Kamis Manis

Jika Rabu merupakan hari yang spesial untuk melakukan hal-hal asyik, maka Kamis adalah hari di mana aku tidak merencanakan atau menambah to do list atau wishlist apapun.

Aku butuh satu hari untuk menarik nafas panjang dan menjalani hari dengan lebih santai. Menurutku yang tepat ya hari Kamis, karena posisinya ada dipertengahan minggu.

Hari kamis aku membiarkan semuanya berjalan mengalir. Membiarkan semua berjalan dengan spontan.

Kadang-kadang kalau lagi mati gaya, aku melihat to do list yang belum beres di awal pekan dan berusaha menyelesaikan.

Kadang-kadang nggak ngapa-ngapain. Hmm, bisa jadi mulai minggu depan, tiap Kamis aku libur nulis di blog.

***

Dulu aku bertanya-tanya, mengapa F selalu mengajakku bertemu di hari Kamis. Setelah menikah, aku baru tahu jawabannya.

Dia bilang bahwa, paling gampang mengajak kencan wanita itu di hari Kamis, karena kecil kemungkinan ditolak.

Mengajak bertemu saat weekend adalah ide buruk, katanya dia sering kali mendapatkan penolakan karena biasanya yang diajak sudah punya rencana. Lagipula saat weekend semua tempat umum ramai dan berisik.

Entah dia survey itu berapa lama dan pedekate dengan berapa wanita sampai akhirnya menyimpulkan bahwa Kamis adalah hari yang tepat untuk mengajak kencan hahaha.

***

Bagaimana denganmu, adakah hari khusus dimana kamu membiarkan hari itu mengalir apa adanya tanpa rencana?

Selamat Hari Rabu!

Tak terasa hari ini sudah memasuki pertengahan minggu. Saat aku menulis blog, waktu menunjukkan pukul 05.24. Dan aku masih belum menemukan bahan tulisan. Hmm..

Yo wes, mending bahas rencana hari ini aja kalau gitu.

***

Hari Rabu biasanya sudah tidak sesibuk hari Senin dan Selasa, jadi aku bisa memanjakan diri dan melakukan hal-hal yg menyenangkan. Istilah ngetopnya : Me Time.

Supaya lebih menghayati Me Time, aku memilih satu hari khusus yang kudedikasikan seharian penuh. Dan aku memilih hari Rabu.

Lho kenapa nggak dilakukan saat weekend aja? Teorinya begitu, tapi prakteknya sulit. Weekend hampir selalu jadi acara keluarga jadi aku tidak bisa melakukan me time dengan maksimal.

Jadi walaupun hari ini aku ngantor, di sela-sela bekerja, aku tetap berusaha melakukan hal-hal asyik. Kadang-kadang aku mencoba mendengarkan album terbaru di Spotify atau merasakan menu makan siang yang belum pernah kucoba.

Jika banyak orang melakukan me time secara spontan dan tidak terjadwal, maka aku sebaliknya. Aku tuh tipe orang yang selalu hidup dengan rencana dan wacana hahaha.

Setiap pagi aku selalu menulis di sebuah notes kecil kesayanganku tentang rencana hari ini.

Selalu 3 hal yg kutuliskan dinotesku :

1. Bismillah

Berisi 3 hal yg ingin kuwujudkan hari ini. Kadang berupa to do list dan kadang berupa wishlist. Biasanya kutulis saat pagi hari ketika belum beraktivitas.

2. Prestasi hari ini :

Aku mencatat pencapaian kecil yang sudah kulakukan sepanjang hari. Bahkan yang paling remeh sekalipun, seperti menyetrika baju yang menumpuk. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja, tapi bagiku itu sebuah prestasi hahaha.

3. Alhamdulillah :

Berisi list hal-hal yg kusyukuri hari ini. Daftarnya kadang bisa sangat panjang jika hari itu menyenangkan.

***

Jadi rencanaku hari ini adalah :

1. Memilih buku berkualitas untuk kubaca minggu ini.

2. Nonton film, masih belum tahu film apa.

3. Rahasia. Nggak semua harus diceritakan di sini kan hahaha..

Udah, 3 aja cukup.

Bismillah dulu dong. Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, aku menjalani hari ini.

Menyeimbangkan Hidup

Seminggu kemarin, merupakan minggu yang cukup berat secara mental.

***

Aku tidak tertarik untuk mengurai masalah di sini, yang ingin kubahas adalah upayaku untuk menyeimbangkan hidup. Memperbaiki mood supaya tidak makin terpuruk.

