Mencicipi Youtube

Saat akhir pekan yang lalu, saya yang mati gaya nggak tahu mau ngapain, akhirnya kurang kerjaan bikin channel youtube.

Setelah klik sana-sini, baru deh mulai nyoba bikin video sederhana. Namanya juga siaran percobaan, jadi saya males bermake up ria, akhirnya cuma kedengaran suara dan kelihatan tangan doang,

Bikinnya pun cuma pakai handphone, tripod dan cahaya matahari. Udah, gitu doang. Lalu diedit pake aplikasi Inshot, kasih suara, teks, lalu jadi deh.

Kemudian meraba-raba Youtube, yang ternyata nggak susah upload. Lebih ribet publish blog deh kayaknya wkwk. Sampe membuat saya berpikir, yaelaa kenapa nggak dari dulu aja bikin vlog?

Setelah publish, krik.. krikk.. krikkk.. ga ada yang nonton dong. Yaiyalaaah, baru netes gitu.

Setelah publish satu video, baru deh saya menyadari bahwa jadi youtuber tuh nggak mudah.

Gitu banyak bocah-bocah cilik cita-citanya jadi youtuber, belum paham mereka kalau rebyek banget bikinnya.

Mikirin backdrop, lighting, dan hal-hal teknis. Belum lagi kalau cewek kudu pake make up, milih baju yang oke. Lalu yang terpenting nyiapin kontennya, trus mikir story boardnya.

Belum lagi ntar kalau udah tayang, mental kudu kuat menghadapi komentar netizen maha benar.

Duh, ngeblog ternyata enak yaaa, tinggal nulis doang, bisa dari handphone dan sambil rebahan. Gitu aja kita-kita kadang update blog, kadang dibiarin lama terlantar. Eh, kok kita? Saya keleusss..

Nonton Serial Friends

Sebetulnya ini postingan lawas yang saya edit lagi. Saat itu pengen nulis tentang friends, tapi lagi butek saking banyaknya yang mau ditulis. Akhirnya poin-poinnya doang yang tertulis.

Baiklah, berhubung saat ini lagi janjian nunggu seseorang, jadi daripada ngelamun ga jelas atau ngabisin kuota untuk browsing yang juga ga ngerti mau buka apalagi, mending edit ini lagi.

Beberapa minggu yang lalu, saat saya upload quote dari serial friends di WA stories, sahabat saya sewaktu SMP, langsung chat saya.

Dia bilang, dia nonton lagi serial Friends dari season 1 sampai tamat. Wah! Happy banget saya, akhirnya kami ngobrolin serial ini sambil nostalgia.

Saat menonton serial Friends ini lagi, saya baru mudeng, bahwa ternyata Ross berpisah dengan istrinya krn ketahuan kalau penyuka sesama jenis. Teman saya juga baru nyadar saat nonton ulang.

Ya ga papa juga sih. Tapi di tahun 90-an, masih jarang orang Indonesia bahas ini karena tabu. Saking tabunya, kami tidak menyadari kalau isu tersebut ada di serial ini.

Yang menarik adalah, saat kami berdua baru menyadari setelah nonton lagi diusia 40 tuh, ternyata Friends ini hidupnya bebas banget. Gonta-ganti pacar dan sebagainya.

Saat remaja, perspektif saya saat itu cuma, wow, asik ya, kerja dan tinggal di NY bersama teman-teman. Maklum, masih polos saya hahaha.

Jadi asik aja gitu nonton serial ini lagi dengan sudut pandang yang sudah berbeda.

Padahal ini lika-liku kehidupan dari kekanakan sampai jadi bijak. Dari yang karirnya nol sampai sukses. Dari jomblo ngenes sampai akhirnya dapet jodoh.

Rasanya nonton ini seru banget. Relate banget sama hidup kami. Serasa ngaca, mengamati hidup yang dulunya semau gue, enak-enakan, bertumbuh, jadi dewasa dan bertanggung jawab.

Oh ya, mungkin milenial sekarang agak terkejut kalau nonton ini, karena banyak banget guyonan yang mengarah ke body shamming, rasis, dan sekitarnya.

Yang sebetulnya di tahun 90-an tuh lucu-lucu aja. Tapi kalau hari ini, udah tergolong sensitif. Ya, jamannya juga udah beda kan ya.

Bahkan sitcom ini bisa dibilang bener-bener putih. Dari keseluruhan season, cuma ada 1 orang kulit hitam yang muncul. Saya lupa namanya, yang jadi pacarnya Ross deh.

Ross merupakan favorit temen saya. Katanya dia sangat ekspresif, mimik mukanya gemesin.

Kalau saya dulu suka Joey, karena lucu dan ganteng. Tapi saat menonton di usia segini, favorit saya Phoebie.

