Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman lama yang baru-baru ini aja menginjakkan kakinya di tanah air.
Sumprit bikin bete deh. Gegar budayanya itu lho, ampun deh. Saya nggak kuat.
Kalimat-kalimatnya mengintimidasi saya. Semua yang dibahas intinya, betapa terpelajarnya dia, betapa banyak uang yang dihasilkan, betapa merdeka hidupnya.
Sungguh memuakkan.
Dimulai dari betapa hidupnya yang katanya penuh petualangan, dengan berpindah-pindah negara.
Sementara saya cuma di kota ini melulu.
Lalu membandingkan pendidikan di luar sana dengan pendidikan saya. Merembet ke penghasilan yang tentu saja kalau dirupiahkan nilainya sangat besar.
Lalu disebutin deh propertinya satu persatu. Plus aset ini itu yang dia miliki. Mules saya dengernya. No, saya nggak iri. Tapi, oh, plis deh, shut up. I’m rich!
Mungkin nggak setajir kamu, tapi seenggaknya hidup saya nggak dibawah garis kemiskinan.
Belum puas dengan rangkaian kesombongan di atas, dia bertanya di usia berapa saya menikah.
Saya jawab 29. Yang menurut saya sih, usia ideal bagi saya untuk menikah.
Lalu dia bilang itu usia yang masih muda. Trus nyerocos tentang hidup tidak harus menikah dan punya anak. Betapa punya anak akan sangat merepotkan dst.
Sak karepmu lah. Elu nikah nggak nikah, emang gue pikirin.
Jujur aja saya malas berdebat dengannya. Saya males ngeluarin energi untuk hal-hal yang sumprit kaga penting banget untuk dilayani.
Saya kehilangan kata-kata. Mau bales pun buat apa. Saya hanya bilang, “Ya kalo gitu, doa’in aku dong.”
Sebetulnya saya nggak suka-suka amat dengan lagu-lagu balada Iwan Fals yang iramanya cenderung lawas dan nggak mengikuti trend pop yang sedang hits.
Lha wong tahun 90-an aja saya dengernya aja nggak relate. Terlalu lakik dan nyerempet-nyerempet nakal.
Untuk saya yang manis gini, kurang mengena di hati saat itu. Apalagi hare gene.. Oh plis deh, kapan-kapan ajalah denger Iwan Fals, kalau udah mati gaya.
Akhirnya momen mati gaya pun tiba. Saat ngubek-ngubek Spotify saya temukan album yang agak baru. Iyaa, 2012 bagi saya masih baru.
Ya untuk penyanyi legendaris macem Iwan Fals, masih dipercaya label untuk bisa ngeluarin album, buat saya cukup menarik.
Seperti nasehat teman saya. Tips untuk mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals cuma satu. Hayati liriknya, seperti lagu dangdut gitu.
Oke, baiklah. Dan hari ini saya bagikan lirik yang relate dengan netizen jaman now. Yang mungkin bisa jadi batu loncatan kita semua untuk menyimak lirik-lirik yang lain.
***
Dajal Net – Iwan Fals
Aku kecanduan internet Twiter facebook dan mbah google Belum lagi youtube dan you ssst Lalu situs-situs lainnya Bangun tidur tidur lagi Mencet sana mencet sini Sudah nggak peduli lagi dengan yang lain
Kerjaan berantakan Kewajiban melayang Sakit pinggang leher dan mata Duh kasihan deh aku Ketawa-ketawa sendiri Sedih-sedih, sedih sendiri Marah-marah, marah sendiri, ya sendiri
Gila kok bisa seperti ini ya Drakula pulsa cekikian Sambil menyedot darah pelanggan Dan darahku yang pas-pasan
Memang teman semakin banyak Teman yang sama-sama gendeng Internet dekatkan yang jauh Internet menjauhkan yang dekat Otakku kutitipkan disitu Jadi malas mengingat, malas belajar Toh semuanya ada disitu Ayo mau tanya apa ayo tinggal klik Mbah google bisa menjawabnya
Sama seperti yang lain Hobiku jadi suka nunduk Di halte di pasar Di rumah ibadah Di rumah sakit di sekolah Bahkan di sidang parlemen Pun orang-orang pada menunduk Oh ilmu padi rupanya Semakin berisi semakin merunduk
Informasi dalam hitungan detik Berita tinggal pilih aje Semua orang jadi pandai nyontek Ya nyontek
Teknologi komunikasi koq jadi tak bisa komunikasi Lha sudah pada tau semua kan orang jadi malas berbicara Ketawa-ketawa nggak jelas Sedih-sedih, sedih ngga jelas Marah-marah, marah nggak jelas Nggak jelas
Semua kesedot ke layar itu Layar peradaban Yang sudah dijanjikan Seperti dajal dengan matanya yang satu itu Semuanya pergi menuju kesitu
Ada jutaan definisi tentang rumah. Salah satu dari sekian banyak itu, rumah adalah tempat kita untuk pulang.
