Cuek

“Cuek is the best.”

Entah siapa yang mengarang, siapapun anda, silakan berbangga. Pepatah usang yang masih menjadi andalan pembenaran sampai detik ini.

Terutama saat ini.

Ketika pagi buta, ketika seisi dunia berkonspirasi secara kompak. Rintik gerimis, hawa dingin dan sayup-sayup lagu lama dari radio tetangga.

Hati nurani berbisik, “Ingat. Menurut jadwal yang telah kususun, pagi ini musti olahraga. Tidak bisa tidak.”

Selimut makin posesif, bantal mendadak makin empuk, hujan makin deras.

Untuk ke 36784 kali, aku menyerah.

Nulis blog aja sambil selimutan kalo gitu.

Srimenanti

Prestasiku di awal tahun adalah menamatkan novel ini dalam semalam.

Pembaca blog ini pada membatin, “Halah, lebay amat. Gitu doang dibilang prestasi.”

Buat orang lain mungkin biasa aja, aku lupa kapan terakhir bisa menamatkan buku dalam sekejab. Mungkin saat SMA dan itu sudah lama sekali.

Ketika buku ini bisa kulalap cepat dalam semalam, tandanya aku suka sekali baca buku ini.

***

Ibarat nonton film, aku seperti sedang nonton di bioskop dengan penonton tidak lebih dari 5 orang.

Filmnya sepi, muram, dingin, satir.

Alurnya datar sampai ending. Slowmotion. Nggak ada antagonis. Tapi bikin penasaran banget ngikutin jalan ceritanya sampai selesai.

Lalu tahu-tahu kaget, lho kok udah tamat? Gini doang?

Kemudian bingung sambil berpikir saat meninggalkan gedung bioskop.

***

Sejak membaca sampai akhirnya tuntas, aku dibikin bingung, ini fiksi atau non fiksi sih? Lho emangnya emang kitab suci hahaha..

Sepertinya juga nggak ada konflik, tapi kalau kupikir-pikir lagi dari awal sampai akhir, itu konflik yang nggak selesai.

Lalu ini kisah cinta tapi kok sepertinya bukan. Tapi kok bikin gemes dan geregetan.

Bingung jelasinnya. Padahal ceritanya sederhana. Kehidupan sehari-hari doang.

Setiap halaman ada detail-detail cantik yang bawaannya pengen distabilo, karena pengen kurenungkan. Hah? Kok direnungkan, emang pake bahasa njlimet? Enggak kok, bahasanya sederhana dan gampang dicerna.

Jadi sebetulnya Jokpin ini bikin novel apa? Mbuh.

Mungkin Jokpin cuma berharap kita baca aja sampai selesai. Nikmati aja, nggak usah kebanyakan mikir.

Mungkin seperti dialog dalam novelnya,

Saya pernah ditanya wartawan, “Lukisanmu termasuk aliran apa?” Saya malas dan tidak tertarik menjawab pertanyaan semacam itu. Saya tidak tertarik pada label.

Selesai baca, aku meluncur ke Goodreads, ternyata nggak ada yang sanggup menuliskan resensi buku ini dengan jelas.

Ah, sudahlah. Kalian harus membacanya.

Menyeimbangkan Hidup

Seminggu kemarin, merupakan minggu yang cukup berat secara mental.

***

Aku tidak tertarik untuk mengurai masalah di sini, yang ingin kubahas adalah upayaku untuk menyeimbangkan hidup. Memperbaiki mood supaya tidak makin terpuruk.

Seperti kata Albert Einstein, “Life is like riding a bicycle. Supaya bisa seimbang, kita harus terus bergerak.”

Singkatnya, aku kudu move on.

Melarikan diri ke Timbuktu dan menghindari kenyataan bukan cara efektif. Kupikir melarikan diri ke blog sesaat rasanya oke juga. Tempat sepi dimana aku bisa menumpahkan tumpukan pikiran yang udah njelimet. Jadilah blog baru ini.

Lalu aku mendownload aplikasi mind map, untuk mengurai benang ruwet di pikiran. Hasilnya lumayan, beberapa masalah bisa terurai sedikit demi sedikit.

Sebagai hiburan pengantar tidur, aku memutuskan untuk mendownload Iflix dan menonton beberapa sitcom buatan Amerika supaya aku bisa lebih rileks dan cekikikan.

Endingnya hari minggu kemarin, aku memutuskan ke salon untuk potong rambut. Semacam simbol untuk memotong masalah, lalu mengikhlaskannya. Rambutku sekarang lebih pendek, di bawah telinga. Rasanya lebih fresh.

***

Ya udahlah, nggak usah terlalu banyak dipikir, nggak usah terlalu banyak dipusingkan. Bahagia yang sesungguhnya adalah jika aku bisa menikmati kesumpekan dengan asyik.

Karena hidup itu harus dinikmati. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik.

Ukuran Tas Ideal

Berapa ukuran tas yang ideal? Jawabannya bisa macam-macam, tergantung kebutuhan si pemakai.

***

Dari pengalaman menggunakan tas sejak sekolah TK sampai dewasa dan bekerja, akhirnya aku punya standar ukuran tas yang menurutku ideal.

Jika melihat size yang cocok di sebuah toko, otomatis aku mengatakan, “Wah, ini aku banget.” Ukuran tas yang ‘aku banget’ dipengaruhi oleh isi di dalamnya.

Isi tasku selalu ada 4 barang : ponsel, charger, dompet dan token. Semuanya dalam ukuran yg paling minimal alias mungil.

Untuk jaman now, aku masih betah menggunakan iphone 5 karena (mungkin saat ini), merupakan smartphone yang mungil. Intinya kalo ponsel bisa masuk saku celana, artinya ponsel tersebut lolos seleksi dan oke untuk kumiliki.

Charger nggak perlu kujelaskan lah. Ya intinya sampai saat ini aku tidak punya power bank dan merasa belum perlu untuk memilikinya.

Lalu saat ini aku memilih untuk menggunakan dompet kartu yg kecil dan tipis. Cuma ada 2 kartu di dompetku, KTP dan ATM. Kadang-kadang kuselipkan 2-3 lembar uang kertas. Lalu gimana dengan uang koin? Biasanya kumasukkan dalam saku. Tapi sangat jarang, karena aku lebih sering membayar dengan kartu.

Yang terakhir adalah token. Ini paling penting. Aku tuh anaknya cashless banget.

Aku tidak pernah membawa minum, tisu, sisir, kacamata, kosmetik, dan aneka printilan perlengkapan wanita.

Jadi karena aku cuma bawa 4 barang tersebut maka otomatis tas yang kubutuhkan juga mungil. Ya ngapain gitu lho pake tas berukuran besar kalo bawaannya cuma itu doang.

Siapa yang bilang size doesn’t matter? Please, itu perlu direvisi. Size does matter.