Ini novel opo sih? Ga jelas banget. Tapi, lho kok saya bacanya keasyikan sampai tuntas? hahaha.
Buku ini cara penulisannya lucu. Unik banget, Banyak kalimat mengejutkan yang bikin saya tertawa ngakak. Nyesel deh baca versi ebooknya. Kalo baca versi cetak pasti udah banyak banget kalimat yang saya stabilo sebagai bekal pergaulan di luar sana dalam melempar joke garing .

Setelah beberapa lama menganggur, akhirnya Trijoko mendapat pekerjaan baru sebagai penyunting buku, yang sesuai dengan ijazahnya sebagai sarjana Sastra Indonesia.
Namun menurut Trijoko, takdir memang bangsat. Sialnya ia satu kantor, bahkan satu tim dengan penata letak yang ternyata musuh bebuyutannya sejak SMA, Dwitejo.
Dwitejo adalah senior Trijoko saat SMA. Permusuhan bermula ketika tanpa sengaja Trijoko menabrak Claudia, kekasih Dwitejo. Tak terima telapak tangan Trijoko menyentuh payudaranya, Claudia mengadu pada Dwitejo lalu Trijoko di ‘rujak’.
Saat bertemu lagi dalam suasana kantor, ternyata dendam mereka masih ada, disertai dengan politik kantor yang kotor, mereka saling balas membalas.
Persaingan awal dimulai ketika Dwitejo membeli Honda Tiger dan membawanya ke kantor. Sontak seluruh mata penghuni kantor fokus kepada Dwitejo. Ada tatapan kagum sekaligus iri. Namun, mencuat pula prasangka yang kira-kira kalau dilisankan berbunyi : ah, palingan beli kredit.
Dwitejo seakan paham akan hal ini. Dengan gerak lambat ala film laga lawas, ia mengambil buku dari tasnya dan menggunakannya untuk mengipas-ngipasi dirinya. Buku itu tak lain dan tak bukan adalah BPKP motornya. Adegan singkat itu seakan mengirimkan pesan gamblang bahwa Dwitejo membeli motor mahal itu secara tunai.
Persaingan diantara mereka berlanjut dan makin memuncak ketika ada pegawai baru yang cantik bernama Sundari. Mereka berdua berada di garda terdepan dalam pacuan asmara tersebut.
Sundari menikmati semua pemujaan itu. Ia memang berbakat jadi berhala.
Salah satu dari mereka akhirnya menjadi pemenang. Lalu yang kalah, dengan pura-pura berbesar hati memberi selamat sambil menyalami di depan umum. Namun diam-diam ia punya cara keji untuk mengimpaskan sakit hatinya. Menurutnya lelaki yang berjiwa besar menerima patah hati hanya ada di novel picisan dan telenovela. Dan jelas ia bukan dari kasta itu.
Saya ngakak ketika baca ending pembalasannya. Sungguh sadis. Beberapa kali saat asyik baca, saya nyesel kenapa baca versi ebooknya, kalo versi cetak, buku ini pasti udah saya lempar saking gemesnya sama si pengarang.
Akhirnya memang diantara mereka berdua tidak ada yang sukses mendapatkan Sundari sampai jenjang pernikahan. Biarin spoiler.
Mengapa Sundari menikah dengan Efendy dan bukan dengan lelaki lain? Jawabannya sederhana saja, karena ini adalah prosa Indonesia, harus ada unsur kebetulan didalamnya. Jadi perjodohan antara Sundari dan Efendy ini bukan karena ketidakcakapan pengarang membangun plot yang solid, melainkan semata sebagai wujud penghambaan yang rendah hati terhadap kearifan lokal dan peninggalan nenek moyang prosa Indonesia.
Hadeeh.. Sialan nih yang nulis novel.



