Hmm.. Apa Ya?

Udah seminggu nggak nulis blog. Ternyata untuk konsisten nulis blog setiap hari itu nggak mudah ya.. *yaeyalah*.

Sebetulnya lagi banyak yang ingin kuceritakan di sini, tapi akhir-akhir ini setiap pagi sehabis subuh aku kok mendadak sibuk melakukan ini itu, jadi nggak sempet lihat handphone. Iyaa, aku nulis blog lewat handphone, biar praktis aja.

Lalu posting ini isinya apa dong? Embuh, aku kok jadi blank gini ya hahaha.. Kok aku ngetik gini tau-tau udah nyampe paragraf ketiga. Padahal cuma nggedabrus tanpa isi.

Tuh kan, lanjut ke paragraf keempat. Yaelah, ini sih postingan sampah beneran. Sekarang udah jam 05.34, aku ngetik sambil ngopi dan duduk metangkring di sofa. Metangkring tuh bahasa indonesianya apa ya?

Perutku mulai kontraksi, sepertinya ada panggilan alam, kudu meluncur ke kloset dulu nih, mengikhlaskan masa lalu.

Wow, udah paragraf keenam. Ya ampun, hebat amat aku nggedabrus. Seperti ngawur saat ngisi jawaban ujian. Yang penting panjang walaupun isinya ngalor-ngidul.

Sekarang 05.39. Aku harus nongkrong di wc dulu. Bye.

Tanda tangan

Masih ingatkah kamu, bagaimana proses tanda tanganmu tercipta?

***

Aku masih ingat. Waktu itu aku masih kelas 6 SD, pak guru menyuruh kami semua menciptakan tanda tangan untuk nantinya diabadikan di ijazah SD.

Sekelas lalu heboh, kira-kira seperti apa ya? Aku sendiri juga bingung waktu itu.

***

Aku baru mendapat ide saat membaca majalah Bobo. Saat itu aku mengagumi salah satu ilustrator yang gambarnya bagus. Biasanya dia membubuhkan paraf di sudut kanan gambarnya dengan kata ‘Man’.

Aku menyukai huruf M besar kreasinya. Lalu kutiru dan kuplesetkan sesuai nama singkat belakangku, ‘May’.

Tanda tangan di ijazah SDku pun jadi singkat, seperti paraf, bukan tanda tangan. Tapi aku menyukainya, sampai hari ini, aku masih memakainya untuk paraf.

***

Saat SMP aku mengganti tanda tangan di ijazah. Waktu itu aku sering memperhatikan tokoh-tokoh besar. Kebanyakan tanda tangannya tulisan latin sederhana tapi panjang sekali. Soeharto, Soekarno, dan lain-lain.

Lalu aku menggunakan nama belakangku untuk ijazah SMP dengan tulisan latin sederhana. Aku menyukainya sampai dengan hari ini.

Aku pernah membaca jika ahli grafologi kadang membantu orang-orang terkenal untuk mengubah tanda-tangannya supaya nasibnya lebih baik.

Lha, tanda tanganku sampai detik ini masih tetep. Pantesan hidupku gini-gini aja hahaha..

Menulis Puisi

Kemarin menjelang tidur aku membaca ulang buku karangan Toshinori Kato,M.D., Ph.D. yang berjudul Otak Ideal, Makin Berumur, Makin Brilian.

Salah satu tips yang ingin sekali kupraktekkan untuk melatih otak adalah menulis puisi begitu sampai di rumah.

Pulang ke rumah setelah beraktivitas di luar merupakan waktu yang paling menyenangkan.

Kalimat di buku mengatakan, “Tulis catatan atau kesan hal-hal yang dialami sepanjang hari. Memahami atau mengingat hal yang sudah dijalani berguna untuk mengatur fungsi otak.”

Hal yang paling utama dalam melatih zona otak adalah latihan konsisten yang dilakukan dengan happy. Konsistensi adalah koentji.

Jadi, sebisa mungkin aku akan menghindari hal-hal yang ribet dan sulit dilakukan.

Walaupun kelihatannya mudah, membuat puisi pendek tentang kejadian pada hari itu, tetep aja butuh pemikiran otak.

Aku kan harus mengingat-ingat kejadian pada hari itu dan menuangkannya ke dalam bahasa puisi.

Supaya nggak ribet, aku nggak mau mikir dulu tentang aturan yang biasa dipakai dalam penulisan puisi. Mengalir aja deh.

Aku juga ingin berlatih membuat kalimat efektif dan tidak bertele-tele. Kata-kata yang pas, kena, tepat, mak jleb. Nggak usah mengawang, menggunakan bahasa dewa, ntar malah justru menyulitkanku sendiri hahaha.

Menulis puisi juga bisa melatihku untuk memperluas sudut pandang. Hujan kan nggak cuma di bulan Juni, ya kan?

Jadi, hari ini mau bikin puisi tentang apa ya?

Pakaian Minimalis

Aku mengenal gaya hidup minimalis semenjak kuliah arsitektur. Yang artinya udah lama sekali.

Kawan-kawanku berpakaian dengan model yang paling sederhana dengan warna basic, hitam, putih, abu-abu. T-shirt dan jeans menjadi andalan kami, bahkan sampai hari ini.

Kadang-kadang ada masa dimana aku merasa bosan dan ingin tampil beda. Kalau jiwaku sedang memberontak, saat ngumpul bareng semua pakai warna hitam, aku datang pake pink.

Buatku untuk bergaya minimalis, warna pakaian tidak musti hitam dan putih, warna bisa apa aja. Hitam dan putih memang netral dan mudah dipadu-padankan.

