Nonton Netflix Gaya Lawas

Suatu pagi saat sedang jalan kaki menuju lapangan, saya merenung, kok tahun ini hampir tidak pernah nonton film dan buka Netflix. Sayang dong udah bayar langganan kok dianggurin aja.

Beberapa tahun ini dengan hadirnya Netflix dan semacamnya, membuat banyak orang cenderung nonton serial secara marathon. Saya juga cenderung ikut arus bermarathon ria.

Namun kali ini saya mencoba untuk balik ke gaya lama. Back to 90’s. Back to Orde Baru.

Lalu saya mengingat-ingat memori tahun 90-an, saat saya masih suka nonton televisi. Kala itu saya setiap malam saya selalu duduk manis di depan TV.

Kemudian saya berpikir, musti ada waktu khusus untuk menonton film nih. Kudu ada jadwalnya. Saya merenung, jam berapa ya yang pas untuk nonton film?

Kemudian teringat tontonan wajib saya dulu. Jam 19.30 sampai 20.00 nonton sitcom, seperti Who’s The Boss. Lalu lanjut serial action / drama dengan durasi 1 jam, seperti MacGyver dll.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan :
Sehari cukup nonton 2 film. 30 menit nonton sitcom / yang ringan-ringan aja dan 1 jam nonton drama / yang rada serius.

Bergegas saya menyusun jadwal dari Senin sampai Sabtu. Udah berasa kayak punya stasiun TV aja nih, nentuin tontonan yang oke.

Saya pilih 6 serial komedi dan 6 serial drama.

Jadinya seperti ini :

Kini sudah berjalan sebulan saya menggunakan jadwal nonton. Ternyata berhasil. Tiap malam menjelang jam 19.30 saya excited untuk mulai nonton sampai jam 21.00, lalu tidur.

Saya berhenti marathon untuk langsung membabat habis tontonan dan mulai ditimit-timit jadi seminggu sekali nontonnya. Saya pikir trik ini bisa menghindarkan saya dari rasa jenuh.

Manfaatnya, ternyata juga bisa melatih saya untuk lebih sabar menahan diri untuk episode selanjutnya. Kudu break dulu, nunggu seminggu kedepan. Sumprit deh, ternyata trik nonton seperti ini jauh lebih nikmat dibanding marathon.

Oh ya, hari minggu jaman dulu adalah hari nonton film kartun. Saat nulis ini baru terpikir, sepertinya perlu juga menjadwalkan jam khusus untuk nonton 2 film kartun. Kartun model barat dan timur. Hmm.. baiklah, saya sudahi nulis blog ini dan meluncur untuk mengubek-ngubek kartun yang seru di Netflux.

Koala Kumal

Adik-adik saya penggemar Raditya Dika. Saya masih ingat ketika kami bertiga dalam perjalanan di pesawat, adik saya membawa bukunya Raditya Dika yang saat itu baru terbit. Lalu iseng saya baca.

Saya lupa judul bukunya apa, yang saya ingat, saat di pesawat itu bolak-balik saya tertawa ngakak sampe nangis, sampai beberapa kali adik saya menyikut saya, sambil bilang, “Husss, berisik.”

Memori saya tentang Raditya Dika : betapa lucu tulisannya dengan gaya bercerita yang penuh kejutan dan bikin ngakak.

Momen itu udah lebih dari 10 tahun yang lalu, jadi minggu ini saya putuskan untuk baca Koala Kumal, sekalian ngetes, apakah saya masih bisa ketawa ngakak juga.

Koala Kumal ternyata kumpulan cerita keseharian Dika yang berkaitan dengan patah hati. Patah hati tidak selalu karena asmara, ada persahabatan, pertemanan, bahkan pekerjaan.

Walaupun kisah-kisah yang dituliskan di buku ini hampir semua membahas tentang kisah kegagalan dan kesedihan, Dika bisa menulis tragedi yang bikin ngakak.

