Nulis Blog Setiap Hari

Judulnya menantang sekali, ye kan? Sungguh kelewat optimis dan sok. Hmm..

Aku kadang suka takjub kalau nemu blog yang umurnya udah 10 tahun lebih. Kok bisa mereka itu rajin nulis dan sayang sekali sama blog yang mereka miliki?

Jadi mumpung masih awal tahun, aku merevisi jadwal harian yang sudah ada, lalu memutuskan untuk menyelipkan jadwal menulis blog setiap pagi.

Setelah kuamati dengan seksama, jadwal ideal yang menurutku pas adalah pukul 05.30 – 06.00.

Misiku tuh ya, pengen aja konsisten nulis blog tiap hari. Aku kan juga pengen konsisten seperti mereka. Nggak cuma anget-anget tahi ayam lalu ninggalin blog karena bosen.

Walaupun isinya receh dan remeh gini, intinya yang penting mencoba untuk konsisten.

Moga-moga aja yang baca nggak bosen..

Resolusi 2020

Marilah kita tengok dulu dua tahun ke belakang.

Tahun 2018 aku bikin resolusi untuk hidup foya-foya. Saat itu kupikir-pikir setelah lulus kuliah dan bekerja, hidupku kok kurang hedon hahaha. Jadi kuputuskan tahun 2018 untuk lebih banyak bersenang-senang.

Ternyata untuk hidup foya-foya tidak semudah yang kubayangkan. Mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil yang nggak penting itu ternyata susah juga, rasanya nggak ikhlas hasil kerja untuk dihamburkan saat itu juga.

Jadinya tahun 2018 adalah momen yang sibuk untuk mengubah sudut pandang dari hidup sederhana menjadi lebih giat berfoya-foya.

Berhasilkah? Nggak juga hahaha. Tapi setidaknya tahun itu aku nggak medit-medit amatlah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

***

Tahun 2019 aku bikin resolusi untuk lebih memilih kualitas ketimbang kuantitas dalam hal apapun.

Mulai dari mengurangi daftar yang kufollow di media sosial, menjadi tidak lebih dari 10 akun. Lalu mengurangi jumlah aplikasi dan menggunakan aplikasi yang betul-betul penting di telepon selular, berusaha untuk makan makanan sehat, hanya menyimpan barang-barang berkualitas dirumah dan kantor.

Dan masih buanyak lagi.

Sejujurnya banyak hal-hal yang kurang menyenangkan di tahun 2019, tapi resolusi memilih kualitas daripada kuantitas membantu hidupku lebih ringan sehingga aku tidak terlalu stres.

Nggak kebayang deh kalau aku nggak memilah prioritas yang paling berkualitas, lalu hanyut hidup carut marut dengan berbagai ujian yang hadir di tahun 2019. Bisa edan mungkin.

Sekarang tahu kan, kenapa aku kembali bikin blog di tahun 2029. Ya, biar nggak kebanyakan sambat di medsos aja hahaha.

***

Lalu bagaimana dengan tahun ini?

Tahun ini sederhana aja dan nggak usah muluk-muluk. Resolusi tahun 2020 ini, aku akan memperhatikan penampilanku dan membuat wajahku lebih ceria.

Udah gitu aja.

Berani Membayar

Mungkin yang kualami ini juga dirasakan banyak orang.

Semua juga tahu kan, aplikasi pembayaran digital sering kali memberikan voucher, cashback, dan aneka promosi lainnya, yang rugi kalau nggak kumanfaatkan untuk menyelamatkan receh demi receh.

Lalu tanpa sadar, selama berbulan-bulan, terjerumuslah aku dalam permainan mereka. Aku jadi ketergantungan dengan voucher mereka. Haduuh.

Lha misalnya aku perlu beli makanan capcay seharga 25.000, lalu pake voucher 15.000 plus gratis ongkos kirim, totalnya jadi 10.000. Gimana nggak luluh hati ini?

Aku kan istri biasa yang lemah akan godaan penghematan anggaran belanja rumah tangga kayak gini hahaha..

