Youtuber Berusia Matang

Belakangan ini makin banyak Youtuber baru yang wara-wiri di beranda saya.

Yang menarik adalah mulai banyak Youtuber berusia matang. Sebut saja Helmy Yahya, Gita Wirjawan, Sandiaga Uno, William Wongso dan masih banyak lagi.

Karena mereka adalah orang-orang yang sudah mencapai kesuksesan, maka banyak sekali ilmu dan pengalaman yang bisa mereka bagi ke penonton Youtube.

Saya yang sejak dulu tidak pernah subscribe orang di Youtube, sekarang jadi mulai buru-buru subscribe supaya tidak ketinggalan kuliah mahal yang bisa saya dapatkan secara gratis.

Bahkan saya suka sekali channel Ahmad Dhani saat beliau membagi pengetahuannya tentang politik dan wawasan kebangsaan. Saya kok merasa lebih suka dia jadi politikus daripada musisi.

Yang menarik adalah Mario Teguh. Seorang motivator yang cukup terkenal. Dalam channel Youtube miliknya, beliau menjadi food vlogger.

Iya, teman-teman tidak salah baca, beliau mereview makanan dengan gayanya yang berbeda dari food vlogger lainnya.

Beliau bisa mereview nasi rames sederhana menjadi makanan yang kesannya mewah dan elegan.

Food vlogger harus waspada nih, kehadiran beliau mewarnai jagad kuliner sungguh berbahaya.

Dengan munculnya Youtuber baru berusia matang dan memberikan wawasan dan pengalaman, membuktikan bahwa Youtube tidak hanya untuk kaum milenial saja.

Malah yang berusia matang ini dengan mudah mendapatkan iklan dan endorse.

Setiap selesai nonton Youtube mereka, saya bersyukur, ilmu saya bertambah dan makin termotivasi dalam menjalani kehidupan.

Tips Pemalas

Sebetulnya ini rahasia, tapi kuberitahu satu hal : aku itu pemalas.

Beneran. Sumpah, demi waktu.

Padahal hidupku ini terus menerus diuber deadline. Demi ketenangan dan kedamaian, maka aku musti punya tips supaya gak deg-degan tiap kali mendengar detak jam dan tanggal di kalender.

Berbekal keahlian berselancar di dunia maya, maka kutemukan sebuah teknik untuk pemalas yang diciptakan orang Jepang. Aku lupa nama tekniknya, mau googling apa namanya, kok males.

Tuh kan, males.

Intinya adalah melakukan kegiatan cukup 2 menit aja. Yes, dua menit aja. Dua menit tuh kan ga lama, ye kan? Teknik ini sungguh ampuh untuk diriku yang malasnya udah tingkat dewa.

Contoh kasus remeh :

Cucian piring numpuk. “Cuci sekarang aja, toh cuma 2 menit.”

Buang sampah, “tinggal ambil dan buang ke bak sampah depan rumah, toh gak sampe 2 menit.”

Tempat tidur berantakan. “Aku bisa ngerapiin gak sampai 2 menit.”

Mandi. “2 menit aja deh.” *endingnya jadi setengah jam*

Sholat. “Kilat ajalah, 2 menit.” *beneran kilat kalo yg ini. Ampun*

Dan seterusnya..

Tips ini sudah kulakukan bertahun-tahun. Entah sejak kapan, aku sendiri udah lupa. Percayalah, ini ampuh sekali, karena sudah teruji olehku selama bertahun-tahun. Aku aja bisa, masa kamu enggak?

Berani Membayar

Mungkin yang kualami ini juga dirasakan banyak orang.

Semua juga tahu kan, aplikasi pembayaran digital sering kali memberikan voucher, cashback, dan aneka promosi lainnya, yang rugi kalau nggak kumanfaatkan untuk menyelamatkan receh demi receh.

Lalu tanpa sadar, selama berbulan-bulan, terjerumuslah aku dalam permainan mereka. Aku jadi ketergantungan dengan voucher mereka. Haduuh.

