Joget

Belakangan ini kawan-kawan di kantor sedang kerajingan main Tiktok. Aku masih ogah instal Tiktok dan bertahan untuk tidak ikutan terjerumus ke dalam godaan dunia perjogetan.

Saat iseng lihat video mereka, pilihan lagunya itunya itu lho, astaga. Ampun DJ! Aku kehabisan kata-kata. Musiknya gini banget sih. Hare gene masyarakat Indonesia bener-bener makin mundur selera musiknya.

Dengan gaya sok cool dan sok asik, di depan mereka, aku bertekad untuk tidak instal aplikasi dansa-dansi tersebut. Apalagi ikutan joget bareng mereka. Nggak deh, makasih.

Namun beberapa hari yang lalu, saat tanpa sengaja lihat Instagramnya Liza Natalia, selebritis yang juga instruktur zumba. Cuplikan videonya yang sedang main Tiktok keren banget, padahal kawan-kawanku gak banget (yaiyalah, ngapain dibandingin).

Aku terhenyak, kok lincah banget ya. Zumba sepertinya asik banget. Lalu aku berlanjut melihat video -video lainnya yang juga nggak kalah asik.

Masih penasaran, lanjut ngubek-ngubek Youtube. Eh, ternyata zumba seru banget. Kok sepertinya ini bisa kujadikan contoh untuk olahraga di pagi hari.

Mulailah aku tiap pagi dan sore berlatih zumba. Emang dasar diri ini munafik, latihan jogetnya tentu saja diem-diem aja dong, ga perlu pameran di depan kawan-kawanku.

Makin munafik lagi, zumba yang seru ternyata pake lagu-lagu Indonesia yang norak-norak itu. Goyang ubur-ubur lah, Goyang geleng-geleng dan sebagainya. Entah itu jenis musik apa. Dangdut koplo remix? Embuhlah. Intinya aku butuh menguasai gerakan yang cihuy.

Saat ini sih, belum ada yang tahu kalau tiap hari aku berlatih. Ntar suatu hari kalo ditantangin main tiktok, dengan gaya yang tetep sok cool, aku akan menjawab, “oke! Siapa takut?”

Kopi

Dengan sederhana
Aku minum kopi
Terkenang lagu milik Blur
Populer pada masa alay,
“So give me coffee and TV/ Peacefully”

Kini hidup makin norak
Lebih alay dari jaman alay-ku

Ngopi di kafe rumahan
Ditemani musik folk
Saat senja datang
Bersama gerimis
Dan gelas plastik

Kadang kesal
Namun tak terhitung
Aku larut didalamnya

“Hidup adalah perjuangan/
Tanpa henti-henti/“

Dewa 19 sayup terdengar
Dari dalam gua
Tempat paling rahasia
Untuk menyeruput kopi
Mencari pencerahan
Meniru nabi.

Kopi kuseruput.
Ampas kutinggal.

Pahit.

Buku Yang Kubaca Minggu Ini

Awalnya buku ini tergeletak di rumah sepupu, lalu kupinjam.

Aku tertarik melihat covernya yang menawan dengan embel-embel tulisan : pemenang nobel sastra 2006.

Katanya dia baru membaca separuh buku lalu berhenti dan malas menyelesaikan. Menurutnya buku ini terlalu berat.

Novel tersebut berjudul My Name Is Red, karangan Orhan Pamuk. Karena ini versi terjemahan, maka judulnya menjadi ‘Namaku Merah Kirmizi’.

Sesampainya dirumah, menjelang tidur, aku membacanya.

Ampun deh. Saat awal membaca, aku merasa kurang cocok dengan terjemahannya, kupikir baca dalam bahasa inggris mungkin lebih enak.

Lalu kucoba mencari dan baca e-booknya sekilas. Ternyata banyak istilah yang membingungkan, daripada makin puyeng, balik deh baca novel terjemahannya.

Masih diliputi rasa kebingungan, akibat lemot, kuputuskan untuk membacanya di pagi hari saat pikiran masih fresh.

Karakternya banyak dengan sudut pandang yang berbeda-beda, membuatku harus banyak mengingat. Bahkan selain manusia, ada sudut pandang seekor anjing, pohon, kuda, setan dan sebagainya. Astaga!

Untuk mempermudah otakku yang lemot ini, poin-poin penting dari tiap karakter, akhirnya kutulis di atas kertas.

Kini aku udah memasuki seperempat buku, aku mulai paham dan hanyut dengan ceritanya. Hati ini mulai penasaran dengan halaman berikutnya dan ingin bergegas menyelesaikan.

Saat membacanya, aku merasa seperti sedang diseret ke Istanbul abad ke-16 dan diajak bermain teka-teki filosofis. Lalu disuguhi puzzle yang kepingannya penuh misteri, intrik sosial, kisah cinta yang mbulet, sejarah Turki, dan estetika seni menghias buku.

Ternyata seni menghias buku di Turki itu menarik sekali. Aku mendapat banyak pengetahuan baru tentang seni tersebut di buku ini.

Saat tengah membaca, aku sering membatin, “Duh, kemane aje, kok baru sekarang baca novel bagus gini.”

Aku memang belum selesai membacanya, tapi sepertinya novel tebal ini asyik untuk dibaca berkali-kali.

Cuek

“Cuek is the best.”

Entah siapa yang mengarang, siapapun anda, silakan berbangga. Pepatah usang yang masih menjadi andalan pembenaran sampai detik ini.

Terutama saat ini.

Ketika pagi buta, ketika seisi dunia berkonspirasi secara kompak. Rintik gerimis, hawa dingin dan sayup-sayup lagu lama dari radio tetangga.

Hati nurani berbisik, “Ingat. Menurut jadwal yang telah kususun, pagi ini musti olahraga. Tidak bisa tidak.”

Selimut makin posesif, bantal mendadak makin empuk, hujan makin deras.

Untuk ke 36784 kali, aku menyerah.

Nulis blog aja sambil selimutan kalo gitu.

Tips Pemalas

Sebetulnya ini rahasia, tapi kuberitahu satu hal : aku itu pemalas.

Beneran. Sumpah, demi waktu.

Padahal hidupku ini terus menerus diuber deadline. Demi ketenangan dan kedamaian, maka aku musti punya tips supaya gak deg-degan tiap kali mendengar detak jam dan tanggal di kalender.

Berbekal keahlian berselancar di dunia maya, maka kutemukan sebuah teknik untuk pemalas yang diciptakan orang Jepang. Aku lupa nama tekniknya, mau googling apa namanya, kok males.

Tuh kan, males.

Intinya adalah melakukan kegiatan cukup 2 menit aja. Yes, dua menit aja. Dua menit tuh kan ga lama, ye kan? Teknik ini sungguh ampuh untuk diriku yang malasnya udah tingkat dewa.

Contoh kasus remeh :

Cucian piring numpuk. “Cuci sekarang aja, toh cuma 2 menit.”

Buang sampah, “tinggal ambil dan buang ke bak sampah depan rumah, toh gak sampe 2 menit.”

Tempat tidur berantakan. “Aku bisa ngerapiin gak sampai 2 menit.”

Mandi. “2 menit aja deh.” *endingnya jadi setengah jam*

Sholat. “Kilat ajalah, 2 menit.” *beneran kilat kalo yg ini. Ampun*

Dan seterusnya..

Tips ini sudah kulakukan bertahun-tahun. Entah sejak kapan, aku sendiri udah lupa. Percayalah, ini ampuh sekali, karena sudah teruji olehku selama bertahun-tahun. Aku aja bisa, masa kamu enggak?