Godaan Masker

Coba kalian ingat-ingat, benda apa yang paling sering teman-teman beli di tahun 2020?

***

Barang yang banyak kubeli di tahun 2020 adalah masker, sodara-sodara..

Lha ruteku cuma rumah-kantor doang. Lalu ngapain aku beli baju, sepatu, tas dan seabrek kebutuhan keren lainnya kalau rutenya cuma itu-itu aja.

Jadilah gonta-ganti masker lucu sebagai hiburan supaya hidup yang monoton ini lebih bergairah.

Awalnya saat belum ada anjuran pemerintah menggunakan masker, aku cuma punya satu aja. Modelnya sederhana aja, berbahan kain katun, berwarna hijau tua.

Lama-lama ada masker dengan model lebih baik & lebih enak untuk bernafas. Oke, beli lagi deh satu.

Ini favoritku saat ini.

Abis gitu muncul lagi masker berbahan scuba dengan tali hijab. Wah, ini enak. Ga bikin telinga lecet. Beli lagi deh.

Kalo yang ini gampang dipadukan sama baju-bajuku yang polos

Lalu saat senggang ngeliatin market place, kok ada masker berbahan bagus dengan motif-motif keren. Ya udah, bungkusss.

Lama-lama maskerku jadi banyak dong.

Ada beberapa seniman bikin desain masker yang bikin aku ga tahan untuk ngeklik wishlist di market place.

Gemesin ga sih?

Belum lagi band dan artis lokal bikin masker keren-keren yang gemesin banget.

Masker Kunto Aji

Ada juga crafter-crafter lokal yang masker bikinannya bikin imanku goyah.

Sampe bingung pilih yang mana

Ada juga motif dari buku dan film. Seperti Tintin ini misalnya.

Tintin favoritku

Belum lagi yang terima masker custom. Jadi kita bebas pilih desain yang kita inginkan.

Lalu ada lagi dong yang merah putih untuk menyambut hari kemerdekaan.

Bayangin dong, hampir tiap minggu ada aja model dan motif baru yang keluar. Oalaaah, aku ini. Susah bener nahan godaan desain cakep.

Jadi ya, berburu masker adalah salah satu kegiatan seru untuk menikmati hidup di saat pandemi.

Merdeka Ngomong Sendiri

Setelah bikin 3 episode Podcast, aku makin menyadari bahwa di jaman sekarang, ngomong sendiri ternyata memiliki harapan untuk membuat masa depan yang cerah.

Minimal untuk self healing.

Awalnya kupikir ngomong sendirian bakal seperti orang gila. Tapi setelah terjun dan nyobain, ternyata ngomong sendiri itu rasanya plong dan puassss banget.

Di Podcast aku bisa ngomong apapun tanpa ada yang menginterupsi.

Ga ada yang memotong pembicaraanku, ga ada yang mendebat argumenku. Jadi kayak gini toh rasanya merdeka..

Tahu sendiri kan, di Instagram, Twitter dan Youtube, akan selalu hadir netizen julid maha benar.

Lha di Podcast ini sunyi krik krik krik gini. Ibaratnya aku tuh serasa sedang berada di pulau terpencil tanpa ada orang yang menganggu.

Sebetulnya pendengar bisa aja meninggalkan komentar dengan voice message.

Itu artinya netizen yang ingin berkomentar, harus ngomong langsung, bukan ngetik seperti di medsos pada umumnya.

Nyatanya tidak semua orang berani bicara. Hari gini kebanyakan orang beraninya masih cuma ngetik sama jempol doang.

Saat ini mungkin suasananya masih sunyi. Entah tahun berapa netizen maha benar akan mulai terjun ke Podcast lalu berani berceloteh secara tajam. Setajam silet.

Yang pasti aku sangat menikmati momen ini. Sama seperti ketika jaman Instagram, Twitter dan Youtube masih sepi.

Ikutan yuk ke pulau Podcast yang terpencil. Ngapain? Curhat hahaha..

Mendadak Podcast

Pandemi ini emang ajaib.

Kondisi kayak gini jadi bikin aku jadi nyobain hal-hal baru, yang rasanya nggak mungkin banget kulakukan dalam situasi normal.

Seperti bikin Postcast.