Lha misalnya aku perlu beli makanan capcay seharga 25.000, lalu pake voucher 15.000 plus gratis ongkos kirim, totalnya jadi 10.000. Gimana nggak luluh hati ini?

Aku kan istri biasa yang lemah akan godaan penghematan anggaran belanja rumah tangga kayak gini hahaha..

Perlahan tapi pasti, aplikasi pembayaran digital tersebut mengubah mentalku jadi miskin. Jadi mental gratisan. Dan itu membuatku merasa bodoh.

Lama-lama aku menyadari bahwa ini nggak bisa diabaikan. Ketika aku mulai tergantung dengan sesuatu selain Tuhan, tandanya aku udah jadi budak.

Mustinya duit yang ngejar aku, lha ini kok jadinya aku yang nguber receh. Mentalku kok jadi mental miskin gini. Sungguh kebodohan yang hakiki.

Lalu aku merenung, buat apa sih beli makanan pake ngitung dapet cashback berapa, lalu diakal-akalin supaya dapet cashback lebih banyak? Supaya duit yang terkumpul lebih banyak? Ah, kekayaan datangnya bukan dari pintar menabung receh, tapi karena rejekinya banyak kok.

Membayar itu salah satu cara untuk menundukkan uang. Dengan membayar mahal aku berusaha untuk tidak menjual nilai jiwaku untuk mendapatkan recehan.

Mental kaya yang terjaga kemuliaannya, akan membuat uang tunduk kepadaku.

Mental miskin yang mengharap gratisan dan voucher diskon, akan menjadikan tunduk pada uang. Itu kan bego banget namanya. Masa ciptaan Tuhan nyembah ciptaan manusia? Hahaha.

Jadi membayar adalah caraku untuk merawat mental kaya.

Pakaian Minimalis

Aku mengenal gaya hidup minimalis semenjak kuliah arsitektur. Yang artinya udah lama sekali.

Kawan-kawanku berpakaian dengan model yang paling sederhana dengan warna basic, hitam, putih, abu-abu. T-shirt dan jeans menjadi andalan kami, bahkan sampai hari ini.

Kadang-kadang ada masa dimana aku merasa bosan dan ingin tampil beda. Kalau jiwaku sedang memberontak, saat ngumpul bareng semua pakai warna hitam, aku datang pake pink.

Buatku untuk bergaya minimalis, warna pakaian tidak musti hitam dan putih, warna bisa apa aja. Hitam dan putih memang netral dan mudah dipadu-padankan.

Tapi tinggal di negara tropis, yang sinar mataharinya melimpah, sayang banget kalau aku nggak pakai baju dengan warna ceria.

Seperti Raditya Dika yang selalu menggunakan jeans dan t-shirt polos warna apa aja, model pakaianku juga sederhana. Aku hanya menggunakan 2 piece. T-shirt/kemeja dan celana jeans, bagiku sudah cukup.

Aku menerapkan prinsip minimalis bukan dari warna. Tapi dari jumlah pakaian. Bajuku cuma selaci. Jumlahnya 30 buah.

Tapi secara berkala aku menggantinya dengan prinsip masuk satu, keluar satu.

Banyak orang membeli pakaian lalu menyimpan sampai bertahun-tahun. Menurutku itu hebat juga sih. Terus terang aku tidak bisa seperti itu.

Aku nggak bisa mendekap barang terlalu lama. Selagi pakaian tersebut masih baik, aku segera menyumbangkan.

Jd bajuku tidak pernah ada yg berakhir jadi keset atau lap.

Baju yang sudah beberapa kali kupakai, biasanya kusingkirkan, dengan begitu aku mendapatkan energi baru yang fresh. Seperti uang, pakaian juga harus mengalir. Energi harus mengalir, tidak mandeg dalam laci.

Jadi bukan untuk hedon atau glamor, tapi untuk melatih melepas kemelekatan dengan latihan ikhlas.

Semua yang ada di dunia ini titipan Tuhan, termasuk pakaian. Untuk apa aku mendekap erat dan menyimpannya bertahun-tahun. Sistem satu masuk, satu keluar secara berkala membuat skill ikhlasku bertambah.