Saat baca saya jadi terinspirasi dengan cara berceritanya Raditya Dika. Bisa jadi contoh untuk menulis diary dengan menarik.

Dika bisa menulis kisah sehari-hari dengan teknik menulis yang baik, ada konfliks, penyelesaian cerita dan tentunya renungan. Kadang saking serunya serasa sedang baca fiksi, padahal seluruhnya kisah nyata yang berbalut komedi.

Cerita-cerita tentang kegagalan dan patah hati yang ditulis diceritakan dengan menarik, nggak membosankan dan membuat saya pengen baca terus menerus tanpa henti.

Pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai contoh, bagaimana caranya menikmati hidup keseharian dengan perasaan yang jujur.

Banyak orang ketika sedang patah hati, pikirannya dipaksakan untuk positif. Yang ada malah makin stres. Kalau sedih ya sedih aja, kalau seneng ya senang aja. Suka dan duka dinikmati aja sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Walaupun penuh dengan kisah lucu, selalu ada hal yang membuat saya merenung saat selesai baca.

Bintang 3/5 untuk buku ini.

Pulang

Udah malem dan sambil nunggu kantuk datang, saya mau ngereview dulu buku ini. Singkat kata, ide ceritanya menarik dengan setting awal Orde Baru di tahun 1968 sampai berakhirnya Orde Baru tahun 1998.

Berkisah tentang Dimas Suryo, wartawan yang sedang ditugaskan untuk meliput berita di luar negeri, mendapat kabar dari tanah air, bahwa baru saja terjadi pembunuhan jendral-jendral di Indonesia. Situasi Indonesia saat itu mencekam, yaiyalah, bayangin aja jendral semua itu abis dibantai.

Situasi tersebut menyebabkan mereka tidak bisa masuk ke Indonesia lagi. Keberadaan Dimas Suryo di luar negeri dicurigai bahwa ia berideologi komunis. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia.

Sejak itu mereka berpindah-pindah di berbagai negara tanpa status yang jelas. Mulai dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendapatkan suaka dan menetap di Perancis.

Setiap tahun Dimas rutin mengajukan visa untuk pulang, namun selalu gagal. Walaupun bertemu jodoh, menikah di Paris sampai punya anak, keinginannya untuk pulang ke Indonesia tidak pernah surut. Begitu terus sampai Lintang, anak perempuannya sudah beranjak dewasa.

Istrinya kadang kesal, “Rumahmu tuh ya dimana istri dan anakmu berada. Lha wong udah berkeluarga kok masih pengen ke Indonesia mulu?” Kira-kira begitulah gerundelan istrinya.

Waktu pun berlalu sampai tahun 1998.

Ketika Lintang, anak perempuannya membuat tugas akhir, dosen pembimbingnya mengusulkan untuk mencoba bikin film dokumenter Indonesia. Dengan malas Lintang mengelak, “Yaelah pak, wong bapakku aja nggak pernah bisa pulang ke Indonesia, otomatis aku juga nggak tau Indonesia itu kayak gimana. Indonesia bagiku udah kayak mitos, dongeng.”

Kira-kira gitu ngomongnya, saya ceritakan pake kalimat saya sendiri, karena males ngubek-ngubek halaman lagi untuk copas kutipan.

Namun dosennya nantangin, “Mosok sih kamu ga penasaran sama tanah air bapakmu?”

Dengan ‘kompor’ si dosen dan dukungan dari pacar gantengnya yang blasteran Prancis – Indonesia, berangkatlah Lintang ke Indonesia.

Terus sebagai anak yang dicurigai sebagai keturunan komunis, gimana dong visanya, kok ujug-ujug bisa masuk? Baca aja sendiri.

Singkat cerita Lintang bisa ke Jakarta dan menginap di rumah adik ayahnya, Om Aji. Saat tinggal dirumah itulah Lintang menyadari bahwa status ayahnya membuat keluarga Om-nya bertahun-tahun menjadi kurang nyaman. Sering diikutin intel, dipanggil, bahkan sepupunya yang diterima bekerja di BUMN menyembunyikan nama keluarganya.