Ini aplikasi yang entah mengapa aku jadi tergerak untuk mencoba. Jadi sebentar, sambil ngetik akan kurenungkan dari mana datangnya hidayah ini.

Mungkin karena aku sering nonton Youtube, yang vloggernya sekalian bikin Podcast.

Cuma suka nonton aja tanpa punya keinginan ikutan bikin Podcast.

Kupikir-pikir, siapa juga yang mau mendengarkan suaraku? Wong penyiar radio aja kalau ngomongnya kebanyakan, buru-buru aku pindah gelombang radio.

Lha gimana orang kalo dengerin aku? Apa ya ada yang mau dengerin?

Suatu hari temenku cerita tentang Podcast dan ngomporin untuk bikin.

Dasar aku yang imannya lemah. Aku orangnya gampang terjerumus ke kegiatan yang positif. Lalu kupikir tidak ada salahnya mencoba.

Ah, paling juga nggak bakal ada yang dengerin. Minimal buat latihan ngomong biar lancar jaya.

Sebagai orang yang pendiam dan irit bicara, ini sungguh kegiatan yang menantang.

Kalau biasanya orang disekitarku curhat dan aku hanya jadi pendengar setia. Tahun 2020 ini kudu beda. Saatnya mereka yang mendengarkan dan aku yang bicara.

Maka, mulailah aku bikin Podcast. Install aplikasi Anchor, siapin draft untuk bahas satu tema, dan mulai mengudara.

Jangan bayangin aku bikin studio dengan microphone dan alat-alat canggih.

Aku cuma ngerekam pake ponsel dan handphonenya dideketin ke mulut. Sesederhana itu.

Setelah kucoba ternyata berhasil. Suaraku cukup jernih dan jelas. Jadi aku nggak perlu buang-buang duit banyak untuk hobi baruku ini.

Hobi? Eeng, belum tahu sih. Cuma aku bertekad untuk bikin Podcast tiap hari minggu.

Doakan untuk selalu konsisten ya. Jangan kayak nulis blog ini yang kadang rajin dan kadang ditinggalin berminggu-minggu.

FYI, ini link Podcastku :

Dengerin ya.

Moga-moga setelah ada yang dengerin, jadi tergerak juga untuk ikutan bikin, biar kapan-kapan kita bisa ngobrol bareng.

Ada yang punya podcast juga? Kasih linknya dong di kolom komentar.

Journal Ideal

Sebagai anak blog, aku kadang butuh journal kecil untuk mencatat ide yang terlintas di benak.

Ciyee, kayak yang rajin nulis blog aja.

Jadi di sabtu pagi yang santai ini, aku akan membahas journal favorit yang menurutku menarik.

Moleskine

Ini jenis journal buatan Italy yang paling digilai banyak orang. Bahkan banyak sekali kolektornya yang rajin nguber saat Moleskine mengeluarkan edisi khusus.

Dengan cover dari bahan kulit yang kuat, penampilan Moleskine tampak elegan dan terlihat mahal.

Ya emang mahal keleues.. Kalau nggak salah paling murah 300 ribuan deh.

Yang membuatku ngiler kalau lihat moleskine, journalnya bisa dibuka sampai flat 180 derajat, karena jahitannya yang bagus.

Udah gitu jahitannya yg terlihat kuat membuat tidak mudah untuk dirobek.

Lalu ada karet dibagian kanan yang diletakkan secara vertikal. Teman saya pernah berkomentar, „“Buset, buku dikaretin doang aja harganya selangit.“

Lha tapi justru bagian itu yang bikin aku tergila-gila sama moleskine.

Beberapa tahun belakangan ini aku menggunakan journal dari Miniso yang prinsipnya seperti Moleskine.

Karena budget dan sejuta alasan irit, aku pake moleskine ala-ala.

Yang penting kan ada karet vertikal dibagian kanan. *Prinsip*

Journal ala ala moleskinenya menurutku kualitas kertasnya bagus. Bisa jadi alternatif untuk sobat misquen.

Kalau moleskine beneran punya ga? Oh, tentu saja belum, tapi suatu hari aku harus memilikinya.

Midori‘s Traveler‘s Notebook

Yang hobi traveling biasanya punya journal jenis ini. Ini journal yang diproduksi oleh Traveler’s Company dari Jepang.

