
Awalnya saya ogah baca ini. Judulnya aja horor, Setan Van Oyot. Setan anaknya pohon besar? Setan penghuni pohon besar? Begitulah pikiran saya sebelum membaca. Dugaan itu tidak sepenuhnya salah.
Ceritanya sederhana, pohon beringin terbesar di daerah Wlingi, selama bertahun-tahun menjadi tempat sakral orang-orang sekitar untuk berdoa memohon keinginannya. Banyak yang terkabul hajatnya. Tidak heran jika banyak sesajen disekeliling pohon tersebut.
Drama dimulai ketika pohon beringin tersebut akan ditebang dan dijadikan panggung untuk pesta ulang tahun Ratu Belanda. Penduduk pun geger dan menyulut serangkaian peristiwa menegangkan.
Namun, apakah tempat tersebut angker dan ada setannya? Tentu saja ada. Setannya bukan penunggu pohon tersebut. Setannya adalah orang-orang sekitar dengan ambisi, keserakahan, kelicikan dan seabrek sifat setan lainnya.
Menariknya, di novel ini karakter orang-orang Belanda dan Tionghoa tidak digambarkan jahat atau culas. Yang kelakuannya kayak setan malah kaum pribuminya.
Ada rencana diam-diam pemberontakan dari Madiun, intrik perempuan pribumi yang berambisi jadi nyonya Belanda, kelakuan sinder pribumi yang doyan korupsi dengan istrinya yang hobi judi, detektif partikelir yang misterius dan sok tau.
Semua terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta dan tragedi. Walaupun di sampul depan bertuliskan “Sebuah Roman Picisan”, jangan berharap ada cerita cinta yang mendayu-dayu. Kan sebel udah saling merayu tapi kaga ada yang jadian.
Dalam novel ini juga bertaburan kekayaan bahasa. Dialog-dialog dengan bahasa Belanda, Jawa kromo, Jawa ngoko, Madura, yang membuat ceritanya semakin hidup.
Sepanjang baca saya terkesan dengan tokoh-tokohnya. Mereka semua punya karakter yang kuat. Kesamaannya mereka, semua punya kelakuan yang konyol. Mengingatkan saya dengan Srimulat, bahkan guyonannya pun Srimulat banget. Jadul.
Endingnya kurang memuaskan batin saya. Pengennya yang romantis menye-menye dan happy ending gitu. Tapi ternyata, ah sudahlah.






