Setiap hari saat jalan pagi, saya punya kebiasaan mendengarkan lagu dari satu album band/penyanyi.
Saya nggak terlalu demen dengerin lagu secara random. Karena saat jalan pagi, lebih enak menghayati materi album secara utuh. Jadi ketahuan konsep keseluruhan album gitu deh.
Nah, album Madonna yang ini, yang paling lama bertengger dalam playlist saya. Sempet gonta-ganti, namun ujung-ujungnya balik lagi dengerin ini. Karena, sumpah enak. Kalian musti dengerin Madonna berbalada ria.
Untuk sebuah album lawas, musiknya masih kedengeran enak lho buat didengerin di tahun 2024. Lirik-liriknya juga dasyat.
Kecintaan saya sama album ini persis sama judulnya, something to remember deh.
Wah, ini gila banget. Kenapa saya telat banget baca buku ini. Kalimatnya indah banget, baca ini rasanya kayak kesirep masuk ke dalam buku dan melebur ke dalam ceritanya.
Saya tuh termasuk jarang nonton film, namun berusaha untuk punya tontonan tetap di Netflix. Baru-baru ini saya berhasil menamatkan serial Ripley.
Series ini dibuat berdasarkan salah satu film kesukaan saya jaman kuliah dulu, judulnya The Talented Mr Ripley.
Karena dulu setelah nonton Mr Ripley itu, Matt Damon langsung menjadi ranking 1 dalam urutan aktor terbaik versi saya.
Bahkan Jude Law yang saat itu sedang di puncak ketampanannya, tidak saya lirik. Mainnya kebanting jauh daripada Matt Damon.
Jadi saat dibuat seriesnya, lumayan penasaran juga, apakah Andrew Scott mainnya sebagus Matt Damon?
Baiklah, ini spoiler. Ya tentu kudu spoiler dong, karena kalo nggak spoiler saya bingung mau ngetik apaan.
Kisah dimulai saat seorang detektif menemui Tom Ripley dan ia menyuruh Tom untuk menemui Mr. Herbert Greenleaf.
Rupanya Mr. Greenleaf mengira Tom adalah teman anaknya yang bernama Dickie.
Bapaknya Dickie ini mengeluh, anaknya di Italy luntang-lantung nggak jelas dan disuruh balik New York nggak mau.
Dengan imbalan uang dan perjalanan ke Italy, Tom disuruh membujuk Dickie untuk pulang dan ikut terjun dalam bisnis bapaknya yang tajir itu. Tanpa pikir panjang, dengan sat-set Tom langsung menyikat kesempatan emas itu.
“Tentu saja aku berteman akrab dengan Dickie, jangan kuatir, akan kubawa pulang dia nanti”. Begitulah kibulan si Tom. Padahal mukanya Dickie aja si Tom nggak tahu.
Singkat kata, Tom akhirnya sampai di Italy dan berhasil ketemu si Dickie.
“Ogah ah balik, enakan di sini. Hidup bebas, bisa ngelukis dan pacaran.”
Misi pun gatot. Gagal total.
Dickie yang baik hati itu menawarkan Tom untuk menginap di villa. Hari pun berganti, sampe udah dua bulan-an kali ya (lupa), Tom masih aja numpang di villanya Dickie dan nggak balik-balik. Marge, pacarnya Dickie pun gerah.
“Nih anak kok nggelibet aja disini, kayak kabel setrikaan. Suruh pulang gih, malesin banget liat dia.”
Berdua mereka berembuk untuk bikin strategi supaya Tom enyah dari sini. Singkat cerita, Dickie mengajak Tom keluar kota. Misinya, supaya Tom nggak ikut balik, biar di kota itu aja.
Supaya Tom nggak tersinggung, Dickie ngajak ngobrol dari hati ke hati sambil naik perahu berdua. Singkat kata, mereka berantem dan Tom akhirnya memukul Dickie sampai tewas di perahu.
Sebelum menenggelamkan Dickie dengan perahu, identitas Dickie (jam tangan, cincin) ditukar dengan punyanya Tom.
