Ke Jogja

Pagi ini aku berangkat ke Jogja naik kereta api bersama 3 orang teman.

Misi utama kami adalah nonton ArtJog 2019 (dan menghindari acara kampung 17-an. Hore!).

Aku sendiri punya misi khusus yang pastinya berbeda dengan tiga orang temanku. Dalam perjalanan kali ini aku menantang diriku sendiri untuk lebih slow motion.

Nggak terbirit-birit mengikuti jadwal yang sudah disusun dan berusaha santai dan spontan menikmati liburan.

Lagipula kalo tinggal di Jogja sepertinya lebih asik mengikuti ritme orang Jogja yang alon-alon juga kan ya.

Sebelum berangkat, saat teman-teman ribut merencanakan ke sini dan ke situ, aku berusaha cool, tidak terpancing untuk ikutan Googling juga. Dan tentu saja gagal dong hahaha..

Tentu masih ada harapan untuk menghayati perjalanan ini, karena aku sudah lama berhenti bermain media sosial. Jadi beberapa hari ke depan, aku tidak akan heboh memotret dan bikin stories.

Supaya misi ini berhasil, maka aku menyiapkan sebuah notes kecil untuk menulis dan menempelkan tiket, dan lain-lain.

Kamis Manis

Jika Rabu merupakan hari yang spesial untuk melakukan hal-hal asyik, maka Kamis adalah hari di mana aku tidak merencanakan atau menambah to do list atau wishlist apapun.

Aku butuh satu hari untuk menarik nafas panjang dan menjalani hari dengan lebih santai. Menurutku yang tepat ya hari Kamis, karena posisinya ada dipertengahan minggu.

Hari kamis aku membiarkan semuanya berjalan mengalir. Membiarkan semua berjalan dengan spontan.

Kadang-kadang kalau lagi mati gaya, aku melihat to do list yang belum beres di awal pekan dan berusaha menyelesaikan.

Kadang-kadang nggak ngapa-ngapain. Hmm, bisa jadi mulai minggu depan, tiap Kamis aku libur nulis di blog.

***

Dulu aku bertanya-tanya, mengapa F selalu mengajakku bertemu di hari Kamis. Setelah menikah, aku baru tahu jawabannya.

Dia bilang bahwa, paling gampang mengajak kencan wanita itu di hari Kamis, karena kecil kemungkinan ditolak.

Mengajak bertemu saat weekend adalah ide buruk, katanya dia sering kali mendapatkan penolakan karena biasanya yang diajak sudah punya rencana. Lagipula saat weekend semua tempat umum ramai dan berisik.

Entah dia survey itu berapa lama dan pedekate dengan berapa wanita sampai akhirnya menyimpulkan bahwa Kamis adalah hari yang tepat untuk mengajak kencan hahaha.

***

Bagaimana denganmu, adakah hari khusus dimana kamu membiarkan hari itu mengalir apa adanya tanpa rencana?

Selamat Hari Rabu!

Tak terasa hari ini sudah memasuki pertengahan minggu. Saat aku menulis blog, waktu menunjukkan pukul 05.24. Dan aku masih belum menemukan bahan tulisan. Hmm..

Yo wes, mending bahas rencana hari ini aja kalau gitu.

***

Hari Rabu biasanya sudah tidak sesibuk hari Senin dan Selasa, jadi aku bisa memanjakan diri dan melakukan hal-hal yg menyenangkan. Istilah ngetopnya : Me Time.

Supaya lebih menghayati Me Time, aku memilih satu hari khusus yang kudedikasikan seharian penuh. Dan aku memilih hari Rabu.

Lho kenapa nggak dilakukan saat weekend aja? Teorinya begitu, tapi prakteknya sulit. Weekend hampir selalu jadi acara keluarga jadi aku tidak bisa melakukan me time dengan maksimal.

Jadi walaupun hari ini aku ngantor, di sela-sela bekerja, aku tetap berusaha melakukan hal-hal asyik. Kadang-kadang aku mencoba mendengarkan album terbaru di Spotify atau merasakan menu makan siang yang belum pernah kucoba.

Jika banyak orang melakukan me time secara spontan dan tidak terjadwal, maka aku sebaliknya. Aku tuh tipe orang yang selalu hidup dengan rencana dan wacana hahaha.

Setiap pagi aku selalu menulis di sebuah notes kecil kesayanganku tentang rencana hari ini.

Selalu 3 hal yg kutuliskan dinotesku :

1. Bismillah

Berisi 3 hal yg ingin kuwujudkan hari ini. Kadang berupa to do list dan kadang berupa wishlist. Biasanya kutulis saat pagi hari ketika belum beraktivitas.

