“…Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan….”
[Sapardi Djoko Damono, “Pesan”]
***
Aku hanya akan..
akan…
… akan apa hayo?
“…Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan….”
[Sapardi Djoko Damono, “Pesan”]
***
Aku hanya akan..
akan…
… akan apa hayo?
Diantara obat nyamuk bakar, semprot, aromaterapi, dan sebagainya, raket nyamuk tetap ranking satu.
Sungguh sebuah penemuan jenius abad ini. Entah siapa penciptanya. Raketku sih buatan Cina.
Momen keseruan adalah saat nyamuk terjerat diantara senar raket, kemudian dengan gerakan cepat aku memijat tombol : “treeet, treeet, treeet.”
Lalu timbul aroma gosong pada nyamuk.
Rasanya puas banget !
Mandi itu sederhana.
Tapi sederhana itu tidak mudah bagi sebagian orang.
Ada yang udah ambil handuk, tapi duduk dulu, cek ponsel. Balesin chat, email, ngintip-ngintip aplikasi. Lalu tanpa sadar udah setengah jam kalungan handuk.
Ada juga yang boro-boro ambil handuk, untuk membayangkan mandi aja udah males duluan dengan ribuan alasan. Yang dinginlah, udah malemlah, gak kemana-manalah, dan sebagainya.
Padahal mandi itu sederhana. Tinggal masuk, buka kran shower, pake sabun, bilas, selesai.
Aku berbisik pada diriku sendiri, “Jangan pernah ngaku sok hidup sederhana kalau mau mandi aja ribet.”
Hidupku di tahun 2019, terangkum dalam lagu ini :
*sekalian ngetes copy paste link*
Dengerin musiknya, resapi liriknya. Ya wes, gitu aja.
Ada yang suka sama lagu ini juga?
Saat awal membuat blog, aku menuliskan deskripsi blog : “Menemukan keindahan dalam keseharian.”
Saat itu aku memang sedang sedih, jadi kuputuskan untuk menulis hal-hal yang membuatku jadi lebih gembira.
Namun lama-lama, setelah kehidupan jadi lebih baik. Aku merasa kurang sreg menggunakan deskripsi itu.
Akhirnya kemarin aku ganti dengan : sedih dan bahagia.
Kupikir kadang-kadang aku ingin menuliskan kesedihan di sini, biar lega. Nulis sepertinya membuatku jauh lebih lega dibandingkan dengan bicara.
Aku sebetulnya pendiam. Banyak yang pengen kuceritakan tapi seringkali mampet, nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Jadi kupikir nggak ada salahnya nulis disini, setidaknya bisa mengurai benang ruwet di kepala.
Mungkin dengan menuliskan kesedihanku di sini, aku bisa mendapatkan hikmah.
Bukankah kebahagiaan itu muncul jika kita bisa mendapatkan hikmah dari kesedihan?