Mungkin yang kualami ini juga dirasakan banyak orang.
Semua juga tahu kan, aplikasi pembayaran digital sering kali memberikan voucher, cashback, dan aneka promosi lainnya, yang rugi kalau nggak kumanfaatkan untuk menyelamatkan receh demi receh.
Lalu tanpa sadar, selama berbulan-bulan, terjerumuslah aku dalam permainan mereka. Aku jadi ketergantungan dengan voucher mereka. Haduuh.
Lha misalnya aku perlu beli makanan capcay seharga 25.000, lalu pake voucher 15.000 plus gratis ongkos kirim, totalnya jadi 10.000. Gimana nggak luluh hati ini?
Aku kan istri biasa yang lemah akan godaan penghematan anggaran belanja rumah tangga kayak gini hahaha..
Perlahan tapi pasti, aplikasi pembayaran digital tersebut mengubah mentalku jadi miskin. Jadi mental gratisan. Dan itu membuatku merasa bodoh.
Lama-lama aku menyadari bahwa ini nggak bisa diabaikan. Ketika aku mulai tergantung dengan sesuatu selain Tuhan, tandanya aku udah jadi budak.
Mustinya duit yang ngejar aku, lha ini kok jadinya aku yang nguber receh. Mentalku kok jadi mental miskin gini. Sungguh kebodohan yang hakiki.
Lalu aku merenung, buat apa sih beli makanan pake ngitung dapet cashback berapa, lalu diakal-akalin supaya dapet cashback lebih banyak? Supaya duit yang terkumpul lebih banyak? Ah, kekayaan datangnya bukan dari pintar menabung receh, tapi karena rejekinya banyak kok.
Membayar itu salah satu cara untuk menundukkan uang. Dengan membayar mahal aku berusaha untuk tidak menjual nilai jiwaku untuk mendapatkan recehan.
Mental kaya yang terjaga kemuliaannya, akan membuat uang tunduk kepadaku.
Mental miskin yang mengharap gratisan dan voucher diskon, akan menjadikan tunduk pada uang. Itu kan bego banget namanya. Masa ciptaan Tuhan nyembah ciptaan manusia? Hahaha.
Jadi membayar adalah caraku untuk merawat mental kaya.