Tidak hanya itu, jaman tahun segitu kalau punya pacar, orang tua merasa lebih tentram jika dapat keluarga PNS / TNI, yang tentunya dijamin bersih dari paham terlarang. Begitu juga dengan keluarga om Aji ini.

Nah, di bab-bab Lintang di Indonesia inilah pemikiran saya berubah dari yang mau ngasih score 4/5, jadi sebel dan menurunkan nilai jadi 3/5. Karena, buset deh, makin lama kisahnya makin sinetron banget.

Saat Lintang di Jakarta, mustinya ada kesempatan emas untuk mendalami konflik G30S dan situasi Mei 1998 yang mulai panas. Sebaliknya, cerita ini dibumbui dengan kisah asmara Alam dan Lintang yang, plis deh, murahan dan lebay.

Lintang yang sudah punya pacar di Perancis, mendadak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Alam. Laki-laki sok asik, sok jagoan, sok idealis dan gombal abis saat merayu.

Padahal karakter Narayana, kekasihnya di Perancis sana, lebih unggul dalam banyak hal.

Belum lagi tokoh-tokohnya yang terlalu hitam putih. Yang antagonis, jadi jahat banget. Yang protagonis, terlalu baik. Padahal yang namanya orang ya nggak selamanya jahatlah. Mendadak ceritanya jadi norak dan sinetron sekali.

Saya juga rada terganggu dengan ceritanya yang terlalu banyak memberitahu, jadi kesannya kaku dan serasa baca buku sejarah. Walhasil malah membuat saya jadi sulit berempati dengan tokoh dan ceritanya.

Secara keseluruhan buku ini perlu untuk dibaca generasi muda, banyak pengetahuan yang saya dapatkan setelah membaca novel ini.

Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng adalah penari.
Dukuh Paruk adalah nama kampungnya.
Jadi buku ini bercerita tentang seorang penari di sebuah tempat terpencil bernama Dukuh Paruk.

Ketika muncul film Sang Penari yang diambil dari buku ini, saya menahan diri untuk tidak menonton filmnya sebelum membaca bukunya terlebih dahulu, walaupun yang main aktor kesukaan saya, Oka Antara.

Baru deh tahun ini kesampaian baca bukunya. Entah apa yang membuat saya selalu menunda-nunda baca buku ini. Mungkin karena trailer film yang pahit dan menyedihkan itu membuat saya musti mencari mood yang pas dulu, supaya mental tidak terguncang. Aposeeh..

Novel dengan sampul oranye ini ternyata 3 buku yang digabung menjadi 1 : Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Sementara saya baca versi terbitan lawasnya, yang pertama.

Cerita dibuka dengan setting tahun 50-60’an. Namun serasa pulau Jawa tahun 20-an, karena Dukuh Paruk lokasinya nyelempit tidak terdeteksi dengan kemajuan jaman.

Sehingga suasana terbelakang, alam yang gersang, kemelaratan, kebodohan, perilaku yang rada primitif, norma yang longgar, kegiatan mistis dan percaya pada tahayul masih kental.

Saya bisa membayangkan keberadaan desa tersebut dengan mudah, sampai terbayang seluk-beluknya, serasa ikutan tinggal di sana. Bahkan saya bisa merasakan angin yang panas dan menginjak tanah kering yang gersang. Tohari jago banget mendongeng.

Bercerita tentang Rasus, anak laki-laki yatim piatu yang tinggal di Dukuh Paruk. Sejak kecil Rasus menyukai Srintil, anak perempuan sebaya yang juga yatim piatu. Mereka sering bermain bersama. Kadang Srintil menari lalu Rasus dan 2 temannya mengiringi dengan senandung dari mulutnya.

Beranjak remaja Srintil terpilih menjadi Ronggeng.