Perlahan tapi pasti, aplikasi pembayaran digital tersebut mengubah mentalku jadi miskin. Jadi mental gratisan. Dan itu membuatku merasa bodoh.

Lama-lama aku menyadari bahwa ini nggak bisa diabaikan. Ketika aku mulai tergantung dengan sesuatu selain Tuhan, tandanya aku udah jadi budak.

Mustinya duit yang ngejar aku, lha ini kok jadinya aku yang nguber receh. Mentalku kok jadi mental miskin gini. Sungguh kebodohan yang hakiki.

Lalu aku merenung, buat apa sih beli makanan pake ngitung dapet cashback berapa, lalu diakal-akalin supaya dapet cashback lebih banyak? Supaya duit yang terkumpul lebih banyak? Ah, kekayaan datangnya bukan dari pintar menabung receh, tapi karena rejekinya banyak kok.

Membayar itu salah satu cara untuk menundukkan uang. Dengan membayar mahal aku berusaha untuk tidak menjual nilai jiwaku untuk mendapatkan recehan.

Mental kaya yang terjaga kemuliaannya, akan membuat uang tunduk kepadaku.

Mental miskin yang mengharap gratisan dan voucher diskon, akan menjadikan tunduk pada uang. Itu kan bego banget namanya. Masa ciptaan Tuhan nyembah ciptaan manusia? Hahaha.

Jadi membayar adalah caraku untuk merawat mental kaya.

Tipe Pria Idaman

Kemarin aku terlibat percakapan seru dengan teman-teman perempuan tentang pria.

Kami saling menunjukkan foto pria secara random di instagram yang menurut kami tampan.

Walaupun kami semua sudah menikah, topik kegantengan pria tetep seru untuk di bahas.

Seorang teman nyeletuk bahwa dia kini makin memahami tipikal pria yang aku suka. Aku menyangkal dong, seleraku sepertinya berubah-ubah kok.

Temanku menjawab, bahwa benang merahnya ya dari dulu aku sukanya sama yang gitu-gitu aja.

Pria yang klimis, kalau kata temanku. Yang potongan rambutnya rapi dan wajahnya bersih.

Lucunya kriteria tersebut kontras dari penampilan pasanganku yang cuek dengan penampilannya. Jadi apakah pasanganku saat ini tidak memenuhi kriteriaku?

Tentu saja tidak. Hahaha.

Namanya juga hidup, tidak semua yang kuinginkan bisa kudapatkan. Toh, wajah bukan yang utama.

Begitu juga dengan teman-temanku, yang mereka dapatkan meleset semua dari angan-angan hahaha.

Mungkin itu sebabnya ngobrolin pria tampan tetap selalu jadi topik yang seru untuk dibahas rame-rame.

Kepo

Hari ini aku libur kerja, lalu bingung mau ngapain. Tamasya sudah kulakukan awal bulan saat belum musim liburan.

Saking kurang kerjaan hari ini, akhirnya aku ngubek-ngubek media sosial. Mencari wajah-wajah lama yang aku sudah kehilangan kontak.

Dari beberapa target nama yang ingin kucari, ada satu teman yang membuatku ikut seneng saat melihat medsosnya.

Terakhir lihat, pernikahannya berantakan, hidupnya terlihat berat dan stres. Jadi saat itu tidak ada keinginan untuk DM, ntar males kan kalo dicurhatin berjam-jam.

Nah, hari ini kulihat hidupnya membaik. Udah move on dan punya pasangan lagi, foto-foto bahagianya pun bertebaran. Karirnya juga sepertinya makin naik.

Lalu apakah ini momen yang tepat untuk menyapanya?

Entahlah.

Kepoku tidak berlanjut dengan mengirimkan DM atau meninggalkan jejak di kolom komentar. Kupikir kami sudah lama tidak berkomunikasi, mungkin dia juga sudah lupa padaku.

Selalu ada masa dimana aku dan teman akrab sudah tidak cocok lagi lalu renggang dan lost contact. Kalau dipaksakan ngobrol lagi juga aneh dan nggak nyambung. Jadi mending ga usah menjalin komunikasi lagi.

*lalu pemirsa kecewa.*