Tapi tinggal di negara tropis, yang sinar mataharinya melimpah, sayang banget kalau aku nggak pakai baju dengan warna ceria.

Seperti Raditya Dika yang selalu menggunakan jeans dan t-shirt polos warna apa aja, model pakaianku juga sederhana. Aku hanya menggunakan 2 piece. T-shirt/kemeja dan celana jeans, bagiku sudah cukup.

Aku menerapkan prinsip minimalis bukan dari warna. Tapi dari jumlah pakaian. Bajuku cuma selaci. Jumlahnya 30 buah.

Tapi secara berkala aku menggantinya dengan prinsip masuk satu, keluar satu.

Banyak orang membeli pakaian lalu menyimpan sampai bertahun-tahun. Menurutku itu hebat juga sih. Terus terang aku tidak bisa seperti itu.

Aku nggak bisa mendekap barang terlalu lama. Selagi pakaian tersebut masih baik, aku segera menyumbangkan.

Jd bajuku tidak pernah ada yg berakhir jadi keset atau lap.

Baju yang sudah beberapa kali kupakai, biasanya kusingkirkan, dengan begitu aku mendapatkan energi baru yang fresh. Seperti uang, pakaian juga harus mengalir. Energi harus mengalir, tidak mandeg dalam laci.

Jadi bukan untuk hedon atau glamor, tapi untuk melatih melepas kemelekatan dengan latihan ikhlas.

Semua yang ada di dunia ini titipan Tuhan, termasuk pakaian. Untuk apa aku mendekap erat dan menyimpannya bertahun-tahun. Sistem satu masuk, satu keluar secara berkala membuat skill ikhlasku bertambah.

Semakin sering aku menyortir keluar masuk pakaianku, makin berkualitas bahan pakaianku. Sehingga hidupku juga makin berkualitas, saat menggunakan pun aku merasa bahagia dan bersyukur.

Yang paling asik, lambat laun aku bisa menemukan gaya berpakaianku yang otentik.

Kitab Omong Kosong

Sejujurnya aku tidak terlalu suka membaca buku fiksi. Di rumah, buku fiksi hanya 5% menghiasi rak buku, sisanya non fiksi.

Salah satu dari buku fiksi yang bisa bertengger cukup lama di rak buku adalah Kitab Omong Kosong, karangan Seno Gumira Ajidarma.

Buku ini sudah jutaan kali kubaca ulang dan nggak bosan-bosan. Aku selalu menemukan keindahan yang berbeda-beda pada saat membacanya.

Nggak salah kalau dinamakan kitab, walaupun kata si penulis semuanya omong kosong.

Benarkah semua omong kosong? Nggak juga. Banyak pesan yang tersirat dalam buku. Tapi kadang-kadang saat baca dalam waktu yang berbeda, aku merasa ini semua omong kosong.

Lalu resensinya gimana? Duh, aku tuh paling nggak bisa bikin resensi.

Yang pasti bukunya mengenyangkan, gurih dan bikin nagih. Lho ini ngomongin makanan atau buku sih? Hahaha.

Baiklah, supaya ada gambaran, kutuliskan satu paragraf aja deh.

Pemuda berusia 16 itu kembali melihat bacaannya. Dunia Seperti Adanya Dunia. Rasanya ia mulai mengerti pesan Kitab Omong Kosong Bagian Pertama itu, bahwa manusia hanya harus percaya kepada pemikiran yang mengatakan pohon itu ada karena bisa dilihat, dipegang, dan besoknya masih bisa dilihat dan dipegang lagi, sementara jika angin bertiup akan selalu terdengar geletar dedaunannya yang menerbitkan suara-suara yang sama seperti ketika manusia purba mendengarkannya sejak mereka mulai ada.

Cuplikan paragraf lain yang aneh dan bikin nagih.

Perempuan itu masih meratap-ratap. Siluman-siluman terkesiap. Mereka merasa tersentuh. Tanpa diketahui perempuan itu mereka menolongnya, dengan menyisihkan ranting-ranting berduri, dan membimbingnya menuju anak sungai. Di kericik aliran air yang dingin perempuan itu merebahkan dirinya dan minum berteguk-teguk. Air anak sungai yang kecil itu jernih sekali, meluncur turun dari gunung. Sayup-sayup perempuan itu mendengar suara air terjun, tapi rasanya ia sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya. Ia hanya bisa menyeret tubuhnya ke bawah sebuah pohon. Para siluman membuat rerumputan di bawah pohon itu tebal, bersih, dan lunak seperti permadani. Mereka lantas menggiring angin agar bertiup sepoi ke arah perempuan itu, yang kemudian tertidur karena kelelahan yang amat sangat, dan dalam tidurnya perempuan itu bermimpi. Para siluman yang bisa keluar masuk berbagai dunia mengikuti mimpi itu.

Siluman tidur di atas kasur, o, berlayar di lautan mimpi. Menatap rembulan, menatap pelangi, mencari cinta di dalam laci, o!

Aku suka dengan kalimat-kalimatnya yang indah dan imajinasi yang kadang bikin gemes. Kok bisa ya ngarang kayak gitu?

Cerita yang indah ini juga dihiasi dengan ilustrasi cantik di beberapa bagian.

Yang membuat ilustrasi buku ini adalah Danarto.

Tentu saja sampulnya nggak kalah cantik dengan isinya.

Kitab menyimpan sebuah dunia, tapi bisa saja tak pernah di buka. Untuk kitab yang satu ini, bukalah, jangan baca ebooknya, karena lebih asik menikmati fisiknya.