Srintil melakukan semuanya dengan kesadaran penuh dan bangga. Singkatnya dia laksana artis di Dukuh Paruk, para wanita memujanya dan pria ingin memetik bunganya.

Ronggeng di Dukuh Paruk bukan sekedar menari diiringi irama musik yang meriah, namun juga berarti rela disawer dan melayani para lelaki yang ingin tidur dengannya. Hanya dia yang bisa menaklukkan banyak lelaki hanya dengan sampur dan lirikan mata nakalnya.

Tak ada yang tabu bagi seorang ronggeng. Tradisinya memang begitu. Saya bacanya kudu tarik napas panjang, biar ga emosi.

Sementara Rasus yang diam-diam mencintainya tidak rela Srintil menjadi obyek pemujaan.

Saat Rasus menginjak remaja, ia mulai mencari jati diri. Rasus keluar dari Dukuh Paruk, bekerja serabutan di pasar, sampai akhirnya menjadi tentara. Jabatan itu diterimanya setelah tanpa sengaja membantu tugas tentara membasmi perampok.

Rasus jarang pulang ke Dukuh Paruk setelah menjadi tentara. Dalam perjalanan hidupnya, ia mulai menyadari bahwa ternyata dunia itu luas dan Srintil nggak oke-oke amat. Namun kadang ada kerinduan dalam dirinya pada kampung halamannya dan pada sosok wanita yang dicintainya.

Ketika rombongan tentara kembali menginjakkan kaki di Dukuh Paruk, Rasus bertemu Srintil lagi yang dulunya masih remaja, kini berubah menjadi wanita dewasa.

Rasus yang sudah jadi tentara pun terlihat wah di mata Srintil. Kini Srintil merasa Rasus sudah sepadan. Dimulailah babak tarik ulur yang seru untuk dibaca.

Buku terbaik yang saya baca tahun ini. Ahmad Tohari dasyat banget diksinya. Pernah baca buku-bukunya yang lain, namun buku ini yang terbaik. Sebuah harta karun yang berharga.

Ending buku pertama memuaskan saya. Baiklah, sebelum nonton filmnya, saya musti baca bagian ke 2 & 3. Ntar saya akan balik lagi kalau udah baca komplit.

Pada Senja Yang Membawamu Pergi

Sering banget lihat buku-bukunya Boy Candra di toko buku yang lumayan banyak, sepertinya cukup produktif dan laris dipasaran, jadi saya putuskan untuk mencoba membaca salah satu bukunya. Pilihan jatuh ke buku ini, random aja sih.

Temanya sederhana, tentang Gian, mahasiwa tingkat akhir yang sedang patah hati dan berjuang untuk move on sembari mengerjakan skripsinya. Bukan selera saya sih buku ini, atau mungkin saya yang ketuaan dan merasa fase yang dilalui Gian cukup receh dan bikin saya bergumam, “Heleh, gak penting.”

Namun jika pembaca diusia remaja sampai 25 tahun, bisa jadi demen sama kisah yang mungkin relate dengan mereka. Bahwa patah hati lalu move on itu tidak mudah. Ditambah lagi quote menye-menye yang bertebaran dan mungkin bikin pembaca terkiwir-kiwir. Sorry, saya enggak kemakan gombalannya.

Yang menarik dari buku ini, saya jadi bisa membayangkan jadi mahasiswa yang kuliah di Padang kayaknya enak. Kalau ngumpul sama temen-temennya main di pantai, naik kereta api, nonton acara budaya, duh lupa namanya, semacam karapan sapi gitu. Saya juga dapet pengetahuan baru tentang jajanan jalanan mahasiswa sana, gak melulu bakso atau cireng. Mohon maaf lupa nama jajanannya dan saya males ngubek-ubek bukunya lagi.

Oh ya, dalam buku ini banyak ilustrasi apik beserta quote di akhir setiap bab. Jadi lumayanlah ada hiburan buat mata.

BIntang 2/5 deh.