Saat saya pulang dari bepergian keluar kota, ketika mobil sudah keluar dari tol Bundaran Waru, melewati mall Cito dengan tulisan besar Surabaya, saya sudah merasa tiba di rumah.
Atau ketika pesawat sudah mendarat di bandara Juanda, atau kereta sudah berhenti di stasiun, saya merasa sudah tiba di rumah.
Kota adalah rumah saya.
Pernahkah teman-teman mengalami perasaan tersebut?
Dalam sebuah buku Goodbye, Things, karangan Fumio Sasaki, yang membagi pengalaman hidup minimalis, mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya mengubah kamar atau rumah kita, tapi juga memperkaya hidup kita.
Banyak orang salah kaprah tentang gaya hidup minimalis. Lalu berpendapat bahwa orang dengan gaya hidup minimalis tidak berperasaan, egois dan tidak butuh orang lain.
Fumio Sasaki mengungkapkan bahwa gaya hidup minimalis malah justru akan membuat kita lebih sering bersosialisasi.
Menurutnya sofa besar dan nyaman tidak harus ada di ruang keluarga. Ruang keluarga versinya adalah kedai makan dekat rumah dengan sofa yang selalu empuk dan menggoda, bersih dan rapi pula.
Ada pula kedai kopi langganannya yang tidak pernah protes meski dia duduk berjam-jam, mengobrol dengan teman sambil menyesap kopi yang baru diseduh.
Saya tidak mengikuti gaya minimalis, walau banyak teman yang menuduh saya begitu.
Saya hanya tinggal berdua dengan suami, jadi kami berpikir buat apa menyimpan banyak barang.
Ruang yang luas bagi saya lebih penting daripada barang.
Semakin saya mengurangi barang di rumah, saya makin lebih menghargai dan menikmati ruang.
Lalu tanpa sadar rumah saya menjadi lebih lebar jangkauannya.
Teman-teman saya yang sering berkunjung ke rumah, sudah hafal bahwa peralatan makan dan minum saya terbatas.
Endingnya kalau nggak delivery makanan, ya kami melipir ke tempat nongkrong di sekitar rumah saya.
Saat lingkungan sekitar kita jadikan sebagai rumah, kita akan menemukan banyak sekali kemungkinan.
Dan itu asik banget.
Jika semua yang saya inginkan dan saya butuhkan ada di rumah, mungkin saya akan jadi manusia gua. Ndekem melulu di rumah.
Salah satu kegiatanku dikala kurang kerjaan adalah nonton vlognya Soleh Solihun di Youtube.
Sebelumnya aku mengenal Soleh Solihun dari tulisan-tulisannya di tahun 2000-an dari majalah MTV trax. Ya udah, gitu aja. Aku nggak pernah mengikuti saat dia jadi komedian dan sebagainya karena jarang nonton televisi. Dibenakku, Soleh masih wartawan, bukan yang lain-lain.
Sekian lama semenjak majalah itu bubar, suatu hari tanpa sengaja aku menemukan vlog sederhananya yang berisi rekaman video hasil wawancara dari ponsel seadanya, tanpa ragu aku langsung subscribe.
Biasanya aku menonton secara acak, bukan sesuai urutan upload videonya. Kalau narasumber yang diwawancara ini menarik, baru deh nonton.
Seperti minggu lalu saat mati gaya melanda, aku iseng scroll link-link videonya Soleh, lalu membaca judul videonya : “Otong Koil – Suka Sedekah & Sial Terus.”
