/5
”Memangnya menurut Islam boleh menikah dengan jin?” “Peri, Mas.” “Ya, sama saja. Kenapa sih dia nggak menikah saja dengan kalangannya sendiri?” “Banyu ingin merasakan punya suami dari golongan manusia.”

Cemburu pada Bidadari – 1/5
Sejak menemukan sebuah buku di tas suaminya, Annisa gelisah. Buku itu berjudul “Indahnya Bidadari Surga”.

Ruang Tunggu – 5/5
Rohman, pengantin bom bunuh diri kini sudah mati dan menanti di ruang tunggu. Ia tak sabar bertemu 72 bidadari.

Iblis Pensiun Dini – 5/5
Lucifer, iblis terjahat ingin pensiun, namun pernohonannya ditolak dan ditetapkan ke dunia untuk menjadi manusia.

Percakapan Sepasang Kawan – 1/5
”Imajinasi tentang sosok perempuannya jadul banget ya? Kayaknya zaman sekarang asyik juga kalau dapat perempuan yang berani, yang bisa diajak diskusi.” “Ini kan bidadari surga, bukan perempuan dunia.”

Ana Al-Hubb – 4/5
Semua diawali ketika ia melakukan penelitian tentang tradisi baru pesantren di Indonesia. Hidupnya berubah ketika ia berkunjung ke Padepokan Ar Rahin yang dipimpin Kiai muda yang santun, tampan dan memiliki karamah.

Typo – 3/5
Aini, yang bangga dengan namanya huruf A jatuh cinta dan menikah dengan Zulkarnain, inisial Z, huruf paling akhir. Semenjak itu panggilannya menjadi Ny Zulkarnain. Ia hampir tak pernah mendengar namanya diucapkan lagi.

Tanda Bekas Sujud (2) – 5/5
Ketika ia menolong anjing yang kelaparan, tanda hitam di dahinya berangsur-angsur hilang.

Malaikat Cuti – 3/5
”Selama kalian cuti, siapa yang mencatat amal perbuatan manusia?” “Sekarang kami punya pembantu baru untuk tugas tersebut. Perkenalkan, Facebook.”

Layla Al Qadar – 5/5
Ilyas seorang jurnalis, sedang mewawancara Layla, seorang nabi baru yang dulunya penyanyi dangdut di kafe, namun kini ia hijrah menjadi pemimpin kelompok jemaah Al Qadar setelah bertemu malaikat Jibril.

Tiba di Surga – 4/5
Abdullah ada di surga, ia bersyukur keindahan yang ia bayangkan selama ini sesuai dengan ekspektasinya. Bahkan ia kembali bertemu dengan istrinya yang meninggal 5 tahun lalu. Namun saat ia berkeliling, betapa kagetnya Abdullah mendapati ada pasangan gay di surga.

Bukan Perawan Maria – 5/5
Maria hamil tanpa disetubuhi lelaki manapun.
”Bagaimana kalau aku mengandung seorang nabi? Bukankah konon menjelang akhir zaman, Isa atau Yesus akan kembali lagi ke dunia untuk menyelamatkan manusia?”

Lafaz 411 pada … – 3/5
Mansyur terbelalak melihat anaknya yang belum genap 4 tahun buang air besar mengeluarkan kotoran yang mengandung lafaz alif-lam-lam-ha dalam huruf hijaiah.

Sentimentalisme Calon Mayat

Buku pertama yang saya baca dari Sony Karsono. Wajahnya terpampang di halaman awal, hmm.. cakep juga orangnya. Idih, sungguh info yang kurang penting.

Sampulnya mengingatkan saya dengan sampul majalah indie lawas. Tapi kemudian saya ingat kalau penerbit Anagram juga penerbit indie. Jadi pasti beda dengan sampul gramedia pustaka dan semacamnya.

Cerpen-cerpennya penuh kejutan. Gaya bahasanya unik. Ceritanya sebetulnya menyedihkan namun kemasannya satir, lucu dan ngeselin. Tipikal buku yang asik untuk dibaca berulang-ulang.

