Dulu saat blogwalking, saya membaca salah satu blog dan menemukan kalimat mutiara yang ‘kena banget’ di saya. Saking terinspirasinya, saya tulis kalimat tersebut di diary saya.
Kalimat tersebut begini bunyinya :
“Sebelum kamu yakin mem-posting tulisanmu, bacalah kembali. Pastikan bahwa tulisan ini mampu untuk dipertanggung-jawabkan kelak di akhirat.
Tulislah hal bermanfaat, hal yang membawa kebaikan, agar kamu beruntung : panen pahala plus bisa jadi kamu dapat bonus cuan di masa mendatang.”
Nasehat ini selalu saya ingat-ingat, tidak hanya ketika saya menulis blog. Namun juga berlaku dalam percakapan di chat whatsapp atau kolom komentar di berbagai medsos.
Saat saya menyalin ke jurnal harian saya, tidak terpikir saat itu untuk mencantumkan sumbernya dari blog mana. Jadi saya lupa siapa penulisnya. Yang pasti lewat blog ini saya berterima kasih dengan beliau atas pencerahannya.
Sepertinya ini yang pertama dan terakhir aku bahas parfum, karena sejujurnya aku buta sama hal yang satu ini.
Beberapa waktu yang lalu, aku beli parfum secara online tanpa mengendus dulu baunya atau minimal cari tahu dulu deh ini aromanya gimana. Istilahnya penggemar parfum, blind-buy.
Yayaya, kalian bisa baca postingan blogku sebelumnya tentang bagaimana keputusanku yang sentimentil membeli parfum HMNS Farhampton. Aku sarankan untuk baca tulisanku sebelumnya, biar nyambung.
Berhubung di kolom komentar ada yang nanya gimana reviewnya, ya udah aku review deh. Tentu saja reviewnya juga sentimentil, bukan ala fraghead yang menjelaskan dengan teori dan penciuman tajam, setajam silet.
Jadi aku beli ini karena ada kata ‘Farhampton’. Sebuah nama tempat fiktif yang diciptakan untuk serial How I Met Your Mother (HIMYM).
Saat tahu bahwa Farhampton ini tempat fiktif di antah berantah, terbersit dalam hati, “Wah, nemu juga alasan tempat pelarian baru selain Timbuktu.” Emang Timbuktu dimana sih? Itu lho yang ribuan kilometer dari Kota Bebek.
Eh, kok ngelantur ya. Mari kita mulai reviewnya.
Kesan pertama saat lihat kemasannya aku suka sama logo farhampton dengan payung kuning yang menggantikan huruf O.
Serial HIMYM ini memang identik dengan payung kuning milik wanita yang kelak jadi istrinya Ted Mosby.
Di bagian belakang box parfum ada sebuah paragraf yang mengingatkanku dengan salah satu adegan fenomenal, di momen Ted pertama kali kenalan sama wanita berpayung kuning.
Oke, saatnya membuka kotak kemasan dan mulai menyemprot. Kesan pertama yang kudapat adalah hmm, ini wangi pria.
Walau ini katanya parfum unisex yang bisa dipakai pria dan wanita, aku merasa ini jelas wangi pria. Bukan wangi pria alay, tapi juga bukan wangi pria tajir. Wangi pria tampan? Eeng, nggak juga.
Yang pasti kalau dibayang-bayangkan ini bukan parfumnya Marshall. Sebagai orang yang sok bijak, tampaknya ini bukan parfum yang cocok untuk dipakai dia. Sebagai lawyer, parfum ini juga kurang berwibawa untuknya.
Aroma ini juga bukan Barney banget. Bukan parfumnya fuckboy yang hobi gonta-ganti cewek. Parfum ini terlalu biasa untuk dipake playboy sepertinya. HMNS Farhampton ini parfum dengan aroma pria baik-baik.
Yang paling mendekati mungkin, yaaa, ini aroma pria yang biasa-biasa aja. Yang tampaknya pas dipake untuk pria single di awal 30 tahun ke atas dengan karir yang gitu-gitu aja.