Dalam benaknya, “Oke, Tom udah ko’it, mati, tamat riwayatnya. Sekarang aku punya identitas baru, aku akan jadi Dickie yang baru. Toh, siapa juga yang ngenalin, wong ini di Italy.”
Begitulah. Tom kini jadi Dickie.
Foto di paspornya Dickie diganti fotonya dia, tanda tangan Dickie pun dipalsu untuk mencairkan buku cek milik Dickie yang nilainya besar.
Dickie yang baru menjadi OKB, orang kaya baru. Ia pun pindah kota, tinggal di hotel mewah sampai memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen yang luar biasa keren interiornya.
Sudah ah, males ngetik. Capek.
Yang pasti aku lebih suka yang ini daripada yang versi film. Matt Damon, maafkan aku yang sekarang. Posisimu udah tergeser si Andrew.
Suer deh, yang ini lebih keren ceritanya. si Tom minim banget dialognya, lebih banyak main-main dengan ekspresi datarnya yang bikin geregetan itu.
Yang jadi Marge mainnya juga keren. Kok bisa ya akting dengan ekspresi curiga dan sinis namun tetep terlihat anggun tanpa banyak kata?
Gambarnya OMG. Suka banget, hitam putih yang estetik. Ah, susah nulis mendeskripsikan dengan kata-kata. Okelah pokoknya.
Oh ya, setelah nonton ini, saya jadi pengen punya fountain pen alias pena yang runcing. Banyak sekali adegan yang memperlihatkan Tom yang menanda-tangani cek dengan tanda tangan Dickie yang dipalsu.
Suatu pagi saat sedang jalan kaki menuju lapangan, saya merenung, kok tahun ini hampir tidak pernah nonton film dan buka Netflix. Sayang dong udah bayar langganan kok dianggurin aja.
Beberapa tahun ini dengan hadirnya Netflix dan semacamnya, membuat banyak orang cenderung nonton serial secara marathon. Saya juga cenderung ikut arus bermarathon ria.
Namun kali ini saya mencoba untuk balik ke gaya lama. Back to 90’s. Back to Orde Baru.
Lalu saya mengingat-ingat memori tahun 90-an, saat saya masih suka nonton televisi. Kala itu saya setiap malam saya selalu duduk manis di depan TV.
Kemudian saya berpikir, musti ada waktu khusus untuk menonton film nih. Kudu ada jadwalnya. Saya merenung, jam berapa ya yang pas untuk nonton film?
Kemudian teringat tontonan wajib saya dulu. Jam 19.30 sampai 20.00 nonton sitcom, seperti Who’s The Boss. Lalu lanjut serial action / drama dengan durasi 1 jam, seperti MacGyver dll.
Akhirnya saya mengambil kesimpulan : Sehari cukup nonton 2 film. 30 menit nonton sitcom / yang ringan-ringan aja dan 1 jam nonton drama / yang rada serius.
Bergegas saya menyusun jadwal dari Senin sampai Sabtu. Udah berasa kayak punya stasiun TV aja nih, nentuin tontonan yang oke.
Saya pilih 6 serial komedi dan 6 serial drama.
Jadinya seperti ini :
Kini sudah berjalan sebulan saya menggunakan jadwal nonton. Ternyata berhasil. Tiap malam menjelang jam 19.30 saya excited untuk mulai nonton sampai jam 21.00, lalu tidur.
Saya berhenti marathon untuk langsung membabat habis tontonan dan mulai ditimit-timit jadi seminggu sekali nontonnya. Saya pikir trik ini bisa menghindarkan saya dari rasa jenuh.
Manfaatnya, ternyata juga bisa melatih saya untuk lebih sabar menahan diri untuk episode selanjutnya. Kudu break dulu, nunggu seminggu kedepan. Sumprit deh, ternyata trik nonton seperti ini jauh lebih nikmat dibanding marathon.
Oh ya, hari minggu jaman dulu adalah hari nonton film kartun. Saat nulis ini baru terpikir, sepertinya perlu juga menjadwalkan jam khusus untuk nonton 2 film kartun. Kartun model barat dan timur. Hmm.. baiklah, saya sudahi nulis blog ini dan meluncur untuk mengubek-ngubek kartun yang seru di Netflux.