Seperti kata Albert Einstein, “Life is like riding a bicycle. Supaya bisa seimbang, kita harus terus bergerak.”

Singkatnya, aku kudu move on.

Melarikan diri ke Timbuktu dan menghindari kenyataan bukan cara efektif. Kupikir melarikan diri ke blog sesaat rasanya oke juga. Tempat sepi dimana aku bisa menumpahkan tumpukan pikiran yang udah njelimet. Jadilah blog baru ini.

Lalu aku mendownload aplikasi mind map, untuk mengurai benang ruwet di pikiran. Hasilnya lumayan, beberapa masalah bisa terurai sedikit demi sedikit.

Sebagai hiburan pengantar tidur, aku memutuskan untuk mendownload Iflix dan menonton beberapa sitcom buatan Amerika supaya aku bisa lebih rileks dan cekikikan.

Endingnya hari minggu kemarin, aku memutuskan ke salon untuk potong rambut. Semacam simbol untuk memotong masalah, lalu mengikhlaskannya. Rambutku sekarang lebih pendek, di bawah telinga. Rasanya lebih fresh.

***

Ya udahlah, nggak usah terlalu banyak dipikir, nggak usah terlalu banyak dipusingkan. Bahagia yang sesungguhnya adalah jika aku bisa menikmati kesumpekan dengan asyik.

Karena hidup itu harus dinikmati. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik.

Hari Minggu Ngapain?

“Everyday is sunday
when you’re unemployed
Sounds pretty good man
I should be overjoyed

Every day is sunday
Every day is sunday
Every day is sunday
Friday never comes..”

~”Everyday Is Sunday”, The Slackers, 2008

Sepertinya asik ya, tapi lirik lagu di atas tidak berlaku untukku. Hari minggu, seperti kebanyakan pekerja adalah hari yang sempurna untuk istirahat dan bersantai ria. Pokoknya kudu beda sama 6 hari sebelumnya.

Namanya juga hidup, harapan kadang tidak seindah kenyataan.

Hari minggu kemarin aku tetap bangun jam setengah empat pagi, seperti hari-hari lainnya. Aku memang tidak pernah menggunakan alarm sejak kecil, jadi badanku sepertinya sudah otomatis terbiasa untuk bangun pagi.

Rugi dong ya, minggu kan mustinya bisa agak molor bangunnya. Apalagi aku sudah tidak tinggal dengan orang tua, mau bangun siang jam berapapun tidak ada yang mengomel. Merdeka !

Teorinya memang mustinya gitu, prakteknya lain lagi.

Hari minggu justru saking istimewanya membuatku selalu berpikir ingin cepat-cepat bangun pagi dan melakukan rencana ini itu yang tidak sempat kulakukan saat hari kerja.

Jadi sering kupikir rugi banget kalau bangun siang kemudian waktu libur cuma tersisa beberapa jam, tahu-tahu udah malam kemudian menyesal, kok besok udah Senin aja.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka hari Minggu aku tetap aja bangun pagi.

Memilih Nama Untuk Blog

Aku mulai menulis di blog tahun 2003. Sudah lama sekali ya. Seingatku masih jarang orang yang punya blog. Waktu itu aku menulis blog dengan menggunakan nick name yang lucu-lucu & menggelitik.

Beberapa kali blog kuhapus, bikin lagi, hapus lagi, bikin lagi, hapus lagi. Semua menggunakan nickname. Saat itu aku tidak ingin diketahui identitas asliku. Eh, ya sampai sekarang sih, lha wong isinya curhat melulu.

Di blog yang ini aku memutuskan untuk mencantumkan namaku untuk blog. Kupikir ini saatnya menggunakan nama asli, jadi biar kalau kopdar nggak manggil dengan nickname lagi.

Lalu kenapa namanya ‘cerita nina’ ?

Karena aku ingin blog ini jadi tempat untuk menceritakan pengalaman, pengamatan dan momen yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Semacam diary online.

Lho, bukannya blog itu diary online?

Sepertinya dulu fungsi blog untuk itu ya, cuma jadi sarana untuk mencurahkan isi hati.

Sekarang jaman udah berubah, hasil blogwalking akhir-akhir ini, blog sudah banyak yang menjadi sarana promosi terselubung. Blog makin bervariasi dan seru untuk dijelajahi dan dibaca.

Aku masih tetap akan menjadikan blog sebagai diary online. Apa itu SEO dan teman2nya? Entahlah, aku nggak peduli. Yang penting aku nulis tiap hari. Bercerita di sini.

Cerita Nina.