2. Prestasi hari ini :

Aku mencatat pencapaian kecil yang sudah kulakukan sepanjang hari. Bahkan yang paling remeh sekalipun, seperti menyetrika baju yang menumpuk. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja, tapi bagiku itu sebuah prestasi hahaha.

3. Alhamdulillah :

Berisi list hal-hal yg kusyukuri hari ini. Daftarnya kadang bisa sangat panjang jika hari itu menyenangkan.

***

Jadi rencanaku hari ini adalah :

1. Memilih buku berkualitas untuk kubaca minggu ini.

2. Nonton film, masih belum tahu film apa.

3. Rahasia. Nggak semua harus diceritakan di sini kan hahaha..

Udah, 3 aja cukup.

Bismillah dulu dong. Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, aku menjalani hari ini.

Men Sana In Conpore Sano

Beberapa hari ini tidurku tak nyenyak. Setiap malam aku bermimpi hal-hal yang membuatku makin lelah saat bangun tidur.

Setelah kupikir (tuh kan kebanyakan mikir), aku menyimpulkan bahwa akhir-akhir ini hidupku jadi kurang seimbang karena banyak pikiran dan kurang gerak.

Yup, aku menyadari kalau sedang banyak pikiran dan kurang gerak.

***

Teringat pepatah tua yang diajarkan saat di bangku SD, ‘mensana in corpore sano‘, yang artinya di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Sungguh jadul tapi masih sanggup membuatku mak jleb hingga kini.

Setelah menyadari kedudulanku, aku memutuskan untuk berolah-raga, minimal membuat diriku berkeringat setiap hari.

Karena aku morning person, alias hanya bisa fokus dan konsentrasi di pagi hari, maka jadwal pagi sebelum ngantor tentu saja sudah full.

Pagi hari waktu yang tepat untuk belajar, membaca, menulis, merenung dan mikir ini itu sambil ngopi cantik, tentu saja.

Maka aku memilih jadwal sore hari untuk berolah-raga. Sore adalah waktu dimana aku sudah lelah mikir yang berat-berat, maka olah-raga merupakan kegiatan yang cocok untuk mengisi waktu di sore hari.

Aku nggak mau muluk-muluk dengan ikut member ini itu atau harus ke tempat tertentu bahkan membutuhkan alat tertentu. Itu akan membuatku kebanyakan alasan untuk menunda-nunda.

Yes, aku memang memahami diriku yang anget-anget tai ayam ini.

Mungkin bisa kumulai dari gerakan sederhana selama 15 menit. Ga perlu lama-lama deh, yg penting efektif dan konsisten. Sekali lagi, konsisten.

Ingat, rasa lelah dan sakit hanya di awal saja. Setelah itu aku bisa merasakan nikmat fisik dan jiwa yang sehat plus kembali tidur dengan nyenyak tanpa mimpi.

Laksanakan!

Menyeimbangkan Hidup

Seminggu kemarin, merupakan minggu yang cukup berat secara mental.

***

Aku tidak tertarik untuk mengurai masalah di sini, yang ingin kubahas adalah upayaku untuk menyeimbangkan hidup. Memperbaiki mood supaya tidak makin terpuruk.

Seperti kata Albert Einstein, “Life is like riding a bicycle. Supaya bisa seimbang, kita harus terus bergerak.”

Singkatnya, aku kudu move on.

Melarikan diri ke Timbuktu dan menghindari kenyataan bukan cara efektif. Kupikir melarikan diri ke blog sesaat rasanya oke juga. Tempat sepi dimana aku bisa menumpahkan tumpukan pikiran yang udah njelimet. Jadilah blog baru ini.

Lalu aku mendownload aplikasi mind map, untuk mengurai benang ruwet di pikiran. Hasilnya lumayan, beberapa masalah bisa terurai sedikit demi sedikit.

Sebagai hiburan pengantar tidur, aku memutuskan untuk mendownload Iflix dan menonton beberapa sitcom buatan Amerika supaya aku bisa lebih rileks dan cekikikan.

Endingnya hari minggu kemarin, aku memutuskan ke salon untuk potong rambut. Semacam simbol untuk memotong masalah, lalu mengikhlaskannya. Rambutku sekarang lebih pendek, di bawah telinga. Rasanya lebih fresh.

***

Ya udahlah, nggak usah terlalu banyak dipikir, nggak usah terlalu banyak dipusingkan. Bahagia yang sesungguhnya adalah jika aku bisa menikmati kesumpekan dengan asyik.

Karena hidup itu harus dinikmati. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik.