Baiklah, sebelum pada nyinyir bahwa saya tipikal yang memandang sesuatu dari casing doang, tanpa memperhatikan isinya. Saya akan jelaskan dipostingan ini.
Jadi begini lho, beberapa tahun yang lalu, novel Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka meledak dipasaran.

Novel dengan sampul inilah yang pertama yang saya tahu. Potret lama seorang perempuan berkebaya yang duduk di kursi jati dengan meja disampingnya.
Tangannya yang diatas paha terlihat sedang menggengam, entah didalam genggamannya sesuatu atau cuma sekedar pose. Dari dalam dirinya keluar banyak kupu-kupu yang berterbangan, seakan-akan itu unsur kecantikan yang memancar keluar dari dalam dirinya.
Di belakangnya terlihat dinding retak dengan bunga liar yang muncul dari dalam retakan itu. Mengibaratkan walau berada di tempat yang buruk, keindahan tetap tumbuh secara alamiah.
Judulnya sungguh menarik, waktu itu saya pikir hmm.. mungkin ini kisah si Cantik yang semua orang disekelilingnya selalu memandang kecantikannya tanpa melihat isi hatinya, dan itu membuatnya terluka.
Begitulah kesimpulan sok tahu saya saat memandang sampul buku ini di toko buku. Namun saat itu hati ini belum tergerak untuk membelinya.
Kenapa? Karena gambar perempuan berkebaya ini tatapan matanya sungguh horor. Saya ngeri membayangkan, gimana kalau saat tengah malam, perempuan ini bangkit dari kursinya lalu loncat keluar dari buku? Hiyy. Ogah.
Jadi saya lupakan buku itu. Saya punya buku-bukunya Eka yang lain. Yang judul ini belum. Sampai pada suatu hari muncullah sampul terbaru dengan format hard cover di bulan Desember 2018.
Harganya juga lebih mahal dibanding sampul sebelumnya. Mungkin karena ini dikemas lebih eksklusif plus embel-embel 20 tahun dan ini sudah cetakan ke 18.

Berbeda dengan sampul sebelumnya, di buku terbaru ini sudah tidak terlihat lagi wajah seram. Berganti dengan pemandangan alam yang cantik dengan dominasi warna hijau kebiruan yang terlihat adem.
Saat dilihat dengan seksama, terlihat bayangan 3 manusia yang tampaknya sedang bertikai. Ternyata adegannya tidak adem, walau bukan adegan panas.
Lalu saya berpikir, ini ada gunung, darat dan lautan. Apakah ini ceritanya tentang alam yang cantik tapi banyak luka di dalamnya? Apakah ini tentang kisah lingkungan hidup?
Begitulah saya menebak-nebak, karena saya masih malas mencari tahu resensinya gimana.
Tapi karena ide sampulnya sangat kontras dengan sampul sebelumnya, maka saya mulai penasaran. Sebetulnya desain sampul mana yang lebih cocok sama isi bukunya? Yang bergambar perempuan ataukah alam?
Mulailah saya mengubek-ubek Google Image. Lalu saya menemukan sampul yang berbeda dari dua desain diatas tadi. Seperti ini :

Ternyata ini cetakan yang pertama di tahun 2002. Penerbitnya masih Akypress, yaitu Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela. Dari Google saya tahu bahwa cetakan kedua dan seterusnya, mulai tahun 2004 diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Sampulnya oke lho, saya suka. Seorang perempuan sedang menunduk dengan baju yang sedikit terbuka di bagian atas dengan latar belakang tempat tidur di balik tirai. Ekspresinya terlihat sedih dan kedua tangannya menyiratkan kegugupan.
Mungkinkah Cantik Itu Luka ceritanya seputar ranjang? Saya menebak-nebak lagi dan mulai bingung, sebetulnya buku ini tentang apa?
Googling lagi dan menemukan sampul yang menurut saya ehmm.. rada norak dan entahlah. Sulit untuk dideskripsikan.

Pemilihan jenis huruf untuk judul Cantik Itu Luka seperti coretan cat semprot Pylox di dinding-dinding jalanan.
Apakah tulisan ala grafiti ini menyiratkan bahwa ini kisah tentang kehidupan dijalanan? Apakah ini kisah anak jalanan kembang metropolitan?
Terlihat gambar wajah perempuan cantik yang dicakar-cakar. Sadis! Siapa yang mencakar? Bahkan lehernya pun ada sayatan bekas cakaran. Jangan-jangan ini kisah pelakor yang mendapatkan cakaran maut dari istri kekasihnya? Saya sibuk menebak-nebak.
Namun kalau diperhatikan lagi dengan seksama, itu tampaknya bukan kuku manusia. Kuku apakah itu? Apakah dia dicakar siluman macan? Jadi itu cakar kuku macan? Duh, mendadak teringat camilan khas Samarinda yang gurih dan asin itu.
Masih penasaran, saya temukan lagi sampul versi lain.

