Ho’oponopono Untuk Diary

Lagi bengong dan akhirnya baca-baca diary lama tahun 2019, jaman masih normal dan belum ada Covid 19.

Saat itu setiap malam aku menyempatkan diri untuk menulis diary menggunakan teknik Ho’oponopono

Apa tuh? Silakan googling. Saya sedang malas menjelaskan panjang lebar. Singkatnya semacam kalimat ‘mantra’ untuk membersihkan hati.

Jadi sebelum tidur saya menuliskan :

1. Aku menyesal hari ini ……

2. Maafkan aku hari ini …..

3. Alhamdulillah hari ini aku …..

4. Bismillah besok …..

Begitulah upaya saya sebelum tidur mencoba untuk balik ke titik nol, supaya keesokan hari ya saat bangun pagi bisa jadi manusia yang lebih baik.

Resolusi 2024 Saya

Jika tahun 2023 resolusi saya rajin menyisir rambut, maka tahun ini lebih menantang.

Tahun 2024 kok saya jadi pengen punya banyak waktu untuk melamun. Semenjak punya handphone, jadi jarang ngelamun. Tiap ada jedah waktu luang tangan rasanya gatel pengen berinternet ria.

Sebetulnya saya udah lumayan berprestasi, karena sampai detik ini tidak pernah menyentuh handphone saat makan dan pup.

Saya ngeri kalau makan sambil nonton / baca sesuatu di internet yang bikin saya otomatis membatin hal-hal jelek. Saya kuatir efeknya berpengaruh sama tubuh. Misal : lihat berita lalu saya membatin, “bangsat.” Makanan yang tadinya punya energi positif, jadi kemasukan energi jelek.

Itu pemikiran saya sih, karena percuma kan kalau sebelum makan udah berdoa yang baik-baik, lalu ditengah-tengah makan disusupi kalimat buruk. Sia-sia dong doanya.

Selain itu, prestasi saya sampai detik ini adalah tidak membawa handphone saat pup. Kenapa? Karena sampai detik ini saya butuh fokus dan konsentrasi selagi pup.

Saat belum kontraksi, masih mules-mules biasa, saya mengisi waktu dengan melamun. Ngelamunin apa aja, biasanya sih timbul khayalan yang lucu-lucu dan seru. Jadi saat keluar kamar mandi timbul inspirasi dan jadi punya ide aneh-aneh.

Jika jaman dulu menjelang tidur saya melamun cantik, membayangkan hidup yang indah-indah, masa depan yang cerah ceria, rasanya nikmat banget saat tidur. Apalagi kalau sampai terbawa ke alam mimpi. Sungguh menyenangkan.

Hal yang berbeda saya rasakan beberapa tahun belakangan ini. Menjelang tidur saya malah sibuk bermain handphone. Nonton Youtube-lah, mantengin Tik-Tok-lah, baca-baca artikel, dan seterusnya. Akhirnya nggak lama pun ketiduran sembari berinternet. Nggak jarang saya terbangun dengan kaget karena wajah saya kejatuhan handphone.

Ckckck, hidup macam apa ini?

Oh ya, satu lagi, saya baru menyadari saat nulis ini. Pantesan saya selalu bingung tiap mau cerita-cerita di blog, lha wong udah jarang melamun.

Beberapa tahun belakangan ini saya hanya menceritakan kembali apa yang sudah saya baca, saya tonton dan nulis kesimpulan dari hasil berinternet ria. Lalu apa bedanya ya sama orang lain?

Kan lebih seru kalau saya bisa menuliskan hasil lamunan saya. Ya seperti tulisan ini. Asik kan?

Tercapai tidaknya resolusi ini, tulisan-tulisan dalam blog ini yang akan jadi buktinya. Dan tentu saja teman-teman blog-lah saksinya.

Siapa yang Datang ke Pemakamanku?

Saya memutuskan beli buku ini karena tergelitik dengan judulnya. Baru judulnya doang aja udah sukses bikin termenung, gimana isinya ya? Bungkus!

Kim Sang-hyun, penulis buku ini memikirkan banyak hal tentang kematian seusai menonton film animasi Coco, yang menceritakan kematian.

Apa yang harus dilakukan ketika kematian itu datang? Bagaimana pemakamannya nanti dijalankan? Apa ada orang yang mengingatnya saat dia sudah mati?

Iya ya, jika suatu hari nanti saya mati, saya akan dikenang seperti apa ya? Lalu kira-kira berapa orang yang datang ke pemakaman saya? Hmm..

Jarang sekali orang merenung tentang kematian. Padahal menurut Kim Sang-hyun, terkadang perlu juga supaya kita bisa menemukan apa yang penting dan bermakna saat kita masih hidup.

Buku ini mengajak kita berani untuk mencoba benar-benar hidup. Supaya suatu hari saat mati udah puas ngelakoni urip.

Dia bercerita bahwa setiap pagi dia bertanya pada diri sendiri, apa alasan untuk hidup hari itu? Mau ngapain? Pengen apa? Dan sebagainya.

Mumpung belum mati, dia berupaya untuk melakukan apapun yang ada dalam pikiran. Melakukan sesuatu yang bikin happy hari ini. Bukan mikir esok atau lusa. Cukup hari ini doang.

Kehidupan sering kali tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan, juga tidak sesuai dengan rencana yang sudah dia persiapkan. Karena itulah kadang dia cemas dan kurang bisa menikmatinya.