Semakin sering aku menyortir keluar masuk pakaianku, makin berkualitas bahan pakaianku. Sehingga hidupku juga makin berkualitas, saat menggunakan pun aku merasa bahagia dan bersyukur.

Yang paling asik, lambat laun aku bisa menemukan gaya berpakaianku yang otentik.

Menata Keuangan

Mumpung hari ini gajian, aku akan bercerita tentang pengalaman jatuh bangun menata keuangan.

Menata keuangan itu tidak mudah, strategi hari ini belum tentu bisa digunakan untuk tahun depan. Hidup ini dinamis, jadi sering kali aku harus mengubah strategi untuk menata keuangan supaya tidak goncang.

Kadang aku berpikir, gimana caranya supaya teori yang kuhasilkan ini abadi. Jadi pakem gitu lho.

Dengan melakukan berbagai eksperimen, sejauh ini aku berhasil menyederhanakan catatan keuangan.

Bukan. Bukan dengan membagi-bagi uang dalam prosentase. Aku sudah berjuta kali mencoba dan mengutak-atik, tapi kemudian aku menyadari bahwa trik ini tidak cocok untukku.

Sampai kemudian aku berpikir, mungkin aku lebih cocok mengelola uang dengan perasaan, logika dipinggirkan dulu deh.

Aku menulis di buku catatan mungil yang cantik. Jd nyenengin gitu nyatetnya, karena nyatetnya pake perasaan kan, bukan logika.

Sambil mencatat aku belajar untuk menyadari dan mengenali diri sendiri. Luar biasa sih ini. Aku suka.

Aku merasa jenius hahaha..

Sebetulnya teori keuangan Indonesia ternyata sudah oke. Primer, sekunder, tersier.

Lalu kumodifikasi lagi sesuai kebutuhan dan perasaanku. Jadilah : wajib, spark joy, khilaf.

Wajib

Hal-hal yang tidak bisa ditawar. Mau nggak mau kudu dibayar. Misalnya : Listrik, air, telepon. Seperti e-toll, taksi online, bahkan pembalut yang sifatnya mendesak. Ya mosok pas lagi datang bulan nggak pake pembalut? Plis deh.

Spark Joy

Sebetulnya ini istilah hasil dari baca Marie Kondo tentang metode Konmari. Artinya adalah percikan kebahagiaan.

Spark Joy versiku adalah hal-hal yang membuatku merasa kaya dan berkecukupan, merasa bahagia, merasa tambah pinter, merasa cantik, dan sebagainya.

Ya pokoknya hal-hal menyenangkan, bikin bahagia dan mensyukuri nikmatNya deh.

Sedekah termasuk dalam kategori ini.

Khilaf

Hal-hal yang mengedepankan ego. Nafsu dan emosi sesaat.

Jajan yang ga mutu biasanya masuk dalam kategori ini. Walau sekedar jajan, mustinya mencari yang bikin spark joy, bikin bahagia.

Ketika mendapatkan yang kuinginkan bisa saja aku merasakan spark joy, tapi setelah beberapa saat dan merenungkan kembali, aku menyadari bahwa itu khilaf.

Saat aku menyadari & menuliskan kekhilafanku, maka catatan itu bisa menjadi pelajaran untuk hari-hariku kedepan.

***

Intinya menulis catatan keuangan itu musti bisa mengenali perasaan dengan baik.

Jujur sama diri sendiri. Aku mengakui kadang-kadang masih meleset. Buatku itu nggak masalah, karena ini bagian dari latihan mengenal diri sendiri.

Saat akhir bulan, aku tinggal membaca catatan, hal-hal apa yang bikin khilaf dan hal-hal apa yang membuatku spark joy.

Coba kalau orang yang berpikir logis, yang dilihat angkanya dong, lalu bertekad untuk hidup lebih hemat bulan depan.

Aku? cukup meminimalisir khilaf dan memperbanyak spark joy aja hahaha..