Nggak nyangka juga bahwa cerpen ini ditulis tahun 1995-96 dengan cerita yang rasanya seperti ditulis hari ini.

Sentimentalisme Calon Mayat- 3/5
Bercerita tentang penantian seorang anak yang bapaknya yang jarang pulang dari tempat kerjanya yang jauh.

Ia menanti dengan sabar sampai lima belas tahun kemudian Bapaknya pulang, tak lama kemudian lalu meninggal.

”Kebahagiaan itu usus lapuk dimamah rayap waktu. Aku berhasil menangkap hakikat waktu. Waktu adalah tai.”

Meteorit – 5/5
Djarot, lelaki 65tahun mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan.

”Kemarin siang bangkaimu dipendam di situ. Energi kosmis membangkitkanmu.” “Gila! Ilmu kedokteran menciptakan teknologi anti-maut! Siapa penemunya?”

Melankoli – 3/5
Mengapa aku jatuh cinta? Dulu aku pernah baca cerita tentang gadis, pemuda, bunga mawar, dan surat warna pink di sebuah novel remaja. Maka aku jatuh cinta. Berkali-kali. Tapi, kenapa aku menikah?”

Sukra – 4/5
”Mengapa kau tangkap aku, Dipati Anom?” “Sukra, kamu menghasut orang-orang Kota Lama untuk telanjang. Apa kata para warga kota tetangga tentang skandal ini? Mereka akan anggap bejat semua penduduk Kota Lama.” “Telanjang itu baik.” “Diam, Sukra! Telanjang itu jahanam!” “Tapi, Dipati..”

Seikat Kembang Egois – 3/5
Johan, seorang mahasiswa akhirnya berhasil menyisihkan uang sakunya untuk membeli setangkai mawar yang akan ia berikan pada Levana, mahasiswi pujaannya.

Dalam perjalanan ke rumah Levana, lelaki tua yang duduk di sebelahnya tampak sekarat dan tak lama kemudian mati. Ia bingung, jika ia memberi tahu kematian pada supir bis, ia akan tertahan lama di kantor polisi untuk memberikan keterangan.

Sementara Levana akan segera berangkat ke Semarang sore ini.

Insomnia – 3/5
Insomnia! Akulah manusia insomnia. Malamku malam insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia. Bunda! Di mana pun kini kau berada, kembalilah kepadaku! Nyanyikan lagi nina bobok! Aku tua. Aku letih. Aku mau nyenyak seperti dulu dalam timangmu. Bunda, dalam insomnia, masih kupanggil namamu.

Tirai – 5/5
Johan termangu ketika Mimi, putri tunggalnya yang telah hilang dua malam ditemukan kembali oleh para tetangga pada suatu pagi di dapur Nyonta Skorpio, janda tua sebelah rumah. Gadis cilik berumur 5 tahun sudah menjadi potongan-potongan daging dan tulang.

”Ya Tuhan! Jeroan Mimi!” pekik Pak Hansip menuding kuali.

Dunianya hancur.

Surabaya Johnny : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Seperti Dipaparkan kepada Pieter Jansma – 3/5

Judulnya mengingatkan saya dengan buku biografi Soeharto : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Awalnya saya pikir ini cerpennya kisah plesetan seorang presiden, ternyata bukan.

Cerpen terpanjang ini tentang otobiografi penyair bernama Surabaya Johnny. Diakhir cerita ditutup dengan berita kematian yang dicomot dari akun facebook milik teman-temannya. Sangat detail sampai batas antara fiksi dan realitas kabur. Untung aja meninggalnya tahun 2045, kalau tahun 1995 saya bisa tertipu dan menyangka penyair Surabaya Johnny beneran ada.

***

Mas Sony, ayo nulis kumcer lagi dong. Masa cuma satu buku doang?

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Buku yang saya baca ini versi terbaru. Penerbitnya udah beda. Nama penerbitnya Pojok Cerpen. Terus terang saya baru denger nama penerbit tersebut. Sebagai penyuka cerpen saya jadi penasaran sama buku-buku terbitannya.