Tadinya kupikir, “Lho, kok mukanya mirip Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca ya? Masih family, mungkin.” Dengan rasa penasaran dan kurang kerjaan, akhirnya aku tonton deh video panjang berdurasi 1:43:26 tersebut.
Sebelumnya aku pernah mendengar nama Koil, tapi belum pernah memperhatikan lagu-lagunya. Baiklah, aku mencoba untuk menyimak wawancaranya biar tahu.
Saat menit-menit pertama melihat video, oh ternyata beda jauh wajahnya si Otong dan Cholil. Lagian, ngapain sih membandingkan wajah orang? Ya namanya juga netizen lagi kurang kerjaan.
Lalu dalam hati berkata dengan norak, “Ternyata ganteng juga ya.” Kemudian bertekad akan nonton sampai selesai.
Mulai merasa relate, ketika dia bercerita awal mendirikan band tersebut karena frustasi dan ingin melarikan diri dari melukis dan kegiatan art. Wah, kok kayak aku tahun kemarin. Maksudku, stresnya doang, bukan broken heartnya.
Pelarian standarku biasanya ke hal-hal yang visual, seperti menggambar, menonton, melihat lukisan. Seperti Otong, karena pelarian yang biasanya jitu udah nggak mempan dan nggak terhibur, akhirnya aku mencoba untuk menulis puisi dan bikin blog. Lho, kok jadi curhat ya wkwk.
Lanjut,
Menurut Otong, musik Koil bisa dibilang perpaduan antara Motley Crue dan Duran-Duran. Wah, kebetulan aku suka Duran-Duran. Jadi, aku skip dulu, masuk Spotify dan mencoba mendengarkan salah satu lagunya Koil.
Ternyata ada dua album di Spotify. Soal musiknya, karena aku nggak paham dengan musik rock, jadi mending nggak usah sok tau dan membahasnya ya. Yang pasti aku suka synthesizernya.
Lalu aku mencoba menyimak lirik dari salah satu lagunya yg berjudul Sistem Kepemilikan,
“Ini negara bodoh yang sangat aku bela/ layaknya kekasih yang tercinta….”
Wah, ini sesungguhnya kalimat romantis yang sungguh realistis dan laki banget.
Lalu, mencoba mendengarkan “Mendekati Surga” yang konon masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kok tahu? Ya baru tahu juga abis googling.
Lagu Mendekati Surga di buka dengan lirik,
“Aku adalah arsitek..”
Wow, apakah ini lagu diciptakan buatku? *mulai halu*. Tentu aja tidak dong, siapa gue. Ge-er amat.
Satu lagi lirik lagu yang menarik, judulnya Nyanyikan Lagu Perang.
“Pasti ada cara untuk mencari uang/ Pasti ada cara untuk bersenang senang/ Badai pasti datang kita tak akan menang/Mengapa harus bimbang”
Sungguh sebuah lirik yang memotivasi kita saat bokek di tanggal tua.
Oke. Lanjut nonton vlog lagi.
Jadi durasi panjang yang menghabiskan banyak kuota itu isinya apa aja? Banyak dong.
Selain bercerita tentang Koil, Otong juga bercerita tentang jatuh bangun menjalankan bisnisnya. Kesialan tentang dirinya, senangnya bersedekah dan rekomendasi cara berkomunikasi dengan Tuhan.
Sepertinya aku menyukai sisi yang ini, karena ada beberapa pandangan yang sama denganku. Penggemar Koil yang baca blog ini dalam hati menggerutu, “halah, disama-samain.”
Banyak percakapan menarik yang bisa direnungkan. Terutama tentang pengalaman menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Satu kalimat yang membuatku termenung agak lama adalah, menurutnya Tuhan nggak bikin peraturan.
Ya, teman-teman musti nonton sendiri. Kan ga mungkin aku ceritakan semua di sini.
Wawancara menarik tersebut sudah kutonton seminggu yang lalu, tapi obrolan (dan wajahnya, ehem) sulit untuk dilupakan. Jadi lebih baik dituangkan aja ke blog, supaya bisa tidur nyenyak malam ini. Pembaca membatin, “Nih anak lebay banget.”
Postingan ini ternyata menghasilkan 657 kata. Tulisan terpanjang yang pernah kubuat di blog ini. Wah, aku musti berterima kasih ke Soleh nih.