Suatu Hari Dalam Hidupku

Apa yang terlintas dalam benak tentang diriku di masa depan?

Hmm.. mungkin dari sikap dan pikiranku saat ini, masa depan bisa sedikit terlihat.

Beberapa tahun belakangan ini hidupku berubah drastis. Setelah mengalami jatuh bangun, kegagalan, kesedihan yang berujung depresi, akhirnya aku menemukan sebuah kesimpulan bahwa jika ingin tetap hidup maka cara berpikirku harus diubah untuk lebih sederhana.

Saat ini aku sedang berupaya untuk menjadi sederhana. Dalam apapun. Seperti kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot.”. Ya, beliau benar, ngapain sih hidup dibikin ribet. Perkataannya mengajarkanku tentang kepasrahan dan keikhlasan yang tinggi.

Sudah pasti bahwa akan banyak yang menilai bahwa aku kok nrimo banget. Hei, mbak, mas, aku bisa ikhlas dan pasrah juga karena hasil dari lika-liku kehidupan yang kujalani.

Aku akhirnya berhenti membaca buku-buku motivasi, karena kurasa buku motivasi kebanyakan menyarankan untuk menjadi orang lain. Orang yang berbeda.

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Titik.

Waktu itu, kukumpulkan semua buku-buku motivasi yang kupunya di lantai, kumasukkan ke dalam kardus, kuisolasi dengan rapat, lalu kusumbangkan. Rasanya lega sekali sudah berpisah dengan buku-buku itu.

Lalu kuputuskan untuk menulis diary. Saat itu aku menggunakan journal dot gratisan dari suvenir acara seminar arsitektur di kotaku. Setelah menghabiskan semua lembaran kertas di buku itu, pelan-pelan aku menemukan diriku kembali. Rasanya bahagia.

Saat ini entah sudah berapa diary yang kutulis, sepertinya lebih dari 15 buah. Aku lebih senang membaca diary-diary itu daripada buku-buku motivasi.

Jadi suatu hari nanti dalam hidupku, aku tetap menjadi diriku sendiri. Diriku yang apa adanya. Diriku yang otentik. Diriku yang bisa menikmati keindahan hidup. Setiap saat. Setiap detik.