Halo Lagi

Install wordpress lagi adalah tanda-tanda dimana aku lagi butuh menulis uneg-uneg yang membukit hahaha.

Ya udah gini aja dulu, yang penting udah install. Sekarang aku mau mandi dulu lalu berangkat ngantor.

Lalu kapan curhatnya? Ntar malem aja kalo nggak males ngetik.

Demo

Akhir-akhir ini aku menyimak berita demonstrasi mahasiswa yang terjadi dalam minggu terakhir ini.

Lalu timbul pertanyaan dalam benak, jika aku mahasiswa, apakah aku ikut demo?

Hmmm.. sepertinya tidak.

Tidak ikut bukan berarti cuek. Aku hanya merasa belum pede mengkritik dan mengubah pemerintah.

Lha wong mengubah diri sendiri aja susahnya minta ampun, kok mau mengubah orang lain hahaha.

Aku salut dengan mereka yang sedang berjuang. Semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Menulis di Wattpad

Sebetulnya aku termasuk dalam golongan orang-orang yang jarang baca novel. Tapi ada saat dimana aku ingin sekali baca novel yang ringan dan menye-menye.

Seorang teman menyarankan untuk install Wattpad saja. Lalu aku install dan tercengang. Wah, banyak cerita gratisan yang bisa dibaca.

Jadi sepertinya udah dua tahun lebih aku mengenal Wattpad.

Kadang-kadang kalau lagi baca cerita di Wattpad sering geregetan dan gemes, karena temanya itu-itu melulu.

Bad boy suka sama cewek pendiam atau cewek tajir suka sama cowok miskin, sampai banyak yang menulis tentang pernikahan sandiwara. Mungkin banyak yang terinspirasi dari drama korea ya.

Lalu timbul kalimat nyinyir dalam benakku.

“Yaelah, pede amat sih, cerita kayak gini di masukin, klise banget, kayak ga ada tema lain yang lebih berbobot aje.”

Nyinyiranku kalau lagi baca Wattpad cukup sadis, nggak jauh beda sama netijen julid.

Lama-lama aku menyadari bahwa nyinyir adalah tanda tak mampu. Bisanya sirik aja.

Padahal mereka yang menulis di situ setidaknya udah melakukan sesuatu. Udah selangkah lebih maju dari aku. Walaupun ceritanya gitu-gitu aja, setidaknya mereka berproses.

Lha aku? Hahaha.. malu ah. Bisanya baca doang.

Jadi mulai kapan nih, mencoba nulis di Wattpad?

Eeeng, tahun depan deh.

Yaaah..

Panduan Untuk Menulis Jurnal

Dulu aku tanpa sengaja menemukan buku ini di toko buku kecil dekat rumahku. Judulnya The ABC’s of Journaling, karangan Abbey SY. Kulihat sekilas isinya, tampak menarik dan inspiratif, jadi kuputuskan untuk membelinya.

Waktu itu menjelang pergantian tahun, aku juga sedang mencari buku agenda untuk tahun depan. Jadi sepertinya oke kalau buku ini kubaca dulu lalu memutuskan tahun berikutnya menggunakan jurnal seperti apa.

Terus terang aku tuh orangnya lebih suka baca buku yang banyak gambarnya daripada tulisannya hahaha. Jadi tanpa banyak baca, aku sudah terinspirasi.

Yang aku suka dari buku ini, si Abbey sukses ngomporin untuk menuangkan segala macam kreatifitasku untuk mendokumentasikan hidup.

Dia ngasih tips pernak-pernik hiasan untuk mempercantik jurnal.

Paling suka lihat jurnal yang seperti di atas. Bermain-main dengan cat air, sedikit ilustrasi, stempel, tiket, catatan kecil. Jadi seru kan bacanya.

Ada juga contoh jurnal untuk yang nggak hobi menulis dan menggambar. Seperti ini nih :

Dengan hanya menggunting dan menempel tiket, nota atau apa aja yang kita dapatkan hari itu, udah jadi jurnal deh.

Nggak ada alasan untuk bilang bahwa kita nggak bisa bikin jurnal harian.

Sampai hari ini, kalau lagi butuh inspirasi buku tersebut kubuka lagi. Kalau kalian suka nulis jurnal pasti happy banget kalau baca ini.

Saat aku menulis, menggambar, menggunting dan menempel di jurnal, rasanya mood jadi lebih baik. Aku jadi lebih semangat untuk menghargai hidup.

Tabungan Draft

Saat blogwalking aku menemukan sebuah tips supaya rajin posting. Salah satunya adalah menyimpan banyak draft.

Jika suatu hari ingin posting dan tidak tahu topik apa yang ingin diulas, kita tinggal lihat tabungan draft kita.

Berhubung aku tuh anaknya kepengennya nulis tiap hari, kadang suka bingung mau nulis apa, jadi kupikir tips tersebut boleh juga.

Mulailah aku mencoba untuk menabung draft sedikit demi sedikit. Minimal bikin judul dulu, ntar diterusin dikit-dikit. Sampai hari ini, kurang lebih ada 15 draft yang nyantol dan belum selesai kutulis.

Tiap pagi aku melihat draft-draf tersebut, tapi entah kenapa jadi males melanjutkan dan ingin nulis yang lain. Yang sesuai mood dan hasrat bercerita pagi itu. Endingnya bikin baru lagi deh.

Kalau kuamati, sebetulnya tulisan yang kuupload semuanya kutulis secara spontan. Biasanya 7-10 menit udah kelar dan langsung kupublish.

Berdasarkan pengalaman sebulan terakhir ini, sepertinya aku memang nggak cocok bikin draft. Dalam soal tulis menulis, aku lebih cocok mengalir aja, nggak usah direncanakan secara matang.

Ini menarik bagiku, karena aku orangnya terencana, tapi dalam hal nulis menulis, ternyata ini aku lebih bisa spontan.

Lalu bagaimana dengan draft yang udah kadung nyantol ya? Diterusin atau dihapus aja ya?

Hmmm..