Karakternya unik. Background hidupnya sebetulnya menyedihkan tapi tampaknya dia nggak peduli dan ngerasa happy-happy aja.

Saya banyak nonton sitcom, tapi sampai detik ini Friends masih tetep ranking 1 di hati saya.

Di balik Kartu Tarot

Saya punya mainan baru, sebuah kartu tarot. Yay! Ini adalah kartu ketiga saya. Penampakannya seperti ini :

Lihatlah, lucu banget kan yaaa

Berhubung saya males motret, jadi saya nyomot foto kartunya aja dari instagram.

Sebetulnya saya beli ini bukan karena saya pembaca tarot, anak indigo, psikolog atau pemain sulap.

Kartu tarot ini selera saya banget deh. Seru banget ngeliat ilustrasinya yang didominasi dengan warna-warni ceria.

Selain itu karena belakangan saya juga suka sama si tukang gambar yang satu ini.

Tampan dan bisa nggambar adalah sesuatu..

Seperti 2 buah kartu yang saya miliki sebelumnya, keputusan saya untuk memiliki tarot deck itu hanya karena saya suka ilustratornya. Titik.

Ada kesenangan tersendiri saat menikmati ide dan konsepnya mendesain 78 kartu. Dan karena yang dibikin adalah kartu tarot, maka ada banyak perspektif yang bisa saya lihat dalam sebuah kartu.

Itu hiburan yang menyenangkan bagi saya saat memandangi satu persatu. Ya kalau saya sih ngelihatnya kayak lagi lihat lukisan aja.

Lagi pula 78 buah kartu dengan aneka ilustrasi adalah murah meriah untuk saya yang bukan sobat tajir ini.

Ya maksudnya lebih terjangkau daripada beli lukisan yang puluhan atau ratusan juta wkwk.

Walaupun begitu, saya juga tahu makna tiap kartu. Cuma saya abaikan karena itu kayak text book gitu, saya lebih suka menafsirkan sesuai pandangan saya.

Balik lagi ke tarot terbaru saya. Illustrator yang bikin ini namanya Ricardo Cavolo, cowok Spanyol kelahiran 1982. Awalnya dia bekerja untuk beberapa biro iklan, namun Cavolo akhirnya bikin studio seni.

Dia juga dikenal sebagai pembuat mural. Banyak banget karyanya yang bertebaran di seluruh dunia.

Ini salah satunya.

Kalau ngepoin instagramnya, dia banyak kerjasama dengan beberapa brand terkenal :

Desain sepatu untuk Bally
Mug keren untuk Starbucks
Jeans untuk Zara

Selain itu, dia juga bikin beberapa cover buku dengan ilustrasi keren yang khas banget.

Tattonya juga lucu ya.

Nggak hanya mendesain cover buku, dia juga bikin cover CD.

Bahkan dia merambah ke dunia interior dengan sentuhan mural-mural yang menggemaskan.

Terbayang serunya ‘nongkrong’ sambil mandangin ini.

Nggak ketinggalan, doi meramaikan dunia arsitektur juga.

Jadi jangan bayangin bahwa koleksi tarot saya berbau mistis, dengan aroma dupa dan sebagainya. Karena cara pandang saya yang memang beda dengan tarot reader beneran.

Gitu lho gaesss..

Belanja Online

Dalam rangka mengendalikan napsu belanja online, mulai tahun saya bikin jadwal belanja.

Checkout tanggal 9, 18, 27.

Dah, gitu aja deh.

Jadi sebulan 3x aja. Biar nggak terlalu sering beli barang-barang receh yang nggak penting-penting amat.

Kalau saya renungi, kemudahan berbelanja online itu terkadang berbahaya bagi rekening saya.

Beberapa kali saya mengamati, isi dompet saya lebih awet daripada rekening.

Online-online selain market place kayak top up gojek, e-toll dan sebagainya bikin nggak terasa tahu-tahu lho kok udah ludes aja sih. Kzl kan.

Semoga (uh, apakah ini resolusi?) dengan bikin jadwal, menjadikan diri ini berpikir panjang dan tidak grusa-grusu checkout.

Inget nasehat Cak Nun :

Anda tidak boleh sujud kepada nafsu, tapi nafsu harus sujud kepada anda.

Baiklah, markicob.

* Photo by cottonbro from Pexels

British English vs American English

Bahasa inggris selalu jadi “love and hate relationship” dalam hidup saya yang penuh drama ini.

Rasanya bahasa saya tuh campur-campur dan jadinya amburadul.

Sebetulnya selama ini saya belajar British english atau American english sih? Jangan-jangan itu salah satu faktor yang bikin saya sering dilanda kebingungan.