Saya sedang jenuh nonton Seinfeld yang sudah memasuki season 8, butuh penyegaran dan ingin libur dulu nonton Seinfeld. Dengan sigap tangan saya bergerak mengubek-ubek Netflix, mencari sitcom terbaru.
Dan saya temukan ini.
Demi mendapatkan secercah info, saya meluncur ke Youtube dan menonton trailernya. Ternyata tentang kisah sehari-sehari karyawan persewaan DVD, Blockbuster. Hare gene masih ada persewaan DVD. Baiklah, tampaknya cukup menarik dan menjanjikan.
Saya juga baru tahu kalau nama Blockbuster itu bukan fiktif, tapi memang beneran ada di beberapa negara. Itu pun tahunya gara-gara baca komentar di Youtube, bahwa beberapa orang bilang pernah kerja di Blockbuster dan mereka mengenang memori yang menyenangkan di kolom komentar tersebut.
Episode pertama diawali dengan kenyataan pahit bahwa di banyak cabang Blockbuster, akhirnya satu persatu menyerah dan tutup karena tidak mampu bersaing dengan kehadiran internet dan streaming online. Sehingga Blockbuster tempat Timmy dkk bekerja, menjadi satu-satunya di jagad raya yang luas ini.
Sungguh episode pertama yang menyedihkan, bukan? Ekspektasi saya bisa ngikik nonton sitcom, lha ini kok jadi terhenyak dan rada sedih. Plus sedikit merasa berdosa karena hobi nonton Netflik.
Saya jadi teringat dulu di deket rumah ada persewaan DVD yang lumayan besar, saya lupa namanya. Tempatnya luas, seluruh bangunan dikuasai mereka. Hanya dibagian carport saja yang disewa penjual makanan bebek goreng.
Sekarang situasinya menjadi berbalik, saat persewaan DVD itu tutup. Seluruh area bangunan kini dikuasai oleh penjual bebek goreng. Kalau temen-temen pernah makan bebek goreng Palupi yang di Rungkut, Surabaya. Nah, itu dulunya bekas persewaan DVD.
Saya juga jadi inget Disctarra, toko yang menjual kaset, CD, VCD, DVD yang selalu ramai pengunjung. Saat saya masih sekolah dan kuliah, selain toko buku, Disctarra selalu jadi tempat wajib untuk dimasuki saat sedang ke mall.
Ada keasyikan tersendiri saat ngubek-ngubek rak dan nemu barang langka. Sama juga seperti persewaan DVD yang selalu dengan khusyuk saya mencari-cari film yang tampaknya bagus namun jarang dilirik orang. Semacam mencari mutiara yang terpendam di dasar lautan deh.
Jadi setelah nonton episode 1, saya berharap diri ini mulai terhibur dengan episode selanjutnya.
Dengan 5 orang karyawan, Timmy (Randall Park) harus berpikir gimana caranya supaya Blockbuster ini tetap hidup dan bisa meraih pendapatan yang cukup. Di saat yang sama, Timmy juga memiliki masalah kehidupan pribadinya yang serba kikuk karena naksir rekan kerjanya sekaligus teman SMA-nya (Melissa Fumero sebagai “Eliza”) yang sudah menikah.
Ya ampun, ini sitcom aposeh, saya yang sedang stres dan pengen dihibur makin frustasi nonton ini. Seakan-akan hidup ini menyedihkan. Plis lah, hibur saya dikit napa.
Seperti pelanggan yang kegirangan nemu film langka atau menyusuri lorong-lorong atau apa gitu yang membuat saya senyum-senyum mengingat masa-masa kejayaan persewaan DVD.
Yang adanya hanyalah mengeluh, frustasi, stres, problem pribadi di luar kisah DVD. Duh.
Pertanyaan besar, “Bagaimana rasanya bekerja di Blockbuster terakhir di Bumi?” adalah salah satu hal yang menarik dan saya tungguin. Namun saya hampir tidak melihat itu terjawab dalam alur cerita episode. Tidak ada rasa bangga atau minimal idealis deh kerja di tempat langka.
