
Wishlist saya sekian purnama akhirnya tercapai juga. Buku bekas yang saya dapatkan merupakan cetakan ke 6 tahun 2003.
Diterbitkan pertama kaki oleh Pustaka Utama Grafiti 1987, lalu diterbitkan ulang oleh Metafor Punlishing tahun 2003.
Cetakan kedua : Agustus 2003
Cetakan ketiga : Oktober 2003
Cetakan keempat : Oktober 2003
Cetakan kelima : Desember 2003
Cetakan keenam : Desember 2003
Dalam sebulan sampai cetak 2x, pastinya berkat kesuksesan film AADC tahun 2002. Seingat saya saat itu memang banyak orang penasaran dengan buku “Aku” yang selalu dibawa Rangga, termasuk saya.
Hey Rangga, kamu cocok deh jadi influencer buku dan terima endorse.
Yang membuat saya sejak dulu penasaran, apa sih isinya? Kok Rangga selalu bawa buku itu sampai lecek dan kebingungan saat buku tersebut hilang. Lalu dari sekian banyak buku sastra, kenapa buku “Aku” yang dipilih sebagai properti film? Apakah karena judulnya “Aku” yang kesan ke-aku-an akan ego yang besar. Atau memang si Rangga ini terkagum-kagum dengan Chairil?
Sebelum punya bukunya, ekspektasi saya memang seperti skenario film pada umumnya. Yang full dialog gitu. Ternyata punya Sjuman Djaya ini berbeda. Untuk sebuah skenario film, bukunya ini tipis, cuma 151 halaman. Singkat, jelas, padat. Saya lebih suka versi ringkas ini, indah sekali.
Dengan mudah saya bisa membayangkan langsung adegan filmnya, suasananya, sampai tone warna filmnya. Buat saya ini lebih menarik mengetahui karakter Chairil Anwar yang sesungguhnya, daripada membaca biografi biasa dengan tulisan panjang yang membosankan.
Saat membaca, mau nggak mau akhirnya saya membandingkan Rangga dengan Chairil.
Chairil ternyata anak pejabat. Hidup dalam keluarga yang tak harmonis membuat Chairil haus kasih sayang. Hidup hedon dan seenaknya, luntang-lantung kesana-kemari. Merasa sebagai seniman, ia tak mau punya pekerjaan tetap, ia ingin merdeka.
Walau tidak tampan, hidupnya selalu dikelilingi wanita. Setidaknya ada 5 nama perempuan yang disebut dalam buku ini. Namun saya yakin yang tak disebut jumlahnya pasti banyak. Dari mulutnya sering keluar rayuan gombal. Red flag abis.
Chairil memang pintar berkata-kata. Ada satu momen dimana ia membubuhkan kata “Bung, ayo bung!” pada poster perjuangan. Cuma 3 kata, namun bisa membakar semangat yang membacanya.
Kontras banget sama Rangga yang pendiam, cool, cuek sama perempuan, dan suka menyendiri. Makanya saya nebak-nebak, apa iya Rangga ini punya angan-angan jadi pemuda pemberani, yang jago bikin puisi dan mudah bergaul, seperti Chairil Anwar?
Setelah membaca tuntas buku ini, bagi saya Sjuman Djaya-lah yang terkeren karena sudah meninggalkan warisan indah untuk kita semua. Jadi ingat dialog Cinta kepada Rangga, “Sayang Sjuman Djayanya keburu meninggal.”
Saya sih berharap filmnya tidak pernah dibuat, biarlah orang baca buku keren ini. Karena sering kali setelah ada filmnya, kebanyakan orang tidak ingin baca bukunya lagi.
*
5/5 untuk idenya Sjuman Djaya
4/5 untuk Chairil Anwar yang ndableg.
3/5 untuk Rangga sebagai influencer.