Karena journal ini ditujukan untuk orang yang sedang berpergian maka dibagian tengah dikasih karet supaya tiket dan nota2 yang diselipkan nggak kececeran.

Desainnya yang minimalis, simple, fungsional dan klasik, membuat jutaan orang penggemar journaling jatuh cinta.

Bahkan ada komunitas pecinta midori ini, yang sering kali memamerkan foto isi journalnya yang keren-keren itu di Instagram.

Yang aku suka dari Midori ini, bahannya sederhana dari kulit asli. Tahu sendiri kan kalo usia bahan kulit makin tua makin keren.

Trus isinya bisa dibongkar pasang kalau udah habis ditulis, jadi covernya bisa dipakai seumur hidup.

Ide yang jepang sekali. Sungguh minimalis.

Journal Ciptaanku

Dua jenis journal yang sudah kubahas diatas tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jadi setelah lama menggunakan 2 jenis tersebut, kupikir-pikir kenapa nggak bikin sendiri ya.

Aku pengen journal seperti Midori yang bisa dicopot-copot notesnya, jadi fleksibel gitu. Aku kan bosenan orangnya. Kalo bosen tinggal ngganti isinya.

Lalu aku mendambakan karet yang vertikal. Karet horisontal dimidori menurutku kurang ringkes, aku lebih suka karet ala moleskine.

Dengan ide yang menurutku cemerlang itu, aku menghubungi mbak Tarlen (IG : vitarlenology), minta dibikinin seperti yang kumau.

Jadilah seperti ini :

Journal ini udah setahun lebih aku miliki. Sangat ideal untuk dibawa kemana-mana. Ukuran A6 buatku pas, nggak besar & nggak terlalu kecil.

Oh ya, untuk refilnya biasanya aku beli di kamimemo (ada di tokopedia). Aku udah mencoba beberapa penjual notes. Menurutku ini yang terbaik. Kualitas kertasnya tidak tebal tapi spidol nggak tembus.

Mulai nulis di journal yuk, kurang-kurangin pake gadget melulu.

Happy journaling!

Terjerumus Ke Lembah Tiktok

Hai gengs!

Udah lama ya nggak nulis blog, sampai ketinggalan banyak cerita dari blog-blog lain.

Jadi apa kabar nih? Mungkin sama seperti kalian. Selama virus corona merajalela, aku work from home.

Bulan ini aku sudah sampai dalam taraf statis, jenuh dan butuh asupan untuk menghibur diri.

Twitter, Instagram dan Youtube sudah tak sanggup menghiburku.

Entah dari mana datangnya hidayah itu, hati ini tergerak untuk bikin akun Tiktok. Iyaa, akun alay yang sumprit nggak penting itu.

Awalnya aku upload video-video dari ponsel. Kupikir lumayan juga nih, bisa masukin video 1 menit ditambahin lagu-lagu cakep.

Daripada nyimpen di Youtube yang ribet dengan edit sana-sini, belum lagi nggak bisa masukin musik yang bisa aja dibungkam Youtube.

Oke. Fixed. Aku bikin Tiktok sebagai sarana penyimpanan video sehari-hari.

Lalu…

Hari berikutnya, video joget-joget receh seliweran di beranda Tiktok. Dalam hati berbisik, “Gak! Gak bakal aku joget-joget hina kayak gitu.”

Tapi apalah daya diriku. Aku tuh ternyata manusia yang lemah dan nggak tahan dengan godaan dunia. Nyoba ah, sekali aja. Videonya di private deh.

Abis bikin, “Ah, dipublish ajalah, toh nggak ada yang tahu juga aku bikin Tiktok.” Satu video, video kedua, ketiga dan seterusnya..

Tahu-tahu udah banyak aja.

Apa kabar Blog, Instagram, Twitter? Ya mangkrak dong, akibat keasikan punya kehidupan baru di Tiktok.

Aku emang gitu anaknya. Munafik. Dulu bilangnya najis, lha kok sekarang kecanduan.

Ah, aku sungguh bangga sama diriku.

Joget-joget lalu divideoin dan ditonton banyak orang. Kurang nekad apa coba?

Saat di rumah melulu, aku mencoba keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal baru yang nggak pernah terbersit dibenakku sama sekali.

Buatku yang introvert akut, ini sebuah prestasi.

Gimana dengan kalian? Adakah hal baru yang dicoba saat corona melanda?