Ukuran Tas Ideal

Berapa ukuran tas yang ideal? Jawabannya bisa macam-macam, tergantung kebutuhan si pemakai.

***

Dari pengalaman menggunakan tas sejak sekolah TK sampai dewasa dan bekerja, akhirnya aku punya standar ukuran tas yang menurutku ideal.

Jika melihat size yang cocok di sebuah toko, otomatis aku mengatakan, “Wah, ini aku banget.” Ukuran tas yang ‘aku banget’ dipengaruhi oleh isi di dalamnya.

Isi tasku selalu ada 4 barang : ponsel, charger, dompet dan token. Semuanya dalam ukuran yg paling minimal alias mungil.

Untuk jaman now, aku masih betah menggunakan iphone 5 karena (mungkin saat ini), merupakan smartphone yang mungil. Intinya kalo ponsel bisa masuk saku celana, artinya ponsel tersebut lolos seleksi dan oke untuk kumiliki.

Charger nggak perlu kujelaskan lah. Ya intinya sampai saat ini aku tidak punya power bank dan merasa belum perlu untuk memilikinya.

Lalu saat ini aku memilih untuk menggunakan dompet kartu yg kecil dan tipis. Cuma ada 2 kartu di dompetku, KTP dan ATM. Kadang-kadang kuselipkan 2-3 lembar uang kertas. Lalu gimana dengan uang koin? Biasanya kumasukkan dalam saku. Tapi sangat jarang, karena aku lebih sering membayar dengan kartu.

Yang terakhir adalah token. Ini paling penting. Aku tuh anaknya cashless banget.

Aku tidak pernah membawa minum, tisu, sisir, kacamata, kosmetik, dan aneka printilan perlengkapan wanita.

Jadi karena aku cuma bawa 4 barang tersebut maka otomatis tas yang kubutuhkan juga mungil. Ya ngapain gitu lho pake tas berukuran besar kalo bawaannya cuma itu doang.

Siapa yang bilang size doesn’t matter? Please, itu perlu direvisi. Size does matter.

Menghibur Diri

Sudah empat tahun lebih aku nggak nonton televisi.

Bukan karena aku nggak punya tv, barang tersebut masih ada tapi cuma jadi pajangan, yang menanti saat tepat untuk dipertemukan dengan tukang loak.

***

Aku berhenti nonton tv ketika mengenal Youtube. Asyiknya Youtube adalah aku punya kebebasan memilih tontonan yang menarik. Saking asyiknya, lama-lama males liat tv sampai kemudian tv tidak pernah menyala lagi di rumah.

Setelah beberapa tahun menjelajahi Youtube dan memilih tontonan, lama-lama pengen mencicipi Netflix, Iflix, dan lain-lain.

Akhir-akhir ini aku sedang kangen pengen nonton sitcom buatan Amerika. Lagi pengen liat dan denger dialog-dialog lucu yang bikin ngakak guling-gulung.

Aku tumbuh bersama tontonan sitcom. Mulai dari Full House, The Cosby Show, Growing Pains, Friends, Modern Family, How I Meet Your Mother dan masih banyak lagi. Entah kenapa tv lokal jaman sekarang sudah tidak pernah menayangkan serial tv itu.

***

Berhubung minggu ini suasana hati lagi sumpek dan menye-menye, aku jadi ingin menghibur diriku sendiri dengan nonton sitcom lagi.

Hidayah mulai menghampiri hahaha. Pertanda dari Yang di Atas bahwa aku butuh hiburan. Mulailah aku mencari aplikasi tontonan serial tv.

Netflix ternyata diblokir oleh pemerintah Indonesia, jadi ya udah, pilih yang lain. Sebetulnya banyak cara menuju ke Roma, tapi aku tidak tertarik untuk ngotot tetap nonton serial tv lewat Netflix, toh masih banyak alternatif.

