Sedekah

Topik yang satu ini ga abis-abisnya dibahas. Bisa dibilang orang Indonesia ini hobi banget sedekah. Mulai dari yang tajir melintir sampe yang udah megap-megap ga tau besok makan apa, sedekah aja tetep dilakoni sama rakyat Indonesia. Sungguh dermawan emang.

Lalu apa bedanya sedekah orang miskin, orang biasa dan orang kaya? Perasaannya. Yoi, perasaannya saat sedekah itu lho.

Saya juga lupa baca atau denger dimana. Entah dari ceramah ustadz atau motivator, yang saya ingat, orang miskin kalo lagi sedekah, ada perasaan ngarep dan berharap duitnya bisa balik lagi ke dia. Kalo perlu 10x lipat deh. Begitu kira-kira doanya.

Kalo orang biasa, perasaannya saat sedekah biasanya karena ada rasa kasihan dan ingin berbagi.

Kalo orang kaya, perasaan saat sedekah lempeng aja, karena duitnya udah berlebihan. Jadi ngeluarin duit tuh ga terlalu dipikirin. Ikhlas-ikhlas aja dan ga ada pikiran kasihan, ini itu dan sebagainya.

Nah, setelah saya merenung tadi pagi saat duduk manis di kloset. Barulah saya menyadari bahwa perasaan saya saat sedekah itu tidak konsisten.

Saat abis gajian lalu sedekah, ternyata saya ga mikir ini itu. Sat set sat set, langsung transfer dan yo wes. Ga ada pikiran bahwa sedekah saya akan berdampak ini itu. Ikhlas 1000% deh. Nah, berarti mental saya tajir.

Lalu ketika ada situasi dimana ada seseorang yang butuh bantuan, tiba-tiba saya tergerak untuk menolong, karena.. duh kasian amat, kalo saya jadi dia mungkin juga puyeng. Nah, tandanya mental saya b aja. Ga istimewa.

Yang paling parah mungkin ketika bokek melanda. Duit udah menipis, lalu saya paksakan untuk sedekah plus doa yang kenceng plus sholawat sambil berharap pintu rezeki dibukakan kelebar-lebarnya. Nah, berarti mental saya lagi kere. Ckckck.

Jadi kesimpulannya sebelum sedekah hendaknya kita cek n ricek dulu ke dalam hati dan sanubari. Mental kita tuh sebenarnya mental kaya, biasa aja, atau miskin?

Farhampton [2]

Sepertinya ini yang pertama dan terakhir aku bahas parfum, karena sejujurnya aku buta sama hal yang satu ini.

Beberapa waktu yang lalu, aku beli parfum secara online tanpa mengendus dulu baunya atau minimal cari tahu dulu deh ini aromanya gimana. Istilahnya penggemar parfum, blind-buy.

Yayaya, kalian bisa baca postingan blogku sebelumnya tentang bagaimana keputusanku yang sentimentil membeli parfum HMNS Farhampton. Aku sarankan untuk baca tulisanku sebelumnya, biar nyambung.

Berhubung di kolom komentar ada yang nanya gimana reviewnya, ya udah aku review deh. Tentu saja reviewnya juga sentimentil, bukan ala fraghead yang menjelaskan dengan teori dan penciuman tajam, setajam silet.

Jadi aku beli ini karena ada kata ‘Farhampton’. Sebuah nama tempat fiktif yang diciptakan untuk serial How I Met Your Mother (HIMYM).

Saat tahu bahwa Farhampton ini tempat fiktif di antah berantah, terbersit dalam hati, “Wah, nemu juga alasan tempat pelarian baru selain Timbuktu.” Emang Timbuktu dimana sih? Itu lho yang ribuan kilometer dari Kota Bebek.

Eh, kok ngelantur ya. Mari kita mulai reviewnya.

Kesan pertama saat lihat kemasannya aku suka sama logo farhampton dengan payung kuning yang menggantikan huruf O.

Serial HIMYM ini memang identik dengan payung kuning milik wanita yang kelak jadi istrinya Ted Mosby.

