Setiap hari saat jalan pagi, saya punya kebiasaan mendengarkan lagu dari satu album band/penyanyi.
Saya nggak terlalu demen dengerin lagu secara random. Karena saat jalan pagi, lebih enak menghayati materi album secara utuh. Jadi ketahuan konsep keseluruhan album gitu deh.
Nah, album Madonna yang ini, yang paling lama bertengger dalam playlist saya. Sempet gonta-ganti, namun ujung-ujungnya balik lagi dengerin ini. Karena, sumpah enak. Kalian musti dengerin Madonna berbalada ria.
Untuk sebuah album lawas, musiknya masih kedengeran enak lho buat didengerin di tahun 2024. Lirik-liriknya juga dasyat.
Kecintaan saya sama album ini persis sama judulnya, something to remember deh.
Wah, ini gila banget. Kenapa saya telat banget baca buku ini. Kalimatnya indah banget, baca ini rasanya kayak kesirep masuk ke dalam buku dan melebur ke dalam ceritanya.
15 tahun tinggal di perumahan, akhirnya pertahanan saya runtuh juga.
Setelah bertahun-tahun ngeles dan punya sejuta alasan untuk tidak ikut arisan PKK, akhirnya bulan kemarin saya putuskan untuk ikutan.
Bukannya sombong atau nggak mau kenal tetangga. Saya kenal banyak orang di sekitar rumah saya. Namun untuk ikut arisan PKK, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang-nimbang.
“Nah, gitu dong bu.” “Akhirnya bu F ikut juga.” Dan komentar-komentar riuh di grup WA ramai menyambut kehadiran saya.
Sejujurnya saya tipikal orang yang sulit untuk berkomitmen. Namun kalau sudah memutuskan untuk berkomitmen, saya akan bertahan mati-matian.
Maka dari itulah saya sangat selektif untuk masuk organisasi, gank ini itulah, bahkan untuk pacaran aja, saya butuh waktu untuk berpikir lama.
Karena kalau udah nyemplung, untuk keluar dari situ butuh strategi mikir ini itu lagi, yang pastinya bakal bikin lelah lahir batin.
Okee, oke. Saya rada cemen untuk terikat pada sesuatu.
Pernikahan komitmennya seumur hidup, susah senang ya ikhlas aja menjalaninya.
Namun beda lagi kalau arisan PKK. Begitu berada di lingkunan tersebut, saya musti siap berkomitmen dengan durasi yang seiring dengan durasi pernikahan. Masalahnya saya nggak pernah siap.
Saya ngeri kalau di awal pindah rumah udah gabung PKK, kalau nggak cocok sama si A, B, C gimana? Mau cabut dari arisan PKK tidak semudah itu. Ntar menimbulkan gosip-gosip tetangga.
Pokoknya pikiran saya tuh super drama membayangkan yang pahit getir.
Jadi selama 15 tahun tinggal di perumahan ini, saya kenali dulu satu persatu tetangga-tetangga tersebut, sampai hati saya merasa sreg dan bisa jadi satu circle.
Baiklah, mari kita awali komitmen baru ini dengan semangat dan doa.
Hyeon, gadis berusia 18 tahun, terlahir sebagai anak haram dari Menteri Kehakiman di Joseon dengan seorang selir.
Anak haram pada masa itu hanya punya sedikit pilihan hidup, terutama untuk anak perempuan. Namun berkat kerja keras dan tekun belajar, Hyeon, berhasil menjadi perawat di istana.
Sepanjang hidupnya, Hyeon selalu berharap sang ayah mau mengakui dirinya sebagai anak dengan membuat ayahnya bangga sebagai perawat istana.
Pada suatu malam empat wanita ditemukan tewas. 3 diantaranya perawat dan seorang dayang. Polisi lalu menahan perawat Jeoungsu yang menjadi tersangka pembunuhan.
Hyeon yakin bahwa perawat Jeoungsu tidak bersalah, ia kemudian mencari bukti untuk menyelamatkan gurunya. Pencarian Hyeon membawanya bertemu dengan Inspektur muda tampan bernama Seo Eojin.
Sementara itu diluar banyak selebaran gelap yang menuliskan bahwa pembunuhnya adalah Putra Mahkota, Pangeran Jangheon.
Penyelidikannya membuatnya terjerumus ke dalam politik istana yang kelam dan berbahaya. Ayahnya yang mengetahui gerak-gerik Hyeon menegur dan mengungkapkan kekecewaan padanya.
Yang menarik dari novel ini ternyata dibuat berdasarkan sejarah tragis kisah Putra Mahkota Jangheon, yang dianggap sebagai tragedi terbesar dalam dinasti Joseon.
Dalam novel diceritakan bahwa beliau adalah anak Raja yang tertekan secara mental. Sejarah menyebut bahwa Putra Mahkota banyak melakukan kekerasan dan membunuh lebih dari 100 orang.