Ya mungkin ini memang kenyataan hidup yang dibebeberkan serealistis mungkin. Penulis skenarionya nggak menumbuhkan gairah atau situasi yang bisa melibatkan penonton untuk tersenyum bernostalgia, walau seuprit. Karakter-karakternya pun kurang matang dan masih sering berubah, chemistry diantara mereka juga kurang.
Sungguh membuat saya makin frustasi, lelah dan nggak bisa bikin saya tersenyum. Ah, sebaiknya saya balik nonton Seinfeld yang udah jelas dan pasti lucu. Tentu saya sembari memesan bebek goreng lewat driver online.
Awalnya saya melihat judul ini karena lagi nongol gitu aja berdasarkan algoritma di Netflix.
Setelah lihat trailernya dan tahu yang main Neil Pattrick Harris, saya memutuskan untuk nonton. Sepertinya menarik, karena terakhir nonton dia di serial How I Met Your Mother, dia jadi playboy yang sok kegantengan, sok asik dan sok keren.
Nah, di serial ini dia berperan sebagai gay, sesuai realita hidupnya yang tentu saja bertolak belakang dengan karakter sebelumnya di How I Met Your Mother.
Uncoupled mengisahkan tentang pria (gay) yang patah hati setelah berpasangan selama 17 tahun. Lalu berusaha bangkit dan move on lagi. Intinya begitu deh.
Sebetulnya patah hati mau gay atau enggak, ya pasti sama-sama pedihnya. Cuma yang bikin Michael galau, karena di umur 40+, kalo mulai cari pasangan lagi, dia merasa ga mudah.
Nah, serial ini modelnya seperti Sex n The City atau Emily In Paris, yang sebetulnya secara pribadi bukan seleraku. Kalo temen-temen pernah nonton serial itu tuh berasa kayak lagi baca majalah Cosmopolitan. Seperti nonton iklan brand-brand ternama dengan durasi 30 menit.
Penyelamat serial-serial itu menurut saya adalah setting lokasinya outdoor. Emily kalo di Paris tapi settingnya studio doang pasti saya skip. Begitu juga dengan Sex n The City. Karena mata saya kadang perlu hiburan lihat tempat-tempat cantik.
Begitu juga dengan Uncoupled. Kelebihan serial ini di mata saya adalah bisa tahu dikit-dikit gaya hidup seorang agen properti mewah di New York.
Baiklah, saya bikin pengakuan dulu disini kalo sejujurnya hobi saya kalo lagi ngganggur berat itu nontonin dagangan agen properti luar negeri di Youtube.
Kaga tau kenapa, suka aja gitu ngelihat mereka menawarkan surga dunia dengan rayuan mautnya bahwa dengan memiliki properti tersebut hidup anda akan gini gitu.
Broker ter-oke yang saya tontonin biasanya agen properti yang di US. Ngecapnya udah bukan kecap bango lagi. Kapan-kapan saya ulas deh disini kalo ga males.
Back to Uncoupled.
Jadi yang membuat saya bertahan nonton ini karena properti dagangannya dia ciamik-ciamik. Dengan view yang menawan, material dan desain yang apik. Ngiler deh saya tiap lihat settingnya.
Mana settingnya di NYC pula, plus banyak adegan malam hari dengan kelap-kelip lampu bangunan pencakar langit. Plus musiknya juga enak, vibenya tuh jadi aduuh, andai aku crazy rich, udah saya DP tuh propertinya.
Belum lagi si Michael ini punya sahabat yang sering ngundang dia di art gallery. Mata saya melek lihat artwork yang dipajang. Entah itu untuk kebutuhan serial atau ngiklan beneran seperti Chanel atau Dior di Sex n The City.
Jadi perlu ditonton ga nih?
Kalo temen-temen suka Sex n The City atau Emily In Paris, pasti tidak menyesal. Kalo ga suka, mendingan waktu luang dipake untuk nonton yang lain.