Di bagian belakang box parfum ada sebuah paragraf yang mengingatkanku dengan salah satu adegan fenomenal, di momen Ted pertama kali kenalan sama wanita berpayung kuning.

Oke, saatnya membuka kotak kemasan dan mulai menyemprot. Kesan pertama yang kudapat adalah hmm, ini wangi pria.

Walau ini katanya parfum unisex yang bisa dipakai pria dan wanita, aku merasa ini jelas wangi pria. Bukan wangi pria alay, tapi juga bukan wangi pria tajir. Wangi pria tampan? Eeng, nggak juga.

Yang pasti kalau dibayang-bayangkan ini bukan parfumnya Marshall. Sebagai orang yang sok bijak, tampaknya ini bukan parfum yang cocok untuk dipakai dia. Sebagai lawyer, parfum ini juga kurang berwibawa untuknya.

Aroma ini juga bukan Barney banget. Bukan parfumnya fuckboy yang hobi gonta-ganti cewek. Parfum ini terlalu biasa untuk dipake playboy sepertinya. HMNS Farhampton ini parfum dengan aroma pria baik-baik.

Yang paling mendekati mungkin, yaaa, ini aroma pria yang biasa-biasa aja. Yang tampaknya pas dipake untuk pria single di awal 30 tahun ke atas dengan karir yang gitu-gitu aja.

Singkatnya ini bukan parfum pria mapan, ganteng, rapi, berbadan bagus. Yes, ini parfum yang cocok dipake Ted Mosby, pria baik-baik dengan spesifikasi yang biasa-biasa aja.

Kalo menurut HMNS aromanya adalah :
– Top notes : bergamot dan ripe fruit.
– Middle notes : lavender, orange blossom.
– Base notes : cedar, tonka bean, labdanum.

Mengingat parfum ini diciptakan ketiga founder HMNS untuk mengenang nostalgia nonton HIMYM saat jaman kuliah dulu, jadi ya makin menguatkan kesan bahwa ini parfum pria yang belum mapan jaya.

Tapi aku nggak nyesel beli ini. Beneran deh. Sumprit. Kalau baca postingan sebelumnya, keputusanku untuk membeli parfum ini mungkin terkesan konyol, absurd dan irasional.

Tapi ketika aku menyisihkan waktu untuk ‘membaca’ dan merenungkan semuanya, aku menemukan garis merah yang menjembatani satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Eng ing eng.

Singkat kata, semesta mengiringku untuk memiliki parfum itu.

Entah dari mana datangnya hidayah itu, hanya karena saat nonton aku penasaran dengan kata Farhampton, akhirnya aku spontan klik ‘pause’ dan mulai bergerak untuk mencari tahu dimanakah Farhampton itu berada.

Hasilnya memang nihil, karena itu tempat fiktif. Tapi aku malah menemukan Farhampton yang lain. Seperti quote dalam serial HIMYM :

Kurang lebih begitulah kira-kira. Kalau katanya Carl Jung, namanya synchronicity. Kebetulan yang bukan kebetulan.

Synchronicity menurut Carl Jung adalah hukum alam yang ditunjukkan melalui serangkaian kebetulan yang memiliki pesan tersirat bagi yang mengalaminya.

Serangkaian kejadian yang disebut kebetulan yang bermakna bisa terjadi kapanpun. Saking pasnya, pada kondisi tertentu, aku bisa merasakan bahwa semua kejadian yang kebetulan itu adalah sebuah skenario yang mendorongku untuk memiliki parfum ini.

Oke, mungkin kalian pikir aku lebay dan mencari pembenaran. Ketahuilah, bahwa aku sudah lama sekali nggak beli parfum. Terakhir beli dengan niat dan perasaan itu tahun 2009. Udah lama banget ya. Setelah itu parfum yang kupunya hanyalah hadiah dan oleh-oleh dari teman dan kerabat.

Ya mungkin ini memang momen yang pas untuk punya parfum baru setelah sekian lama.

Saat ini aku nonton HIMYM udah di season 10, yang artinya ini season terakhir dan sebentar lagi tamat. Jadi aku nggak akan lihat Ted Mosby dkk lagi seperti malam-malam sebelumnya. Untungnya aku punya parfum ini, jadi besok-besok kalo kangen sama si Ted, tinggal semprot parfumnya aja. *mulai halu*.

