
Aku mengenal gaya hidup minimalis semenjak kuliah arsitektur. Yang artinya udah lama sekali.
Kawan-kawanku berpakaian dengan model yang paling sederhana dengan warna basic, hitam, putih, abu-abu. T-shirt dan jeans menjadi andalan kami, bahkan sampai hari ini.
Kadang-kadang ada masa dimana aku merasa bosan dan ingin tampil beda. Kalau jiwaku sedang memberontak, saat ngumpul bareng semua pakai warna hitam, aku datang pake pink.
Buatku untuk bergaya minimalis, warna pakaian tidak musti hitam dan putih, warna bisa apa aja. Hitam dan putih memang netral dan mudah dipadu-padankan.
Tapi tinggal di negara tropis, yang sinar mataharinya melimpah, sayang banget kalau aku nggak pakai baju dengan warna ceria.
Seperti Raditya Dika yang selalu menggunakan jeans dan t-shirt polos warna apa aja, model pakaianku juga sederhana. Aku hanya menggunakan 2 piece. T-shirt/kemeja dan celana jeans, bagiku sudah cukup.
Aku menerapkan prinsip minimalis bukan dari warna. Tapi dari jumlah pakaian. Bajuku cuma selaci. Jumlahnya 30 buah.
Tapi secara berkala aku menggantinya dengan prinsip masuk satu, keluar satu.
Banyak orang membeli pakaian lalu menyimpan sampai bertahun-tahun. Menurutku itu hebat juga sih. Terus terang aku tidak bisa seperti itu.
Aku nggak bisa mendekap barang terlalu lama. Selagi pakaian tersebut masih baik, aku segera menyumbangkan.
Jd bajuku tidak pernah ada yg berakhir jadi keset atau lap.
Baju yang sudah beberapa kali kupakai, biasanya kusingkirkan, dengan begitu aku mendapatkan energi baru yang fresh. Seperti uang, pakaian juga harus mengalir. Energi harus mengalir, tidak mandeg dalam laci.
Jadi bukan untuk hedon atau glamor, tapi untuk melatih melepas kemelekatan dengan latihan ikhlas.
Semua yang ada di dunia ini titipan Tuhan, termasuk pakaian. Untuk apa aku mendekap erat dan menyimpannya bertahun-tahun. Sistem satu masuk, satu keluar secara berkala membuat skill ikhlasku bertambah.
Semakin sering aku menyortir keluar masuk pakaianku, makin berkualitas bahan pakaianku. Sehingga hidupku juga makin berkualitas, saat menggunakan pun aku merasa bahagia dan bersyukur.
Yang paling asik, lambat laun aku bisa menemukan gaya berpakaianku yang otentik.