Singkatnya ini bukan parfum pria mapan, ganteng, rapi, berbadan bagus. Yes, ini parfum yang cocok dipake Ted Mosby, pria baik-baik dengan spesifikasi yang biasa-biasa aja.
Kalo menurut HMNS aromanya adalah : – Top notes : bergamot dan ripe fruit. – Middle notes : lavender, orange blossom. – Base notes : cedar, tonka bean, labdanum.
Mengingat parfum ini diciptakan ketiga founder HMNS untuk mengenang nostalgia nonton HIMYM saat jaman kuliah dulu, jadi ya makin menguatkan kesan bahwa ini parfum pria yang belum mapan jaya.
Tapi aku nggak nyesel beli ini. Beneran deh. Sumprit. Kalau baca postingan sebelumnya, keputusanku untuk membeli parfum ini mungkin terkesan konyol, absurd dan irasional.
Tapi ketika aku menyisihkan waktu untuk ‘membaca’ dan merenungkan semuanya, aku menemukan garis merah yang menjembatani satu kejadian dengan kejadian yang lain.
Eng ing eng.
Singkat kata, semesta mengiringku untuk memiliki parfum itu.
Entah dari mana datangnya hidayah itu, hanya karena saat nonton aku penasaran dengan kata Farhampton, akhirnya aku spontan klik ‘pause’ dan mulai bergerak untuk mencari tahu dimanakah Farhampton itu berada.
Hasilnya memang nihil, karena itu tempat fiktif. Tapi aku malah menemukan Farhampton yang lain. Seperti quote dalam serial HIMYM :
Kurang lebih begitulah kira-kira. Kalau katanya Carl Jung, namanya synchronicity. Kebetulan yang bukan kebetulan.
Synchronicity menurut Carl Jung adalah hukum alam yang ditunjukkan melalui serangkaian kebetulan yang memiliki pesan tersirat bagi yang mengalaminya.
Serangkaian kejadian yang disebut kebetulan yang bermakna bisa terjadi kapanpun. Saking pasnya, pada kondisi tertentu, aku bisa merasakan bahwa semua kejadian yang kebetulan itu adalah sebuah skenario yang mendorongku untuk memiliki parfum ini.
Oke, mungkin kalian pikir aku lebay dan mencari pembenaran. Ketahuilah, bahwa aku sudah lama sekali nggak beli parfum. Terakhir beli dengan niat dan perasaan itu tahun 2009. Udah lama banget ya. Setelah itu parfum yang kupunya hanyalah hadiah dan oleh-oleh dari teman dan kerabat.
Ya mungkin ini memang momen yang pas untuk punya parfum baru setelah sekian lama.
Saat ini aku nonton HIMYM udah di season 10, yang artinya ini season terakhir dan sebentar lagi tamat. Jadi aku nggak akan lihat Ted Mosby dkk lagi seperti malam-malam sebelumnya. Untungnya aku punya parfum ini, jadi besok-besok kalo kangen sama si Ted, tinggal semprot parfumnya aja. *mulai halu*.
Untuk HMNS, thank you so much udah repot-repot bikin parfum seri ini. Kayaknya parfum ini diciptakan untuk aku. *Ge-er amat, siape elu.*
Seperti kata Barney, aku yakin HMNS Farhampton ini suatu hari nanti akan jadi ‘LEGEN.. wait for it.. DARY’. Yes, legendary.
Kemarin, akhirnya khatam juga, setelah beberapa minggu saya mantengin serial sitcom Unbreakable Kimmy Schmidt.
Serial ini tayang di Netflix tahun 2015, saya sih baru nonton tahun 2020. Ceritanya rada jayus sih.
Kimmy ini korban sekte sesat. Saat berumur 15 tahun, dia diculik dan tinggal di bunker bersama 3 wanita lainnya. Ketika si pelaku tertangkap, mereka kemudian diwawancara di sebuah stasiun tv di New York.