Untuk HMNS, thank you so much udah repot-repot bikin parfum seri ini. Kayaknya parfum ini diciptakan untuk aku. *Ge-er amat, siape elu.*

Seperti kata Barney, aku yakin HMNS Farhampton ini suatu hari nanti akan jadi ‘LEGEN.. wait for it.. DARY’. Yes, legendary.

Kitab Omong Kosong

Sejujurnya aku tidak terlalu suka membaca buku fiksi. Di rumah, buku fiksi hanya 5% menghiasi rak buku, sisanya non fiksi.

Salah satu dari buku fiksi yang bisa bertengger cukup lama di rak buku adalah Kitab Omong Kosong, karangan Seno Gumira Ajidarma.

Buku ini sudah jutaan kali kubaca ulang dan nggak bosan-bosan. Aku selalu menemukan keindahan yang berbeda-beda pada saat membacanya.

Nggak salah kalau dinamakan kitab, walaupun kata si penulis semuanya omong kosong.

Benarkah semua omong kosong? Nggak juga. Banyak pesan yang tersirat dalam buku. Tapi kadang-kadang saat baca dalam waktu yang berbeda, aku merasa ini semua omong kosong.

Lalu resensinya gimana? Duh, aku tuh paling nggak bisa bikin resensi.

Yang pasti bukunya mengenyangkan, gurih dan bikin nagih. Lho ini ngomongin makanan atau buku sih? Hahaha.

Baiklah, supaya ada gambaran, kutuliskan satu paragraf aja deh.

Pemuda berusia 16 itu kembali melihat bacaannya. Dunia Seperti Adanya Dunia. Rasanya ia mulai mengerti pesan Kitab Omong Kosong Bagian Pertama itu, bahwa manusia hanya harus percaya kepada pemikiran yang mengatakan pohon itu ada karena bisa dilihat, dipegang, dan besoknya masih bisa dilihat dan dipegang lagi, sementara jika angin bertiup akan selalu terdengar geletar dedaunannya yang menerbitkan suara-suara yang sama seperti ketika manusia purba mendengarkannya sejak mereka mulai ada.

Cuplikan paragraf lain yang aneh dan bikin nagih.

Perempuan itu masih meratap-ratap. Siluman-siluman terkesiap. Mereka merasa tersentuh. Tanpa diketahui perempuan itu mereka menolongnya, dengan menyisihkan ranting-ranting berduri, dan membimbingnya menuju anak sungai. Di kericik aliran air yang dingin perempuan itu merebahkan dirinya dan minum berteguk-teguk. Air anak sungai yang kecil itu jernih sekali, meluncur turun dari gunung. Sayup-sayup perempuan itu mendengar suara air terjun, tapi rasanya ia sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya. Ia hanya bisa menyeret tubuhnya ke bawah sebuah pohon. Para siluman membuat rerumputan di bawah pohon itu tebal, bersih, dan lunak seperti permadani. Mereka lantas menggiring angin agar bertiup sepoi ke arah perempuan itu, yang kemudian tertidur karena kelelahan yang amat sangat, dan dalam tidurnya perempuan itu bermimpi. Para siluman yang bisa keluar masuk berbagai dunia mengikuti mimpi itu.

Siluman tidur di atas kasur, o, berlayar di lautan mimpi. Menatap rembulan, menatap pelangi, mencari cinta di dalam laci, o!

Aku suka dengan kalimat-kalimatnya yang indah dan imajinasi yang kadang bikin gemes. Kok bisa ya ngarang kayak gitu?

Cerita yang indah ini juga dihiasi dengan ilustrasi cantik di beberapa bagian.

Yang membuat ilustrasi buku ini adalah Danarto.

Tentu saja sampulnya nggak kalah cantik dengan isinya.

Kitab menyimpan sebuah dunia, tapi bisa saja tak pernah di buka. Untuk kitab yang satu ini, bukalah, jangan baca ebooknya, karena lebih asik menikmati fisiknya.