Blockbuster, Sitcom Yang Bikin Frustasi

Saya sedang jenuh nonton Seinfeld yang sudah memasuki season 8, butuh penyegaran dan ingin libur dulu nonton Seinfeld. Dengan sigap tangan saya bergerak mengubek-ubek Netflix, mencari sitcom terbaru.

Dan saya temukan ini.

Demi mendapatkan secercah info, saya meluncur ke Youtube dan menonton trailernya. Ternyata tentang kisah sehari-sehari karyawan persewaan DVD, Blockbuster. Hare gene masih ada persewaan DVD. Baiklah, tampaknya cukup menarik dan menjanjikan.

Saya juga baru tahu kalau nama Blockbuster itu bukan fiktif, tapi memang beneran ada di beberapa negara. Itu pun tahunya gara-gara baca komentar di Youtube, bahwa beberapa orang bilang pernah kerja di Blockbuster dan mereka mengenang memori yang menyenangkan di kolom komentar tersebut.

Episode pertama diawali dengan kenyataan pahit bahwa di banyak cabang Blockbuster, akhirnya satu persatu menyerah dan tutup karena tidak mampu bersaing dengan kehadiran internet dan streaming online. Sehingga Blockbuster tempat Timmy dkk bekerja, menjadi satu-satunya di jagad raya yang luas ini.

Sungguh episode pertama yang menyedihkan, bukan? Ekspektasi saya bisa ngikik nonton sitcom, lha ini kok jadi terhenyak dan rada sedih. Plus sedikit merasa berdosa karena hobi nonton Netflik.

Saya jadi teringat dulu di deket rumah ada persewaan DVD yang lumayan besar, saya lupa namanya. Tempatnya luas, seluruh bangunan dikuasai mereka. Hanya dibagian carport saja yang disewa penjual makanan bebek goreng.

Sekarang situasinya menjadi berbalik, saat persewaan DVD itu tutup. Seluruh area bangunan kini dikuasai oleh penjual bebek goreng. Kalau temen-temen pernah makan bebek goreng Palupi yang di Rungkut, Surabaya. Nah, itu dulunya bekas persewaan DVD.

Saya juga jadi inget Disctarra, toko yang menjual kaset, CD, VCD, DVD yang selalu ramai pengunjung. Saat saya masih sekolah dan kuliah, selain toko buku, Disctarra selalu jadi tempat wajib untuk dimasuki saat sedang ke mall.

Ada keasyikan tersendiri saat ngubek-ngubek rak dan nemu barang langka. Sama juga seperti persewaan DVD yang selalu dengan khusyuk saya mencari-cari film yang tampaknya bagus namun jarang dilirik orang. Semacam mencari mutiara yang terpendam di dasar lautan deh.

Jadi setelah nonton episode 1, saya berharap diri ini mulai terhibur dengan episode selanjutnya.

Dengan 5 orang karyawan, Timmy (Randall Park) harus berpikir gimana caranya supaya Blockbuster ini tetap hidup dan bisa meraih pendapatan yang cukup. Di saat yang sama, Timmy juga memiliki masalah kehidupan pribadinya yang serba kikuk karena naksir rekan kerjanya sekaligus teman SMA-nya (Melissa Fumero sebagai “Eliza”) yang sudah menikah.

Ya ampun, ini sitcom aposeh, saya yang sedang stres dan pengen dihibur makin frustasi nonton ini. Seakan-akan hidup ini menyedihkan. Plis lah, hibur saya dikit napa.

Seperti pelanggan yang kegirangan nemu film langka atau menyusuri lorong-lorong atau apa gitu yang membuat saya senyum-senyum mengingat masa-masa kejayaan persewaan DVD.

Yang adanya hanyalah mengeluh, frustasi, stres, problem pribadi di luar kisah DVD. Duh.

Pertanyaan besar, “Bagaimana rasanya bekerja di Blockbuster terakhir di Bumi?” adalah salah satu hal yang menarik dan saya tungguin. Namun saya hampir tidak melihat itu terjawab dalam alur cerita episode. Tidak ada rasa bangga atau minimal idealis deh kerja di tempat langka.

Ya mungkin ini memang kenyataan hidup yang dibebeberkan serealistis mungkin. Penulis skenarionya nggak menumbuhkan gairah atau situasi yang bisa melibatkan penonton untuk tersenyum bernostalgia, walau seuprit. Karakter-karakternya pun kurang matang dan masih sering berubah, chemistry diantara mereka juga kurang.