Berbeda dengan cetakan sebelumnya, cerpen yang aslinya 10 bh, di buku ini hanya 6 cerpen yang dicantumkan. Buat saya nggak masalah, mending cuma 6 namun berkualitas.

Beneran deh, 6 cerita di buku ini mantap jaya. Bahasanya sederhana, dialog-dialognya quoteable, lalu vibenya tuh kok mengingatkan saya sama serial televisi jaman dulu, Alfred Hitchcock.

Drama sederhana dengan sedikit percikan teka-teki di setiap akhir cerpennya yang membuat saya mikir. Seluruh cerita di buku ini cocok untuk dijadikan film pendek. Musti saya akui kalau Umar Kayam pencerita yang handal.

Oh ya, di halaman awal, ada review Eka Kurniawan tentang buku ini yang saya malas membacanya. Kepanjangan. Tips dari saya, ntar-ntar aja bacanya kalau udah selesai baca seluruh cerpen, biar nyambung sama yang diobrolin Eka.

Favorit saya : Sybil. Potret remaja cewek yang mekithik. Ndableg. Semaunya.

Resolusi 2024 Saya

Jika tahun 2023 resolusi saya rajin menyisir rambut, maka tahun ini lebih menantang.

Tahun 2024 kok saya jadi pengen punya banyak waktu untuk melamun. Semenjak punya handphone, jadi jarang ngelamun. Tiap ada jedah waktu luang tangan rasanya gatel pengen berinternet ria.

Sebetulnya saya udah lumayan berprestasi, karena sampai detik ini tidak pernah menyentuh handphone saat makan dan pup.

Saya ngeri kalau makan sambil nonton / baca sesuatu di internet yang bikin saya otomatis membatin hal-hal jelek. Saya kuatir efeknya berpengaruh sama tubuh. Misal : lihat berita lalu saya membatin, “bangsat.” Makanan yang tadinya punya energi positif, jadi kemasukan energi jelek.

Itu pemikiran saya sih, karena percuma kan kalau sebelum makan udah berdoa yang baik-baik, lalu ditengah-tengah makan disusupi kalimat buruk. Sia-sia dong doanya.

Selain itu, prestasi saya sampai detik ini adalah tidak membawa handphone saat pup. Kenapa? Karena sampai detik ini saya butuh fokus dan konsentrasi selagi pup.

Saat belum kontraksi, masih mules-mules biasa, saya mengisi waktu dengan melamun. Ngelamunin apa aja, biasanya sih timbul khayalan yang lucu-lucu dan seru. Jadi saat keluar kamar mandi timbul inspirasi dan jadi punya ide aneh-aneh.

Jika jaman dulu menjelang tidur saya melamun cantik, membayangkan hidup yang indah-indah, masa depan yang cerah ceria, rasanya nikmat banget saat tidur. Apalagi kalau sampai terbawa ke alam mimpi. Sungguh menyenangkan.

Hal yang berbeda saya rasakan beberapa tahun belakangan ini. Menjelang tidur saya malah sibuk bermain handphone. Nonton Youtube-lah, mantengin Tik-Tok-lah, baca-baca artikel, dan seterusnya. Akhirnya nggak lama pun ketiduran sembari berinternet. Nggak jarang saya terbangun dengan kaget karena wajah saya kejatuhan handphone.

Ckckck, hidup macam apa ini?

Oh ya, satu lagi, saya baru menyadari saat nulis ini. Pantesan saya selalu bingung tiap mau cerita-cerita di blog, lha wong udah jarang melamun.

Beberapa tahun belakangan ini saya hanya menceritakan kembali apa yang sudah saya baca, saya tonton dan nulis kesimpulan dari hasil berinternet ria. Lalu apa bedanya ya sama orang lain?

Kan lebih seru kalau saya bisa menuliskan hasil lamunan saya. Ya seperti tulisan ini. Asik kan?

Tercapai tidaknya resolusi ini, tulisan-tulisan dalam blog ini yang akan jadi buktinya. Dan tentu saja teman-teman blog-lah saksinya.