Jurnal Liburan

Saat ke Jogja, aku membawa sebuah notes kecil yang masih kosong, dengan misi mengabadikan perjalanan liburan.

Misiku berhasil. Aku tidak sibuk berkutat dengan telepon genggam dan asyik menikmati suasana liburan tanpa sibuk mengumpulkan stok foto untuk dipamerkan di media sosial.

Beberapa halaman kufoto dan kusimpan di blog ini.

Bagian depan buku kusampul dengan peta gratisan yang kudapatkan beserta tulisan Jogja.

Tempat kami menginap.

Sebuah kafe kecil nyelempit, tempat kami makan siang sambil menikmati mural dan beberapa artwork yang di pajang.

Tiket masuk ArtJog yang kutempelkan beserta guntingan dari booklet yang kudapat.

Nota pembelian barang yang kuabadikan di notes mungilku.

***

Masih banyak lagi cerita di notes mungilku ini. Semua halaman terisi penuh, aku senang sekali.

Menulis dan mengabadikan nota, tiket dan sebagainya, rasa dan sensasinya sangat berbeda dengan memajang foto-foto liburan di media sosial.

Membaca notes mungil ini berkali-kali selalu bikin happy walaupun tidak ada teman yang memberikan komentar dan tanda ‘like’.

Merdeka Dengan Produk Lokal

Masih cerita seputar liburan ke Jogja beberapa hari yang lalu. Ya mon maap nih ya, ceritanya menggunung, jadi di incrit-incrit nulisnya.

Saat di Jogja, aku sempat melihat produk-produk lokal kota itu. Sebetulnya selama ini aku tidak terlalu memperhatikan sampai detail, ya cuma sekedar tahu aja.

Beberapa di antaranya merupakan produk yang memiliki value yang cukup baik dan memiliki nilai artistik.

Di sana, aku mengamati dan menghayati *halah* dengan serius. Ternyata lokal brand tersebut banyak yang bikin gemes dan membuatku ingin memilikinya.

Notes-notes mungil buatan asli Jogja.

Saat perjalanan pulang melewati jalan di gang-gang kecil yang dihiasi kertas krep merah putih khas acara 17-an, aku tersadar betapa aku belum merdeka dari serbuan merek negara lain.

Seberapa lokalkah aku?

Dengan jujur, aku menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ternyata aku tidak menggunakan 100% Indonesia. Beberapa yang kupakai adalah produk luar negeri. Terutama make-up.

Padahal kalau aku mau mengamati banyak lokal brand yang kualitasnya baik dan unik.

Ya kalau teori untuk bilang cintailah produk Indonesia sih gampang, nyatanya ternyata kalau 100% Indonesia tidak mudah juga prakteknya.

Kalau kupikir, faktor utamaku dalam membeli barang adalah kualitas dan kenyamanan bahan.

Sebetulnya kan tinggal hunting aja produk lokal yang berkualitas. Toh, ternyata buanyak sekali.

Baiklah, mulai sekarang dan detik ini aku akan berusaha menggunakan 100% produk lokal yang begini dan begitu. *Teteup aja pake syarat ya, ckckck, dasaar..*

***

Hey, kamu. Coba cek dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apakah kamu 100% Indonesia?

Ayo Menggambar

Efek dari melihat ArtJog 2019 kemarin, membuatku ingin menggambar lagi.

Beneran deh. Emang motivasi no 2 adalah panas. Motivasi no 1 tetep deadline.

Selalu ada perasaan gemes dalam hati kalau lihat karya orang lain dan bikin hati bergejolak nggak mau kalah hahaha.

Ego oh ego.

Mulailah aku mengeluarkan box yang mulai berdebu dan membukanya. Sketchbook-ku yang tercinta, apa kabar nih? dan cat airku tampaknya udah membeku jarang terjamah.

Berhubung ini hari Rabu, hari dimana aku melakukan me time dengan hal-hal yang bikin penasirun, maka hari ini aku akan menggambar sesuka hatiku.

Minimal untuk ngisi blog ini lah, biar nggak nyomot foto dari Google melulu.

Rumah di Jogja

Saat liburan di Jogja, aku dan 3 temanku memutuskan untuk tinggal di hostel.

Yang kami pilih adalah sebuah rumah lama khas Jogja dengan segala pernak-perniknya yang nyeni.

Kepengennya sih dengan tinggal di rumah, kami lebih merasakan suasana Jogja dibandingkan dengan menginap di hotel yang suasananya seragam.

Dan cita-cita kami terkabul. Begitu sampai rumah tersebut, rasanya nyaman, tentram dan damai.

Kamar kami berempat saat di Jogja

Saking nikmatnya, kami semua jadi males keluar rumah. Gimana nggak pengen mager coba, kalau banyak buku yang bisa di baca sambil tidur-tiduran di tepi kolam diiringi gemericik air.

Jika tidak bersama teman-temanku, bisa jadi aku tidak akan kemana-mana. Mendingan Ndekem di rumah itu. Tempatnya yang sepi menyenangkan untuk menggambar, menulis dan baca buku. Bagi seorang yang introvert sepertiku, rumah tersebut seperti surga.

Aku juga mendapatkan banyak inspirasi dari rumah itu. Tidak hanya interiornya, tapi aura home sweet homenya itu lho. Duh, susah kuungkapkan dengan kata-kata.

Sepulang dari Jogja, aku ingin secepatnya mendandani rumahku dengan pernak-pernik seru dan membuat rumahku jadi lebih nyaman, biar nggak kelayapan melulu hahaha.

Salon di Dalam Kereta

Saat duduk bosan di kereta kemarin, aku membayangkan alangkah asyiknya jika di kereta ada salon.

Duduk manis, baca buku, denger musik lalu tertidur memang menyenangkan. Tapi mungkin lebih seru jika aku bisa creambath, keramas, potong rambut, ngeblow. Lumayan waktu yang lama dalam perjalanan jadi tidak terasa.

Sehingga ketika sampai di tujuan, aku tidak kucel dan lebih rapi jali.

Yeah, right.