Sungguh membuat saya makin frustasi, lelah dan nggak bisa bikin saya tersenyum. Ah, sebaiknya saya balik nonton Seinfeld yang udah jelas dan pasti lucu. Tentu saya sembari memesan bebek goreng lewat driver online.

Jerry Seinfeld Saat Muda

Tadinya saya pikir serial Friends tuh sitcom terbaik yang pernah saya tonton, ternyata pemikiran saya berubah setelah nonton Seinfeld di Netflix.

Namanya juga sitcom ya, ceritanya biasanya seputar kehidupan sehari-hari. Jerry Seinfeld, komedian kondang ini memerankan dirinya sendiri.

Disetiap episodenya, adegan awalnya selalu dibuka dengan Jerry yang sedang naik panggung membawakan stand up comedy. Dari situlah bergulir kisah lucu sehari-hari tentang dia dan 3 orang kawannya.

Jerry seorang komedian yang tinggal sendiri di sebuah apartemen di NYC, tetangga depannya si Kramer, sering main ke apartemennya Jerry sembari ngubek-ngubek isi kulkasnya Jerry, nyari-nyari camilan.

Kramer ini ah, udahlah. Penuh kejutan, dia tuh kharismanya aneh. Manusia unik hahaha. Pria dengan profesi ga jelas tapi selalu beruntung dan ada aja rezekinya. Idenya banyak, kadang jenius walau banyak konyolnya.

Selain Kramer, sahabat baiknya Jerry yang bernama George kadang mampir ke tempat Jerry. Hobinya curhat tentang kehidupan, seakan-akan dia manusia paling menderita di muka bumi. Pria drama deh pokoknya.

Dan sebagai pemanis, ada Elaine. Mantannya Jerry yang kemudian jadi sahabat. Walau dia satu-satunya wanita di sitcom ini, sayangnya 3 pria ini sama sekali tidak tertarik dengannya, begitu juga Elaine, dia mah ogah banget sama 3 pria antik-antik itu. Lagian pacarnya Elaine biasanya ganteng-ganteng dan tampak mapan jaya.

Jadi asik gitu nontonnya. Murni persahabatan tanpa bumbu-bumbu cinta. Bener-bener kisah 4 sekawan yang punya kehidupan beda-beda dan kadang ngumpul bareng, ngalor-ngidul ngomongin macem-macem.

Di season 1 & 2 saya tertatih-tatih nonton ini. Kayak mo ninggalin tapi ga rela. Sampai suatu hari sampailah di season 3.

Saya saranin kalo mau nonton, langsung ke season 3 aja.

Saya merasa banyak perubahan dari season sebelumnya. Terasa banget perbedaannya. Di season 3 ep. 1 saya mulai terkesima, “Astaga, ini dia nih model tontonan yang aku idam-idamkan.” Berlanjut ke ep. 2, 3, dst. Seinfeld makin bagus.

Ceritanya sederhana, tapi kejutannya ada aja. Guyonannya cerdas dan tiap nonton aku mikir, “eh, gila, kok kepikiran nulis skenario kayak gini ya?”. Mungkin itu salah satu faktor mengapa serial ini bisa bertahan lama dari 1989 sampai 1998 dengan 172 episode. Bahkan di tahun 2022 pun guyonannya ga terasa basi.

Menariknya dari 4 sekawan itu kalo disuruh milih mana yang favorit, dengan bingung saya jawab, nggak tau. Semuanya sejajar, ga ada karakter yang menonjol, porsinya sama rata. Kalo di serial Friend, saya masih bisa milih karakter yang saya suka, kalo di Seinfeld, mon maap susah milihnya. Semua favorit.

Kalo kalian udah nonton, pasti juga bakal bingung jawab kalo ditanya karakter favorit dari serial ini. Ga percaya? Nonton ajaa.

Farhampton [2]

Sepertinya ini yang pertama dan terakhir aku bahas parfum, karena sejujurnya aku buta sama hal yang satu ini.

Beberapa waktu yang lalu, aku beli parfum secara online tanpa mengendus dulu baunya atau minimal cari tahu dulu deh ini aromanya gimana. Istilahnya penggemar parfum, blind-buy.

Yayaya, kalian bisa baca postingan blogku sebelumnya tentang bagaimana keputusanku yang sentimentil membeli parfum HMNS Farhampton. Aku sarankan untuk baca tulisanku sebelumnya, biar nyambung.

