Baca ebook ini lewat Libby. Judulnya bikin penasaran, cerita tentang toko musik sepertinya seru, mengingat Dicstarra dan sejenisnya udah punah ditelan jaman.

Bercerita tentang Frank, pria muda 20 tahun pemilik The Music Shop. Setelah kematian ibunya, Peg. Ia menjual mobilnya lalu membeli sebuah toko mungil di gang buntu Unity Street. Frank memulai bisnisnya diawali dengan menjual seluruh vinyl koleksinya yang bejibun, dibantu dengan 2 orang pegawai, Kit dan Maud.
Saat itu tahun 1985, tak jauh dari situ ada toko kaset Woolworth’s. Namun ia tak tertarik menjual kaset, menurutnya tidak ada keindahan dari kaset, baginya vinyl lebih menarik. Bagaimana orang bisa tertarik dengan sepotong plastik mengkilap? CD tidak akan bertahan lama seperti halnya kaset. “I don’t care what anyone tells me. The future’s vinyl,” he said.
Suatu hari seorang wanita jatuh pingsan di depan tokonya. Orang-orang di sekitar mengerumuninya, termasuk Frank. Saat siuman mata wanita dan mata Frank berpandangan. Singkatnya Frank jatuh cinta pada pandangan pertama.
Keesokan harinya wanita tersebut mampir ke toko, ia membawa tanaman kaktus untuk hiasan toko sebagai tanda terima kasih. Basa-basa sejenak dengan Frank, Maud dan Kit, wanita tersebut pun pamit. Ibarat Cinderella yang meninggalkan sepatunya, maka wanita itu meninggalkan tas belanja yang berisi krim.
Kit yang penasaran dengan gadis cantik tersebut memasang beberapa poster barang tertinggal di sekitar Unity Street. Namanya juga toko di gang buntu, pemilik toko-toko mungil di dalam gang kepo, kok sampai segitu amat effort pasang poster barang tertinggal.
Alhamdulillah ya pemirsa, beberapa hari kemudian wanita tersebut membacanya di dekat halte. Ia terharu, padahal isi tasnya tidak terlalu penting kok toko ini peduli pada pelanggan. Saat mengambil barangnya ke toko tak lupa ia memperkenalkan dirinya. Namanya Ilse Brauchmann, orang Jerman yang sedang tinggal di Inggris.
Sebelum pergi, ia iseng melihat vinyl-vinyl di rak display, Frank bertanya jenis musik kesukaan Ilse, barangkali ia bisa merekomendasikan vinyl yang cocok. Ilse menjawab singkat, “Saya nggak dengerin musik.” Heh? Gimana? Gimana? Gadis secantik ini nggak pernah dengerin musik? Kok bisa? Frank yang penggila musik heran setengah mati. Ini mah red flag banget. Ketika akan meninggalkan toko ia berkata bahwa ia buru-buru karena akan menemui tunangannya. Frank agak kecewa saat mendengarnya dan tidak mau berharap banyak.
Saat nongkrong bareng dengan pemilik toko sekitar, Frank cerita ngalor-ngidul tentang keanehan wanita tersebut. Frank penasaran dengan Ilse yang misterius. Ilse yang aneh juga selalu menggunakan sarung tangan dan tak pernah dilepas, Kit sampai penasaran ada apa dibalik sarung tangannya.
Frank lalu bercerita jika beberapa hari yang lalu Ilse datang lagi ke toko. Ilse yang buta akan pengetahuan musik ingin berguru pada Frank, lalu mereka sepakat janjian di sebuah cafe seminggu sekali.
Father Anthony, mantan pendeta, pemilik kios rohani tertawa,
“She likes you.”
“Who likes me?”
“Ilse Brauchmann.”
Frank tak percaya,
“In case you didn’t hear, she has a fiance. She’s getting married. I don’t know why you all keep going on about her.”
Father Anthony meledek,
“You’re an attractive man and it pains me, the way you in sist on being alone.”
“It’s easier.”
“CDs are easier. You don’t want those.”
Nah lho. Kena deh.
Begitulah setiap minggu mereka bertemu lalu ngobrolin musik. Sudah lebih dari tiga bulan sejak Ilse Brauchmann pingsan di luar toko musik. Frank tidak bertanya mengapa hal itu terjadi, dia tidak bertanya di mana dia tinggal atau di mana dia bekerja. Dia tidak bertanya di mana tunangannya berada, apa pekerjaannya, atau bahkan kapan mereka berencana menikah. Dia tahu sudah tentang tangannya yang selalu menggunakan sarung tangan, dan baginya itu sudah cukup. Selain itu, dia mencintainya. Dia akan selalu mencintainya.
Di sela-sela itu, Frank sedang mengambil pinjaman bank untuk membesarkan tokonya dengan menambah stok vinyl. Saat pesanan vinyl berdatangan, Frank bersama Kit dan Maud membongkarnya. Kit lalu memperlihatkan vinyl Four Season, sebuah album oskestra dengan sampul wajah para pemain musik. “Frank, ini Ilse bukan sih?” Frank lalu mengecek vinyl tersebut dan membaca nama Ilse Brauchmann sebagai pemain violin.
Sialan, ia merasa tertipu. Ternyata gadis cantik itu tidak buta musik. Lalu mengapa ia rela membayar mahal untuk kursus kepada Frank?
Seru banget ceritanya. Ternyata Ilse punya rahasia, yang makin lama makin terbuka satu-persatu. Cerita berakhir di tahun 2009, saat udah jaman media sosial dan toko CD satu persatu mulai tutup.
Selain ceritanya yang hangat dan menyenangkan, bertaburan juga lagu-lagu yang disebutkan di buku ini.
- Oh No Not My Baby – Aretha Franklin
- Concerto for Two Violins in D Minor – Johann Sebastian Bach
- Starman – David Bowie
- Raindrop – Frederic Chopin
- A Night To Remember – Shalamar
- Satin Doll – Duke Ellington
- God Save The Queen – Sex Pistols
- Kind of Blue (album) – Miles Davis
- Stairway to Heaven – Led Zeppelin
- Into The Mystic – Van Morrison
- Ain’t It Funky Now – James Brown
- Monnlight Sonata – Beethoven
- Wild Thing – The Troggs
- Caroline, No – the Beach Boys
- Strange Fruit – Billie Holiday
- Hallelujah – George Frideric Handel
- Time Has Told Me – Nick Drake
- A Day In My Life – The Beatles
Bintang 4/5 untuk ceritanya.
Bintang 5/5 untuk playlistnya.