Kemalangan atau kegagalan hanya akan menjadi salah satu halaman buku kehidupan yang sedang kita tulis. Jadi tidak perlu malu atau kesal, katanya sambil menghibur diri sendiri. Pada akhirnya cobaan punya masa kadaluwarsa, kemudian berlalu, yang akhirnya kalau dipikir-pikir semua akan jadi kenangan indah.

Jika dia melakukan apa yang dia sukai, suatu hari nanti orang akan menghargai. Kalau sudah begitu, keberadaannya akan mereka ingat.

Cukup lakukan banyak hal dengan penuh cinta dan jangan pernah menyerah pada impian sampai napas terakhir.

Lambat laun kita akan menemukan bahwa tidak ada jawaban pasti, mengapa kita hidup. Tapi anggap saja keputusan atas pilihan-pilihan hidup adalah jawabannya. Begitulah cara menjalani hidup ala Kim Sang-hyun.

Sebagai penutup, pada akhirnya kita semua hanyalah manusia biasa. Di ujung akhir kehidupan, detik-detik mau mati, pastikan diri kita bahagia sebelum akhirnya mati.

***

Yang saya punya cetakan ke sembilan tahun 2022, padahal cetakan pertamanya baru dua tahun yang lalu lho, di tahun 2020. Keren. Buku bagus, nggak heran kalau laris manis.

Terjemahannya juga enak, mengalir saat membaca sampai nggak terasa kalau ini buku terjemahan.

Tipikal buku yang enak untuk dibaca berulang-ulang saat mulai jenuh dengan hidup dan butuh suntikan energi untuk merayakan hidup.

Kalau kamu pendengar curhatan temen yang baik, kamu pasti suka baca buku ini. Kalau kamu bukan tipikal teman yang betah dan nggak sabaran dibombardir curhatan teman tentang kehidupan, jangan buang waktumu untuk baca ini.

Sedekah

Topik yang satu ini ga abis-abisnya dibahas. Bisa dibilang orang Indonesia ini hobi banget sedekah. Mulai dari yang tajir melintir sampe yang udah megap-megap ga tau besok makan apa, sedekah aja tetep dilakoni sama rakyat Indonesia. Sungguh dermawan emang.

Lalu apa bedanya sedekah orang miskin, orang biasa dan orang kaya? Perasaannya. Yoi, perasaannya saat sedekah itu lho.

Saya juga lupa baca atau denger dimana. Entah dari ceramah ustadz atau motivator, yang saya ingat, orang miskin kalo lagi sedekah, ada perasaan ngarep dan berharap duitnya bisa balik lagi ke dia. Kalo perlu 10x lipat deh. Begitu kira-kira doanya.

Kalo orang biasa, perasaannya saat sedekah biasanya karena ada rasa kasihan dan ingin berbagi.

Kalo orang kaya, perasaan saat sedekah lempeng aja, karena duitnya udah berlebihan. Jadi ngeluarin duit tuh ga terlalu dipikirin. Ikhlas-ikhlas aja dan ga ada pikiran kasihan, ini itu dan sebagainya.

Nah, setelah saya merenung tadi pagi saat duduk manis di kloset. Barulah saya menyadari bahwa perasaan saya saat sedekah itu tidak konsisten.

Saat abis gajian lalu sedekah, ternyata saya ga mikir ini itu. Sat set sat set, langsung transfer dan yo wes. Ga ada pikiran bahwa sedekah saya akan berdampak ini itu. Ikhlas 1000% deh. Nah, berarti mental saya tajir.

Lalu ketika ada situasi dimana ada seseorang yang butuh bantuan, tiba-tiba saya tergerak untuk menolong, karena.. duh kasian amat, kalo saya jadi dia mungkin juga puyeng. Nah, tandanya mental saya b aja. Ga istimewa.

Yang paling parah mungkin ketika bokek melanda. Duit udah menipis, lalu saya paksakan untuk sedekah plus doa yang kenceng plus sholawat sambil berharap pintu rezeki dibukakan kelebar-lebarnya. Nah, berarti mental saya lagi kere. Ckckck.

Jadi kesimpulannya sebelum sedekah hendaknya kita cek n ricek dulu ke dalam hati dan sanubari. Mental kita tuh sebenarnya mental kaya, biasa aja, atau miskin?

Belanja Online

Dalam rangka mengendalikan napsu belanja online, mulai tahun saya bikin jadwal belanja.

Checkout tanggal 9, 18, 27.

Dah, gitu aja deh.

Jadi sebulan 3x aja. Biar nggak terlalu sering beli barang-barang receh yang nggak penting-penting amat.

Kalau saya renungi, kemudahan berbelanja online itu terkadang berbahaya bagi rekening saya.

Beberapa kali saya mengamati, isi dompet saya lebih awet daripada rekening.

Online-online selain market place kayak top up gojek, e-toll dan sebagainya bikin nggak terasa tahu-tahu lho kok udah ludes aja sih. Kzl kan.

Semoga (uh, apakah ini resolusi?) dengan bikin jadwal, menjadikan diri ini berpikir panjang dan tidak grusa-grusu checkout.

Inget nasehat Cak Nun :

Anda tidak boleh sujud kepada nafsu, tapi nafsu harus sujud kepada anda.

Baiklah, markicob.

* Photo by cottonbro from Pexels