Pilihan jatuh ke Iflix yang beberapa reviewnya mengatakan bahwa serial tv-nya lebih banyak daripada yang lain.

Saat aku cek, ternyata tidak banyak, gemes deh. Cuma tiga yang akhirnya kutonton, The Big Bang Theory, 2 Broke Girls dan Mom.

Setelah kupikir-pikir, ya lumayan deh nggak usah ngikutin banyak-banyak serial. Tiga aja cukup untuk tontonan malam hari di saat menjelang tidur.

Mewujudkan Wishlist

Apakah kamu punya kebiasaan menyimpan banyak wishlist di e-commerce? Ah, itu aku banget.

***

Kalau lagi senggang, kadang-kadang aku membuka situs e-commerce dan melihat-lihat produk yang di jual. Jika ada yang menarik dan tidak ingin kehilangan jejak, langsung kumasukkan ke dalam wishlist.

Wishlist di e-commerce tentu saja sangat berbeda dengan wishlist yang kutulis di agendaku.

Wishlist di e-commerce isinya kebanyakan produk-produk yang tidak begitu kuinginkan dan kubutuhkan. Singkatnya, itu semua produk yang tidak urgent. Karena kalo urgent sudah pasti meluncur kekeranjang belanja, masukkan data dan langsung kubayar.

***

Beberapa hari yang lalu, aku memutuskan untuk membeli sebuah buku yang sudah berbulan-bulan nyangkut dalam wishlist. Kalau aku scroll, produk yang kuinginkan tersebut ada di urutan paling bawah. Aku ternyata beruntung, buku tersebut masih ada!

Kemarin paket tersebut sudah datang. Akhir pekan ini aku punya bacaan baru. Yeay!

***

Wishlist di e-commerce maupun di agenda bagiku sangat bermanfaat. Dengan menulis atau membuat wishlist aku jadi tahu apa yang benar-benar kuinginkan dan kubutuhkan.

Ketika sampai berbulan-bulan aku tidak sanggup untuk mencoretnya, tandanya di lubuk hati yang terdalam, aku masih menginginkannya. Seperti buku yang kubeli itu, pada akhirnya aku mendapatkan buku itu dengan pertimbangan matang dan tanpa emosi a.k.a ngebet, aku membelinya.

Perasaan saat menerima barang tersebut juga puas. Ah, akhirnya!

Mungkin kebahagiaan itu seperti ketika kita bahagia meraih sesuatu yang sudah lama kita inginkan.

Buku Berbintang

Orang yang hobi membaca pasti mengenal GoodReads, sebuah situs jaringan sosial yang membahas tentang buku.

Dalam situsnya, pembaca memberikan bintang untuk menilai sebuah buku dengan nilai bintang 1 sampai bintang 5.

Kriteria buku berbintang itu seperti apa sih? Tidak ada aturan khusus di GoodReads, pembaca memiliki kriterianya masing-masing.

Begitu juga denganku. Aku tidak memiliki akun GoodReads, aku hanya terbiasa menilai buku dengan bintang-bintang dikepalaku.

Begini penilaianku :

* :

Kategori buku dengan bintang satu adalah buku yang belum selesai kubaca dan tidak ingin kuselesaikan dengan alasan-alasan tertentu. Biasanya sih karena isinya garing hahaha. Nasib buku dengan bintang satu biasanya kusumbangkan.

** :

Buku dengan 2 bintang adalah buku-buku yang sudah selesai kubaca dan tidak ingin kubaca ulang. Kebanyakan bintang 2 adalah buku-buku fiksi ringan, yang biasanya juga berakhir untuk kusumbangkan.

*** :

Buku dengan bintang tiga ada dua macam, bisa naik kelas jadi bintang empat atau berpisah denganku a.k.a kusumbangkan.

Buku-buku tersebut kadang masih ingin kubaca ulang jika kangen atau butuh isinya.

Jika aku membaca ulang kemudian merasa tidak cocok lagi saat membaca buku tersebut atau isinya udah basi, maka buku tersebut terkena seleksi alam.