Berhubung di kolom komentar ada yang nanya gimana reviewnya, ya udah aku review deh. Tentu saja reviewnya juga sentimentil, bukan ala fraghead yang menjelaskan dengan teori dan penciuman tajam, setajam silet.

Jadi aku beli ini karena ada kata ‘Farhampton’. Sebuah nama tempat fiktif yang diciptakan untuk serial How I Met Your Mother (HIMYM).

Saat tahu bahwa Farhampton ini tempat fiktif di antah berantah, terbersit dalam hati, “Wah, nemu juga alasan tempat pelarian baru selain Timbuktu.” Emang Timbuktu dimana sih? Itu lho yang ribuan kilometer dari Kota Bebek.

Eh, kok ngelantur ya. Mari kita mulai reviewnya.

Kesan pertama saat lihat kemasannya aku suka sama logo farhampton dengan payung kuning yang menggantikan huruf O.

Serial HIMYM ini memang identik dengan payung kuning milik wanita yang kelak jadi istrinya Ted Mosby.

Di bagian belakang box parfum ada sebuah paragraf yang mengingatkanku dengan salah satu adegan fenomenal, di momen Ted pertama kali kenalan sama wanita berpayung kuning.

Oke, saatnya membuka kotak kemasan dan mulai menyemprot. Kesan pertama yang kudapat adalah hmm, ini wangi pria.

Walau ini katanya parfum unisex yang bisa dipakai pria dan wanita, aku merasa ini jelas wangi pria. Bukan wangi pria alay, tapi juga bukan wangi pria tajir. Wangi pria tampan? Eeng, nggak juga.

Yang pasti kalau dibayang-bayangkan ini bukan parfumnya Marshall. Sebagai orang yang sok bijak, tampaknya ini bukan parfum yang cocok untuk dipakai dia. Sebagai lawyer, parfum ini juga kurang berwibawa untuknya.

Aroma ini juga bukan Barney banget. Bukan parfumnya fuckboy yang hobi gonta-ganti cewek. Parfum ini terlalu biasa untuk dipake playboy sepertinya. HMNS Farhampton ini parfum dengan aroma pria baik-baik.

Yang paling mendekati mungkin, yaaa, ini aroma pria yang biasa-biasa aja. Yang tampaknya pas dipake untuk pria single di awal 30 tahun ke atas dengan karir yang gitu-gitu aja.

Singkatnya ini bukan parfum pria mapan, ganteng, rapi, berbadan bagus. Yes, ini parfum yang cocok dipake Ted Mosby, pria baik-baik dengan spesifikasi yang biasa-biasa aja.

Kalo menurut HMNS aromanya adalah :
– Top notes : bergamot dan ripe fruit.
– Middle notes : lavender, orange blossom.
– Base notes : cedar, tonka bean, labdanum.

Mengingat parfum ini diciptakan ketiga founder HMNS untuk mengenang nostalgia nonton HIMYM saat jaman kuliah dulu, jadi ya makin menguatkan kesan bahwa ini parfum pria yang belum mapan jaya.

Tapi aku nggak nyesel beli ini. Beneran deh. Sumprit. Kalau baca postingan sebelumnya, keputusanku untuk membeli parfum ini mungkin terkesan konyol, absurd dan irasional.

Tapi ketika aku menyisihkan waktu untuk ‘membaca’ dan merenungkan semuanya, aku menemukan garis merah yang menjembatani satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Eng ing eng.

Singkat kata, semesta mengiringku untuk memiliki parfum itu.

Entah dari mana datangnya hidayah itu, hanya karena saat nonton aku penasaran dengan kata Farhampton, akhirnya aku spontan klik ‘pause’ dan mulai bergerak untuk mencari tahu dimanakah Farhampton itu berada.

Hasilnya memang nihil, karena itu tempat fiktif. Tapi aku malah menemukan Farhampton yang lain. Seperti quote dalam serial HIMYM :

Kurang lebih begitulah kira-kira. Kalau katanya Carl Jung, namanya synchronicity. Kebetulan yang bukan kebetulan.

Synchronicity menurut Carl Jung adalah hukum alam yang ditunjukkan melalui serangkaian kebetulan yang memiliki pesan tersirat bagi yang mengalaminya.

Serangkaian kejadian yang disebut kebetulan yang bermakna bisa terjadi kapanpun. Saking pasnya, pada kondisi tertentu, aku bisa merasakan bahwa semua kejadian yang kebetulan itu adalah sebuah skenario yang mendorongku untuk memiliki parfum ini.