Setelah syuting, 3 wanita tersebut pulang ke Indiana, hanya Kimmy yang ogah balik dan memutuskan untuk menetap di New York.
Kebayang nggak sih, setelah bertahun-tahun hidup di bunker lalu mendadak tinggal di New York?
Dengan segala keluguan, kemiskinan dan kegaptekannya membuat kisahnya lucu banget untuk ditonton.
Kimmy tinggal dengan Titus, seorang pria gay yang berambisi menjadi aktor terkenal.
Titus sangat realistis dan membuat Kimmy membuka mata, bahwa hidup di New York itu tidak mudah.
Bahkan untuk Jacqueline, wanita kaya yang mempekerjakan Kimmy sebagai pengasuh anak-anaknya.
Di sitcom ini ga ada adegan hidup santai seperti serial Friends, dimana Rachel, Ross dkk sering banget nongkrong di sofa empuk sambil ngopi cantik di Central Perk.
Di season 1 dan 2, ceritanya asik banget, saya tekun mengikuti perjuangan Kimmy dkk menaklukkan New York.
Di season 3, yang nulis skenario makin liar dan seenaknya. Ceritanya makin absurd dan bikin keki. Kalau saya nonton sambil makan kacang, pasti udah lecet-lecet layarnya saya lemparin pake kulit kacang.
Di season 4 yang merupakan season terakhir, ceritanya makin mengada-ada. Saya ngakak makin keras di season ini. Yang bikin skenario kayaknya makin edan (atau stres?) saat nulis untuk season 4. Banyak dialog-dialog yang haduh, plis, dong ah. Jayusnya udah maksimal nih.
Ceritanya juga makin banyak aroma politis yang bikin ngakak.
Bahkan ada sebuah adegan saat Kimmy satu pesawat dengan Trump (yang tentu saja palsu). Guyonan Amerika yang khas banget.
Secara keseluruhan, saya terhibur banget dengan guyonannya.
Sudah lama saya ingin menulis tentang dia. Di penghujung akhir tahun ini, akhirnya mood untuk nulis tentang John Mayer datang juga.
Sebetulnya saya termasuk fans yang tertunda. Saat di awal kemunculannya dia di MTV dengan lagu “Your Body Is My Wonderland”, saya nggak peduli. Karena di tahun itu, aliran acid jazz sedang merajalela dan meracuni saya.
Iman saya baru runtuh saat nonton konser John Mayer yang di Nokia Theatre, Los Angeles. Saya yang buta sama sekali tentang John Mayer, mendadak jatuh cinta. Klepek-klepek ga karuan.
Berhubung saya terpesona dengan lagu “Neon”, dimana doi bisa main gitar dengan teknik yang sulit dan disambi sambil bernyanyi. Saya pikir, si JM ini bukan musisi sembarangan.
Dengan berbekal kekepoan sebagai fans baru yang mulai norak, saya browsing dan menemukan fakta bahwa mas John ini ternyata mengenyam pendidikan di Berklee College of Music di Boston.
Setelah menyimak beberapa lagunya, maka saya putuskan untuk memiliki albumnya. Jadi album pertama yang saya beli adalah ini :
Lihatlah wajahnya yang masih cupu
Lalu memburu album-album yang lain.
Saya jarang dengerin JM dari Spotify, karena sebetulnya dia lebih asik ditonton saat konser lewat Youtube.
Sepertinya dia bosenan dengan lagu yang ada di album, jadi tiap konser, dia bikin beberapa versi.
Kalau ditanya lagu apa yang paling saya suka, saya bingung mau jawab yang mana. Semua suka. *lawas, mbak*
Salah satu yang menarik tuh kalau dia bikin judul lagu sungguh menggelitik dan bikin saya penasaran dengan isi liriknya.
