Kemarin, akhirnya khatam juga, setelah beberapa minggu saya mantengin serial sitcom Unbreakable Kimmy Schmidt.

Serial ini tayang di Netflix tahun 2015, saya sih baru nonton tahun 2020. Ceritanya rada jayus sih.
Kimmy ini korban sekte sesat. Saat berumur 15 tahun, dia diculik dan tinggal di bunker bersama 3 wanita lainnya. Ketika si pelaku tertangkap, mereka kemudian diwawancara di sebuah stasiun tv di New York.
Setelah syuting, 3 wanita tersebut pulang ke Indiana, hanya Kimmy yang ogah balik dan memutuskan untuk menetap di New York.
Kebayang nggak sih, setelah bertahun-tahun hidup di bunker lalu mendadak tinggal di New York?

Dengan segala keluguan, kemiskinan dan kegaptekannya membuat kisahnya lucu banget untuk ditonton.
Kimmy tinggal dengan Titus, seorang pria gay yang berambisi menjadi aktor terkenal.

Titus sangat realistis dan membuat Kimmy membuka mata, bahwa hidup di New York itu tidak mudah.

Bahkan untuk Jacqueline, wanita kaya yang mempekerjakan Kimmy sebagai pengasuh anak-anaknya.

Di sitcom ini ga ada adegan hidup santai seperti serial Friends, dimana Rachel, Ross dkk sering banget nongkrong di sofa empuk sambil ngopi cantik di Central Perk.
Di season 1 dan 2, ceritanya asik banget, saya tekun mengikuti perjuangan Kimmy dkk menaklukkan New York.

Di season 3, yang nulis skenario makin liar dan seenaknya. Ceritanya makin absurd dan bikin keki. Kalau saya nonton sambil makan kacang, pasti udah lecet-lecet layarnya saya lemparin pake kulit kacang.
Di season 4 yang merupakan season terakhir, ceritanya makin mengada-ada. Saya ngakak makin keras di season ini. Yang bikin skenario kayaknya makin edan (atau stres?) saat nulis untuk season 4. Banyak dialog-dialog yang haduh, plis, dong ah. Jayusnya udah maksimal nih.
Ceritanya juga makin banyak aroma politis yang bikin ngakak.

Bahkan ada sebuah adegan saat Kimmy satu pesawat dengan Trump (yang tentu saja palsu). Guyonan Amerika yang khas banget.

Secara keseluruhan, saya terhibur banget dengan guyonannya.











