Srimenanti

Prestasiku di awal tahun adalah menamatkan novel ini dalam semalam.

Pembaca blog ini pada membatin, “Halah, lebay amat. Gitu doang dibilang prestasi.”

Buat orang lain mungkin biasa aja, aku lupa kapan terakhir bisa menamatkan buku dalam sekejab. Mungkin saat SMA dan itu sudah lama sekali.

Ketika buku ini bisa kulalap cepat dalam semalam, tandanya aku suka sekali baca buku ini.

***

Ibarat nonton film, aku seperti sedang nonton di bioskop dengan penonton tidak lebih dari 5 orang.

Filmnya sepi, muram, dingin, satir.

Alurnya datar sampai ending. Slowmotion. Nggak ada antagonis. Tapi bikin penasaran banget ngikutin jalan ceritanya sampai selesai.

Lalu tahu-tahu kaget, lho kok udah tamat? Gini doang?

Kemudian bingung sambil berpikir saat meninggalkan gedung bioskop.

***

Sejak membaca sampai akhirnya tuntas, aku dibikin bingung, ini fiksi atau non fiksi sih? Lho emangnya emang kitab suci hahaha..

Sepertinya juga nggak ada konflik, tapi kalau kupikir-pikir lagi dari awal sampai akhir, itu konflik yang nggak selesai.

Lalu ini kisah cinta tapi kok sepertinya bukan. Tapi kok bikin gemes dan geregetan.

Bingung jelasinnya. Padahal ceritanya sederhana. Kehidupan sehari-hari doang.

Setiap halaman ada detail-detail cantik yang bawaannya pengen distabilo, karena pengen kurenungkan. Hah? Kok direnungkan, emang pake bahasa njlimet? Enggak kok, bahasanya sederhana dan gampang dicerna.

Jadi sebetulnya Jokpin ini bikin novel apa? Mbuh.

Mungkin Jokpin cuma berharap kita baca aja sampai selesai. Nikmati aja, nggak usah kebanyakan mikir.

Mungkin seperti dialog dalam novelnya,

Saya pernah ditanya wartawan, “Lukisanmu termasuk aliran apa?” Saya malas dan tidak tertarik menjawab pertanyaan semacam itu. Saya tidak tertarik pada label.

Selesai baca, aku meluncur ke Goodreads, ternyata nggak ada yang sanggup menuliskan resensi buku ini dengan jelas.

Ah, sudahlah. Kalian harus membacanya.

Januari

Sejak dulu aku ingin memiliki buku puisinya Joko Pinurbo. Satuuu aja. Ada yang sudah lama kuincar, tapi tiap kali di toko buku, hati selalu ragu. Maju mundur beli atau enggak.

Kemarin saat di toko buku, di luar sedang hujan deras, mood mendadak berubah. Yang tadinya cerah mendadak galau gak jelas. Yang tadinya pengen beli buku motivasi jadi berubah jadi buku puisi.

***

Januari menata hatinya yang porak poranda Peluk batal dan hangat ditunda sampai banjir benar-benar reda. (Joko Pinurbo)

Status Di Medsos

Aku tuh hobi menasehati diri sendiri di media sosial dengan kutipan-kutipan bijak gitu.

Lucunya, kadang-kadang ada yang sensitif, merasa tersindir, kemudian komplain.

Ngakak nggak sih? Pasti.

Jadi orang kok ge-er banget.

Ngapain aku kurang kerjaan nyindir orang di media sosial, kayak dia penting banget buat diomongin.

Cuih.

Eh, sebentar. Lha ini kok malah ngomongin dia di blog?

Haduuuuh…

Membaca Ulang

Pernahkah kamu membaca kembali buku yang sudah 20 tahun tidak dibaca?

***

Kemarin saat makan siang, seorang temen asyik membicarakan tentang buku lama berjudul Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder. Aku ingat kalau dulu pernah memiliki dan membacanya.

Sejak obrolan makan siang, aku kok tiba-tiba jadi kangen pengen baca lagi. Terakhir baca itu saat kuliah, jadi udah 20 tahun yang lalu. Wuih, lama juga ya.

Karena buku itu dipinjam teman kuliahku dan tidak pernah dikembalikan, jadi kuputuskan untuk membeli lagi. Kurasa buku itu layak untuk kumiliki kembali. Sambil menanti paketnya, sementara ini aku baca e-booknya dulu.

***

Tadi malam, aku mulai membacanya. Baru satu bab dan isinya memang asyik.

Saat pertama kali membaca itu aku masih muda banget. Pemahaman saat itu pastinya beda dengan hari ini.

Ah, nggak sabar nungguin paketnya datang.

Gemes

Gemes adalah ketika aku sedang ingin tahu tentang kabar seseorang, lalu nyari di google ternyata nggak ketemu.

***

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menghubungiku, apakah aku masih menyimpan nomor ponsel si x.

Aku bilang sudah lama tidak tahu kabarnya, lalu kusarankan untuk mencoba mencarinya di Google aja. Temanku bilang sudah mencarinya, tapi hasilnya nihil.

Ah, mosok sih?

Dia aja kali yang kurang pinter mengubek-ubek dunia maya.

Lalu dengan rasa penasaran, aku ikutan menelusuri juga. Google ternyata kurang sakti nih. Hari gini nama temanku sulit di googling tuh kan luar biasa aneh tapi nyata. *tepok jidat*

***

Suatu hari nanti kalau kami bertemu tanpa sengaja, aku akan berguru kepadanya, gimana caranya bisa menghilang dan tak terlacak di dunia maya.