Kalian yang biasa nulis blog, tahu sendiri kan bikin judul itu ga mudah. Kalau judul nggak menarik, ya udah, lewat deh kesempatan untuk di baca.
Beberapa judul yang menggelitik :
Slow Dancing In The Burning Room
Everyday I Hate The Blues
Love Song For No One
I Don’t Trust Myself (With Loving You)
I’m Gonna Find Another You
Beberapa liriknya juga membuat saya berpikir kok bisa ya bikin lirik sederhana tapi nyesss gini.
“We found a message in a bottle we were drinking” – Love on the weekend
Now I am going to dress my self for two, Once for me and once for something new” – I’m Gonna Find Another You
“I am an architect of days that haven’t happened yet” – Face to Call Home
“Is there anyone who remembers, changing their mind from the paint on a sign”– Belief
“Lonely was the song I sang, until the day you came“- Half of my Heart
Kadang-kadang penggalan lirik pengen kujadikan print di t-shirt. *molaiiik*
Dan yang terakhir, selain good looking, gaya berpakaiannya menurut saya juga keren.
*ngusep iler*
Okay, mari kita sudahi tulisan panjang ini. Saya kok jadi pengen memutar kembali CD John Mayer.
Nggak terasa udah kamis lagi, saatnya nulis blog untuk minggu ini.
Jadi di akhir tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya bersama 3 orang kawan berencana untuk tukar kado.
Karena budget yang ditetapkan cuma 35 ribu, maka saya putuskan untuk memberikan sebuah hadiah berupa poster film. Selain murah meriah, kalau toh mereka udah bosan, buangnya juga gampang.
Jadi saya minta daftar 4 film favorit mereka sepanjang massa. Saya pikir, setelah chat langsung dibales, nggak taunya mereka minta waktu 1 hari untuk bertapa dulu nyari wangsit.
Sambil menanti jawaban mereka, saya akhirnya ikutan mikir 4 film favorit saya. Setelah merenung dan menguras memori, berikut ini 4 film favorit saya yang terlintas dalam benak :
1. The Godfather 2
Agak susah memilih The Godfather 1 atau 2, setelah menimbang-nimbang, saya lebih suka yg ke-2.
Ga usah bahas yang ke-3, karena dibandingkan sebelumnya filmnya payah, kalau saya bilang mending nggak usah bikin sekalian.
Hampir semua dialog film ini, bisa distabilo dan jadi jampi-jampi di tempat kerja yang lingkungannya keras dan ganas.
Saat masih fresh graduate dan masih jadi pupuk bawang, quotes film ini sungguh berguna untuk memotivasi saya.
Bahkan sampai hari ini.
2. Flipped
Duh, ini film cinta-cintaan terbaik deh. Manis banget ceritanya dan sukses bikin saya baper.
Saya males menjelaskan panjang lebar, tapi film hollywood cinta-cintaan tanpa pegangan tangan dan ciuman kan jarang ada ya.
Bahkan drama korea yang terkenal sopan aja udah banyak dibumbui adegan-adegan 13+
Nah, maka dari itulah saya suka banget film ini.
3. You’ve Got Mail
Saya nonton ini saat saya belum punya email. Serius, memgingat film ini muncul tahun 1998. Dan setelah nonton ini, saya jadi ingin punya email.
Film ini nggak pernah bosan saya ulang-ulang, walau sekarang ceritanya kesannya jadul banget ya. Lha tapi sepertinya kita semua relate sama ceritanya deh.
4. The Talented Mr Ripley
Di film inilah pertama kalinya saya cinta sama Matt Damon. Mainnya kurang ajar banget di film ini, keren banget.
Soundtrack film ini juara ditelinga saya. Saya ingat pernah punya albumnya, semuanya enak. Kalau temen-temen suka jazz, demgerin album ini deh.
Film ini dialognya juga bagus, beberapa quote sukses menampar saya.
*****
Nah, sekarang giliran temen-temen untuk menyebutkan 4 film favorit sepanjang massa di kolom komentar saya.