Kali ini menggunakan fotografi dengan model perempuan yang saya tidak tahu, dia cantik atau tidak. Wajahnya nggak terlihat jelas, lebih jelas pahanya. Fotonya sederhana dan minimalis, mengingatkan saya pada cover kaset penyanyi wanita di tahun 90-an.
Lalu, saya bertanya-tanya, ngapain dia rebahan disitu sendirian? Apakah ini novel tentang kisah jomblo ngenes yang kesepian? Jomblo meskipun cantik? Cantik tapi nggak ada yang mau jadi pacarnya? Oh, makin membingungkan.
Di bagian atas buku terdapat embel-embel “Telah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Malaysia.” Sebuah pertanda bahwa buku ini cetakan yang lumayan baru, entah tahun berapa.
Lalu saya googling lagi dan menemukan fakta bahwa Novel Cantik Itu Luka berhasil menjadi buku best-seller yang diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa. Wuih, banyak banget ya.
Diantaranya bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Denmark, Yunani, Korea, dan Tiongkok. Hal ini membuat nama Eka Kurniawan menjadi dikenal di kancah internasional. Hebat juga si Eka ini, pastilah dia bukan remahan rengginang.
Lalu saya temukan ini,

Versi untuk luar negeri. Desainnya lebih cute. Saya suka dengan perpaduan warna biru oranye.
Terlihat ilustrasi seorang perempuan dengan gaun dan kain yang dililit dipinggangnya, nyemplung ke dalam sungai diantara gunung-gunung, dengan tongkat di tangan kanannya.
Tangan kanannya memegang tongkat. Apakah dia pesulap? Apakah yang disulap? Apakah dia menyulap alam disekitarnya? Oh, jangan-jangan dia aktivis lingkungan hidup? Oh, apakah dia menyulap alam sekitar menjadi tempat wisata yang komersil? Masih tanda tanya.
Oh, tunggu dulu. Itu bukan tongkat sulap. Itu tongkat payung. Saya baru nyadar setelah bertanya-tanya apa bentuk bundar berwarna biru muda. Ternyata gadis berpayung. Lalu ngapain dia berpayung padahal tidak sedang hujan? Apa takut kepanasan dan kulitnya jadi gelap? Apakah saking panasnya dia ngadem di sungai?
Saya googling lagi untuk mencari petunjuk lain, lalu saya temukan sampul yang berbeda.

Dari penampakan sampul, tampaknya ini novel yang serius, didominasi pemandangam laut dan dedaunan, seakan-akan menceritakan suasana alam yang sepi dan masih asri.
Di bagian kiri, terlihat sebagian wajah perempuan yang cuma secuprit, pandangannya seperti sedang menatap dari kejauhan. Di atas kepalanya terdapat garis-garis hitam putih, entah apa maksudnya. Saya nggak paham.
Lanjut googling lagi dan saya temukan versi lain.

Versi Russia. Dari sampulnya seperti novel-novel chiclit begini ya? Lebih ngepop. Latar belakang gelap tidak membuat buku ini terlihat dark, karena hadirnya bunga-bunga berwarna kuning neon disekeliling buku, seperti gemerlap di antara gelapnya kehidupan.
Apakah ini versi cantik ala Russia? Wajah cantik dengan maskara luntur yang menyiratkan luka?Plus ekspresi datar dengan mimik muka nggak abis pikir seakan-akan bilang, “Oh, tydack! Yak ampyun! Plis.”
Teman-teman lihat sampul ini, makin ikutan bingung kan? Satu lagi yang saya temukan.

Sampul yang ini konsepnya berbeda dengan yang lain. Saat pertama lihat, kesan pertama saat melihat sampul ini “wuih, cakep. Suka.”
Seperti mengingatkan pada semua orang bahwa bunga khas Indonesia ini memang cantik dan langka, walau aromanya yang busuk mengganggu penciuman. Jadi bunga ini semacam simbol yang menyiratkan Cantik Itu Luka.
Namun, mungkin saja kalau orang pertama kali lihat buku ini tanpa membaca keterangan di belakangnya, akan mengira ini buku non fiksi yang isinya mengupas tanaman langka di dunia.
Lanjut Googling lagi dan saya nemu ini.

Setelah lihat berbagai sampul, saya merasa Ini bukan sampul yang saya suka. Biasa aja.
Terlihat perempuan langsing di balik payung yang terlihat malu-malu tapi posenya genit sok kecakepan dan pengen dilihat.
Lalu terlihat samar-samar gambar wayang. Entah apa dibenak ilustratornya? Perempuan ini terlihat sungguh jepang atau asia timur deh. Lalu terlihat wayang tuh maksudnya aposeh? Ilustratornya kurang riset ah.
Lanjut googling lagi dan saya temukan ini :

Sampulnya semacam novel misteri. Seorang perempuan yang sedang mengintip dari balik daun. Sorot matanya terlihat waspada, tidak terlihat apakah dia cantik atau tidak.
Apakah ini tentang mata-mata? Apakah ini tentang perempuan yang sedang sembunyi menghindari mara bahaya? Atau jangan-jangan dia emak-emak netizen yang maha kepo?
Lanjut lagi googling, nemu versi yang rada beda.

Semacam sampul buku dongeng klasik untuk anak-anak. Suka banget sama ilustrasinya. Sepasang dua manusia yang sedang duduk berdua di mangkok.
Si pria sedang menunjukkan sesuatu sambil mengangkat tangannya, entah apa. Nggak jelas mereka berdua lagi ngapain. Lalu apa hubungannya dengan Cantik Itu Luka? Apakah si Cantik sering digombalin sama pria tersebut yang akhirnya menciptakan luka?
***
Terus terang sampai hari ini saya belum punya buku Cantik Itu Luka, karena ehm, entahlah. Belum kepengen banget walau saya sudah punya buku-bukunya Eka yang lain.
Biarin. Saya menanti sampul berikutnya aja.
Netizen dengan ocehan nyinyir berkata, “Ih, pantesan reviewnya sok tau. Lagipula, plis deh, hellooo, situ udah ketinggalan 20 tahun lho.”
Jika ada yang sudah pernah baca bukunya, kalian punya versi yang mana? Dan dari semua itu mana sampul yang menurut teman-teman paling pas dan mewakili isinya?

