Jadi, benarkah kabar burung itu yang menuduh Putra Mahkota membunuh perawat-perawat dan dayang? Baca sendiri dong.
Sebagai novel ceritanya lumayan komplit. Ada unsur sejarah, misteri, romance, yang komposisinya pas dan nikmat untuk dibaca.
Saya tuh termasuk jarang nonton film, namun berusaha untuk punya tontonan tetap di Netflix. Baru-baru ini saya berhasil menamatkan serial Ripley.
Series ini dibuat berdasarkan salah satu film kesukaan saya jaman kuliah dulu, judulnya The Talented Mr Ripley.
Karena dulu setelah nonton Mr Ripley itu, Matt Damon langsung menjadi ranking 1 dalam urutan aktor terbaik versi saya.
Bahkan Jude Law yang saat itu sedang di puncak ketampanannya, tidak saya lirik. Mainnya kebanting jauh daripada Matt Damon.
Jadi saat dibuat seriesnya, lumayan penasaran juga, apakah Andrew Scott mainnya sebagus Matt Damon?
Baiklah, ini spoiler. Ya tentu kudu spoiler dong, karena kalo nggak spoiler saya bingung mau ngetik apaan.
Kisah dimulai saat seorang detektif menemui Tom Ripley dan ia menyuruh Tom untuk menemui Mr. Herbert Greenleaf.
Rupanya Mr. Greenleaf mengira Tom adalah teman anaknya yang bernama Dickie.
Bapaknya Dickie ini mengeluh, anaknya di Italy luntang-lantung nggak jelas dan disuruh balik New York nggak mau.
Dengan imbalan uang dan perjalanan ke Italy, Tom disuruh membujuk Dickie untuk pulang dan ikut terjun dalam bisnis bapaknya yang tajir itu. Tanpa pikir panjang, dengan sat-set Tom langsung menyikat kesempatan emas itu.
“Tentu saja aku berteman akrab dengan Dickie, jangan kuatir, akan kubawa pulang dia nanti”. Begitulah kibulan si Tom. Padahal mukanya Dickie aja si Tom nggak tahu.
Singkat kata, Tom akhirnya sampai di Italy dan berhasil ketemu si Dickie.
“Ogah ah balik, enakan di sini. Hidup bebas, bisa ngelukis dan pacaran.”
Misi pun gatot. Gagal total.
Dickie yang baik hati itu menawarkan Tom untuk menginap di villa. Hari pun berganti, sampe udah dua bulan-an kali ya (lupa), Tom masih aja numpang di villanya Dickie dan nggak balik-balik. Marge, pacarnya Dickie pun gerah.
“Nih anak kok nggelibet aja disini, kayak kabel setrikaan. Suruh pulang gih, malesin banget liat dia.”
Berdua mereka berembuk untuk bikin strategi supaya Tom enyah dari sini. Singkat cerita, Dickie mengajak Tom keluar kota. Misinya, supaya Tom nggak ikut balik, biar di kota itu aja.
Supaya Tom nggak tersinggung, Dickie ngajak ngobrol dari hati ke hati sambil naik perahu berdua. Singkat kata, mereka berantem dan Tom akhirnya memukul Dickie sampai tewas di perahu.
Sebelum menenggelamkan Dickie dengan perahu, identitas Dickie (jam tangan, cincin) ditukar dengan punyanya Tom.
Dalam benaknya, “Oke, Tom udah ko’it, mati, tamat riwayatnya. Sekarang aku punya identitas baru, aku akan jadi Dickie yang baru. Toh, siapa juga yang ngenalin, wong ini di Italy.”
Begitulah. Tom kini jadi Dickie.
Foto di paspornya Dickie diganti fotonya dia, tanda tangan Dickie pun dipalsu untuk mencairkan buku cek milik Dickie yang nilainya besar.
Dickie yang baru menjadi OKB, orang kaya baru. Ia pun pindah kota, tinggal di hotel mewah sampai memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen yang luar biasa keren interiornya.
Sudah ah, males ngetik. Capek.
Yang pasti aku lebih suka yang ini daripada yang versi film. Matt Damon, maafkan aku yang sekarang. Posisimu udah tergeser si Andrew.
Suer deh, yang ini lebih keren ceritanya. si Tom minim banget dialognya, lebih banyak main-main dengan ekspresi datarnya yang bikin geregetan itu.
Yang jadi Marge mainnya juga keren. Kok bisa ya akting dengan ekspresi curiga dan sinis namun tetep terlihat anggun tanpa banyak kata?
Gambarnya OMG. Suka banget, hitam putih yang estetik. Ah, susah nulis mendeskripsikan dengan kata-kata. Okelah pokoknya.
Oh ya, setelah nonton ini, saya jadi pengen punya fountain pen alias pena yang runcing. Banyak sekali adegan yang memperlihatkan Tom yang menanda-tangani cek dengan tanda tangan Dickie yang dipalsu.