Oke, mungkin kalian pikir aku lebay dan mencari pembenaran. Ketahuilah, bahwa aku sudah lama sekali nggak beli parfum. Terakhir beli dengan niat dan perasaan itu tahun 2009. Udah lama banget ya. Setelah itu parfum yang kupunya hanyalah hadiah dan oleh-oleh dari teman dan kerabat.

Ya mungkin ini memang momen yang pas untuk punya parfum baru setelah sekian lama.

Saat ini aku nonton HIMYM udah di season 10, yang artinya ini season terakhir dan sebentar lagi tamat. Jadi aku nggak akan lihat Ted Mosby dkk lagi seperti malam-malam sebelumnya. Untungnya aku punya parfum ini, jadi besok-besok kalo kangen sama si Ted, tinggal semprot parfumnya aja. *mulai halu*.

Untuk HMNS, thank you so much udah repot-repot bikin parfum seri ini. Kayaknya parfum ini diciptakan untuk aku. *Ge-er amat, siape elu.*

Seperti kata Barney, aku yakin HMNS Farhampton ini suatu hari nanti akan jadi ‘LEGEN.. wait for it.. DARY’. Yes, legendary.

Farhampton

Dengan jujur kukatakan bahwa akhir-akhir ini aku rada sentimentil. Galau-galau gak jelas gitu lho. Entah karena apa, namanya juga ga jelas.

Saat mood amburadul kayak gini, tiap malem sebelum tidur tontonanku akhir-akhir ini adalah How I Met Your Mother. Ini sitcom kedua favoritku setelah Friends. Ceritanya ya lika-liku kehidupan Ted Mosby dan ganknya yang seru dan menyenangkan itu.

Saat ini aku nonton udah nyampe season 7-8 gitu deh, lupa ga merhatiin detail seasonnya. Lucunya di beberapa episode aku menitikkan air mata nonton itu. Buset deh, acara komedi kok bikin nangis. Sebel sama diri sendiri yang nggak jelas gini moodnya.

Salah satu adegan dalam serial itu yang fenomenal adalah ketika pertama kali Ted bertemu wanita berpayung kuning di stasiun yang kelak suatu hari akan menjadi istrinya.

Saat nonton, terlihat tulisan nama stasiunnya, Farhampton. Hmm, sebuah nama yang aneh, biasanya di film-film, adegan romantis itu kalo nyebut nama lokasi, biasanya lumayan ngetop dan bisa jadi jujukan turis, ini kok aku nggak pernah denger. Sekuper itukah aku?

Berhubung nama tersebut asing dan aku nggak pernah denger namanya, jadi terketuk hatiku untuk googling, dimanakah tempat itu berada? Iyaa, sekepo dan sekurang-kerjaan itu aku tuh.

Singkat cerita, Farhampton ternyata lokasi fiktif yang diciptakan untuk serial tersebut. Oh, alhamdulillah, ternyata aku tidak kuper-kuper amat.

Lalu dari hasil berselancar di dunia maya tersebut, aku malah menemukan ini :

Wah, sebuah parfum bertulisan Farhampton. Setelah kuselidiki dengan seksama ternyata ini parfum produksi Indonesia. Hey, hey, huss, ini bukan tulisan berbayar atau endorse-endorse-an. Mohon maap, blog ini merdeka dari uang, aku tidak mencari uang dari blog. Ini murni nemu info gara-gara serial How I Met Your Mother.

Trus kenapa pake namanya Farhampton? Kan jadi kepo. Hasil dari baca beberapa artikel berbau iklan, ternyata nama tersebut terinspirasi dari serial How I Met Your Mother (HIMYM).

Ketiga founder parfum tersebut jadi deket gara-gara sama-sama suka nonton HIMYM. Ketika mereka bertiga sedang bernostalgia mengenang serial favorit mereka itu, kebetulan di masa tersebut mereka bertiga juga sama-sama suka sama sebuah parfum.

Sayangnya sekarang nggak diproduksi lagi, jadi nggak bisa ditemukan di pasaran. Mereka juga masih menyimpan botol parfum tersebut, dan setiap kali mencium wanginya, semua memori menyenangkan pada saat nonton HIMYM dulu pun selalu muncul.