Berbekal rasa penasirun akan perasaan ga jelas ini, akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan di Quora. Ini saya copy paste aja :

“Mereka yang cenderung belajar secara formal dan non formal lewat sekolah dan les, akan cenderung menggunakan British English.

Mereka yang cenderung belajar informal lewat film, lagu, siaran TV, dan media massa lain, akan cenderung menggunakan American English.”

Ada lagi,

“Inggris British secara akademik mungkin akan lebih banyak terpakai. Karena akademisi banyak yang lebih menggunakan inggris british ketimbang inggris amerika.

Tapi untuk conversation dan influence secara global, bahasa inggris amerika lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.”

Komentar lain,

“Sebenarnya bahasa Inggris yang diajarkan di Indonesia itu cukup aneh.

Kita cenderung diajarkan American English, tetapi kita lebih akrab akan istilah-istilah British English dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan istilah-istilah American English.

Coba deh, saya yakin Anda tidak asing dengan istilah-istilah ini: aluminium, flyover, takeaway, biscuit, zebra-cross, queue plaster, lift, car park, sellotape, coolbox.

Nah, istilah-istilah tersebut hanya terdapat dapat kalian dengar di British English karena istilah-istilah tersebut sudah usang atau jarang digunakan di American English.

Istilah yang digunakan di Amerika Serikat untuk istilah-istilah tersebut adalah aluminum, overpass, takeout, cookie, cross-walk, line, band-aid, elevator, parking lot, scotch tape, cooler. Aneh ya?“

Pendapat lain,

“Orang Indonesia cenderung berkiblat kepada American English dalam hal pengucapan.

Saya merasa hal ini karena masih banyaknya tenaga pengajar bahasa Inggris yang masih kurang memahami secara mendalam mengenai perbedaan antara American English dan British English (Received Pronunciation).

Hal ini membuat mereka mengajarkan bahasa Inggris yang lebih “mendunia”. Oleh karena itu, American English yang jelas lebih populerlah yang akan diajarkan.

American English lebih populer dibandingkan dengan British English karena budaya pop di dunia hiburan didominasi oleh budaya Amerika Serikat.

Selain itu, budaya internet pun juga sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika Serikat. Entah itu melalui memes, konten-konten di youtube, atau tren-tren di Twitter atau Instagram.”

Komentar berikutnya,

Menurut saya, rhoticity juga menjadi salah satu penyebab American English lebih populer dibandingkan dengan British English.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki huruf r yang bergetar (alveolar trill).

Hal ini tentu saja membuat orang Indonesia akan “lebih kaget” ketika mempelajari British English karena selain harus mempelajari konsonan ɹ dan ɹ̠ (alveolar/postalveolar approximant), mereka juga harus mempelajari “r” mana yang boleh dan tidak boleh dibunyikan.”

Pendapat lain,

American Dream !

Amerika Serikat dengan segala kekurangannya tetaplah menjadi negara favorit bagi para imigran untuk mengadu nasib, mencari keberuntungan, dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah populasi orang Indonesia perantauan nomor lima di dunia.

Jadi, kalau Anda mau merasakan tinggal di Amerika Serikat, maka Anda harus mempelajari American English.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa lebih populernya American English dibandingkan dengan British English disebabkan karena budaya di Indonesia yang tidak bisa lepas dari Americanism, serta American Dream yang menjadi impian (dapat dikatakan) seluruh orang Indonesia.

Satu lagi,

“Sepertinya lebih sering digunakan Bahasa Inggris Amerika. Tapi tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengerti perbedaan keduanya.

Tapi menurut saya, kita juga mengikuti konvensi Indonesia sendiri selain kedua itu.

Saya lebih yakin kita menggunakan lift bukan karena seperti itu di Bahasa Inggris Britania, tapi karena kita memang menyebutnya “lift”.

Begitu juga dengan first floor dan ATM; mereka bukan dipakai karena berasal dari Bahasa Inggris Amerika, tapi karena di Bahasa Indonesia mereka lebih bermakna (lantai satu itu lantai dasar, kan?; ATM kan Anjungan Tunai Mandiri).

Jika kita terus menggunakan konvensi Indonesia ke Bahasa Inggris yang kita gunakan, mungkin kita akan membuat dialek Bahasa Inggris baru, Bahasa Inggris Indonesia.

Sebenarnya ini sudah ada namun tidak begitu populer; di Microsoft Word ada pilihan untuk English (Indonesia).

Entah saya juga tidak mengerti bagaimana bisa ada pilihan Bahasa Inggris (Indonesia).

Jadi setelah merenung dalam-dalam, saya ingin menyudahi kebingungan saya yang nggak jelas ini.

Jadi, mulai awal bulan kemarin, saya mulai fokus pake american english aja, dengan beberapa alasan personal yang tidak bisa saya beberkan disini. *halah*

Harry Potter, minggir dulu gih.