Kebanyakan buku arsitektur, interior dan buku-buku yang konsepnya aku sudah hafal di luar kepala, seperti buku resep memasak misalnya.

**** :

Buku berbintang empat adalah buku-buku yang biasanya udah lecek, banyak coretan garis atau stabilo dan lipatan-lipatan di beberapa halaman. Kalau banyak orang merasa sayang untuk mencoret buku, maka aku sebaliknya. Makin cinta, makin dekil bukunya hahaha.

Semuanya non fiksi. Belum ada di rak bukuku, buku fiksi yang aku merasa perlu untuk menggaris-bawahi kalimat. Mungkin aku belum menemukan yang sreg di hati kali ya.

***** :

Buku bintang lima merupakan buku yang spesial, karena udah kuperlakukan kayak kitab suci hahaha. Jangan liat penampakannya, pasti udah dekil banget kebanyakan di baca.

Saking sucinya, orang lain tidak boleh tahu apalagi pinjam, karena aku sering membutuhkannya. Supaya tidak menarik perhatian, biasanya buku tersebut kusampul dengan kertas polos yang tidak mencolok, supaya di rak buku tidak ada melirik dan membacanya.

Sesuci apa sih, kok pelit amat gitu?

Ya, yang penting dan kubutuhkan untuk pedoman hidup di dunia yang ini hahaha.

Bahkan Al Quran, kitab suci beneran yang kumiliki tidak semua berbintang lima lho. Yang kusampul cuma 1, aku menyukainya karena unik dan ada kolom untuk menghafal ayat. Ukurannya yang kecil membuatku senang untuk membawanya kemana-mana.

Seperti biasa kudu ditutup sampul berwarna gelap, supaya tidak terlihat alim saat ngantri di bank atau baca di kedai kopi hahaha.

Kalau kamu gimana? Seperti apa kriteria buku berbintang versimu?

Menulis Setiap Hari

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” — Seno Gumira Ajidarma

Ini mungkin misi paling kurang kerjaan yang kulakukan dalam seminggu ke depan.

Yoi, aku memutuskan untuk menulis setiap hari. Mumpung blogku masih baru dan belum ada yang baca, jadi nggak akan ada yg eneg membaca blogku.

Terus terang saking lamanya aku nggak nulis blog, sensasi yang kurasakan sangat jauh berbeda dengan nulis diary. Diaryku sangat jujur, semua kuterabas.

Di blog mau menceritakan produk yang kusuka aja, ribet menulis kalimat untuk menyamarkan supaya nggak ngetik merek. Apalagi mau misuh-misuh di blog, ntar kalau viral gimana? Aduh, ogah ah.

Pepatah jadul mengatakan, “You are not you write.” Oke, baiklah, jujur di blog ada diurutan nomor sekian, yang penting eksis.

Dengan semangat ’45 aku pun menyisihkan waktu khusus di pagi hari saat ngopi cantik dan duduk santai.

Memangnya pagi hari udah ada ide yang muncul? Muncul nggak muncul pokoknya kudu nulis. Ya ampun, kejam amat sama diri sendiri. Kok jadi serius gini sih? Katanya cuma jadi diary online.

Blogwalking meracuniku..

Gila! Blogger jaman sekarang tulisannya bagus-bagus. Aku seperti penghuni gua yang baru keluar melihat dunia kemudian sutres.

Tips sukses stres adalah membandingkan diri semdiri dengan orang lain. Lalu aku kudu gimana? Nulis sesukaku gitu, nggak usah lihat tulisan orang lain supaya nggak stres?

Ya enggak dong. Motto 80-an ‘cuek is the best’ udah kadaluwarsa. Makanya perlu latihan nulis lagi supaya bakat *ciyee, bakat* yang kupunya nggak makin karatan. Caranya? Ya seperti judul tulisan di atas, menulis blog setiap hari.