Akhirnya, berawal dari nostalgia tersebut mereka langsung sepakat untuk kembali menghidupkan wangi parfum tersebut. Setelah 6 bulan melakukan research untuk menciptakan parfum ini, akhirnya HMNS bekerjasama dengan seorang perfumer Indonesia yang juga merupakan lulusan terbaik di ISIPCA Prancis (fragrance & cosmetics school ternama) sebagai nose nya.

Seperti yang kuceritakan di awal tadi, moodku yang sentimentil mendadak bergejolak. Wah, kami sehati nih, aku harus memiliki parfum itu. Yayaya, aku tahu kalian pasti tertawa geli saat baca ini dan mengetahui betapa konyolnya aku kalo lagi kumat galau-galau gak jelasnya.

Dengan perasaan emosional tanpa disertai logika untuk mencari tahu lebih dalam, aku meluncur ke market place dan klik check-out. FYI, check-outnya saat itu tanggal tua pula. Waduh, kurang kesirep apa coba. Ckckck.

Sembari menanti datangnya paket, aku bertanya-tanya, apakah ini aromanya manis seperti senyumnya Ted Mosby? Hoeksss, pemirsa auto nyari kresek.

Akhirnya buka Youtube, kayak gimana sih aromanya? Kayak Ted, Marshall, atau Barney? Atau seperti aroma hujan di Farhampton? Tentu saja review mereka tidak sentimentil seperti tebakanku.

Seorang youtuber yang merupakan fraghead, mengatakan aromanya mirip banget sama Gatsby White Up Blank Wood. Tersedia di Indomaret terdekat di kota anda dengan harga bersahabat. Eh, whattt? Maksud lo? *nangis dibawah shower*. Uasemm, kenapa aku mengeluarkan uang dalam jumlah lumayan di akhir bulan dengan aroma parfum yang mirip sama parfum Indomaret?

Wait, tunggu dulu, bukannya aku beli bukan karena aromanya ya? Aku beli karena logo payung kuningnya, aku beli karena nama Farhamptonnya dan aku beli karena ceritanya foundernya yang sehati.

Hhhh. Mbuh ini mungkin konyol. Ya pokoknya begitulah aku kalo lagi sentimentil. Yang pasti aku menyambut mas ‘misi-paket’ dengan ceria dan membuka paket dengan hati berbunga-bunga. Trus ketika pertama kali kusemprotkan, wah, terbayang senyumnya Ted Mosby. *mulai halu*.

Aku bukan penggemar parfum, jadi nggak bisa mendeskripsikan aromanya dengan baik. Lagipula ini kan bukan iklan. Soal aroma yang katanya mirip Gatsby, ya nggak tahu juga, aku belum ke Indomaret untuk mengendus-endus parfumnya.

Kim’s Convenience

Akhirnya nonton drakor juga.

Eh, nggak gitu juga ding. Ini bukan serial buatan Korea Selatan, tapi ini serial sitcom asal Canada.

Serial mengambarkan kehidupan keluarga Kim, imigran dari Korea yang membuka sebuah mini market bernama Kim Convenience di wilayah Moss Park, Toronto.

Appa (ayah) dan Umma (ibu) yang merupakan generasi pertama, masih kental banget sama tradisi Korea. Khas orang tua asia pada umumnya deh.

Sementara kedua anaknya, Janet dan Jung yang lahir di Canada, pemikirannya udah barat banget dan sering tepok jidat, merasa kedua ortunya ribet dan kolot.

Yang sering bikin ngakak kalau Appa dan Umma maksa anak-anaknya mengikuti budaya mereka yang padahal lingkungannya udah beda banget sama Korea.

Padahal bahasanya aja, mereka udah nggak paham. Oh ya, grammar di sitcom ini amburadul, asal njeplak aja kalau ngomong. Hahaha.

Appa yang merasa selalu benar, ga peduli perasaan anak. Udah gitu kalau salah gengsi minta maaf ke anaknya. Dan ciri khas bapak-bapak asia pada umumnya, pelit.

Umma yang khas emak-emak asia yang ribet banget. Ngurusin jodoh anak-anaknya, aktif di kegiatan sosial, dan selalu hobi banget bandingin anak-anaknya dengan anak-anak temennya yang sukses dalam pendidikan dan karir. Hahaha. Lelah ya!

Sitcom 30 menit ini memang cocok banget untuk menghibur saya yang sudah lelah seharian beraktifitas dan hanya punya waktu luang nonton netflix malam hari menjelang tidur.